
Alex dan Melanie meninggalkan tempat mereka semula, mencari tempat sendiri untuk saling bertukar sapa ataupun lebih.
"Alex, nggak nyangka kamu mau datang ke pesta ini," seru Melanie gembira.
"Tentu saja, ini undangan khusus dari papamu, demi hubungan kerja yang baik, aku dan Aaron pasti datang," jawab Alex.
Alex dan Melanie berjalan menyisir bibir pantai dengan bertelanjang kaki.
"Kamu mau ke tempat yang bagus?" tanya Melanie. "Aku punya lokasi favorite di pulau ini, letaknya nggak jauh," imbuhnya.
"Boleh, aku akan ikut kemanapun kau membawaku, Melanie." Alex memulai rayuannya.
Melanie menarik Alex menyusuri bibir pantai ke arah selatan, mereka melewati beberapa pohon kelapa dengan rerumputan rimbun di bawahnya. Karena lokasi yang ingin di capai sedikit jauh dari tempat pesta di adakan, maka tidak ada penerangan di tempat ini, hanya cahaya bulan yang membantu penglihatan mereka.
Setelah cukup jauh, Melanie akhirnya berhenti di bawah pohon kelapa dengan sebuah gubuk kecil di sampingnya, gubuk itu terbuat dari bambu dengan atap daun kelapa, ukurannya tidak cukup besar, hanya cukup untuk berbaring 3 atau 4 orang.
Setiap sisi gubuk ini tidak di tutup oleh apapun, jadi tempat ini sangat cocok untuk di pakai beristirahat sambil menikmati pemandangan ombak tepi pantai.
Alex dan Melanie berdiri di bibir pantai sambil menunggu ombak menyentuh lembut kaki mereka.
"Wow, tempat yang bagus, Melanie," ujar Alex, hawa dingin tepi pantai malam hari membuat badannya sedikit menggigil.
"Ini tempat favotitku menulis buku, Alex," ucap Melanie. "Aku sedang mempromosikan novel baruku," imbuhnya.
"Ah, tenyata kamu tidak cuma pintar berakting, tapi juga pandai dalam dunia literasi."
"Jangan memujiku seperti itu, aku memang sukses dalam segala bidang. Hanya saja aku selalu gagal mendapatkan satu hal, Alex." Melanie melirik Alex sambil tersenyum malu.
"Apa? hal apa yang tidak bisa Melanie Rendra raih?" tanya Alex.
"Hatimu," jawab singkat Melanie.
Mendengar jawaban Melanie, seketika tubuh Alex bereaksi, ia mendekati gadis dengan lekuk tubuh jelas dan hampir telanj*ng itu, dada Melanie yang membusung sempurna menampakkan dua gunung kembar yang melambai siap dinikmati.
__ADS_1
Alex meraih pinggang gadis itu dan menempelkan tubuh mereka satu sama lain, udara dingin yang awalnya membuat Alex merasa menggigil kini berganti panas yang menyebar ke seluruh tubuh dengan cepat. Alex menanggalkan kaos putih polosnya dan melemparnya ke sembarang arah.
Mereka mengaitkan bibir satu sama lain, saling membalas kecupan dan belaian yang tiada henti, tangan Alex bermain dengan liar membelai dan meraba semua bagian sensitif Melanie, begitupula Melanie, ia tidak ingin kalah dengan aksi nakal Alex, ia memegang senjata besar Alex dan sukses membuat laki-laki itu mengerang kenikmatan.
Mendapat respon positif dan lampu hijau. Alex menggiring tubuh Melanie mendekati pohon kelapa, ia menyandarkan tubuh Melanie di sana dan melepaskan semua atribut gadis itu hingga terlihat sangat polos.
"Kau menginginkannya?" tanya Alex memastikan.
"Ya, Alex. Ayo kita lakukan, sekarang, Alex. Come on!" Suara Melanie tertahan di tengah gejolak hasrat.
Alex melakukannya, mencumbu dan memuaskan gadis itu dengan sangat liar. Mereka dua manusia yang tidak peduli tempat dan waktu, saat semua orang menikmati makanan dan minuman di tengah pesta, mereka mengadakan pestanya sendiri.
Padahal ada gubuk yang bisa mereka pakai untuk berbaring dan saling menindih, namun mereka lebih menyukai melakukan aksinya sambil berdiri dan bersandar di pohon kelapa.
Entah sudah berapa kali pelepasan yang Melanie rasakan, gadis itu merasa sangat puas dengan aksi Alex yang begitu buas. Sedangkan Alex, ia selalu pandai dalam bermain peran, ia menghindar sesaat sebelum dirinya mencapai puncak, itu adalah hal wajib yang harus ia lakukan, mencegah dirinya untuk menumpahkan cairan di tubuh wanita manapun demi menghindari terjadinya kehamilan.
Usai bermain cukup lama, Melanie terduduk lemas di bawah pohon, Alex membantunya memakai kembali bikini yang semula ia kenakan.
"Ayo kita kembali, orang-orang pasti sudah sibuk mencari," ujar Alex.
"Sesuai permintaanmu, Sayang." Alex menarik tangan Melanie dan membantunya berdiri.
🖤🖤🖤
Di tengah suasana pesta yang meriah, Hayley lebih memilih duduk menyendiri di kursi pantai sambil menikmati minuman hangat di tangannya, ia lebih suka menikmati pemandangan ombak daripada duduk bersama orang-orang besar di bar pantai.
Dia bosan menemani Aaron bersama para rekan bisnis yang hanya membicarakan tentang wanita, pikiran laki-laki memang selalu sama, tidak pernah jauh dari lubang kenikmatan.
"Hai, cantik. Sendirian aja," sapa seseorang dari belakang, Hayley seketika menoleh, mencari sosok manusia yang menyapanya.
"Apa kita saling mengenal?" tanya Hayley, ia memperhatikan dengan seksama laki-laki berperawakan tinggi gagah dengan rambut di semir pirang.
"Belum, tapi aku akan mengajakmu berkenalan, cantik," ujar laki-laki itu.
__ADS_1
Hayley hanya mengangguk, ia tidak berpikir macam-macam tentang laki-laki itu.
"Namaku, Peter. Siapa namamu, cantik?" Peter mengulurkan tangan pada Hayley.
"Aku Hayley, senang berkenalan denganmu, Peter." Hayley menerima jabatan tangan Peter, namun ia terkejut saat Peter mencium punggung tangannya, ia refleks menarik tangannya dengan kasar.
"Kenapa? apa ada yang salah?" tanya Peter.
"Nggak, nggak papa."
"Oh ya, kamu sendirian. Butuh teman?" tanya Peter. "Aku bisa menemanimu, cantik. Dimanapun kamu menginginkannya," imbuhnya dengan intonasi yang menggoda.
"Apa maksudmu, Peter? maaf, aku mau pergi." Hayley beranjak dari tempat duduknya.
"Mau kemana, cantik? disini saja, temani aku." Peter menarik lengan Hayley dengan kasar, lalu mendekap gadis itu di dadanya.
"Lepaskan aku! lepas!" pekik Hayley. "Kamu nggak sopan, Peter, lepas!" teriaknya, ia berusaha sekuat tenaga mendorong tubuh Peter, namun Peter terlalu kuat merangkulnya.
Dari arah lain, Alex berlari dan langsung menarik paksa Hayley dari pelukan Peter, ia melayangkan tinju mentah ke wajah Peter tanpa aba-aba sampai laki-laki itu tersungkur.
Peter meludah kesamping karena bagian mulutnya berdarah. "Apa-apaan ini?" tanyanya.
Semua orang yang awalnya asik mengobrol bersama kawannya, kini mulai berkerumun ke arah Hayley.
"Kamu yang apa-apaan! jangan macam-macam!" bentak Alex.
"Hah, gadis sialan! aku bahkan belum menyentuhnya," geram Peter.
"Kau mau menyentuhnya?" tanya Alex sambil meraih tubuh Peter. "Berani kau menyentuhkan tangan kotormu itu pada temanku, aku pastikan kau akan kehilangan kepalamu!" ketus Alex lalu kembali melayangkan tinju ke wajah Peter.
"Cukup, Alex, ayo kita pergi. Biarkan laki-laki brengs*k itu disana," Hayley mendekati Alex, menyeret laki-laki itu menjauh dari Peter.
🖤🖤🖤
__ADS_1
Bersambung ...