Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Permintaan maaf


__ADS_3

Mendapat perlakuan dari Aaron yang tidak terduga, Hayley tidak mampu menolak, kurang dari waktu satu jam, Aaron menciumnya dua kali.


Lebih mengejutkan lagi, kali ini Aaron melum*t bibirnya mesra, tangannya meremas lembut di pinggang hingga membuat Hayley terbuai dalam dekapan laki-laki itu. Beruntung, Marcel lebih memilih meninggalkan pesta, daripada harus melihat kenyataan menyakitkan di depan matanya.


Hayley tidak mengerti apa niat dan tujuan Aaron menciumnya untuk pertama kali, apakah dia memang ingin, atau hanya sekedar membuat Marcel cemburu. Tapi sikap laki-laki ini sangat sulit di tebak.


Merasa malu, ingin sekali Hayley berlari meninggalkan Aaron di tengah lantai dansa, semua hadirin pesta memandang mereka sambil bertepuk tangan meriah, memberikan siulan panjang atas keromantisan keduanya saat berdansa.


"Kenapa kamu menciumku?" tanya Hayley sambil berbisik.


Aaron tidak menjawab, ia hanya menatap manik kebiruan gadis di depannya dengan penuh kekaguman. Sedangkan Hayley, kepalanya di penuhi dengan banyak pertanyaan yang sulit ia ungkapkan.


Dansa berakhir saat sang tuan rumah mempersilahkan mereka makan bersama dengan para kolega. Aaron tetap mengapit Hayley di sampingnya, ia seperti tidak rela jika gadis itu menjauh darinya sejengkal saja.


🖤🖤🖤


Kejadian yang Hayley alami di pesta semalam, dan terbongkarnya status dirinya saat ini di hadapan Marcel, membuat gadis itu tidak berselera makan, ia hanya menghabiskan sepotong sandwich di piringnya, tanpa menambah cemilan seperti biasanya.


"Semalam, kalian itu keren!" puji Alex sambil mengacungkan dua jempol ke arah Hayley dan Aaron.


Dua manusia yang saling diam, tidak ingin menanggapi pujian Alex. Sampai sarapan selesai, Hayley memilih untuk kembali ke kamarnya lebih dulu.


Hari minggu adalah hari yang sangat tenang bagi ketiganya, Hayley lebih suka menghabiskan waktu di dalam kamar sambil membaca buku.


Tok ... Tok ... Tok ....


Hayley membuka pintu kamarnya, Aaron sudah berdiri di sana dengan memasang wajah tampan nan cool-nya.


"Ada apa?" tanya Hayley datar.


"Boleh aku masuk?"


Hayley mempersilahkan Aaron masuk dengan isyarat, ia enggan berkomentar apapun pada Aaron.


"Kamu marah?" tanya Aaron. "Maaf, semalam aku keterlaluan," imbuhnya.


Hayley memilih duduk di tepi kasur, ia menatap Aaron sekilas lalu mengangkat sebelah bahu, tidak mengindahkan pertanyaan laki-laki di dekatnya.


"Baiklah, kamu marah, dan aku sudah minta maaf. Tolong maafkan aku, Hay!"


"Aku nggak tau harus ngomong apa, Mr. Ice. Kenapa kamu menciumku?" ujar Hayley frustasi, ia membanting bantal yang berada di sampingnya.


"Aku ... khilaf."


"Menyebalkan! itu ciuman pertamaku!" pekik Hayley keras, ingin sekali dirinya menjerit agar rasa kesal di dadanya mereda.


Sedikit terkejut, Aaron berusaha kembali bersikap tenang dan membujuk Hayley untuk memaafkannya. Aaron tidak menyangka jika ciuman yang ia berikan semalam adalah pertama kalinya bagi Hayley, ia merasa bersalah sudah lancang melakukan hal itu tanpa persetujuannya.


Aaron duduk di samping Hayley, ia memasang wajah melas agar Hayley mau kembali mengobrol dengannya, tanpa kecerewetan gadis itu, rumah terasa sangat senyap dan sepi.

__ADS_1


"Boleh aku tanya satu hal," ujar Aaron.


Hayley mencebik, memalingkan wajahnya menghadap jendela.


"Apa Marcel marah padamu setelah tau kita sudah menikah?" tanya Aaron.


"Nggak, dia nggak marah," jawab Hayley sinis. "Kecewa aja."


Menghembuskan nafas kasar, Aaron merasa kesal. Padahal ia sangat berharap jika Marcel akan marah dan menjauhi Hayley, atau paling tidak, laki-laki itu akan sadar jika Hayley tidak akan bisa dia miliki seutuhnya.


"Dia tangguh, masih mau memperjuangkanmu?" tanya Aaron lagi.


"Nggak usah sok peduli. Kamu senang kan kalau dia tau kita menikah? kenapa?" tanya Hayley.


"Karena aku nggak suka kalian dekat!" sentak Aaron, kemudian ia bangkit dan meninggalkan Hayley begitu saja.


Berdecak kesal, Hayley merasa Aaron semakin aneh. Apa yang salah jika dirinya dekat dengan Marcel, toh hubungan mereka akan segera usai setelah kontrak pernikahan ini berakhir.


Setelah percakapan itu, Aaron sama sekali tidak menampakkan dirinya, bahkan laki-laki itu melewatkan makan siang mereka. Beberapa kali Alex datang ke kamar Aaron untuk meminta laki-laki itu turun dan makan bersama, namun Aaron menolak dengan alasan tidak berselera.


"Kalian berantem?" selidik Alex, menatap Hayley yang sibuk mengorek isi piringnya tanpa ingin memakannya.


"Nggak!"


"Nggak usah bohong. Aku tau," goda Alex. "Udah kayak suami istri beneran aja pakai berantem segala."


"Diem nggak!" bentak Hayley.


"Dia itu kenapa sih, ada masalah dikit, ngurung diri di kamar!" gerutu Hayley, masih terdengar jelas di telinga Alex.


"Dia nggak ngurung diri. Cuma sedang meyakinkan hati," sahut Alex.


"Kenapa?" tanya Hayley penasaran.


"Ya ... gitu, deh," ucap Alex berekpresi unik. "Kamu mau tau rahasia Aaron nggak?"


Tidak mampu menyembunyikan rasa penasaran, Hayley langsung bertanya. "Mau, mau. Rahasia apa?" tanyanya penuh semangat.


"Diia itu, ternyata lagi falling in love!" seru Alex sambil terkekeh.


"Serius?"


"Iya, dong. Kamu penasaran nggak, dia falling in love sama siapa," ujar Alex sedikit berbisik, Hayley yang tidak mampu menyembunyikan rasa penasarannya, mencondongkan tubuh ke atas meja makan agar lebih dekat dengan Alex.


"Sama siapa?" tanya Hayley.


"Kamu!" jawab Alex sambil tertawa terbahak-bahak.


"Nggak lucu!" Hayley melempar serbet di tangannya langsung ke wajah Alex dan meninggalkan Alex yang masih terbahak-bahak sambil memegang perutnya.

__ADS_1


Setelah meninggalkan Alex dari meja makan, Hayley naik ke lantai atas dan duduk merenung di tepi kolam renang, hatinya sedang berperang saat ini.


Di satu sisi, ia mempunyai harapan untuk segera mengakhiri pernikahan kontrak ini dan bersama Marcel, tapi di sisi lain, seperti ada sesuatu yang menahannya untuk tetap tinggal.


Apakah Hayley sudah jatuh cinta pada dua laki-laki secara bersamaan?


Tidak ada yang tau, namun gadis itu semakin di buat bingung dengan perasaannya sendiri.


Marcel, laki-laki baik dan penuh tanggung jawab itu selalu memberikan kenyamanan dan memperlakukan dirinya bak ratu di hatinya, sedangkan Aaron, semakin hari laki-laki itu semakin menunjukkan kasih sayangnya yang berlebihan, bahkan Aaron tidak lagi sungkan mengakui dirinya sebagai seorang istri.


Perkataan Alex yang baru ia dengar, kini berdengung di telinganya.


Benarkah Aaron jatuh cinta padanya?


"Ah, nggak mungkin!" tepis Hayley berbicara sendirian.


Lagi-lagi ia membandingkan dirinya dengan Kathrine, wanita itu begitu cantik bak super model, sedangkan dirinya, bahkan tidak ada apa-apanya di bandingkan wanita itu.


Menurut Hayley, jika Aaron benar-benar jatuh cinta padanya, maka Aaron memungut batu kali setelah kehilangan berlian.


"Ngelamunin apa?" tanya Aaron tiba-tiba, laki-laki yang sedari tadi bergentayangan di kepalanya kini berdiri di belakangnya.


"Nggak, siapa yang ngelamun."


"Terus, yang kamu maksud nggak mungkin tadi, apa?"


"Aku nggak ngomong apa-apa, kok!."


"Bohong! telingaku masih normal, Hay."


Tanpa menjawab, Hayley berdiri dan ingin mendorong Aaron, namun Aaron dengan cepat merangkul pinggang gadis itu dan merapatkan tubuh mereka.


"Lepaskan aku, Mr. Ice!" pekik Hayley, ia berontak, namun tidak bisa menyembunyikan suara degup jantungnya yang terdengar cepat.


"Hayley, dengarkan aku," ucap Aaron lirih.


"Lepas, nggak!" teriak Hayley.


"Baik, akan aku lepaskan. Tapi tolong, dengarkan aku." Perlahan, Aaron melepaskan pelukannya, ia membiarkan Hayley berdiri sambil memegang dada yang berdebar hebat.


"Aku minta maaf atas sikapku semalam. Maaf, Hayley." ujar Aaron serius.


Tidak ada lagi yang bisa Aaron lakukan saat ini selain memohon dan membujuk Hayley, ia tidak akan kuat berlama-lama melihat gadis itu mendiamkannya.


Mengesampingkan perasaannya yang selalu ingin memeluk dan mencumbu bibir ranum di depannya, Aaron berusaha tetap menahan.


"Sabar! ini belum saatnya. Sedikit lagi, kamu nggak akan pernah bisa lari dariku, Hayley!" batin Aaron.


Pelan tapi pasti, Aaron semakin percaya diri.

__ADS_1


🖤🖤🖤


Bersambung ...


__ADS_2