Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Nicklause Conan Drax


__ADS_3

Aaron dengan hati-hati menggendong bayi kecilnya dan meletakkannya di atas dada, dokter memintanya untuk melepas baju untuk proses skin to skin agar bayi merasa hangat. Bayi butuh penyesuaian terhadap dunia baru setelah sembilan bulan berada dalam rahim yang hangat dan nyaman, maka bayi itu juga harus mendapatkan kenyamanan yang sama seperti saat-saat sebelumnya.


Sambil menunggu Hayley yang masih berada di ruang persalinan, Aaron meminta dokter untuk melakukan prosedur tes DNA, ia akan menggunakan ini untuk membuktikan pada orang tuanya bahwa anak yang Hayley kandung benar-benar anaknya, ia sangat berharap dengan lahirnya bayi ini, keluarganya akan bahagia menerima Hayley.


"Kenapa anda ingin melakukan tes DNA, Mr. Aaron?" tanya dokter anak yang mendampinginya.


"Ada sedikit masalah di keluarga kami. Bukan aku yang meragukannya," jawab Aaron.


"Bayi ini sangat tampan, mirip sekali dengan anda. Lihat, mata biru keabuan itu bahkan mewarisi anda," ujar dokter tersebut.


"Ya, dia sangat tampan. Dia memiliki bibir dan hidung ibunya," ucap Aaron. "Tolong rahasiakan ini dari istriku, Dok."


"Baik. Mungkin hasilnya bisa lebih cepat jika DNA yang di ambil adalah sampel darah."


Sejenak, Aaron berpikir, sebenarnya ia tidak tega jika harus membiarkan bayi kecilnya mendapatkan tusukan jarum suntik, namun apa boleh buat, ini semua demi masa depan keluarga mereka.


"Silahkan, tapi tolong hati-hati, ya," ungkap Aaron.


"Hasilnya akan keluar dalam dua puluh empat jam."


Setelah meminta tanda tangan persetujuan untuk melakukan tes DNA, dokter segera meninggalkan ruangan perawatan.


Aaron memandangi bayi kecilnya, mengelus lembut pipi kemerahan itu dengan ibu jari.


"Kamu adalah bukti cinta kami, terimakasih sudah hadir di tengah-tengah keluarga ini. Papa berjanji akan membahagiakanmu dan mamamu," bisik Aaron.


Beberapa menit berlalu, perawat mengantarkan Hayley yang masih berbaring di atas ranjang menuju ruang perawatan. Suster meminta bayi itu dari pelukan Aaron dan membawanya pada Hayley.


Dengan hati-hati, Hayley menggendong bayi kecilnya, meletakkannya di depan dada dan berusaha menyusuinya.


"Mungkin awalnya akan sedikit sakit, Mrs. Hayley. Namun jika sudah terbiasa, rasanya akan nyaman," ujar suster tersebut, ia membantu Hayley untuk memposisikan tubuh bayinya agar bisa menyusu dengan benar.


Bayi menyusu bukan pada puti*ng ibunya, melainkan pada areola, atau lingkaran yang mengelilingi puti*ng payudar*. Hal itu berguna agar bayi mendapatkan ASI yang cukup dan menghindari lecet pada puti*ng.

__ADS_1


Inisiasi menyusui dini berguna untuk merangsang hormon ibu agar mengeluarkan ASI, saat pertama kali bayi menyusu, ASI yang keluar memang sedikit, karena bayi masih memiliki cadangan makanan bahkan untuk dua hari kedepan.


Tidak perlu terburu-buru untuk memberikan susu formula ketika bayi lahir dan ASI yang keluar belum lancar, ASI di produksi sesuai dengan kebutuhan bayi, semakin sering bayi manyusu, maka ASI yang di hasilkan akan semakin banyak karena lambung bayi masih sangat kecil.


Hayley dengan sabar belajar menyusui bayi laki-lakinya, ia mencoba dari kanan dan kiri, berusaha sebaik mungkin agar bisa memberikan yang terbaik bagi sang anak.


Aaron tidak tinggal diam, sesekali ia pun membantu Hayley membenarkan posisi bayi yang terkadang memberontak, saat bayi sudah nyaman dan diam, Aaron dengan telaten memijat pundak dan bagian tubuh Hayley lainnya, membantu sang istri agar kembali rileks setelah perjuangan berat beberapa saat lalu.


"Terimakasih Sweetheart," ucap Aaron, ia menciumi kening Hayley berkali-kali, ia merasa perlu untuk mengucapkan terimakasih atas perjuangan Hayley saat ini, bahkan ribuan terimakasih pun tidak akan pernah cukup.


Laksmi dan dua orang pelayan masuk ke ruangan, mereka mengucapkan selamat pada Hayley dan Aaron, setelah usai, mereka kemudian berpamitan pulang untuk mengurus pekerjaan rumah.


"Aku akan memberi kabar pada Breanda," ucap Aaron. "Dia pasti sangat senang."


"Tapi ...." Hayley menatap nanar Aaron, ada sedikit perasaan takut dan sedih yang bergelayut di hatinya.


"Urusan mama, aku akan selesaikan. Kamu tenang, Sweety. Semua akan baik-baik saja." Aaron berucap sungguh-sungguh.


Setelah mendapatkan izin dari Hayley, Aaron segera menelpon Breanda, ia memberi kabar tentang kelahiran keluarga baru di keluarganya, namun meminta Breanda untuk tidak mengatakn hal ini kepada Samantha dan Albern terlebih dahulu. Aaron akan menunggu bukti tes DNA keluar sebelum kedua orangtuanya bersikap buruk dan menuduh Hayley yang bukan-bukan.


"Mau ganti baju?" tawar Aaron. Hayley mengangguk, lalu meletakkan bayinya yang sudah tertidur pulas ke dalam box bayi.


Aaron meminta air hangat pada perawat untuk membersihkan tubuh Hayley yang lengket karena keringat.


"Aku bisa mandi," tolak Hayley.


"Jangan, aku akan membersihkan tubuhmu. Kamu harus tetap cantik, akan banyak orang yang datang kemari," ucap Aaron.


Dengan sabar, Aaron membasuh seluruh tubuh Hayley dengan handuk yang sudah ia celup air hangat, lalu memakaikan Hayley dengan baju yang sudah Laksmi siapkan.


"Apa Breanda akan datang?" tanya Hayley.


"Dia pasti datang," jawab Aaron sambil menyisir rambut istrinya.

__ADS_1


Setelah selesai mengurus Hayley, Aaron kembali menggendong bayinya, rasanya ia ingin sekali terus menggendong si kecil, wajah bayi itu begitu lucu dan menggemaskan.


"Kamu harus tidur, Sweetheart. Istirahatlah, kamu pasti lelah," ucap Aaron.


Hayley mengangguk, lalu membaringkan tubuhnya senyaman mungkin. Proses persalinan yang begitu mendebarkan seperti sudah menguras habis seluruh tenaganya.


🖤🖤🖤


Sore hari, Breanda datang bersama seseorang, seorang laki-laki yang sangat Aaron dan Hayley kenali. Marcel.


"Bre," sapa Hayley senang, wanita itu pelan-pelan sudah bisa duduk dan berjalan pelan untuk sekedar ke kamar mandi. Pandangan Hayley tertuju pada laki-laki di belakang Breanda.


"Hai kak. Kenapa? apa kakak terkejut?" tanya Breanda, gadis imut itu berhambur memeluk Hayley sambil mencium sebelah pipi.


Marcel berdiri sambil tersenyum, menyerahkan buket bunga berukuran besar pada Hayley.


"Selamat atas kelahiran anak pertama kalian, semoga dia menjadi anak yang baik," ucap Marcel.


Aaron yang berdiri sambil menggendong bayinya di samping Hayley, menatap tidak percaya dengan kelakuan adiknya. Bagaimana bisa Breanda bisa datang dengan Marcel, dan bagaimana bisa mereka saling mengenal setelah pertemuan tidak sengaja beberapa bulan lalu.


Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benak Aaron, ia menatap adiknya dengan pandangan tajam, mengabaikan Marcel yang menyapanya ramah.


"Kakak, aku datang untuk menjenguk keponakanku. Tolong berhenti memelototiku," sergah Breanda, menyadari tatapan aneh Aaron.


"Bre," ucap Aaron pelan, namun dengan nada penuh ancaman.


"Baik-baik. Aku akan menjelaskan, tapi nanti, ya. Aku harus menggendong keponakanku dulu," ucap Breanda sambil nyengir kuda, ia mengambil alih bayi dari gendongan Aaron. "Tolong jangan memelototiku, kakak. Bola matamu hampir keluar," candanya.


Aaron mengalihkan pandangannya pada Marcel, laki-laki tampan berkumis tipis itu tersenyum seakan-akan tidak peduli dengan raut wajah Aaron yang aneh.


"Siapa nama keponakanku, Kak?" tanya Breanda.


"Namanya, Nick. Nicklause Conan Drax. Seperti nama keluarga besar kita, supaya dia nggak akan lupa dari mana dia berasal, dan siapa keluarganya," ungkap Aaron bangga.

__ADS_1


🖤🖤🖤


__ADS_2