Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Salah sasaran


__ADS_3

Merahasiakan hal besar dari Hayley bukan hal yang mudah, gadis itu selalu saja membuat Aaron dan Alex mendadak gugup saat mereka bertiga membahas tentang kerja sama dengan Marcel.


Pasalnya, beberapa hari terakhir Marcel menawarkan sebuah proyek besar bernilai milyaran dollar, tidak ada satupun dari mereka yang akan menolak dengan tawaran menggiurkan dan keuntungan yang fantastis.


Hari sabtu sore yang senggang, Aaron dan Alex mengurus berkas-berkas persetujuan kerja sama dengan perusahaan M-Ral yang di pimpin oleh Marcel, sedangkan Hayley, ia sibuk memilih gaun di kamarnya untuk menghadiri pesta ulang tahun malam nanti


"Apa kita akan terima kerja sama ini?" tanya Alex.


"Ah, aku punya firasat buruk soal ini," ungkap Aaron, ia sudah memikirkan hal ini dengan sangat serius, ia tidak hanya mempertimbangkan keuntungan dan kesuksesan perusahaannya, namun ada sesuatu yang mengganjal dari tawaran Marcel.


"Ini sesuatu yang wow, Bro!" seru Alex. "Bayangkan, berapa banyak keuntungan yang akan perusahaan dapatkan kalau proyek itu berhasil, bisa-bisa aku langsung kencan selusin dalam semalam."


Tidak menghiraukan Alex yang berseru riang, Aaron masih memikirkan berbagai prasangkanya.


"Kami nggak curiga sama Marcel?" tanya Aaron. "Ada perusahaan yang lebih profesional di banding kita, termasuk milik pamannya sendiri, tapi kenapa dia memilih kita?"


"Hmm, mungkin dia butuh orang baru, pemikiran baru, dan juga membangun kerja sama lebih luas dengan jaringannya," jawab Alex ringan.


"Yakin cuma itu?"


"Entahlah, Bro. Yang pasti, kita akan mendapatkan keuntungan besar."


Alex hanya memikirkan tentang keuntungan perusahaan, dan nilai fantastis yang akan mereka dapatkan. Sedangkan Aaron, ia gelisah, dia tidak tau apa tujuan Marcel membawanya dalam proyek sebesar ini, namun laki-laki itu patut di curigai.


Apalagi pagi tadi, Albern datang ke kantornya, ternyata papa Aaron itu tau jika perusahaan M-Ral menawarkan proyek besar yang menggiurkan, ia mendesak Aaron untuk segera menandatangani semua berkas kerja sama agar proyek segera di mulai.


"Kita akan serahkan berkas ini senin lusa," ujar Aaron, setelah mempertimbangkan banyak hal, ia akhirnya menyerah pada keuntungan.


"Oke, siap!" seru Alex, lalu keluar dari ruang kerja sambil menelpon seorang wanita.


Usai kepergian Alex, Aaron pun menyusul keluar, ia juga harus bersiap untuk pesta malam nanti.


Saat akan ke kamarnya, Aaron melihat pintu kamar Hayley yang sedikit terbuka, ia mengintip untuk memastikan apakah Hayley ada di sana atau tidak.


Terbawa rasa penasaran, Aaron langsung masuk saat melihat Hayley sibuk mencoba beberapa gaun di depan cermin.


"Butuh bantuan?" tanya Aaron.


"Sedikit. Aku bingung, gaun ini banyak, dan aku nggak tau harus pakai yang mana," ungkap Hayley.


"Pakai aja yang kamu suka, semuanya bagus."


"Apa yang ini cocok?" tanya Hayley, ia meletakkan sebuah gaun berwarna merah cabe di depan tubuhnya, berputar beberapa kali di depan Aaron, itu terlihat sangat cocok di tubuhnya.


"Ah, terlalu ... seksi."


"Seksi? kamu nggak suka cewek seksi?" tanya Hayley, lalu melempar baju itu di atas kasur.


"Suka, tapi aku nggak suka kalau keseksian gadisku di nikmati banyak orang," seloroh Aaron, Hayley yang sibuk membongkar lemari, tidak begitu peduli dengan jawaban yang Aaron sampaikan.


"Apa yang ini?" tanya Hayley, ia memperlihatkan sebuah dress putih dengan motif bunga-bunga. "Aku suka, tapi kainnya terlalu tipis dan tembus pandang."


"Itu juga bagus. Aku suka."


"Hmm."


Sebuah pilihan akhirnya jatuh pada dress bermotif. Aaron cukup senang Hayley sering mendengarkan pendapatnya, gaun apapun yang Aaron berikan, selalu cocok di pakai Hayley.


🖤🖤🖤


Hayley menatap bayangan dirinya di cermin dalam balutan gaun dior yang sudah Aaron pilih untuknya, ia menggerai rambutnya ke samping seperti biasa, tidak terlalu memakai banyak perhiasan, Hayley lebih suka tampil sederhana, ia memadukan warna gaun dengan sepatu dan tas dari merek yang sama.

__ADS_1


Tepat pukul 7 malam, manusia 3 serangkai itu langsung meluncur menuju hotel tempat pesta ulang tahun di adakan.


Saat sampai di lobi hotel, seseorang langsung menyambut ketiganya dan membawa mereka menuju lantai paling atas hotel berbintang ini.


Sebagai pengusaha dan seorang konglomerat, tentu saja orang tua Barbara sangat mampu menyewa hotel dan menyulapnya menjadi acara pesta yang berbeda dari biasanya.


Keluar dari lift dan memasuki area pesta, Mereka bertiga sudah di sambut suasana yang berbeda dari pesta yang biasa mereka hadiri.


"Ini pesta apa kontes siluman ular, sih!" gerutu Aaron kesal. Hampir di setiap tempat, ular-ular besar dengan berbagai jenis di pajang.


"Takut, ya ...."


"Nggak, geli aja."


Hayley tersenyum mengejek, ia tidak menyangka jika Aaron yang berwajah garang dan cool itu ternyata tidak menyukai binatang melata di sekitarnya.


Mengelilingi acara pesta sambil menyapa para sahabat lama, Aaron berdiri di pojok ruangan sambil mengawasi Alex yang mulai tebar pesona ke kumpulan wanita sosialita.


Seorang wanita dengan pakaian yang tidak biasa melambaikan tangan dari kejauhan dan berjalan mendekat, wanita itu memakai gaun tanpa lengan dengan motif sisik ular berwarna kuning keemasan.


"Siapa dia?" tanya Hayley.


"Barbara," jawab Aaron, lalu meraih tubuh Hayley dan merangkul pinggang gadis itu agar semakin dekat.


"Dia kelihatan kayak induk ular, ya," seloroh Hayley sambil terkekeh. "Kamu nggak takut sama dia, itu induknya loh!"


"Nggak, kan ada kamu. Pawang ular!"


Gemas, Hayley mencubit perut Aaron.


"Hai, Aaron. Long time no see," sapa Barbara, wanita dengan tubuh montok itu menyapa sambil tersenyum ramah.


"Hai, Barbara. Selamat ulang tahun. Aku sudah membawakan hadiah untukmu, ku letakkan di dekat panggung," ujar Aaron.


"Ya, selamat ulang tahun, Nona Barbara."


"Ah, panggil saja Barbara. Aku akan menemui teman-teman yang lain dulu, nikmati pestanya, ya," pamit Barbara seraya pergi meninggalkan Aaron dan Hayley.


"Sepertinya dia teman yang asik," ujar Hayley, lalu melepaskan diri dari tangan Aaron yang melingkar di pinggangnya.


Dari kejauhan, wanita berambut pirang sepinggang sedang mengintai keduanya seperti sebuah mangsa. Kathrine mendapatkan akses masuk ke pesta ini karena ia juga mengenal Barbara, apalagi ia tau jika Aaron juga datang, ia sudah menyiapkan rencana matang.


Merasa di awasi, Hayley diam-diam memperhatikan gerak gerik Kathrine yang sedang berbisik-bisik dengan seorang pelayan pembawa minuman.


Mengumpulkan keberanian dengan rasa percaya diri tinggi, Kathrine mendekat ke arah mangsa.


"Aaron," sapa Kathrine biasa, seolah tidak terjadi apapun di antara mereka.


Berdecak kesal, Aaron pura-pura tidak peduli dan mengapit Hayley di sampingnya.


"Aku sudah rela kalau kamu nggak mau lagi balikan sama aku. Tapi, apa salahnya kita berteman," ujar Kathrine.


"Pergilah, Kath. Aku muak melihat mukamu!" desis Aaron.


Hahley hanya diam, mengamati apa yang akan Kathrine rencanakan selanjutnya.


"Lusa aku akan kembali ke Belanda. Anggap ini sebagai pertemuan terakhir, salam perpisahan," lanjutnya.


"Apa maumu?" tanya Aaron sinis.


Kathrine melambaikan tangan kepada seorang pelayan muda berseragam merah, lalu pelayan itu mendekat membawa nampan berisi 3 minuman dalam gelas.

__ADS_1


"Aku nggak mau apa-apa," ujar Kathrine, lalu mengambil gelas minum di nampan sang pelayan, ia memberikan satu gelas untuk Aaron, Hayley, dan dirinya. "Kita bersulang."


Berpura-pura terkilir oleh sepatu hight heelsnya sendiri, Hayley menumpahkan minumannya ke gaun ungu milik Kathrin.


Sontak, Kathrine terkejut lalu meletakkan minumannya kembali di meja, ia mencari tisu untuk membersihkan gaunnya yang basah.


"Ups, sorry," ujar Hayley.


"Kamu nggak papa?" tanya Aaron pada Hayley, bukannya ia menanyakan Kathrine yang basah akibat siraman wine, ia malah sibuk memeriksa kaki Hayley yang terkilir, ia meletakkan gelasnya dan membantu memijat pelan kaki Hayley.


"Aku nggak papa, kok," ujar Hayley.


Kathrine terlihat sangat kesal, wajahnya merah padam dengan tangan mengepal, ingin sekali rasanya wanita itu mencakar gadis sok polos di hadapannya, namun ia menahan, demi rencananya yang harus berhasil.


"Ah, Aaron. Minumlah, kita bersulang," ujar Kathrine memaksa, ia kembali menyodorkan gelas di depan Aaron.


Kathrine tersenyum girang saat Aaron menuruti keinginannya, namun Hayley langsung merebut gelas di tangan Aaron sebelum ia sempat meminumnya.


"Aku haus," ujar Hayley, lalu meneguk habis minuman yang ada di tangannya.


"Apa-apaan, sih!" sentak Kathrine. "Itu buat Aaron."


"Aku ini istrinya, aku juga berhak minum apa yang dia minum," jawab Hayley santai, membuat Kathrine semakin marah dan meninggalkan keduanya.


Beberapa menit kemudian, Hayley merasa tubuhnya ringan dan aneh, Hayley berpegangan pada lengan Aaron dengan kuat.


"Hayley, kamu kenapa?" tanya Aaron khawatir, sedangkan Kathrine, langsung pergi dengan rasa kesal luar biasa.


"Aku ... pusing," jawab Hayley, meraba kepalanya yang berputar-putar. "Kenapa rasanya tubuhku panas, aku ... gerah."


"Panas? ini ruangan sangat dingin, Hayley."


"Nggak tau, gerah ...." Hayley semakin tidak terkontrol, ia merasa tubuhnya terasa sangat ringan dan aneh, ia melihat Aaron dengan tatapan tidak biasa.


Aaron merangkul pinggang gadis itu, lalu membawanya menuju pintu keluar.


"Pasti Kathrine mencampur sesuatu ke dalam minuman itu." batin Aaron, ia menuntun tubuh Hayley masuk ke dalam lift dan bergegas membawanya menuju mobil.


"Bertahanlah, Hayley," ujar Aaron, ia lalu menghubungi Alex dan menceritakan kejadian yang ia alami saat ini sambil menyetir mobil.


Membawa Hayley menembus jalanan yang ramai, Aaron tampak sangat khawatir.


"Ah, Mr. Ice ... gerah," keluh Hayley. "Aku mau lepas baju."


"Hai, hai. Jangan di lepas di sini," ujar Aaron, ia tidak fokus menyetir karena Hayley yang terus mendesah dan mengerang aneh.


"Aku nggak tahan, aku mau ... cium."


"Hah? mau cium?" Aaron semakin bingung, Hayley terus saja menarik-narik jasnya.


"Ayo ... cium. Cium ...."


Mengusap wajahnya kasar, Aaron semakin kelabakan.


"Pasti pengaruh obat perangsang!" tebak Aaron.


🖤🖤🖤



__ADS_1


Hai, ini part super panjang loh. Lebih banyak dari biasanya.


Semoga suka ❤️


__ADS_2