Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Terbongkar


__ADS_3

Hari demi hari terasa sangat mendebarkan, Alex sudah menyusun rencananya dengan matang. Hayley sudah berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja, ia berpikir Aaron akan kuat menghadapi kenyataan ini.


Ingatan masa lalu melintas dalam benak Hayley, gadis itu masih sangat mengingat kejadian beberapa tahun lalu, saat sahabat dekatnya datang dalam keadaan mengandung, dan ternyata yang membuatnya hamil adalah kekasih Hayley sendiri,


Rasa sakit yang masih membekas saat ini belum benar-benar sembuh, luka itu memang sudah mengering, namun bekasnya seakan tidak bisa terhapus oleh waktu.


Masih teringat dengan jelas rentetan kejadian menyakitkan yang ia alami waktu itu. Hayley frustasi, ia hampir saja mengakhiri hidupnya saat itu juga, namun iman masih kuat, perlahan ia bangkit dan mulai menerima takdir.


Takdir cinta pertama yang tidak berpihak padanya, bodoh sekali dirinya pernah sepercaya itu pada seorang laki-laki. Sejak saat itu, ia sangat berhati-hati dalam menaruh hati, ia tidak ingin terlalu mencintai, karena saat seseorang memberikan seluruh hatinya pada pasangannya, ia tidak akan menyisakan apapun setelah orang itu menghancurkannya.


"Ini hari libur, mau menonton televisi bersamaku?" tawar Hayley pada Aaron, mereka duduk di bangku taman sambil membaca buku di tangan masing-masing.


"Aku nggak suka nonton," jawab Aaron datar. Akhir-akhir ini Aaron lebih suka menyendiri, dia tidak terlalu banyak bicara dan hanya menjawab seperlunya.


Hayley melirik jam di pergelangan tangannya, ia harus berusaha keras mengajak Aaron untuk duduk di depan televisi satu jam lagi.


"Ayo kita nonton, sepertinya ada film bagus yang di putar hari ini," rayu Hayley.


"Aku nggak suka, Hay."


"Hemm." Hayley menghela nafas berat, Aaron benar-benar sulit untuk di bujuk.


🖤🖤🖤


Di sebuah ajang penghargaan bergengsi untuk para aktris dan model yang di selenggarakan rutin setiap tahun, Alex dan Melanie sudah duduk manis di kursi penonton.


"Apa dia sudah datang?" tanya Alex.


"Sudah, Sayang. Hari ini dia berpenampilan sangat cantik, itu sangat bagus, karena semua penggemarnya akan menyaksikan sejarah memalukan ini," jawab Melanie sambil terkekeh pelan.


"Bilang sama Hayley, acaranya akan di mulai beberapa menit lagi. Pastikan mereka sudah berada di depan televisi dan nggak melewatkan acara seru ini."


"Oke!" seru Melanie sambil meraih ponselnya, mengetik sederet pesan yang akan ia kirimkan pada Hayley.

__ADS_1


Setelah pesan Hayley terima, ia merasa bingung harus merayu Aaron dengan cara apa lagi, laki-laki itu tetap enggan duduk di depan televisi bersamanya.


Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Melanie mengirimkan sebuah link yang berisi tentang acara yang sedang berlangsung, sebuah ajang penghargaan bergengsi yang menampilkan Kathrine sebagai nominasi aktris terpopuler tahun ini.


"Mr. Ice, apa kamu nggak lihat berita di internet pagi ini?" tanya Hayley.


"Nggak tertarik!"


"Yakin nih?" Hayley kembali memastikan. "Siang ini ada siaran langsung dari stasiun tv nasional, ajang penghargaan bergengsi."


Seketika Aaron teringat dengan perbincangannya dengan Kathrine beberapa waktu lalu melalui sambungan telepon, Kathrine bilang dia akan menghadiri acara itu karena masuk dalam nominasi aktris terpopuler.


"Kapan acaranya di mulai?" tanya Aaron.


"Sekarang."


"Sekarang? kenapa nggak bilang!" Aaron bangkit dan meninggalkan bukunya, ia langsung bergegas menuju ruang tengah.


"Hah, dari tadi kan aku udah ngajakin," gerutu Hayley kesal, karena Aaron meninggalkannya begitu saja.


Aaron duduk tenang di sofa sambil menatap layar yang mulai menyala, sedangkan Hayley mampir ke kamarnya, ia mengambil beberapa kapsul obat jantung yang ia dapatkan dari seorang dokter kenalannya, ia benar-benar berpikir jika Aaron akan terkena serangan jantung sesuai prediksi Alex.


Bahkan Hayley sendiri merasa sangat gugup dan tegang, ia menghampiri Aaron dan duduk di sisi sofa yang lain.


Beberapa pelayan datang dan menyiapkan banyak cemilan beserta satu teko jus jeruk yang menyegarkan.


Acara penghargaan di mulai dengan beberapa penampilan penyanyi dunia, sampai di acara puncak, Aaron masih tetap setia menunggu nama kekasihnya di panggil sebagai pemenang penghargaan aktris terpopuler, Aaron sudah sangat gugup, ia berharap hari ini menjadi hari terbaik bagi Kathrine, karena mimpinya telah terwujud perlahan.


Dua sejoli yang bertugas sebagai pembawa acara akhirnya mengumumkan nominasi aktris terpopuler.


"Dan, pemenang penghargaan aktris terpopuler tahun ini jatuh kepada ...." Suara drum di tabuh mendebarkan, Aaron terlihat sangat yakin, sedangkan Hayley, wajahnya sudah memucat dengan tangan bergetar dan berkeringat dingin.


"Kathrine Lillian," teriak kedua pembawa acara secara bersamaan, di barengi dengan tepuk tangan meriah dari setiap hadirin yang berada di depan panggung.

__ADS_1


Wanita berambut pirang sepinggang itu kali ini tampil maksimal dengan gaun mewah berwarna gold, rambutnya di gelung tinggi dengan riasan wajah bold yang menampakkan kesan dewasanya.


Kathrine berjalan anggun naik ke atas panggung, tepuk tangan dan teriakan penggemar menggema begitu meriah, wanita itu tersenyum lebar dan sangat bahagia.


Ucapan selamat di sampaikan oleh kedua pembawa acara, lalu di lanjutkan dengan Kathrine yang menyampaikan rasa terimakasihnya kepada semua pendukungnya selama ini.


"Dan, terimakasih banyak juga saya sampaikan kepada kekasih saya yang berada di Indonesia. Tanpanya, saya tidak akan bisa sampai di titik ini, salam sayang, kekasihmu, Kathrine Lillian."


Tiba-tiba saja lampu studio di padamkan serentak, lalu semuanya fokus pada layar panggung menyala yang menampilkan sebuah video mengejutkan.


Kathrine terlihat pucat, bahkan tulang-tulang sendinya melemas dan lunglai, ia hampir menyerah menopang tubuhnya.


Video di panggung menampilkan Kathrine dan Bob yang berada di depan pintu apartemen, dalam video rekaman itu terlihat jelas Bob mencumbu Kathrine sangat liar, dan wanita itu menerima cumbuan dengan rela. Ciuman-ciuman panas tanpa sensor, tangan Bob yang dengan sangat nakal meraba beberapa bagian tubuh Kathrine terlihat sangat jelas.


Tangis Kathrine pecah, ingin rasanya wanita itu menjerit dan berteriak bahwa itu bukan dirinya, namun semuanya akan sia-sia, karena hanya orang buta yang akan percaya dengan ucapannya.


"Selamat siang, nona Kathrine Lillan," sapa seseorang yang berjalan naik ke atas panggung setelah video selesai di putar. Wanita paruh baya dengan tampilan begitu glamour itu membawa microfone untuk menyapa Kathrine, ia ingin seluruh dunia tau apa yang sedang terjadi saat ini.


Kathrine bergeming, ia menatap nanar pada sosok Margaret yang berdiri di hadapannya. Bibirnya seakan terkunci, tak mampu lagi berkata-kata, bahkan kakinya terasa dipaku, tak sanggup untuk berlari bahkan beranjak dari tempatnya saat ini.


"Kamu tau siapa laki-laki yang mencumbu dirimu dengan sangat ganas itu?" tanya Margaret, ia masih menampilkan senyum yang begitu manis di depan kamera yang menyorot.


"Ah, dia Bob Sandress, produser film terkenal dan pengusaha sukses yang kaya raya. Kalian terlihat sangat menjijikkan," ujar Margaret.


"Semurah itukah harga dirimu, Nona Kathrine?"


"Rela menjual diri demi popularitas, karir dan kesenangan. Berapa yang kamu butuhkan, hah? aku bisa membayar harga tertinggi tubuhmu."


Kathrine masih bergeming, ia menangis dalam diam, bahunya berguncang hebat, tidak seorangpun yang mampu menolongnya saat ini.


Tidak ada suara lain yang terdengar, selain suara Margaret yang mengumbar seluruh aibnya selama ini.


🖤🖤🖤

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2