Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Cerewet


__ADS_3

Hayley duduk tenang di sofa berwarna abu dengan lapisan kain berbulu putih empuk, ia mengamati setiap inci kamar ini, memang kamarnya lebih luas dari kamar yang ia tempati, namun penempatan barang-barang dan setiap hiasan sukses membuatnya terkagum-kagum.


Hayley mengelus alas duduknya yang lembut dan empuk, kini pikirannya beralih ke ibunya yang sendirian di rumah, jika ia sudah mendapatkan uang yang cukup, ia akan segera membeli sebuah rumah yang layak bagi ibunya, ia berjanji pada diri sendiri.


"Hayley," sapa Aaron.


"Eh, iya, Mr. Ice." Hayley kembali menatap laki-laki berkaos putih polos dengan celana hitam selutut, tangannya sibuk menggosok rambut basahnya dengan handuk.


"Setelah makan malam nanti, kita keluar sebentar," ujar Aaron.


"Kemana?" tanya Hayley, ia masih memperhatikan dengan seksama gerakan Aaron, laki-laki itu tampak lebih cool dengan pakaian santai.


"Ketemu Kathrine, kamu nggak keberatan kan?"


"Nggak, kok. Cuma mau ngomongin itu?" tanya Hayley lagi.


"Ya, besok aku ke kantor, kamu masih libur kan? biar Breanda main kesini, kalian bisa belanja," lanjut Aaron. "Dia paling pinter urusan fashion."


"Oh, belanja apa?" tanya Hayley lagi dengan bingung.


"Belanja kebutuhanmu, beli baju-baju baru, seragam kerja baru, make up atau apa saja yang kamu perlukan."


"Tapi ..." Hayley menggaruk kepalanya.


"Kenapa? nggak punya uang?" Aaron menatap Hayley sambil tersenyum miring. "Sesuai dengan janjiku, selama kau menjadi istriku, maka semua kebutuhanmu akan aku penuhi."


"Tapi, nggak di potong gaji kan?" tanya Hayley sambil nyengir kuda.


"Nggak, gajimu tetap utuh 50 juta. Kenapa? kurang?" Aaron melirik Hayley, kemudian meletakkan kembali handuknya di dekat pintu kamar mandi.


"Cukup kok, cukup banget, Mr. Ice."


"Lusa kamu sudah mulai kerja di kantor pusat, ya. Bantu-bantu Alex," ujar Aaron. "Ayo, aku ajak jalan-jalan keliling rumah."

__ADS_1


"Emm, kenapa harus lusa sih? aku kan belum siap." Hayley mendesah. "Lagipula kenapa harus bantuin si rambut putih sih? aku sama dia itu nggak bakalan bisa akur, Mr. Ice."


Aaron tidak memperdulikan keluhan Hayley, ia sudah merencanakan hal ini dari awal, jika Hayley harus ada dalam pengawasannya, mungkin tidak banyak orang yang tau jika Hayley adalah istri Aaron, namun akan ada banyak bahaya di luar sana yang mengintai jika Hayley tidak pandai menjaga diri.


Dulu, saat pertama kalinya media tau tentang hubungan Aaron dan Kathrine, banyak pesaing bisnis dan mafia yang bekerja untuk menculik bahkan menyekap Kathrine demi bisa menguasai Aaron, mereka menggunakan Kathrine sebagai alat untuk membuat Aaron bertekuk lutut dalam permainan bisnis mereka, maka Aaron tidak mau hal itu pula yang akan di alami oleh Hayley.


Sepasang pengantin baru bohongan itu kini menaiki anak tangga menuju lantai tiga.


"Rumahmu besar banget, ya, Mr. Ice," ujar Hayley lirih. "Kapan ya, aku punya rumah sebesar ini?" tanyanya pada diri sendiri.


"Selama kamu jadi istriku, ini juga rumahmu," jawab Aaron. "Anggap saja rumah sendiri."


"Emm, kalau ini juga rumahku, artinya aku boleh dong menjualnya?"


Aaron menghentikan langkahnya di pertengahan anak tangga, ia menoleh pada wajah polos Hayley yang asal bicara tanpa di pikir.


"Kau mau menjual rumah ini?" selidik Aaron. "Apa sudah menyiapkan brangkas untuk wadah uangnya?"


"Rumah ini murni dari hasil kerja kerasku, dari keuntungan perusahaan yang aku jalankan selama lima tahun terakhir," jelas Aaron.


"Wah, lima tahun aja udah bisa jadi milyader, ya. Keren!" puji Hayley sambil bertepuk tangan kecil. "Oh ya, apa si rambut putih juga nanti pulang kesini?"


"Dia punya nama, Hay. Namanya Alex." Aaron menghembuskan nafas pelan. "Kalau dia lagi pengen pulang ya pulang, kalau nggak ya dia biasa tidur di hotel atau kadang di apartemennya sendiri," lanjut Aaron.


"Aku udah tau namanya kok," ujar Hayley. "Nggak suka aja sama dia, sok kecakepan!"


"Aslinya dia baik kok, nggak usah terlalu di pikirin," saran Aaron, ia mengajak Hayley berkeliling ruang olah raganya, lalu menuju kolam renang di luar ruangan.


Kolam renang dengan luas 4x10 meter ini memiliki tingkat kedalaman yang beragam, di bagian dasar kolam tidak menggunakan keramik, namun memakai kaca sebagai pijakan. Jadi, setiap ada yang berenang disini, bisa di lihat dari ruang tengah di lantai dua karena kaca yang transparan.


Berbagai bunga hias yang tertata rapi menghiasi setiap pinggir kolam, beberapa tempat duduk dengan payung-payung besar khas suasana pantai ikut menyempurnakan tempat ini, satu pohon palem berukuran lumayan besar menghiasi pojok kolam.


Dari tempat ini, bisa melihat langsung suasana kota Jakarta yang padat dan ramai, gedung-gedung menjulang tinggi menjadi pemandangan yang khas kota metropolitan ini.

__ADS_1


"Ah, aku suka berenang, Mr. Ice," ujar Hayley girang, ia sudah memikirkan untuk menghabiskan hari-harinya yang membosankan dengan berenang.


"Benarkah? kok sama kayak Alex, dia juga suka berenang," timpal Aaron.


"Hah, nggak deh. Aku nggak jadi suka renang." Hayley mencebik, ia tidak suka di sama-samakan dengan Alex. Bagaimanapun, ia menganggap Alex adalah musuh bebuyutannya.


Aaron menanggapi ucapan Hayley dengan hanya menggeleng pelan, gadis itu sukses membuat Aaron merasa berbeda sejak kehadirannya.


"Airnya jernih banget ya," gumam Hayley pelan sambil mencelupkan kakinya di pinggir kolam. "Eh, tapi kok dasarnya kaca sih, nanti kalau aku renang, ada yang ngintip di bawah dong," imbuhnya.


"Siapa juga yang mau ngintipin kamu," ledek Aaron.


"Itu, si rambut putih, wajah-wajahnya emang polos, tapi aku yakin kalau dia itu mesum!" seru Hayley.


Aaron hampir terkekeh mendengan celotehan gadis muda itu, setiap kali Hayley berbicara, ia seperti tidak punya saringan untuk mengontrol kalimat yang dia ucapkan, itu yang membuat Aaron merasa Hayley sangat menghibur, berbeda dengan wanita-wanita di luaran sana yang biasanya terlalu jaga image, yang malah membuat suasana berteman terasa asing.


"Hayley," sapa Aaron lagi, sambil memperhatikan kaki gadis itu yang di ayunkan ke depan berulang-ulang di dalam air.


"Ya, kenapa?"


"Nanti kalau ketemu Kathrine, tolong jaga bicaramu, ya. Dia nggak suka orang yang terlalu banyak bicara," ujar Aaron.


"Oh, begitu. Oke!" Hayley mengacungkan jari jempolnya. "Emang aku cerewet ya?"


"Iya," jawab Aaron singkat.


"Oh, maaf ya, Mr. Ice. Lain kali aku bakalan lebih menjaga bicaraku," ujar Hayley.


Setelah mengetahui dirinya di nilai terlalu cerewet oleh Aaron, Hayley langsung diam seribu bahasa, ia hanya mendengarkan penjelasan Aaron tentang rumah ini, tentang beberapa pelayan bagian kebersihan dan koki yang bertugas memasak setiap menu makanan.


🖤🖤🖤


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2