
Di lain tempat di depan televisi yang menyala, Aaron mengepalkan tangan kuat, wajahnya merah padam dengan mata yang berkaca-kaca.
Hayley bangkit dari duduknya dan menyingkirkan gelas-gelas kaca beserta vas bunga yang berada di meja.
"Sayang banget, ini gelas mahal kalau sampai pecah," batin Hayley, ia berpikir Aaron akan mengamuk dan membanting semua yang ada di hadapannya, jadi sebelum itu terjadi, Hayley bertindak lebih dulu.
Hayley melihat dengan jelas wajah Aaron yang awal mulanya terlihat begitu bahagia kini berganti dengan amarah yang membara.
Sungguh, jika pandangan mata dapat membakar, maka layar televisi itu pasti sudah hangus saat ini.
Nafas Aaron naik turun, tangannya masih mengepal di antara lututnya, ingin sekali laki-laki itu menghindar dari pemandangan di hadapannya, namun hati masih bertanya, benarkah apa yang saat ini ia saksikan?
"Mr. Ice, kamu baik-baik saja?" tanya Hayley gemetar, ia tau jika Aaron tidak sedang baik-baik saja, bodoh sekali ia sudah menanyakan hal yang jelas-jelas terlihat.
Aaron bergeming, ia masih duduk di tempatnya sambil mata terus memandang penuh dengki ke layar televisi.
"Bagaimana nona Kathrine, kamu terkejut?" tanya Margaret, ia memandang sinis pada Kathrine.
"Ayo, katakan sesuatu. Jangan diam saja," lanjut Margaret, ia terlihat sangat tabah berhadapan langsung dengan wanita perebut suaminya.
Mungkin jika wanita lain yang yang ada di posisinya saat ini, Kathrine sudah babak belur di cakar, di jambak, di tendang dan di hajar penuh kebencian, namun tidak dengan Margaret, ia memberi pelajaran pada wanita simpanan suaminya dengan cara berkelas.
Seorang laki-laki memakai jas hitam berlari naik ke atas panggung dengan tergesa-gesa.
"Oh, ini dia, suami saya. No! maksud saya, mantan suami." Margaret menyambut Bob dengan begitu tenang.
Bob menampar Margaret dengan keras, laki-laki itu tidak peduli dengan puluhan kamera yang menyorot dan menayangkan langsung acara ini di siaran nasional.
Mendapat kesempatan untuk lari, Kathrin turun dari panggung dan lari secepat mungkin menghindari kejaran wartawan dan awak media, wanita itu menangis histeris sambil memegang dadanya yang kian sesak.
Kini Kathrine tidak hanya kehilangan harga dirinya. Karir, reputasi dan semua mimpinya sudah hancur, ia akan di kenal sebagai wanita simpanan, perebut suami orang, bahkan bisa di katakan ia adalah seorang pel*cur, penjual diri demi popularitas.
Setelah kepergian Kathrine, hanya keributan tentang Margaret dan suaminya yang di tampilkan, Aaron bangkit dari sofa, ia berjalan menuju kamarnya.
Hayley terus mengawasi, ia takut jika Aaron akan melakukan sesuatu yang membahayakan atau bahkan menyakiti dirinya sendiri.
Hayley mengintip dari pintu kamar yang tidak sepenuhnya tertutup, Aaron sedang menelpon seseorang.
"Kath," sapa Aaron dengan nada lirih.
"Sayang ... sayang. Kamu jangan salah paham, itu semua ...."
__ADS_1
Klik!
Aaron mematikan sambungan telepon secara sepihak, entah apa tujuannya menelpon Kathrine di situasi seperti ini, namun hatinya masih tidak percaya dengan apa yang sudah di lakukan kekasihnya.
Sejenak, Aaron memejamkan matanya yang memanas, dadanya terasa sangat sakit, ia sudah memberikan seluruh hatinya pada Kathrine, dan wanita itu kini menghancurkannya menjadi tak tersisa.
"Aku begitu mencintaimu, Kath. Aku menunggumu selama bertahun-tahun, aku mengorbankan diriku sendiri bahkan rela menikah dengan wanita lain demi kamu, lalu ...."
Ponsel dalam genggaman langsung ia lempar ke tembok, hancur berkeping-keping.
"Lihat, ponsel itu sudah hancur, tapi aku masih bisa membeli lagi, bahkan lebih bagus dan lebih canggih. Tapi hatiku, hancur begitu saja tanpa bisa lagi di perbaiki," gumam Aaron dengan mata berkaca-kaca, ia terduduk dengan wajah menunduk memandang lantai.
Hayley berlari masuk, ia memeluk Aaron. Kali ini gadis itu begitu tersayat melihat Aaron yang lemah dan rapuh.
"Aku tau itu sangat menyakitkan," ucap Hayley lirih, ia menenggelamkan wajah Aaron di depan dadanya.
"Aku ... nggak nyangka." Aaron berbisik pelan, kini laki-laki yang selalu terlihat kuat dengan gayanya yang begitu cool dan menawan berubah rapuh, laki-laki itu hancur, tidak menyisakan apapun lagi.
Hening, Haylay tidak lagi ingin menjawab, ia membiarkan Aaron diam dalam pelukannya, laki-laki itu hanya sekali meneteskan air mata, lalu selanjutnya hanya diam dengan wajah datar.
Cukup lama mereka berpelukan dalam diam, akhirnya Hayley meminta Aaron untuk beristirahat.
"Kamu istirahat dulu, Mr. Ice. Aku akan mengantarkan makan siangmu sebentar lagi," ujar Hayley seraya membawa Aaron duduk di tepi kasurnya.
🖤🖤🖤
Hayley mencari ponselnya yang tertinggal di kamar, ia mendengar suara ponsel yang berdering terus menerus.
"Hayley, dari mana sih?" sentak Alex dari sebrang telepon.
Belum sempat Hayley menjawab, Alex kembali berucap. "Aaron nggak kenapa-kenapa kan?" tanyanya.
"Menurutmu? dia syok berat, Alex," jawab Hayley.
"Aku akan pulang hari ini juga, mungkin malam baru sampai," ujar Alex, lalu mematikan sambungan telpon.
Hayley sedikit bernafas lega, setidaknya dengan kehadiran Alex, dia akan merasa terbantu menghadapi Aaron yang sedang dalam keadaan seperti ini.
Alex memutuskan untuk mengajak Melanie segera pulang. Bagaimanapun, Aaron adalah saudaranya, ia tidak mungkin membiarkan Aaron melewati semua ini sendirian.
Hayley memberi pesan pada Laksmi untuk tidak mengganggu Aaron selama beberapa hari ke depan, Hayley mengambil alih semua tugas pelayan untuk mengurus semua keperluan Aaron selama laki-laki itu belum membaik.
__ADS_1
Membawa nampan berisi menu makan siang dan beberapa potong buah segar, Hayley masuk kembali ke kamar Aaron.
"Mau makan?" tanya Hayley, ia duduk di sisi ranjang sambil memperhatikan Aaron yang melamun.
Aaron menggeleng pelan, ia sama sekali tidak mengindahkan kehadiran Hayley.
"Makanlah, lapar nggak bisa mengurangi sakit hati, yang ada malah nambah sakit perut," selorohnya.
Cukup lama Hayley duduk, Aaron masih tidak memperdulikannya.
"Ya sudah kalau nggak mau makan, aku taruh di sini, ya," ujar Hayley, ia meletakkan nampan di meja dekat Aaron.
🖤🖤🖤
Sampai waktu malam, Aaron tidak juga keluar dari kamarnya.
"Mana Aaron?" tanya Alex tiba-tiba masuk ke kamar Hayley tanpa permisi.
"Di kamarnya lah, nyari dia kok di sini," jawab Hayley kesal.
"Iya juga, ya," batin Alex, ia merasa bodoh sendiri.
Belum sempat Alex berganti baju dan membersihkan diri, ia langsung menemui Aaron di kamarnya.
Perlahan Alex membuka pintu kamar Aaron, ia melihat laki-laki itu duduk di sofa sambil menatap ke arah luar jendela yang tidak tertutup gordennya.
Alex mendekat, ia duduk di samping Aaron, namun tidak ingin menyapa lebih dulu, Aaron yang menyadari keberadaan Alex, entah mengapa ia merasa sedikit lega.
"Alex," sapa Aaron lirih. "Ternyata kamu benar," imbuhnya.
"Aku nggak pernah bohong, Aaron. Kamu saudara sekaligus sahabatku," jawab Alex.
"Aku memang bodoh, aku pikir dengan memberikannya kebebasan, maka hubungan kami akan semakin baik," ujar Aaron parau, ia menahan sesak di dadanya.
"Aku melakukan apapun demi dia, memberikan semua cinta dan segalanya, bahkan aku rela menjadikan Hayley sebagai istri bayaran demi memberinya kesempatan berkarir."
"Aku bahkan memukulmu karena mengingatkanku. Alex ... aku, minta maaf."
"Aku tau kamu bodoh, Aaron. Kamu itu udah gila, melakukan apapun demi wanita licik seperti Kathrine, tapi kamu tetap saudaraku, jadi aku memaafkanmu," desis Alex, sebenarnya ia masih merasa sangat kesal dan kecewa terhadap Aaron, namun jauh di dasar lubuk hatinya, ia harus mau mengerti keadaan Aaron saat ini.
🖤🖤🖤
__ADS_1
Bersambung ...