
Setengah jam berlalu, Alex dengan amarah meledak-ledak berjalan mondar mandir sambil terus memandang layar ponselnya.
"Jam setengah sembilan. Gila kali ya si Aaron," makinya kesal.
Beberapa pelayan yang melewati Alex untuk melakukan tugasnya membersihkan rumah, hanya memandang aneh, tidak biasanya sang tuan belum berangkat ke kantor sampai sesiang ini.
Mendesah kesal, Alex berlari menaiki anak tangga dan menyusul Aaron.
"Udah cukup bercintanya. Sekarang waktunya kerja, dasar!" gerutunya.
Sesaat ia melayangkan tangannya hampir menggedor pintu, Aaron lebih dulu membukanya dan tersenyum bak bayi tak berdosa.
"Lihat, jam berapa ini? hah?" tanya Alex sambil menuding jam di pergelangan tangannya.
"Cuma terlambat sedikit," jawab Aaron santai lalu menutup pintu kamar, ia mengisyaratkan jarinya di depan bibir untuk menyuruh Alex diam. "Hayley sedang tidur, jangan keras-keras."
"Gila kalian, ya! aku nungguin sampai lumutan kalian malah enak-enakan nyicil bayi. Nggak pengertian banget!"
"Sstt, kita berangkat," ajak Aaron menarik tangan Alex.
"Kita terlambat meeting, aku harus mengubah semua jadwal pertemuan kita hari ini. Menyebalkan!" keluh Alex lagi.
"Aku boss nya. Suka-suka lah." Lagi-lagi Aaron menjawab santai sambil memasang wajah ceria penuh senyuman.
Alex menggelengkan kepala dengan mata menyipit tidak percaya. Bagaimana bisa Aaron dengan entengnya meremehkan semua meeting hari ini demi olahraga paginya. Akibatnya, Alex yang harus susah payah mengatur ulang jadwal yang membatalkan beberapa pertemuan yang di rasa tidak memungkinkan. Apa lagi Aaron selalu meminta pulang tepat pukul 3 sore, membuat jam kerjanya serba terbatas.
"Bareng aja, udah kesel!" ucap Alex sambil membuntuti Aaron ke garasi mobil.
Mengangguk setuju, Aaron akhirnya mengizinkan Alex berangkat satu mobil lagi dengannya.
Sejak setengah jam yang lalu, entah sudah berapa puluh panggilan yang Alex lakukan demi mengatur semua pekerjaan yang tertunda pagi ini, bahkan sampai di perjalanan pun, para peserta rapat dewan direksi sudah menghujaninya dengan pertanyaan kapan rapat akan di mulai.
"Lihat ini, semua karena ulahmu," sindir Alex. "Bisa nggak sih, tahan dikit. Nanti malem kan bisa," lanjutnya.
Menoleh sekilas pada Alex, Aaron kembali fokus ke jalanan, ia hanya menanggapi kekesalan sepupunya dengan senyuman kecil. Untung saja pagi ini hatinya sedang berbunga-bunga, kalau tidak, ia tidak akan segan-segan menguncir bibir Alex agar diam.
Setelah sampai di kantor, keduanya langsung menuju ruang rapat dan melakukan banyak perencanaan untuk menstabilkan kembali perusahaan dan mambantu beberapa anak cabang mereka yang mulai lemah.
__ADS_1
Banyak dari relasi bisnis yang membantu tanpa Aaron memohon meminta bantuan. Sebab, dari awal Aaron sudah di kenal oleh rekan-rekan bisnisnya sebagai kawan yang baik dan dermawan, karena itu, mereka siap membantu saat Aaron dalam masalah.
Bantuan besar juga sudah mereka terima dari tuan John, orang itu benar-benar menepati janjinya untuk membantu perusahaan Aaron kembali bangkit.
Semua rencana berjalan lancar sampai jam makan siang tiba, namun Aaron tiba-tiba meminta izin pulang lebih awal pada Alex.
"Ada apa?" tanya Alex tidak mengerti.
"Aku sudah janji mengajak Hayley makan siang di luar, sepertinya dia ingin makan sesuatu," jawab Aaron sambil sibuk mengusap layar ponselnya.
"Seriously? Kamu tega gitu ninggalin semua pekerjaan ini? Ya Tuhan, Aaron. Benar-benar di mabuk cinta, ya!" Lagi-lagi Alex di buat kesal.
"Aku sudah mulai tenang, Alex. Semua rencana kita berjalan lancar, harga saham kembali naik meski masih merangkak. Kita tinggal menunggu waktu saja," ungkap Aaron.
"Lalu, bagaimana dengan si pembuat onar itu?" tanya Alex, yang ia maksud sebagai si pembuat onar adalah Marcel.
"Sedang aku pikirkan. Sekarang, aku harus menjernihkan pikiranku dengan bertemu dengan istri tercinta. Ku mohon, mengertilah, Alex. Berucap memohon, akhirnya Alex bersedia menggantikan kesibukan Aaron siang ini dan membiarkan laki-laki itu pergi menemui sang istri.
"Terimakasih, Bro. Kamu terbaik!" ucap Aaron menepuk bahu Alex. "Aku janji, akhir pekan nanti, kamu bisa berlibur bersama Melanie. Tenang saja, lakukan berapapun ronde yang kamu inginkan."
"Yeah!" Alex berucap keras penuh semangat. Akhirnya, ia akan memiliki cukup waktu untuk bernafas dan istirahat sejenak dari pekerjaannya.
Mengendarai mobil dengan terburu-buru, Aaron akhirnya sampai di rumahnya, ia langsung menuju kamar dan menemukan sang istri sedang berdiri di depan cermin.
"Hai, Sweety," sapa Aaron lembut, mencium dari belakang kedua pipi Hayley.
"Apa pakaian ini cocok untukku?" tanya Hayley.
"Kamu cocok pakai apapun. Kalau sudah siap, kita berangkat."
Meski sedikit keberatan dengan pakaian yang ia pakai, Hayley tetap pergi menjinjing tas kecil kesayangannya.
"Makan siang ke mana?" tanya Hayley.
"Rahasia, aku sudah lama ingin mengajakmu ke tempat ini. Sayangnya, baru hari ini kesampaian."
Perjalanan dari rumah Aaron menuju resto yang di maksud tidak terlalu jauh, setelah hampir 30 menit, akhirnya mereka sampai.
__ADS_1
"Ini resto seafood, milikku," ungkap Aaron, ia menggandeng mesra istrinya masuk ke dalam resto. Beberapa pelayan menyambut dengan antusias atasan mereka yang datang berkunjung bersama sang nyonya.
"Silahkan, Tuan," ujar salah seorang pelayan, lalu memberikan isyarat pada pelayan lain untuk mendekat.
Jumlah total keseluruhan pelayan di resto ini mencapai 45 pegawai, termasuk koki, pramusaji, dan bagian kebersihan.
Setiap pelayan berjejer membawa setangkai mawar merah lalu memberikannya secara bergantian untuk Hayley, mereka kompak mengucapkan selamat atas kehamilannya.
Tersenyum haru, Hayley hampir menangis di buatnya.
Semua pengunjung resto yang sedang asik menikmati santap siang mereka pun ikut penasaran dengan apa yang sedang terjadi.
"Ah, Sayang. Apa ini kejutan untukku?" tanya Hayley dengan mata berkaca-kaca.
"Tentu. Everything for you." Aaron mencium pucuk kepala Hayley mesra, di depan semua orang di dalam ruangan.
Sampai di sebuah halaman tengah resto, Hayley mendapati rangkaian bunga lily putih yang cukup besar. Lagi-lagi, ia hampir menangis haru.
"Kamu suka?"
"Ini, terlalu berlebihan. Tapi, aku suka. Sangat, terimakasih, Sayang," ungkap Hayley tulus, ia memeluk sang suami tanpa rasa canggung.
Semua pasang mata menatap iri pada sepasang suami istri yang tampak sangat bahagia dan serasi. Sebagian besar pegawai adalah wanita, mereka bahkan takjub dengan keromantisan sang atasan yang membuat kejutan istimewa untuk istrinya.
"Aku kapan dapat suami gitu, Ah, iri!" gumam gumam para pegawai wanita sambil menggigit jari.
Begitupun para pengunjung yang ikut menikmati momen kejutan yang ada di hadapan mereka, sebagian besar dari mereka mengharapkan hal yang sama seperti apa yang Hayley dapatkan.
Hayley merasa beruntung, ia memang merasa dua kali gagal dalam percintaannya. Namun Tuhan berkehendak lain, ia mendapatkan lebih dari apa yang ia harapkan, bahkan dari orang yang selama ini tidak terduga.
"Aku beruntung memilikimu. Terimakasih sudah bersabar untukku," ungkap Hayley.
Mendapati istrinya tersenyum bahagia, Aaron sangat bersyukur. Usahanya selama ini sudah membuahkan hasil. Perlahan, Hayley semakin lebar membuka hati untuknya.
Dari sudut meja yang di batasi dengan dinding kaca, seorang wanita paruh baya memperhatikan dua manusia yang sedang di mabuk asmara di tengah hiasan taman bunga.
Ada perasaan marah dan kecewa yang bercampur menjadi satu di dadanya.
__ADS_1
🖤🖤🖤
Bersambung ...