
Sebelum Melanie menjawab pertanyaan Hayley, Alex sudah berdehem di belakang mereka, Melanie yang menyadari keberadaan Alex langsung memberikan isyarat pada Hayley.
"Oh, Alex. Masih sore, rapi banget," ucap Hayley sambil melirik Alex.
"Kencan lah, memang cuma kamu aja sama Aaron yang bisa begitu. Syirik aja!" jawab Alex sinis.
Melanie menatap dua orang saling bergantian, ia memang menyadari jika sikap Alex yang terlampau cuek dan terkadang usil, namun ia merasa aneh dengan Hayley yang mendadak judes di depan Alex. Setau Melanie, pertama kali mengenal Hayley adalah gadis yang penyabar.
"Kalian, kenapa?" tanya Melanie bingung.
"Biasa, kucing sama tikus. Memang nggak bisa akur," sela Aaron dari arah belakang, laki-laki itu membawa nampan berisi banyak cemilan untuk sang istri.
Melanie hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum, Alex memang pernah menceritakan pengalaman pertamanya bertemu dengan Hayley dan bekerja dengan wanita itu, dan ia juga menyadari kalau dirinya dari awal sangat susah untuk akur dengan Hayley, banyak sekali penyebabnya, termasuk sikap Alex yang menyebalkan.
"Kami mau pergi dulu, ya," pamit Melanie.
"Eh baru juga sampai. Mau ke mana sih?" tanya Hayley penasaran.
"Ada deh. Mau tau aja urusan orang!" jawab Alex sinis, menarik tangan Melanie menjauhi kursi taman.
Melanie berjalan di samping Alex sambil menoleh ke arah Hayley, ia melambaikan tangan pada Hayley sambil tersenyum.
"Sudahlah, Sweety. Jangan terlalu sering bertengkar dengan Alex, nanti darah tinggi loh," nasehat Aaron.
"Dia selalu ngajak ribut, bukan aku," keluh Hayley.
Akhir-akhir ini Aaron memang menyadari sikap Hayley yang lebih sensitif dan manja dari biasanya. Dan Alex malah memanfaatkan situasi itu untuk membuat Hayley lebih sering marah padanya.
"Sudahlah, sweetheart. Alex memang seperti itu."
"Bela aja terus. Bela terus si Alex," ujar Hayley cemberut, ia memalingkan wajah dari Aaron, membuat sang suami mendadak bingung.
Begitulah, setiap kali Aaron mencoba menenangkan Hayley karena sikap usil Alex, dirinya selalu di tuduh lebih membela Alex dari pada Hayley, Dan setelah itu, Hayley akan marah, mogok makan dan minum susu. Selalu seperti itu.
Berulang kali Aaron menasehati Alex untuk menjaga perasaan Hayley dan tidak bersikap jahil, yang ada Alex malah semakin menjadi-jadi. Bahkan pernah suatu pagi, Alex sengaja meletakkan kecoa mainan di samping piring makan Hayley.
Untungnya, bukan malah ketakutan, Hayley langsung meraih kecoa itu dan memasukkannya ke dalam kemeja Alex, membuat Alex berteriak histeris karena dirinya sendiri merasa geli dengan penampakan kecoa tersebut.
__ADS_1
"Jangan marah, kalau marah, nanti bayi kita sedih. Dia pasti nggak suka papanya di cuekin," rayu Aaron.
"Jangan membelanya!" seru Hayley.
"Baik, baik. Aku nggak akan ngomong apapun lagi tentang Alex. Kamu selalu benar, Sweety. Please, jangan marah."
Hayley mengangguk, lalu kembali menghadap Aaron, ia meraih mangkok berisi cemilan yang suaminya bawa.
Temaran senja yang menghiasi taman halaman depan rumah, membuat keduanya semakin mesra di bawah guyuran sinar senja.
Sejak kehamilan Hayley menginjak usia 4 bulan, setiap hari minggu, Hayley selalu mendapatkan kiriman baju baru untuk dirinya. Semua itu adalah baju pesanan Aaron, berupa gaun, terusan, baju tidur, piyama, dan banyak lagi yang lainnya.
Aaron melakukan itu demi bisa membuat Hayley nyaman, semakin hari ukuran perut sang istri akan semakin besar, jadi dia selalu menaikkan size pakaian untuk istrinya setiap bulan.
Saat keduanya akan masuk ke dalam rumah, sebuah mobil berwarna hitam mengkilat terparkir di depan gerbang. Seorang satpam berlari mendekati Aaron.
"Ada yang ingin bertemu, Tuan," ujar satpam tersebut.
"Siapa?" tanya Aaron, karena dia tidak merasa memiliki janji temu dengan siapapun hari ini.
Sekilas, Aaron melirik sang istri yang bergelayut manja di lengannya, dirinya tidak keberatan jika Marcel datang berkunjung, namun ia takut akan membuat Hayley merasa tidak nyaman.
Mengetahui kode permintaan izin dari sang suami, Hayley mengangguk pelan.
"Izinkan mereka masuk," perintah Aaron yang di jawab anggukan oleh satpam.
Mobil Marcel memasuki halaman rumah, Hayley dan Aaron masih berdiri di depan pintu utama, menunggu tamu mereka.
"Selamat sore, Aaron," sapa Marcel, kali ini laki-laki itu terlihat berbeda, ia lebih tenang saat berhadapan dengan Aaron, tidak seperti biasanya.
"Ada perlu apa?" tanya Aaron tanpa basa-basi.
"Kami hanya datang berkunjung. Bolehkah?" tanya Sharaa, ia memperhatikan Hayley yang berdiri dengan perut buncit.
Akhirnya Aaron mempersilahkan Marcel dan Sharaa masuk ke dalam rumahnya. Dengan cepat, para pelayan menyiapkan jamuan bagi tamu sang tuan rumah.
"Sudah berapa bulan?" tanya Sharaa "Kamu terlihat semakin cantik di kehamilan pertamamu ini, Hayley."
__ADS_1
"Sudah 7 bulan lebih, Tante. Hampir masuk 8 bulan. Ah, terimakasih atas pujiannya," jawab Hayley seperlunya, ia sendiri tidak mengerti maksud dan tujuan mereka datang ke rumah ini.
"Wah, semoga sehat selalu dan lancar sampai hari persalinan," ungkap Sharaa.
Marcel hanya diam, sesekali ia melirik wanita yang sebelumnya menjadi pujaan hatinya dan penyemangat hidupnya.
"Sebelumnya, aku mengucapkan terimakasih padamu, Nyonya Sharaa. Terimakasih sudah membebaskan perusahaan ku dari permainan anakmu," ujar Aaron.
"Ah, itu bukan masalah besar, Aaron."
"Itu masalah besar bagi kami, Nyonya. Karena perusahaan tersebut, adalah aset utaman kehidupan keluarga Conan."
"Ya, aku tau. Masalahnya sudah selesai, bukan? untuk itu, aku datang untuk meminta maaf atas semua yang sudah terjadi. Maaf untuk sikapkubeberapa waktu lalu yang mencoba merusak keluargamu, dan maaf untuk ulahku mengacaukan PT. Conan Dream," sela Marcel, laki-laki gagah itu berbicara tegas penuh wibawa, seperti Marcel yang sebelumnya.
"Aku dan istriku, sudah memaafkan semuanya. Kami tidak perlu menaruh dendam pada siapapun," ungkap Aaron, ia memang tidak berniat membalas perbuatan Marcel sama sekali. Baginya, kebahagiaan Hayley adalah yang utama, jika wanitanya sudah bahagia, ia tidak perlu lagi mengurus hal-hal lain yang tidak penting.
Selama di Pakistan, Marcel kembali berkonsultasi dengan dokter yang pernah menanganinya 4 tahun silam, kini kondisinya sudah semakin membaik. Bahkan, ia dengan mudah melupakan perasaan kagum dan obsesinya terhadap Hayley.
Menyentuh dadanya, Hayley kini tidak lagi merasakan apapun saat ia menatap manik kecoklatan laki-laki yang berada di sebrang meja. Tidak ada debaran, tidak ada perasaan kagum dan kerinduan. Hayley benar-benar melupakan semua rasanya pada Marcel, semua ini berkat kegigihan Aaron merebut hatinya.
Marcel pun begitu, 3 bulan di Pakistan, ia benar-benar kembali menata hatinya, ia tidak berusaha untuk melupakan Anne, ia hanya berusaha mengikhlaskan apa yang sudah pergi. Kini, Marcel benar-benar fokus pada dirinya sendiri.
Menjelang malam, Marcel dan Sharaa pamit untuk pulang, mereka bilang ada janji dengan kerabat dekat di wilayan puncak.
Saat Marcel keluar dari pintu utama, ia tidak sengaja di tabrak oleh gadis berbaju garis-garis hitam putih dengan rok hitam selutut.
"Eh, Sorry," ucap Breanda, ia masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa dan tidak melihat orang yang keluar dari pintu di hadapannya.
Marcel hanya menatap sekilas, ia tidak mengatakan apapun, dan hanya membantu Breanda merapikan barang bawaan yang ia jatuhkan.
"Terimakasih," ungkap Breanda, yang hanya di jawab anggukan singkat oleh Marcel.
🖤🖤🖤
Breanda Conan Drax
__ADS_1