Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Ingin cuti


__ADS_3

Kalimat pernikahan kontrak yang Hayley ucapkan di meja makan waktu itu seperti terngiang-ngiang di telinga Aaron, entah apa sebabnya, tapi ia merasa ada janggal dalam hatinya.


"Mr. Ice, boleh aku cuti bekerja selama beberapa hari?" tanya Hayley, membangunkan Aaron dari lamunannya.


"Ada apa?" tanya Aaron. "Kamu sakit?"


"Nggak." Hayley menghela nafas panjang sebelum mengungkap alasannya. "Aku ... mau liburan."


"Liburan? kemana?" selidik Aaron.


"Mungkin kalau aku jujur, kamu nggak bakalan kasih izin, tapi ... aku nggak mau bohong," ungkap Hayley. "Marcel dan mamanya ngajak aku liburan ke Bali."


Sedikit terkejut dengan apa yang Hayley sampaikan, Aaron berusaha menutupi ekspresi wajahnya yang tidak biasa.


"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Aaron.


"Tanyakan saja."


"Sudah sejauh apa hubungan kalian?" Aaron bertanya serius, ia mengubah duduknya yang semula santai berubah tegang.


"Kami cuma berteman, nggak lebih," jawab Hayley, memang itulah yang ada dalam anggapan Hayley saat ini, terlepas dari perasaan Marcel yang menginginkannya, Hayley masih menganggap hubungan mereka tidak lebih dari persahabatan.


"Berteman?" Aaron mengulang kalimat Hayley. "Kamu yakin?" desaknya.


"Hmm."


"Dari yang aku ketahui, Marcel nggak punya pacar, dan satu-satunya wanita yang dekat sama dia cuma kamu, kamu yakin dia nggak pernah ngomong sesuatu?"


"Sebenarnya ...."


"Sudah ku tebak, kalian berpacaran?"


"Bukan, bukan seperti itu, Mr. Ice." Hayley mendadak bingung, ia yakin Aaron sudah menyelidiki kedekatannya dengan Marcel.


"Selesaikan saja semua pekerjaanmu, aku akan memikirkan rencana cutimu," sela Aaron. Dirinya tidak ingin membuat Hayley terlalu berharap ataupun kecewa saat ini juga.


"Hmm, baiklah," ujar Hayley seraya pergi dari ruangan Aaron.


"Hay, tunggu!" teriak Aaron sebelum Hayley membuka gagang pintu.


"Apa lagi?"

__ADS_1


"Temani aku bertemu seseorang siang ini," pinta Aaron. "Alex sedang sangat sibuk, aku nggak mau ganggu dia."


"Hemm, ya sudah," jawab Hayley singkat, ia tidak punya pilihan lain selain menurut, terlepas Aaron adalah suaminya, dia juga atasannya di perusahaan ini, jadi sudah menjadi tugasnya untuk ikut andil dalam setiap pekerjaan.


Diam-diam Aaron menyusun rencana untuk kembali melakukan penyelidikan terhadap kehidupan Marcel, ia masih sangat penasaran tentang laki-laki yang begitu menarik perhatian Hayley.


"Apa sih istimewanya Marcel?" batin Aaron. Dirinya tak habis fikir, bagaimana bisa Hayley dan Marcel menjalin hubungan pertemanan yang terlihat lebih dari sekedar teman. Apalagi reaksi Hayley saat mereka membahas tentang Marcel, wajah gadis itu mudah sekali bersemu merah.


Melupakan segala sakit hati yang Kathrine sebabkan, Aaron malah menyibukkan diri mengurus urusan orang lain.


🖤🖤🖤


Berhari-hari Kathrine mencoba menghubungi Aaron melalui ponselnya, namun seperti yang ia duga, semua akses menuju Aaron sudah terblokir.


Sesaat setelah Aaron menyatakan bahwa hubungan mereka sudah berakhir, di situlah terakhir kali Kathrine mendengar suara Aaron, bahkan untuk berkirim pesanpun kini tak bisa lagi ia lakukan.


"Aaron, sungguh. Aku rindu," ujar Kathrine sendu, di tengah turunnya salju yang dingin, ia memaki kebodohannya sendiri.


Tidak berguna lagi ia menyesali semua ini, ia sudah bermain-main dengan api, dan kini dia tidak hanya tersulut, melainkan terbakar habis menjadi abu.


Harapan dan cita-citanya sudah padam, ia masih mencoba untuk mencari celah terbaik hati Aaron, ia yakin jika laki-laki itu masih sangat mencintainya.


"Aku ingin pulang ke Indonesia, tapi untuk saat ini aku nggak punya biaya, Adnan," ujar Kathrine. Adnan adalah seorang financial consultant bersertifikat yang sudah ahli dalam bidang keuangan.


"Baiklah, Nona Kathrine. Aku ingin tau semua barang-barang berharga yang bisa di jual," kata Adnan.


kathrine mengeluarkan semua barang-barang mewahnya, tas, perhiasan, jam tangan, sampai gaun-gaun maha yang ada di lemarinya.


"Bisakah kamu menyebutkan nominal harga barang-barang ini kalau terjual?" tanya Adnan.


Dengan sabar, Kathrine mulai memilih barang-barang dengan harga tertinggi untuk di jual, sedangkan Adnan sibuk dengan kertas dan alat hitungnya.


"Lumayan," ujar Adnan mengangguk. "Tapi, ini bahkan baru bisa membayar 70% dari semua hutang-hutangmu, termasuk ganti rugi kontrak kerjamu yang belum tuntas.


"Bagaimana kalau apartemen ini aku jual?" tanya Kathrine, tidak memiliki banyak pilihan, wanita itu hampir putus asa. "Aku butuh modal untuk membangun usaha di Indonesia, orangtuaku sudah nggak peduli."


"Baik, kita hitung semuanya." Adnan mulai menghitung cepat dengan teliti, ia menggelengkan kepala pelan, seperti belum menemukan sesuatu yang mampu memperbaiki keadaan.


"Usaha apa yang ingin kamu jalani, Nona Kathrine?"


"Butik misalnya, aku model profesional, usaha itu pasti sangat cocok untukku."

__ADS_1


"Ah, baik. Jadi aku hanya akan mengurus finansialmu sampai urusan di negara ini selesai. Dan, setelah kamu kembali ke Indonesia, maka aku bisa merekomendasikan salah seorang sahabat dekatku untuk membantu."


"Baik sekali kamu, Adnan," puji Kathrine.


"Semua barang-barang ini kalau terjual habis beserta apartemen dan mobil milikmu, maka hutang-hutangmu bisa lunas 85%," ucap Adnan.


"Terus, bagaimana caraku agar semuanya lunas?" tanya Kathrine bingung.


"Nggak ada lagi barang berharga lainnya?"


Kathrine kembali mengingat, ia membuka laci lemarinya lalu meraih kotak putih berukuran kecil, ia membukanya perlahan, melihat dengan seksama jam tangan hadiah dari Aaron saat anniversary mereka yang pertama.


Masih segar dalam ingatan, laki-laki itu rela datang di tengah badai salju 4 tahun lalu demi memberikan hadiah istimewa ini.


"Berapa harga jam tangan ini?" tanya Kathrine sambil mengulurkan benda di tangannya.


"Wow, seriously? apa jam tangan ini ori dari brand graff diamonds?" tanya Adnan sambil mulut menganga tidak percaya.


"Nggak tau, tapi ada sertifikatnya," ucap Kathrine lalu membuka bagian dalam kotak yang ia pegang.


Setelah melihat sertifikat asli dan meneliti dengan seksama, Adnan makin terkejut dengan apa yang ia lihat.


Pasalnya, jam tangan yang di miliki Kathrine adalah jam tangan graff diamonds the fascinations yang menduduki peringkat kedua jam tangan termahal di dunia, jam tangan ini bertahtakan berlian putih senilai 152 karat serta berlian berbentuk pir 38 karat. Harganya mencapai US$ 40 juta atau sekitar 550 milyar rupiah.


"Jam tangan ini cukup untuk melunasi 70% hutangmu, Nona. Jadi kalau kamu berniat menjualnya, maka kamu masih bisa memiliki beberapa tas dan gaun ini," ujar Adnan.


Kembali berpikir, Kathrine merasa berat jika menjual salah satu hadiah yang ia dapatkan dari Aaron, apapun yang terjadi saat ini, hati dan cintanya masih sepenuhnya berharap pada Aaron.


"Tapi ... aku nggak bisa jual jam tangan ini, Adnan," ucap Kathrine lirih. "Bisakah aku mendapatkan pinjaman?"


"Kamu hanya aku sarankan mencari pinjaman di Indonesia, karena jika masih dalam negara ini, maka urusanmu akan semakin rumit."


Lagi-lagi Kathrine mendesah, ia tidak tau lagi harus mencari dari mana uang sebagai penutup semua hutang-hutangnya. Selama ia masih memiliki tanggung jawab yang belum terselesaikan, maka ia tidak akan bisa lari dari masalah ini.


Sedangkan keinginannya untuk segera bertemu Aaron sudah sangat menggebu, dirinya masih sangat yakin jika Aaron akan memaafkannya dengan mudah.


Mencari seribu cara, Kathrine harus segera bisa menghubungi kembali Aaron untuk membantunya.


🖤🖤🖤


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2