Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Putus asa


__ADS_3

Menjelang sore, Aaron di kejutkan dengan kepulangan Alex yang dalam keadaan berantakan, laki-laki itu yang biasa terlihat cool dan rapi, kini dengan rambut acak-acakan dan bau alkohol yang menyengat.


"Alex, ada apa ini?" tanya Aaron terkejut.


Hayley yang sedang berada di dapur untuk membuat susu, kini bergegas menemui Aaron saat mendengar suaminya menyebut nama Alex.


"Alex, kamu nggak papa?" tanya Hayley penasaran, tidak biasanya Alex terlihat sangat murung.


Tidak ingin menjawab, Alex duduk di kursi makan, lalu di susul oleh Hayley dan Aaron.


"Tolong katakan sesuatu, jangan membuat kami bingung," ujar Hayley. "Kamu baik-baik saja?"


"Nggak!" jawab Alex singkat, tanpa menoleh pada siapapun, pandangannya kosong menatap gelas kaca yang terbalik di atas meja.


"Alex, apa semua ini karena tante Friska?" tanya Aaron, namun hanya di jawab gelengan oleh Alex.


"Lalu kenapa? kamu ini kenapa?" desak Hayley, rasanya tidak sabar menunggu Alex membuka mulut dan bercerita.


"Melanie," ucap Alex pelan dengan suara serak.


"Melanie? ada apa dengan Melanie? kalian bertengkar hebat?" tanya Aaron.


"Apa Melanie hamil dan kamu nggak mau tanggung jawab, lalu dia kabur?" sela Hayley, entah mengapa wanita hamil besar itu tidak bisa mengontrol pertanyaan yang ada di kepalanya.


Lagi-lagi Alex hanya menggeleng, membuat Aaron dan Hayley semakin bingung dan penasaran.


Cukup lama, Alex masih terdiam, terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri, Hayley berinisiatif ke dapur dan membuatkan minuman hangat untuk Alex, lalu membawanya di depan Alex.


"Minumlah," ujar Hayley, ia mengelus punggung iparnya dengan lembut, seperti menyalurkan kekuatan agar Alex kembali kuat seperti biasanya.


Menyesap minuman di depannya, Alex menghembuskan nafas berat.

__ADS_1


"Aku nggak tau, Melanie sakit, dia menyembunyikan penyakitnya dariku selama ini. Dan sekarang, dia pergi," ujar Alex.


"Pergi? tolong jelaskan maksud kalimat pergi itu, Alex. Aku nggak ngerti," sergah Hayley.


"Leukimia stadium 4 yang di deritanya, sudah parah. Dia nggak bisa bertahan lebih lama lagi. Kata orang tuanya, Melanie pergi ke negara lain untuk melanjutkan pengobatan, meskipun nggak bisa sembuh, tapi mungkin bisa memperpanjang umurnya," jelas Alex.


"Terus, kamu biarin dia pergi begitu saja?" tanya Aaron.


"Aku ...." Alex menunduk, ia tidak punya jawaban atas pertanyaan Aaron. "Aku nggak tau dia di mana, sepertinya dia sengaja menghindariku, dan orang tuanya merahasiakan sesuatu," lanjut Alex.


"Bodoh! mana Alex yang biasanya pantang menyerah, bisa-bisanya kamu menyerah hanya karena Melanie menghindar, mana usahamu?" pekik Aaron, tidak habis pikir dengan apa yang Alex perbuat.


"Alex," ujar Hayley lembut, menyentuh pundak Alex.


"Ada sesuatu yang menakutkan saat seseorang sudah terlanjur pergi, yaitu penyesalan. Selagi Melanie masih hidup, kejar dia. Temukan dia, ikuti kata hatimu. Apa ada sesuatu dalam dirimu yang sangat sakit saat kehilangan seseorang yang selama ini mendukungmu? itulah rasa, antara cinta dan kasih sayang. Aku tau perasaan itu ada untuk Melanie, hanya saja kamu nggak menyadari semuanya," jelas Hayley.


Alex mendongak, menatap Hayley yang berdiri di sampingnya. Benar apa yang Hayley katakan, mungkin saja perasaan cinta itu sudah tumbuh sejak lama, hanya saja Alex tidak menyadari itu, ia terlalu egois untuk mengakui bahwa hatinya juga lemah.


"Apa aku belum terlambat?" tanya Alex.


"Pergilah, Alex. Cari dia," ucap Aaron. "Apa kamu yakin dia pergi ke negara lain?"


"Aku nggak tau," jawab Alex.


"Apa ada tempat favorit Melanie, misalnya villa, apartemen, rumah pribadi?" tanya Hayley.


"Melanie suka sekali tinggal di dataran tinggi, rumah sederhana yang di kelilingi kebun teh. Dia sering sekali bercerita, bahwa suatu saat jika dia sudah menikah dan punya anak, dia ingin sekali membeli rumah di tempat seperti itu, dan akan menghabiskan hari tuanya di sana," jelas Alex.


"Itu petunjuk."


"Lalu, aku harus bagaimana?" tanya Alex.

__ADS_1


"Bagaimana? apa kamu masih terus bertanya ini dan itu. Pergilah, cari dia. Kamu lebih tau segalanya tentang Melanie, seharusnya kamu tau kemana dia akan pergi," tegas Aaron, entah kenapa kali ini ia merasa kesal melihat Alex benar-benar lembek dan putus asa, kehilangan Melanie juga membuat Alex seperti kehilangan akal sehatnya.


"Tolong, bantu aku Aaron," pinta Alex dengan wajah lesu.


"Sebaik mungkin. Sekarang, bersihkan dirimu, lalu pergi cari informasi. Aku akan mengirim seseorang untuk memantau tuan Gio dan istrinya, bisa jadi mereka memang menyembunyikan Melanie dan berbohong bahwa anaknya pergi ke luar negeri. Di negara kita sudah banyak pengobatan canggih untuk pasien kanker, nggak perlu jauh-jauh ke luar negeri seharusnya," jelas Aaron.


Alex mengangkat sedikit sudut bibirnya, ia tersenyum. Alex bersyukur, selama ini dirinya selalu di kelilingi orang-orang baik, Aaron selalu mendukungnya dalam keadaan apapun, dan Hayley, ia seperti ibu peri, memberi penyemangat dan motivasi bak orang tertua di rumah ini.


Saat akan berjalan menaiki anak tangga, Alex berbalik, memeluk Hayley dan Aaron secara bersamaan.


"Terimakasih untuk segalanya," ungkap Alex.


"Sudahlah, jangan cengeng!" Aaron meledek sepupunya. "Cepat pergi, banyak hal yang harus kita lakukan."


🖤🖤🖤


Aaron menelpon orang-orang kepercayaannya, ia memberikan perintah untuk terus memantau keberadaan tuan Gio dan istrinya, sedangkan Alex, ia mengecek semua penerbangan menuju benua Eropa, ia berharap, menemukan jejak Melanie dan tujuannya ke negara mana.


Alex menyuruh seseorang untuk mengurus semua keperluan Nora di rumah sakit, termasuk biaya perawatan dan tempat tinggal sementara bagi Nora selama gadis itu belum benar-benar sehat.


"Sampaikan permintaan maafku pada gadis itu, aku sibuk," ucap Alex.


"Baik, Tuan."


Alex menyiapkan beberapa hadiah untuk Nora sebagai permintaan maaf, dia juga menyelipkan sebuah cek kosong yang bisa Nora isi sesuka hatinya untuk biaya hidup dan biaya kontrol ke rumah sakit.


Jika saja sebelumnya Alex lebih hati-hati saat berkendara, ia pasti tidak akan sampai mencelakai Nora dan membuatnya sibuk mengurus gadis itu di rumah sakit, sampai-sampai ia melupakan janjinya dengan Melanie.


Alex mengecek semua identitas Melanie, dan tempat-tempat favorit yang sering ia kunjungi sebelum mengenal Alex, sampai Alex menemukan tempat yang sesuai dengan perkiraannya.


Ada sebuah daerah terpencil yang terletak di pelosok negri, sebuah daerah dengan perkebunan teh yang luas dan tanaman pohon pinus di sepanjang jalan.

__ADS_1


Kebetulan, Alex masih ingat perbincangannya dengan tuan Gio setahun yang lalu saat mereka bertemu di sebuah perjamuan, tuan Gio menceritakan tentang permintaan Melanie untuk mengelola kebun teh secara mandiri.


🖤🖤🖤


__ADS_2