
Setelah membayar semua baju yang Breanda pilih, mereka langsung membawa barang belanjaan menuju mobil, lalu melanjutkan kembali berkelana keliling mall untuk jalan-jalan.
"Kak, kamu biasanya pakai skincare apa?" tanya Breanda memancing.
"Skincare? aku ... cuma pakai yang lokal aja, Bre."
"Hah, aku punya rekomendasi skincare yang bagus loh kak, mau coba nggak?" bujuk Breanda. "Kakak itu harus selalu tampil cantik dan modis, biar kak Aaron makin cinta," imbuhnya.
"Ah, Bre. Andai kamu ngerti tentang pernikahan kontrak ini, masihkan kamu sepeduli ini padaku?" batin Hayley, ia merasa adik iparnya terlalu berlebihan.
"Udah ah, yuk ...." Breanda menarik lengan Hayley, menuju lantai 4 mall yang di dominasi oleh toko-toko kosmetik dan perawatan tubuh.
"Bre, tolong jangan beliin aku barang-barang yang mahal, kasian kakakmu capek-capek kerja, aku yang ngabisin uangnya," desak Hayley.
"Denger ya, kak. Jangankan cuma buat beli seperangkat alat make up dan sepaket skincare, uang kak Aaron itu lebih dari cukup buat beli seisi mall ini beserta bangunannya. Jangan remehkan kekayaan kak Aaron," jelas Breanda. "Buat apa kerja mati-matian kalau nggak buat nyenengin istri," imbuhnya dengan senyum merekah.
Setelah mendengar penuturan adik iparnya, Hayley menuruti semua nasehat Breanda untuk membeli banyak barang, keperluan make up, skincare, perawatan rambut dan masih banyak lagi.
Mereka menghabiskan waktu jalan-jalan dan berbelanja di mall hampir seharian, sebelum pulang, mereka mengakhiri perburuan harta karunnya dengan makan bakso di pedagang kaki lima.
Breanda memang bergaya bak wanita sosialita, tapi dia memiliki jiwa rendah hati dan tidak sombong. Baginya, memilih makan di tempat-tempat sederhana seperti pedagang kaki lima atau warung-warung sederhana bisa membuat si penjual senang, karena Breanda selalu memberikan uang lebih setiap kali selesai makan, begitulah caranya bersedekah dan berbagi rejeki.
Pukul 4 sore, kedua wanita itu sudah kembali ke rumah, sopir yang mengantarkannya di bantu seorang pelayan langsung menurunkan semua barang-barang belanjaan mereka dan mengantarkannya menuju kamar Hayley.
"Bre, kenapa nggak nginap disini?" tanya Hayley, ia merasa akan lebih menyenangkan jika ada Breanda yang menemaninya tidur.
"Nggak ah, kalian kan pengantin baru. Kalau aku nginep, nanti kalian terganggu," jawab Breanda. "Oh, ya. Kenapa kakak nggak tidur satu kamar sama kak Aaron?" pertanyaan Breanda membuat Hayley terkejut, ia bingung harus menjawab apa.
"Anu ... itu ...." Terbata-bata Hayley menjawab sambil berpikir.
"Sebenarnya kita tidur satu kamar kok, Bre. Cuma aku minta kamar sendiri buat nyimpan barang-barang pribadiku," kilah Hayley. "Lagipula di kamar kakakmu lemarinya cuma cukup buat bajunya sendiri, kalau kamar ini kan lemarinya besar," imbuhnya.
"Oh ... kirain." Breanda mengangguk-angguk paham, percaya begitu saja dengan alasan Hayley tanpa banyak bertanya lagi.
__ADS_1
🖤🖤🖤
Setelah waktu menunjukkan hampir jam 5 sore, Breanda pamit pulang, ia tau jika sebentar lagi Aaron akan segera sampai di rumah, jadi ia tidak ingin mengganggu momen pengantin baru kakaknya.
Kepulangan Breanda membuat Hayley kembali merasa kesepian, ia segera mandi dan membersihkan diri, berlama-lama berendam di bath up yang terisi air hangat adalah hobi baru bagi Hayley, menurutnya, kapan lagi bisa menghabiskan banyak waktu bersantai sebelum kesibukan benar-benar melanda.
Pukul 6, Hayley membongkar semua baju yang sudah Breanda pilih, ia langsung melepas label-labelnya dan menaruhnya di keranjang baju kotor. Kebiasaannya dari kecil selalu sama, baju baru tetap wajib di cuci sebelum di pakai.
"Hah, ini apa sih?" Hayley merentangkan lingerie merah muda di depan tubuhnya.
"Astaga, Bre. Kamu beli lingerie, buat apa ini? mana mau aku pakai baju kurang bahan gini, tipis banget lagi, sama aja nggak pakai baju ini namanya," gerutu Hayley, ia menghela nafas panjang, lalu kembali memasukkan lingerie itu ke dalam kantong plastik dan menyimpannya.
Namun, tidak hanya satu lingerie yang ia temukan, melainkan ada 7 warna, ia mendesah pasrah, tidak paham dengan apa yang Breanda lakukan.
Setelah semuanya tertata rapi di tempatnya, termasuk alat-alat make up dan rangkaian skincare yang di pilih Breanda, ia langsung membaringkan tubuh di atas kasur.
"Ternyata ngabisin uang itu gampang banget, nyarinya aja yang susah," gumam Hayley, ia menatap langit-langit kamar yang di hiasi lampu kristal putih dengan stiker bintang-bintang di sekitarnya.
🖤🖤🖤
Bunyi ketukan pintu membuat Hayley seketika berlari membukanya.
"Eh, Mr. Ice, ada apa?" tanya Hayley saat mengetahui si pengetuk pintu adalah Aaron.
"Biasakan jam 7 malam langsung ke ruang makan, nggak perlu di cari-cari," ujar Aaron datar. "Ayo, Alex udah nunggu."
"Iya-iya." Hayley sedikit berlari mengikuti Aaron.
Sesampainya di depan meja makan, Alex sudah mengintai Hayley dengan tatapan sinis.
"Nih upik abu! manja banget. Mau makan aja pakai minta di susulin," decak Alex. "Nggak tau apa, orang udah laper!"
"Maaf," ujar Hayley pasrah, kali ini dia memang merasa bersalah, jadi untuk apa meladeni perdebatan yang Alex mulai.
__ADS_1
Alex hanya melirik tajam lalu mengambil menu makan malamnya, sedangkan Aaron tetap tenang, tidak ingin membela ataupun membantah perkataan Alex pada Hayley.
Usai makan malam, Alex pergi lebih dulu, tentu saja untuk menghadiri party-party nakal bersama teman wanitanya, sudah menjadi hal yang lumrah ketika Alex pergi semalaman penuh untuk berpesta atau menginap di hotel bersama wanitanya. Aaron hanya memberi nasehat, namun ia tidak punya hak untuk melarang kebiasaan buruk sepupunya.
Usai kepergian Alex, hanya tinggal Hayley dan Aaron yang masih menikmati hidangan penutup.
"Mr. Ice," sapa Hayley memulai percakapan, ia bosan terus di diamkan oleh Aaron.
"Hmm."
"Apa kamu marah sama aku?" tanya Hayley bersungguh-sungguh.
"Nggak!" jawab Aaron datar, sama sekali tidak ingin menatap Hayley.
"Yakin? nggak marah?" goda Hayley.
"Nggak!"
"Memangnya kenapa kemarin ngajakin aku pulang pas di resto?" tanya Hayley lagi, ia harus tau kenapa Aaron terlihat sangat marah saat itu. "Apa kamu bertengkar sama Kathrine?" tebaknya.
"Nggak!" Lagi-lagi Aaron hanya menjawab dengan satu kata.
"Punya jawaban lain nggak sih?" geram Hayley, padahal dirinya sudah berusaha mencairkan suasana namun Aaron tetap saja mengabaikannya.
"Oke, sekarang gantian aku yang tanya sama kamu." Aaron menatap Hayley lekat. "Pamitnya ke toilet, nggak balik-balik, ternyata lagi enak-enakan ngobrol sama Marcel, maksudmu apa?"
"Hah? jadi, kamu marah soal itu?" Hayley membalas tatapan Aaron tanpa merasa bersalah. "Terus maumu apa, Mr. Ice? menyuruhku duduk melihat kamu sama Kathrine mersra-mesraan gitu? ogah!"
"Aku nggak marah, siapa yang marah," kilah Aaron. Dia langsung berdiri dari kursinya dan meninggalkan Hayley di meja makan.
"Bilang marah aja gengsi amat!" gumam Hayley sambil menatap punggung laki-laki gagah yang berjalan semakin menjauh, dia merasa bosan terus di abaikan oleh Aaron, sedangkan ia tidak paham dengan kesalahannya.
🖤🖤🖤
__ADS_1
Bersambung ...