
Sesampainya di kantor, Alex menyusul Aaron ke dalam ruangannya.
"Lega sekali rasanya, beberapa bulan terakhir aku bisa bersantai dan berlibur tiap akhir pekan," ucap Alex sambil membanting tubuhnya di atas sofa.
"Aku pun begitu. Aku jadi lebih fokus menemani Hayley di masa-masa kehamilannya," sahut Aaron. "Oh ya, Alex. Aku mohon, jangan terlalu berlebihan menggoda Hayley, emosinya nggak stabil. Dia bisa tiba-tiba marah seperti singa, terus mendadak menangis tanpa sebab. Sungguh, membuatku sering sakit kepala."
"Dia kelihatan sangat membenciku, ya. Heran! salah apa diriku," seloroh Alex tanpa rasa bersalah, padahal, yang lebih sering memulai pertengkaran dengan Hayley adalah dirinya, namun ia tidak pernah sadar.
"Dia memang sangat membencimu, Alex. Makanya, sedikit berbaik hatilah padanya, lebih baik lagi kamu mengunci mulutmu agar tidak bersuara di depannya."
"Segitunya kah? Hahaha. Bilang padanya, jangan terlalu membenciku. Bisa jadi, nanti bayi yang akan dia lahirkan akan sangat mirip denganku," ucap Alex sambil tertawa.
"Bagaimana bisa mirip denganmu. Aku berkontribusi besar dalam proses pembuatannya!" pekik Aaron, tidak terima dengan pendapat Alex.
"Hahahah. Bisa saja begitu. Kata orang, kalau ibu hamil membenci seseorang, maka bayi yang akan di lahirkan akan memiliki wajah yang mirip dengan orang yang dia benci."
"Mana mungkin, itu nggak akan terjadi," kilah Aaron.
"Memangnya kenapa kalau dia mirip denganku, aku kan ... tampan. Lebih tampan darimu," seloroh Alex penuh percaya diri. "Lihat, wanita mana yang mampu menolak pesonaku, Alexavier Boncraft."
"Kalau orang mengira, dia anakmu bagaimana?" tanya Aaron kesal.
"Aku juga nggak akan membantah," jawab Alex tanpa rasa berdosa.
"Sial kamu, ya!" Aaron melempar satu map besar ke arah Alex dan tepat mengenai kepala laki-laki itu.
"Santai, Bro. Just kidding." Alex tertawa terbahak-bahak lalu merapikan kertas-kertas yang berserakan. Selalu seperti itu, Alex tidak pernah berubah dari sifatnya yang jahil dan menyebalkan.
Membuka tas yang tadi ia bawa masuk, Alex langsung sibuk menyiapkan berkas-berkas penting yang harus Aaron tanda tangani.
"Nih, semua. Jangan lupa!" peringatan Alex membuat Aaron tersenyum kecut. Tidak bisa di pungkiri, dirinya sering sekali melupakan beberapa lembar berkas karena terlalu tergesa-gesa. Jika tidak ada Alex yang selama ini senantiasa setia bekerja dengannya, mungkin ia tidak akan sampai berada di titik sekarang ini.
"Nanti siang aku harus mengantar Hayley ke rumah sakit," ujar Aaron.
"Apa dia sakit? dia terlihat sangat sehat tadi pagi. Bahkan rambutnya basah, Hahaha."
"Hmm, memangnya harus sakit dulu untuk datang ke rumah sakit?" tanya Aaron.
"Tentu saja. Kalau sehat, ngapain juga ke rumah sakit."
"Sudahlah, Alex. Hayley itu harus kontrol rutin untuk memantau perkembangan bayinya ke dokter. Dia memang nggak sakit, tapi kesehatannya harus selalu terpantau."
__ADS_1
"Oh ... ya sudah. Pergilah, lagi pula aku nggak keberatan, kok."
"Hah! terserahlah, apa katamu!"
"Kalau sudah beres. Serahkan saja berkasnya pada Bella. Siang nanti, aku juga mau pergi makan siang bersama Melanie, aku sudah janji akan mengajaknya makan siang sejak beberapa hari lalu," ucap Alex.
"Seperti itu? kamu menggantung hubunganmu dengan Melanie begitu saja? tanpa kepastian? Kasihan sekali Melanie, itu pasti menyakitkan." Pertanyaan Aaron menyerang Alex bertubi-tubi, seakan membalaskan dendamnya karena sudah terlalu sering kalah debat dengan sepupunya.
"Hah, aku masih belum ingin sepertimu. Hidup monoton begitu-begitu saja, membosankan."
"Kamu nggak bisa berkomentar seenak jidatmu kalau belum mencoba, Alex. Menikah itu sesuatu yang menakjubkan," jelas Aaron.
"Nggak tertarik!" jawab Alex. "Aku masih suka seperti ini, menikmati hari-hariku dengan siapapun yang aku mau, nggak ada larangan, nggak akan ada yang protes juga. Aku suka hidupku."
"Berapa umurmu sekarang? hah? mau jadi perjaka tua kamu?" ejek Aaron.
"Perjaka tua? perjaka tua yang tampan, cool, dan menawan maksudmu?"
"Sudah 28 tahun bukan? dan kamu masih begini-begini saja. Menghabiskan uang untuk berfoya-foya, bermalam sana sini berganti wanita, sampai kapan?"
"Entahlah, mungkin sampai aku bosan."
"Lalu bagaimana dengan Melanie, apa dia nggak kesal melihatmu terus seperti ini?"
"Ah ya. Terserah apa katamu," ucap Aaron menyerah, rasanya tidak akan ada habisnya Alex memberi alasan kenapa sampai saat ini laki-laki itu tidak ingin menjalin hubungan yang serius dengan seorang wanita.
"Oke, aku pergi dulu."
Alex berlalu meninggalkan ruangan Aaron, ia memang selalu begitu, bekerja dengan santai seperlunya, tidak terlalu suka di tekan dan di target.
Begitupun dengan Aaron, ia membebaskan Alex untuk bekerja sesuka hatinya, Aaron tidak meminta Alex untuk disiplin seperti karyawan kantor lainnya, tapi Alex sepertinya sangat tau diri, dia tidak pernah melakukan kesalahan besar yang membuat Aaron kesal.
🖤🖤🖤
Di rumah, Hayley selalu menghabiskan waktunya untuk menonton tv, membaca buku, atau sekedar mengobrol bersama para pelayan di lantai bawah.
Semenjak kehamilannya, ia memang mudah bosan jika harus mengurung diri di kamar. Beruntung, setiap 2 minggu sekali, akan ada seorang perawat khusus yang datang untuk memandunya melakukan yoga dan senam hamil.
Jam 10 pagi, Hayley datang ke dapur dan meminta pada pelayan untuk menyiapkan bahan-bahan pembuatan brownis, ia sedang bersemangat masak-masak karena baru saja melihat resep brownis coklat lumer di internet.
"Lebih baik kami saja yang membuatnya, Nona," ucap salah satu koki di dapur.
__ADS_1
"Nggak usah. Aku bisa kok."
"Tapi, Nona kan sedang hamil. Nanti kami yang di marahi oleh tuan Aaron."
"Dia nggak akan marah. Biar nanti aku yang jelasin."
"Tapi, Nona ...."
"Sstt! Biarkan aku masak sendiri. Kalau kalian melarangku, bisa-bisa bayiku nanti nangis di dalam perut," seloroh Hayley memasang mimik wajah sedih.
"Baiklah, Nona. Tapi saya akan tetap membantu."
"Nggak boleh!"
Akhirnya, sang koki diam dan hanya duduk manis di kursi sambil menonton majikannya membuat adonan brownis. Beberapa kali koki menawarkan bantuan pada Hayley, namun wanita itu menolaknya mentah-mentah.
Wajah Hayley berkeringat, ia beberapa kali menggunakan tisu untuk mengelap permukaan dahinya, ia terlihat lelah, namun sama sekali tidak mau menerima bantuan pelayan.
"Nona, tinggal di oven saja. Biarkan saya yang melakukannya."
"Nggak usah. Aku bisa sendiri. Jangan meremehkan ku, ya!" ucap Hayley.
"Eh, eh. Tidak, Nona."
"Hah, padahal saya kan cuma menawarkan bantuan. Siapa juga yang berani meremehkan nona besar sepertimu, Nona Hayley!" batin koki laki-laki dengan pakaian serba putih itu, ia kembali duduk di kursi dan mengamati kembali tanpa bertanya apapun.
"Kamu, pergilah. Siapkan makan siang, suamiku sebentar lagi pulang," perintah Hayley.
"Baik, Nona."
Koki pun berlalu pergi dan segera menyiapkan makan siang untuk sang tuan rumah.
Hayley memanaskan oven terlebih dahulu, dalam resep di internet yang ia baca, tidak di sebutkan berapa pengaturan suhu dan waktu yang harus di setting.
"Berapa ya kira-kira?" tanya Hayley pada dirinya sendiri.
Tanpa pengalaman dalam bidang pembuatan kue, Hayley penuh percaya diri menyetting oven dengan suhu 250 derajat celcius, ia melakukan setting waktu selama 25 menit.
Setelah meletakkan adonan brownis yang sudah tersaji cantik di loyang, ia langsung memasukkan ke dalam oven, dan meninggalkan dapur untuk bersiap menyambut kedatangan suaminya.
🖤🖤🖤
__ADS_1
Bersambung ...