Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Mantan


__ADS_3

Berhari-hari setelah terbongkarnya kelakuan Kathrine, Aaron tidak pernah masuk kerja, laki-laki itu lebih pendiam dan sering menghabiskan waktu di lantai 3 rumahnya untuk melakukan fitnes.


Setiap pagi sampai sore, Aaron hanya turun untuk sekedar membersihkan diri dan tidur, setelah itu ia sibuk di ruang kerja dan melakukan pengecekan semua pekerjaan orang-orang kantor.


Hayley cukup di buat resah dengan sikap Aaron yang semakin hari semakin pendiam, laki-laki itu tidak pernah berkomentar mengenai semua beban pekerjaan Hayley yang semakin rumit, ia hanya membantu dalam diam, meringankan semua keluhan Hayley melalui orang-orang kepercayaannya tanpa mengatakan apapun pada Hayley.


"Nggak sarapan?" tanya Hayley membuka pintu kamar Aaron, sudah seminggu ini Aaron melewatkan sarapan di meja makan, laki-laki itu bahkan sering membiarkan makanan yang di kirim Hayley tanpa menyentuhnya.


"Duluan aja," jawab Aaron datar, ia masih melanjutkan membaca buku di sofa miliknya.


Hayley beringsut masuk dan menghampiri Aaron, ia ikut duduk di sampingnya.


"Kamu akhir-akhir ini suka telat makan, ya." Hayley berucap pelan. "Kenapa? masih mikirin Kathrine?" tanya Hayley.


"Jangan sebut nama itu lagi, Hay!" desis Aaron.


"Kamu sudah berkorban begitu banyak demi dia, Mr. Ice. Dan sampai hari ini dia berkhianat, kamu masih mengorbankan waktu berhargamu untuk merenunginya."


"Untuk apa membuang-buang waktu? kamu kaya, punya banyak uang dan idaman banyak wanita, kenapa menangisi orang yang bahkan tidak meluangkan waktu untuk memikirkanmu?"


Aaron bergeming, ia menutup buku yang ia pegang dan meletakkannya di meja.


"Kamu bisa ngomong semudah itu karena kamu nggak tau rasanya jadi aku," sungut Aaron.


Hayley mengulum senyum, ia menjawab dengan santai. "Naasnya, kita bernasib sama, Mr. Ice. Di khianati oleh cinta pertama yang sudah kita perjuangkan bertahun-tahun, patah hati, hancur berkeping-keping, aku sangat tau rasanya, bahkan luka itu masih belum sembuh sempurna."


Aaron mengernyitkan dahi, ia menatap wajah Hayley dengan seksama, gadis itu menatap nanar pada jendela kaca yang menampilkan pemandangan taman samping rumahnya.


"Apa yang terjadi dengan hubungan kalian?" tanya Aaron penasaran.


"Dia menjalin hubungan dengan sahabat dekatku, ia mengandung anak dari kekasihku," jelas Hayley singkat, ia tersenyum getir mengingat kejadian menyakitkan itu.


Aaron bungkam, ia menatap tak percaya pada gadis yang duduk manis di dekatnya.


"Jadi, jangan berpikir hanya kamu orang yang paling sengsara dan menderita karena patah hati di dunia ini." Hayley menoleh melihat Aaron.


"Kamu kuat, Hay," puji Aaron lirih.

__ADS_1


"Karena aku percaya, Tuhan sudah menyiapkan laki-laki baik yang akan menjadi pendampingku kelak. Beruntung, perselingkuhan mereka terbongkar lebih awal, jika tidak, mungkin aku akan menyesal seumur hidup."


"Lalu, bagaimana kabar mereka saat ini?" tanya Aaron.


"Sudah bukan urusanku, mengingat hanya akan membasahi luka, yang harus aku lakukan hanya menatap lurus kedepan, memperbaiki diri dan membahagiakan orang-orang yang menyayangiku."


Aaron mengangguk paham, hatinya berdesir, ia merasa sangat lemah di hadapan Hayley, gadis yang tubuhnya tidak lebih tinggi dari Breanda itu punya pemikiran yang lebih matang dan dewasa, Aaron tersenyum kagum.


"Boleh aku berpendapat sesuatu tentangmu, Mr Ice?" tanya Hayley.


"Katakan."


"Badanmu besar, berotot, laki banget. Saat awal pertama kita kenal, aku berpikir kamu adalah laki-laki yang di kirim dari kutub utara, sikapmu begitu dingin dan menyebalkan, tapi nggak semenyebalkan Alex, sih. Tapi, hatimu rapuh, kayak hello kitty," ejek Hayley tanpa sensor.


Aaron terkekeh pelan, ia mengusap pucuk kepala Hayley dan menganggap gadis itu hanya ingin menghiburnya.


"Terimakasih sudah menjadi penyemangat, Hay. Aku percaya padamu sejak pertama kita bertemu."


"Benarkah?"


"Hemm, nggak tau kenapa, aku tertarik dengan karaktermu, kamu punya sesuatu yang berbeda."


"Baiklah, sudah cukup pembahasan soal mantan. Ayo kita sarapan," ajak Hayley sambil menarik Aaron.


Meskipun terlihat kurang bersemangat, Aaron tetap membiarkan dirinya di seret oleh Hayley dengan sekuat tenaga.


"Welcome, Bro!" sapa Alex bersemangat, ia sudah berdiri hampir satu jam di ujung tangga menunggu Hayley dan Aaron keluar dari kamar. "Selamat datang kembali di dunia nyata, lupakan saja iblis betina itu!"


Lagi-lagi Aaron hanya menanggapi dengan tersenyum, ia tau jika Alex sangat menghawatirkan dirinya.


"Menu sarapan apa pagi ini?" tanya Alex saat mereka bertiga sampai di meja makan.


"Sea food, aku yang memasaknya," jawab Hayley, ia mengambil piring dan menyiapkan menu sarapan untuk Aaron.


"Wow, sepertinya kamu bakalan jadi koki favoritku di rumah ini, Hay!" seru Alex gembira.


"Baik, aku akan beralih profesi menjadi koki rumah ini setelah pernikahan kontrak berakhir," seloroh Hayley bercanda.

__ADS_1


Uhuk ... Uhuk ...


Aaron yang sedang meneguk segelas air putih langsung tersedak mendengar ucapan Hayley. Alex segera bangkit dari duduknya dan menepuk pelan punggung Aaron.


"Pelan, Bro, pelan!" ujar Alex.


"Apa aku salah ngomong, ya?" batin Hayley.


🖤🖤🖤


Belanda, Apartemen Kathrine.


Sejak terbongkarnya skandal dirinya bersama seorang produser film dan pengusaha ternama Eropa, Kathrine sudah tidak lagi berani menampakkan batang hidungnya di tempat umum.


Segala akun sosial medianya di banjiri dengan hujatan dan makian yang menyudutkannya, bahkan kini dirinya tidak mampu lagi membayar asisten pribadinya sampai menunggak gaji selama sebulan sebelumnya.


Kathrine bangkrut, sanksi sosial kini lebih kejam dari penjara. Margaret tidak melaporkannya ke jalur hukum, namun pelajaran yang di berikan wanita itu membuat Kathrine sama sekali tidak berkutik, karirnya hancur, keluarganya membencinya, ia kehilangan Aaron dan segalanya.


"Kath!" Seseorang berteriak di depan pintu sambil menggedor-gedor


Dengan tubuh gemetar, Kathrine membukanya, ia tau jika yang datang kali ini adalah penagih hutang.


"Bayar cicilanmu!" ucap wanita di depannya dengan penuh amarah.


"Maaf, Madame. Aku belum punya uang," jawab Kathrine sambil menunduk lesu.


"Satu minggu lagi kalau kamu belum bisa bayar, aku laporin kamu ke polisi!" ancam wanita di depannya, sambil menghentakkan kaki ia berlalu pergi.


Ini adalah ketiga kalinya seseorang menagih hutang selama seminggu terakhir, Kathrine adalah wanita sosialita yang tidak sanggup bergaya sederhana. Semua uang yang dia dapatkan habis untuk berfoya-foya, sedangkan Bob hanya akan memberikan barang-barang mewah setelah ia memuaskan nafsu laki-laki itu.


Satu unit mobil mewah miliknya belum lunas ia bayar, ia terpaksa menjual beberapa perhiasannya untuk melunasi mobil itu. Satu tas bermerek dengan harga fantastis ia tinggalkan begitu saja di acara nominasi penghargaan seminggu yang lalu, ia yakin jika tas itu sudah hilang, padahal tas itu ia bayar dengan cara kredit, dan yang baru saja datang adalah penagihnya.


Tidak ada lagi yang tersisa darinya, setelah orangtuanya tau tentang kelakuan putri mereka di negara ini, ia di larang kembali pulang ke Indonesia dengan alasan apapun.


Namun, ia tidak memiliki siapapun lagi disini, semuanya sudah hancur, dan jika dia bertahan di tempat ini, maka dia tidak bisa lagi bertahan hidup.


🖤🖤🖤

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2