
Usai rapat penting dengan para petinggi perusahaan, Aaron langsung kembali ke ruangannya di ikuti oleh Hayley dan Alex.
"Keuntungan perusahaan bulan ini sangat pesat, keren!" decak Alex gembira.
"Benar, semua kerja keras kita menunjukkan kemajuan yang bagus," imbuh Aaron.
Hayley hanya diam, ia duduk di sofa sambil melipat kakinya, menyandarkan kepala di sandaran sofa sambil menatap nanar ke langit-langit ruangan.
Alex mengernyitkan dahi, melirik Aaron sambil berbisik. "Dia kenapa? sakit?"
Aaron mengangkat bahu sekilas sambil memanyunkan bibirnya.
"Aku mau ke ruanganku dulu," pamit Hayley.
Aaron dan Alex mengangguk berbarengan, Alex hanya menatap heran, sedangkan Aaron yakin, jika sikap Hayley muram seharian ini karena kejadian tadi pagi.
Hayley yang tiba di dalam ruangannya di buat terkejut dengan sebuah kotak berwarna biru muda sudah tergeletak di meja kerjanya.
"Punya siapa, ya?" gumam Hayley, mengesampingkan kepalanya yang sedikit pusing, ia duduk dan membaca secarik kertas di atas kotak tersebut.
"Gaun untuk pesta nanti, Aaron." Hayley membaca tulisan itu.
Menghela nafas panjang, kepalanya di buat semakin berdenyut dengan sikap Aaron yang tidak bisa ia artikan, baru saja tadi pagi mereka bertengkar dan saling tuduh, siang ini laki-laki itu sudah memberinya hadiah.
Hayley membuka kotak di hadapannya, gaun putih kebiruan terlipat cantik di dalamnya. Dirinya tersenyum samar, di balik sikap Aaron yang menyebalkan, laki-laki itu selalu bisa membuat Hayley kembali mendapatkan moodnya yang pudar.
🖤🖤🖤
Pesta yang akan di hadiri adalah sebuah pesta yang di selenggarakan oleh pemilik perusahaan properti terkemuka di Jakarta, dan termasuk salah satu rekan kerja sekaligus investor di perusahaan milik Aaron.
Mau tidak mau, ia harus datang demi terjalinnya hubungan kerja sama yang baik.
"Kemana Hayley?" tanya Alex. "Udah jam 7, nanti kita terlambat."
Aaron berniat ingin menyusul Hayley ke kamarnya, namun gadis itu sudah lebih dulu berdiri di ujung tangga teratas. Menatap kagum tidak percaya, Aaron hampir menumpahkan air liurnya.
"Cantik," batin Aaron.
Gaun putih kebiruan selutut dengan ekor sedikit memanjang menyentuh lantai, Hayley tampil bak cinderella. Gaun tanpa lengan menampakkan bahunya yang mulus hingga terlihat begitu menggoda, belahan dada rendah seakan sedang menguji nyali siapapun yang melihatnya.
Aaron menunggu di bawah anak tangga, ia mengulurkan tangan menyambut Hayley yang tampil begitu cantik.
Alex bersiul keras, bertepuk tangan kecil seperti menyambut sepasang pengantin baru dari peraduannya.
"Ah, kalian cocok!" seru Alex.
__ADS_1
Hayley tersenyum malu-malu, ia menggandeng lengan Aaron mesra.
Malam ini Alex bertugas sebagai sopir, ia membiarkan Aaron dan Hayley duduk di kursi belakang.
Sesampainya di pesta, Aaron membuka pintu dan membantu Hayley keluar dari mobil, kedatangan tiga manusia di sambut hangat oleh tuan rumah, apalagi Hayley dan Aaron yang tampak begitu serasi, mencuri perhatian semua hadirin pesta.
"Selamat datang di pesta saya, Mr. Aaron," ungkap tuan rumah.
"Saya merasa sangat terhormat mendapatkan undangan langsung dari tuan John. Perkenalkan, Hayley, istri saya," ujar Aaron bangga, memperkenalkan Hayley kepada rekan kerjanya.
"Ah, tentu saja. Saya datang di pesta pernikahan kalian," ujar laki-laki paruh baya itu dengan tersenyum ramah.
Percakapan bergulir dari satu hal ke hal lainnya, beberapa teman bergabung untuk menambah kehangatan obrolan.
Hayley berdiri di samping Aaron masih dengan menggandeng lengan laki-laki itu, namun matanya menangkap sosok laki-laki lain yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Laki-laki itu mendekat, membuat semua orang memalingkan pandangan dan menyapa ramah.
"Marcel," sapa Aaron, sedangkan laki-laki yang di sapa tidak menjawab, matanya menatap fokus pada tangan Hayley yang melingkar mesra di lengan Aaron.
"Kalian saling kenal?" tanya tuan John. "Marcel ini keponakan saya, Mr. Aaron."
"Wow, saya tidak menyangka, jika kalian masih memiliki hubungan kekerabatan," ungkap Aaron sedikit terkejut.
"Berikan salam pada Mr. Aaron dan istrinya, Marcel," tegur tuan John saat melihat keponakannya hanya diam.
Hayley menundukkan kepala, tidak mampu menatap wajah Marcel yang sudah berubah kusut karena kecewa. Namun laki-laki itu berusaha untuk tetap bersikap biasa, berbicara dengan orang-orang di sekelilingnya seperti tidak terjadi apapun padanya.
Lagi-lagi Aaron tersenyum penuh kemenangan, ia tidak perlu lagi bersusah payah untuk memberi tahu Marcel bahwa Hayley adalah istrinya, semuanya sudah terungkap.
Musik jazz mengalun lembut, membuat beberapa pasangan berdansa di tengah acara, Hayley duduk di samping Aaron dan Alex, Marcel dan beberapa rekan kerjanya juga masih berada dalam satu meja yang sama.
"Mau berdansa?" tanya Marcel, ia menatap Hayley.
Hayley pun tampak kebingungan, Marcel mengulurkan tangan di depannya, sedangkan beberapa orang yang ada di sekeliling Aaron menatap lekat menunggu reaksi Aaron saat istrinya di ajak berdansa oleh laki-laki lain.
"Sepertinya keponakanku ingin sekali mengenal istrimu, Mr. Aaron," ungkap sang tuan rumah.
"Benar begitu, Tuan."
"Beri saja mereka waktu untuk berdansa. Maklum, Marcel sudah menjomblo 5 tahun lamanya."
Aaron melirik Alex, ia merasa segan jika harus menolak permintaan Marcel, apalagi semua orang disini adalah rekan bisnis sekaligus investornya. Aaron akan terlihat begitu arogan jika tidak mengizinkan istrinya berdansa dengan Marcel.
Alex memberi isyarat untuk mengizinkan Hayley bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Pergilah," ucap Aaron, kemudian mengecup lembut pipi kanan Hayley, membuat gadis itu berjengit kaget.
Jika saja jantung Hayley tidak tertanam permanen di tubuhnya, mungkin benda itu sudah melompat jatuh karena terkejut.
Marcel tersenyum lebar menyambut Hayley, ia menuntun gadisnya menuju area dansa yang sudah di penuhi beberapa pasangan muda.
Marcel meletakkan tangan kanannya di pinggang bagian kiri Hayley, sedangkan tangan kirinya menggenggam lembut tangan kanan gadis di hadapannya.
Mereka bergerak seirama dengan alunan musik romantis yang di putar. Hayley hanya diam, ia terus menunduk, tidak kuasa menatap netra abu yang terlihat kecewa.
"Katakan padaku, Cantik. Benarkah apa yang pamanku katakan?" tanya Marcel lirih.
Hayley mengangkat kepalanya, menarik nafas panjang meredakan kegugupan saat ini.
"Jujurlah, perasaanku akan tetap sama," lanjut Marcel.
Hayley hanya mengangguk pelan, bibirnya seakan terkunci rapat, tidak tau harus memulai cerita ini dari mana.
"Baiklah, aku yakin pernikahan kalian bukan atas dasar cinta. Aku sudah menggali informasi banyak tentang Aaron dan mantan kekasihnya yang baru saja longsor dari dunia keartisan."
"Banyak sekali informasi yang aku dapat, termasuk permintaan orang tua Aaron agar anaknya segera menikah, kalau tidak, Aaron akan tersingkir dari kursi kebesarannya."
"Hayley, aku ingin kamu yang menceritakan semuanya, akan lebih sakit kalau aku tau kebenaran ini dari orang lain."
Hayley kembali mendongak, setetes bulir bening lolos dari pelupuk matanya.
"Kami memang sudah menikah, 8 bulan yang lalu. Tapi, pernikahan ini akan berakhir 4 bulan lagi, sesuai dengan perjanjian yang kami tanda tangani," jawab Hayley.
"Kamu memberiku kesempatan?" tanya Marcel penuh harap.
"Aku nggak janji."
"Kenapa? sudah tumbuh kah perasaanmu pada Aaron?"
Hayley menggeleng pelan, lagi-lagi ia bingung dengan perasaannya.
Ada secuil dari hatinya menginginkan bersama dengan Marcel, namun kebiasaannya hidup berdampingan dengan Aaron membuatnya sedikit ragu.
Dari kejauhan, Aaron terus menatap Hayley dan Marcel dengan penuh kecemburuan, perasaan marah seperti sedang menggerogoti dirinya.
Sampai pada puncak kesabaran, Aaron tidak lagi mengindahkan obrolan orang-orang di sekitarnya, ia berjalan mendekati lantai dansa dan menarik Hayley dari genggaman Marcel.
Memutar tubuh Hayley secara tiba-tiba, menjatuhkan gadis itu dalam pelukannya, Aaron mendekap erat, merangkul pinggang gadis itu dan melum*t bibirnya tanpa permisi.
Marcel hanya terkejut, menatap nanar sang pujaan hati bersama laki-laki lain, ia memilih pergi meninggalkan pesta.
__ADS_1
🖤🖤🖤
Bersambung ...