
Hampir semalaman Aaron terjaga dan tidak mampu memejamkan matanya, bayangan tentang kepergian Hayley dari hidupnya seakan-akan lebih menakutkan dari kehilangan yang pernah ia alami sebelumnya.
Menjelang subuh, Aaron baru bisa terlelap sejenak. Sedangkan Hayley sudah bangun dengan segala aktifitasnya, ia tidak lupa menyiapkan sarapan khusus untuk Aaron dan ibunya.
Sampai waktu menunjukkan pukul 7 pagi, Aaron masih terpejam, Hayley merasa tidak enak jika membangunkannya, laki-laki itu tidur sangat pulas dengan selimut hangat yang menutup sampai ke atas dadanya.
Hayley mendekat, ia duduk di sisi ranjang di samping Aaron. Memperhatikan dengan seksama wajah laki-laki yang tidur di dekatnya, Hayley berdecak kagum, ia tidak menyangka bisa bertahan selama ini untuk hidup bersama Aaron.
Laki-laki itu memang hanya sekilas saja terlihat begitu menyebalkan dan dingin, namun setelah mengenal cukup dekat, Aaron ternyata adalah orang yang lemah lembut dan penyayang, hanya saja laki-laki itu tidak tau bagaimana cara meraih hati seseorang.
Hayley mengusap wajah Aaron pelan. "Mr. Ice, bangun," ucapnya.
Aaron menggeliat dan malah memiringkan tubuh mendekati Hayley. "Eh, ayo bangun!" seru Hayley.
Aaron tidak menjawab, ia tetap memejamkan matanya erat dan berpindah posisi, kini kepalanya ia pindahkan di atas pangkuan Hayley.
"Hah, Mr. Ice, kamu apa-apaan sih, ayo bangun!" Hayley menggoyang-goyangkan tubuh Aaron, ia menyentil telinga laki-laki itu dengan sangat keras, namun tangan Aaron malah memeluk pinggangnya.
"Ah, ya Tuhan ...." keluh Hayley.
Hayley tidak menyadari, jika sebenarnya Aaron sudah bangun dari tidurnya sejak gadis itu keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan handuk yang kekecilan. Aaron tidak mungkin melewatkan pemandangan penyegar mata di pagi buta, ia sangat menyukai saat-saat bersama dengan Hayley kali ini.
Aaron lebih memilih berpura-pura untuk tidur agar Hayley bersedia membangunkannya, namun ia semakin jail tatkala Hayley dengan berani mengusap wajahnya.
Beberapa kali Hayley meniup telinga Aaron, mengguncang tubuhnya, sampai menggelitik pinggang laki-laki itu, namun pelukan Aaron semakin erat.
Terlanjur kesal, Hayley menarik selimut yang menutupi tubuh Aaron dan membuangnya, berharap laki-laki itu segera bangun karena udara yang dingin, namun tidak hanya selimut yang ikut terlepas dari tubuh Aaron, melainkan sarung yang ia kenakan pun turut tersingkap.
"Aaa ...." Hayley berteriak keras sambil menutup matanya dengan kedua telapak tangan.
Aaron terkejut dan bangun dengan segera, ia kembali merapikan selimut dan menutup bagian bawah tubuhnya yang hampir telanjang.
"Kamu ... mau memperkosaku, Hay?" tanya Aaron berpura-pura kaget.
"Hah, ngomong apa?" Hayley membulatkan matanya. "Ngawur! kamu itu aku bangunin dari tadi nggak bangun-bangun."
__ADS_1
"Terus kenapa kamu sampai buka-buka sarungku? jangan-jangan kamu ...."
"Apa sih, nggak! aku nggak ngelakuin apa-apa, kok!" kilah Hayley.
"Ngaku nggak?" paksa Aaron.
"Nggak! aku itu nggak ngapa-ngapain, tadi nggak sengaja," ungkap Hayley bingung.
"Aku nggak mau tau! kamu sudah berani-beraninya bikin aku telanjang dan dengan enaknya lihat-lihat punyaku, tanggung jawab!"
"Ah, aku belum sempat lihat, kok!" Hayley semakin frustasi, ia berdiri dan berlari cepat keluar dari kamar.
Tersenyum penuh kemenangan, Aaron berjalan santai menuju kamar mandi dan segera membersihkan diri, jika tidak ingat hari ini ada rapat penting dengan dewan direksi, ingin sekali dirinya lebih jahat mengerjai Hayley.
Mengguyur tubuh dengan shower air hangat, Aaron semakin menggilai Hayley, ia semakin tidak sabar untuk membuat gadis itu menyerahkan diri padanya.
Apa yang Alex katakan memang benar, Hayley adalah istrinya, dan ia berhak melakukan apapun bersama gadis itu, pernikahan ini sudah sah secara hukum dan agama, tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan.
Jika permasalahan hanya di kontrak pernikahan, Aaron sangat percaya diri jika mereka sudah bisa menyatukan gairah, maka kontrak itu hanya tinggal kertas, tidak akan ada lagi kesepakatan.
🖤🖤🖤
Sambil menunggu Aaron dan ibunya keluar dari kamar, Hayley duduk menunggu di meja makan, ia sudah menyiapkan sarapan dan minuman hangat untuk penghuni rumah ini.
Beberapa kali ia memejamkan mata, berharap bayang-bayang tubuh telanjang Aaron yang polos itu hilang dari kepalanya. Namun semakin ia berusaha mengusir bayangan nakal itu, semakin jelas pula penampakan yang ia lihat.
"Ah, nggak tau ini namanya kesialan atau keberuntungan!" batin Hayley kesal.
Ini adalah pertama kali baginya, Hayley gadis polos yang tidak suka menonton film-film dewasa, ia merasa belum cukup umur meskipun usianya sudah matang untuk menikah.
Berkali-kali mendengar cerita tentang orang-orang yang sangat suka menonton adegan dewasa, Hayley tidak tertarik, baginya, akan ada waktu tersendiri ia mengetahui semuanya.
Dan, mata suci yang ia jaga dengan benteng keimanan, kini semakin runtuh akibat ulahnya sendiri, tidak dapat di pungkiri, meskipun secepat kilat ia menutup mata, namun ia sudah terlanjur melihat yang tidak seharusnya.
"Aaa ...." Berteriak frustasi, Hayley bangkit dari kursinya.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Aaron yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya. "Setelah kamu hampir menodaiku, bisa-bisanya kabur gitu aja," imbuhnya.
"Hah, menodaimu?" Hayley menatap kesal. "Harusnya aku yang marah, kamu menodai kesucian mataku!"
"Cih, jangan sok tersakiti begitu. Jangan-jangan kamu suka, ya," goda Aaron, ia lalu duduk di kursi dekat Hayley.
"Ya Tuhan, sial banget hari ini," decak Hayley, tidak tau harus memberikan penjelasan apa pada Aaron, ia sudah hampir gila pagi ini.
Apalagi setiap ia melirik wajah Aaron, bayangan-bayangan tubuh polos itu kembali berputar di kepalanya.
"Loh, sudah pada kumpul, kenapa belum sarapan?" tanya Andini.
"Lagi nunggu ibu. Mari, sarapan, Bu," ajak Aaron, sedangkan Hayley hanya diam memperhatikan.
Usai sarapan, keduanya berpamitan untuk berangkat ke kantor.
🖤🖤🖤
Selama perjalanan dari rumah menuju kantor, Hayley sama sekali tidak berbicara, ia lebih banyak diam dan enggan bertatapan muka dengan Aaron.
"Pesta nanti malam, kamu sudah punya gaun?" tanya Aaron memulai pembicaraan.
Hayley tidak menjawab, ia mengangkat bahu dan melengos memandang ke luar kaca mobil. Lagi-lagi gerimis selalu mengiringi hari-harinya, untung saja obat yang dokter berikan padanya sangat manjur, jadi dia sudah bisa beraktifitas seperti biasa.
Melihat Hayley sangat cuek dan tidak menjawab pertanyaannya, Aaron berinisiatif untuk menghubungi Breanda, adiknya, untuk meminta bantuan.
Aaron tidak langsung memarkirkan mobilnya, ia turun di depan pintu utama kantor dan meminta security untuk membawa mobilnya.
Hayley turun dari mobil secepat kilat tanpa menunggu aba-aba, ia berjalan cepat melewati orang-orang yang menatap heran, bagaimana bisa Hayley berada dalam satu mobil bersama bos besar sekaligus pemilik perusahaan ini.
Aaron sedikit berlari menyusul Hayley menuju lift, tidak memperdulikan para pegawainya yang mulai saling berbisik. Aaron sudah tidak peduli, secepat mungkin ia akan mengungkapkan kebenaran ini, hanya menunggu waktu sedikit lagi untuk meyakinkan gadis yang sedang ia kejar.
🖤🖤🖤
Bersambung ...
__ADS_1