
Alex menahan segala pertanyaan yang sudah menggunung di pikirannya sampai ia dan kedua orang tua Melanie menyelesaikan makan.
"Ah, Alex. Kamu memang tampan, selera Melanie memang sangat bagus," puji nyonya Gio.
"Jangan memujiku seperti itu, Nyonya."
"Memang itu kenyataannya."
Sarapan selesai kurang dari tiga puluh menit, dan Alex di bawa oleh Tuan Gio duduk di ruang keluarga.
"Tolong, Tuan. Katakan yang sebenarnya, apa yang terjadi? aku sungguh ingin bertemu Melanie, tapi dia bahkan tidak menjawab teleponku," keluh Alex.
"Sebenarnya, Melanie sudah pergi, Alex. Sebaiknya, lupakan dia," jawab tuan Gio dengan suara serak, wajah laki-laki beruban itu menyiratkan rasa kesedihan yang mendalam.
"Pergi? pergi kemana? dan kenapa aku harus melupakannya?" tanya Alex bingung.
"Kami tau, ini akan sangat sulit. Tapi, inilah kenyataannya."
"Ah, jangan bergurau denganku ataupun mengerjaiku, Tuan. Aku sedang tidak ulang tahun hari ini," seloroh Alex, mencoba menyingkirkan prasangka buruk di hatinya.
"Alex, Melanie merahasiakan banyak hal darimu. Termasuk penyakitnya," sela nyonya Gio. "Dia sudah melawan leukimia dari beberapa tahun lalu, sudah melakukan banyak pengobatan termasuk rutin kemoteraphy, tapi itu hanya menunda kematiannya. Melanie sudah tidak ada lagi harapan sembuh," lanjutnya.
"Omong kosong apa ini!" bentak Alex. "Melanie baik-baik saja, kami masih sering melakukan banyak hal, aku tidak percaya!"
"Tentu, karena dia menyembunyikan semuanya darimu," ucap tuan Gio.
"Jangan membohongiku. Sekarang, dimana dia, aku harus menanyakan banyak hal padanya," seru Alex.
"Dia sudah tidak lagi di sini."
"Semalam, kami baru saja berjanji untuk bertemu. Mana mungkin sekarang dia sudah pergi," sergah Alex kesal. "Cepat katakan padaku dimana Melanie, aku harus menemuinya!"
"Kamu sudah tidak bisa lagi menemuinya. Dia memilih pergi sejauh mungkin, pasti dia juga sudah berpamitan, bukan?" tanya tuan Gio. "Terimakasih sudah menjaga Melanie selama ini, kami begitu senang dia mendapatkan cinta dan kebahagiaan di usianya yang tidak panjang."
"Aku bahkan belum memberinya apapun, kenapa harus seperti ini?" gumam Alex, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
__ADS_1
Rasanya, ingin sekali Alex tidak mempercayai apa yang dua orang di hadapannya ini ucapkan. Namun, mereka orang tua Melanie, tentu saja mereka tau jelas tentang keadaan Melanie.
Perasaan curiga Alex selama beberapa bulan terakhir akhirnya terbukti, ada sesuatu yang Melanie sembunyikan darinya. Selama bersama, Melanie selalu menolak saat Alex mengajaknya mandi bersama ataupun berenang bersama, saat Alex menawarkan Melanie untuk pergi ke salon melakukan perawatan rambut, Melanie menolak. Pasti seperti itu, karena Melanie sudah tidak memiliki rambut, yang ia pakai hanya rambut palsu untuk menutupi kekurangannya.
Selama ini, Alex tidak pernah melihat Melanie tanpa make up, wanita itu selalu berusaha tampil sempurna dengan make up yang mempesona. Tentu saja, karena Melanie menutupi pucat wajahnya.
"Apa penyakitnya sudah sangat parah? apa tidak ada lagi harapan untuk sembuh?" tanya Alex dengan lemah.
"Sudah stadium 4, dokter bilang, harapan hidupnya tipis. Dan Melanie harus menjalani perawatan intens di rumah sakit besar untuk membantunya bertahan hidup, meskipun tidak lama," jelas nyonya Gio.
"Baik, izinkan aku menemuinya," pinta Alex.
"Kami tidak bisa melakukannya, Melanie melarang keras kamu datang menemuinya. Dia tidak mau kamu melihatnya sekarat."
"Aku harus menemuinya!"
"Tidak, Alex. Tolong, hargai permintaan Melanie."
Dengan kesal, Alex beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan rumah keluarga besar Melanie tanpa berpamitan, ada rasa sesal dan sakit yang baru pertama kali ini ia rasakan saat seorang teman wanita meninggalkannya begitu saja.
Melanie memang memutuskan untuk tidak memberitahukan apapun pada Alex mengenai kondisinya, ia hanya ingin bahagia di akhir hidupnya, ia tidak mau membuat orang lain merasakan kehilangan atas dirinya.
Melanie memutuskan untuk melakukan pengobatan di sebuah negara di benua Eropa, di saat-saat terakhirnya, ia juga akan menghabiskan waktu bersama keluarganya di sana. Dan siang ini, tuan Gio beserta istrinya berniat menyusul sang putri.
🖤🖤🖤
Pukul 8 pagi, Aaron dan Hayley sudah sampai di rumah, mereka pulang lebih cepat karena khawatir tentang keadaan Alex. Pertemuannya dengan Friska pasti membuat Alex kacau, dan Aaron menyadari hal itu.
Menyusuri setiap ruangan hingga berkali-kali mengetuk pintu kamar, Aaron tidak menemukan Alex di manapun.
"Kemana dia?" gumam Aaron.
"Mungkin sedang pergi, Sayang. Bukannya tengah malam tadi dia menelpon?" tanya Hayley.
"Oh, iya. Pasti ada sesuatu antara dia dan Melanie, dia minta nomor tuan Gio, sedangkan nomor semua rekan kerja ada di arsip kantor," jelas Aaron.
__ADS_1
"Apa mereka bertengkar hebat sampai-sampai Melanie kabur?" tebak Hayley.
"Alex terbiasa nggak peduli wanita manapun yang bersamanya, biasanya dia cuek," ucap Aaron. "Tapi, nggak tau ah! jangan-jangan Melanie hamil."
"Huss! nggak boleh berpikir gitu," sergah Hayley, meskipun ia juga punya pikiran yang sama dengan Aaron, di benak Hayley, Melanie hamil dan Alex tidak mau mempertanggung jawabkan perbuatannya, lalu Melanie pergi dan Alex menyesal.
Keduanya berhenti membahas Alex dan melepas penat selama perjalanan dengan berbaring di kasur, semakin hari perut Hayley semakin buncit, dan keduanya semakin tidak sabar menanti kelahiran sang buah hati.
"Kamu lelah, sweetheart?" tanya Aaron.
"Sedikit, tapi aku bahagia, setelah sekian lama menikah, kita bisa menikmati bulan madu yang singkat, terimakasih, Sayang," ucap Hayley manja, ia menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
Sedikit menunduk, Aaron mengecup bibir ranum istrinya. Setiap hari setiap waktu, Aaron tidak pernah bertahan jika sudah menatap istrinya yang cantik berbalut kain tipis
"Besok, kita harus memeriksakan kandungamu, kita harus memastikan semuanya sehat," ucap Aaron sambil mengelus perut Hayley.
"Aku baik-baik saja, Sayang. Bayi kita juga terlihat senang. Lihat, dia terus bergerak dan menendang."
"Lagipula, ada yang harus aku tanyakan pada dokter."
"Mau tanya apa?"
"Hmm, bolehkan kita berhubungan setiap hari untuk membantu melebarkan jalan lahir?" tanya Aaron.
"What? pertanyaan macam apa itu! jangan, Sayang. Malu!" tolak Hayley. "Apa nggak ada pertanyaan lain yang lebih bermutu?"
"Aku kan cuma penasaran, kalau aku bisa membantu agar si kecil keluar dengan lancar, aku pasti melakukannya," ujar Aaron sambil nyengir kuda.
"Bukan dengan cara seperti itu, mana bisa kalau begitu!"
"Ya bisa. Logikanya, semakin sering kita melakukannya, maka jalan lahir akan lentur dan semakin melebar, tentu saja ketika bayi lahir, dia nggak akan kesulitan untuk menerobos," jelas Aaron percaya diri.
"Itu pasti cuma akal-akalanmu aja biar dapat jatah tiap hari, kan?" selidik Hayley. Cukup menjengkelkan, bagaimana bisa Aaron punya pikiran seperti itu.
🖤🖤🖤
__ADS_1