
Keseharian Hayley dan Aaron masih seperti biasa, diam-diam Aaron semakin menguatkan perasaannya, semakin hari, Hayley semakin membuatnya tergila-gila.
Aaron mulai menggantikan posisi sopir yang biasa mengantar jemput Hayley ke kantor, ia lebih suka jika menghabiskan waktu bersama gadis itu dari pagi hingga malam. Sayangnya, sampai saat ini, ia tidak punya cukup keberanian untuk meminta Hayley tidur dalam kamar yang sama dengannya.
Hubungan Hayley dan Marcel masih baik seperti sebelumnya, laki-laki itu masih berusaha keras meyakinkan Hayley tentang kesungguhan hatinya.
"Aku menerimamu, Hayley. Status bukan halangan bagiku, setelah perceraianmu dengan Aaron, aku siap melamar," ujar Marcel kala itu.
Hayley bahagia, namun tidak sepenuhnya.
"Malam minggu nanti, ada undangan pesta dari teman lama," ujar Alex.
"Siapa?" Aaron mengernyitkan kening.
"Hmm, bisa nggak sih, kita libur pesta dulu," protes Hayley, ia mulai bosan dengan pesta yang wajib di hadiri setiap akhir pekan.
"Nggak bisa, kita di undang langsung sama orangtuanya, yang kebetulan berpengaruh dalam proyek kita mendatang," jelas Alex. "Pesta ulang tahun, Barbara."
"Barbara?" tanya Aaron mengulang apa yang ia dengar.
"Kamu masih ingat kan? kalian dulu pernah ketahuan pelukan di rumahnya."
"Hah, masih sekolah udah berani banget peluk-peluk anak orang," seloroh Hayley.
"Itu nggak sengaja!" tampik Aaron.
"Ciyee ... ciyee ...." Alex kembali meledek sepupunya, lalu tersenyum mengejek keluar dari ruangan Aaron.
Sambil merapikan berkas yang baru saja Aaron tanda tangani, Hayley ingin tau sekali tentang siapa yang Alex ceritakan.
"Barbara, aku seperti pernah mendengar namanya," ujar Hayley.
"Putri tunggal tuan Bara, orang yang kita datangi ke kantornya dua minggu lalu," jawab Aaron.
"Oh ...." Hayley manggut-manggut, mengingat percakapan yang terjadi dua minggu lalu.
"Aku nggak suka ketemu wanita itu. Kalau bukan tuan Bara yang mengundang, aku bener-bener nggak mau datang," ungkap Aaron.
"Memangnya kenapa? kalian kan teman lama."
"Dia itu berbeda, Hayley. Sedari kecil, dia pecinta reptil, rumahnya hampir seperti kebun binatang, dari ular, biawak, buaya, kadal, dia memelihara semuanya."
"Kamu takut?" goda Hayley sedikit tertawa.
"Nggak lah, tapi kan geli, Hay."
"Bohong! bilang aja kalau takut."
__ADS_1
"Bayangin deh, dia ke mana-mana mesti bawa ular kesayangannya, terus di taruh di leher dan menggeliat ... ih, geli." Aaron bergidik ngeri membayangkan Barbara.
Hayley menggelengkan kepalanya, melihat Aaron meraba tengkuk leher yang merinding, Hayley yakin, jika Aaron benar-benar takut ular.
🖤🖤🖤
Hari ini, Alex bertemu dengan seseorang yang sudah bekerja untuknya selama hampir sebulan ini, Alex memintanya untuk mencari informasi pribadi seputar Marcel.
Sepandai-pandainya Marcel menyimpan rahasia, Alex akan menggalinya sedalam mungkin.
"Sudah dapat?" tanya Alex pada seorang wanita muda berambut merah sebahu, Lexia.
"Tentu saja, kamu nggak akan percaya dengan apa yang aku dapat," ujar Lexia, lalu menyerahkan selembar foto kepada Alex.
Tampak sangat terkejut, Alex menatap lekat foto di tangannya, ia seperti tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Benar-benar mirip," gumamnya.
"Kenapa kamu begitu tertarik dengan masa lalu laki-laki tampan itu?" tanya Lexia. "Dia uh, sangat sulit di takhlukkan."
Alex membayar Lexia dengan harga fantastis agar wanita itu menggoda Marcel hingga mendapatkan informasi apapun tentangnya.
"Dari mana kamu dapat foto ini?" tanya Alex.
"Aku datang ke kantornya, sewaktu dia pergi mengambilkan minum, aku lihat foto ini di balik pigura foto keluarga yang di pajang. Hebat kan aku?" seru Lexia tersenyum senang.
"Tentu, aku selalu bisa kamu andalkan, Sayang," seloroh Lexia.
Setelah pertemuan itu, Alex langsung menghubungi Aaron dan mengajaknya bertemu secara diam-diam tanpa sepengetahuan Hayley.
Mereka sepakat bertemu di sebuah cafe yang letaknya tidak jauh dari kantor.
"Ada apa, Alex?" tanya Aaron. "Nggak biasanya kamu ngajak ketemu di luar."
"Aku mau kasih tau kamu sesuatu, rahasia."
"Rahasia?" Aaron mengerutkan kening, dia sama sekali tidak bisa menebak apa yang sedang ada di kepala sepupunya.
"Tentang rivalmu, tentu saja," ujar Alex.
"Marcel? kamu tau sesuatu yang bagus tentangnya?" selidik Aaron penuh rasa semangat.
"Lihat ini," ujar Alex, lalu menyerahkan selembar foto seorang wanita yang duduk tersenyum di sebuah bangku taman.
"Hayley?" tanya Aaron. "Dari mana kamu dapat foto Hayley?"
"Apa kamu yakin kalau gadis di foto ini adalah Hayley?" sambung Alex.
__ADS_1
Aaron menyipitkan mata, melihat dengan seksama foto yang ada di tangannya.
"Lihat, gadis di foto ini, punya tanda lahir hitam di leher kanan, tandanya mencolok, dan ini, lengan kanannya ada sejenis luka kecil seperti bekas luka bakar," jelas Alex, sambil menunjuk detail foto.
"Jadi, dia siapa? kenapa sangat mirip dengan Hayley?"
"Aku belum dapat informasi lengkapnya, yang paling penting, foto ini di temukan oleh orang suruhan ku di ruangan kerja Marcel di kantornya."
"Kamu yakin? dia benar-benar sangat mirip dengan Hayley, apa mereka kembar?"
"Nggak mungkin, kita sudah korek semua info tentang Hayley sejak pertama kali bertemu, jelas-jelas dia anak tunggal dari mertuamu, bahkan aku sudah melakukan penyelidikan ke rumah sakit tempat kelahiran Hayley, dan semuanya tidak ada hubungannya dengan gadis di foto ini," Alex menjelaskan secara gamblang.
Diam-diam, Alex benar-benar bekerja keras mencari info akurat yang dia percaya, selama hampir satu bulan ia mengirim seorang teman wanita untuk mendekati Marcel dan mencari tau kehidupan pribadinya, akhirnya usaha membuahkan hasil. Ada suatu rahasia besar yang Marcel tutupi.
"Tunggu, siapa nama gadis ini?" tanya Aaron.
"Belum ada info."
"Sebelum ini, aku sudah mengirim orang untuk mencari tau tentang Marcel juga, dia punya mantan pacar yang meninggal 5 tahun lalu karena sebuah kecelakaan. Aku lupa namanya," ungkap Aaron, ia kembali memperhatikan selembar foto di tangannya.
"Benar-benar mirip," gumamnya.
"Eh, lihat ini." Alex merebut foto itu dari tangan Aaron. "Ada inisial di sini."
Di balik foto itu, di bagian pojok kanan bawah, terdapat sebuah inisial huruf 'A' dengan sebuah tanda tangan kecil.
"Siapa 'A'. Anne." Aaron mengingat sebuah nama. "Benar, Anne adalah nama mantan pacar Marcel. Aku ingat itu."
"Artinya ...." Alex manggut-manggut dan menatap Aaron seperti memiliki tebakan yang sama.
"Kalau benar foto ini adalah foto dari mantan pacar Marcel, berarti laki-laki itu mendekati Hayley hanya karena dia memiliki kemiripan dengan Anne, bukan karena dia sungguh-sungguh," cetus Aaron.
"Kita belum tau yang sebenarnya, Bro. Tapi, sebaiknya kita merahasiakan semua ini dulu sebelum ada bukti yang kuat."
"Kamu benar. Hayley bukan orang yang mudah percaya," timpal Aaron. "Kirim orang untuk mencari semua info tentang gadis di foto ini, alamat, orang tua, kehidupan pribadi, bahkan tempat pemakamannya. Aku mau info lengkap, kalau ada, korek langsung dari keluarga dan orang-orang terdekatnya."
"Ah, gila! Marcel sebelumnya tinggal di Pakistan. Kita kirim orang kesana?" tanya Alex tidak percaya dengan apa yang Aaron perintahkan.
"Aku harus tau kelemahan musuh, sebelum dia maju satu langkah mendahuluiku," ujar Aaron tegas.
Seolah tidak menghiraukan Alex yang keberatan dengan tugas yang ia berikan, Aaron kembali menyusun rencana sebelum Hayley mengetahui yang sebenarnya.
"Aku nggak akan membiarkanmu tersakiti dua kali, Hayley!" batin Aaron.
🖤🖤🖤
Bersambung ...
__ADS_1