Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Kehadiran Friska


__ADS_3

Saat Alex hendak melanjutkan aksinya, suara dering ponsel menghentikan aksi mereka.


"Aku akan pergi, jangan lupa datang besok malam pukul 7, jangan terlambat," pamit Melanie, ia merapikan rambut dan gaunnya yang kusut.


Alex hanya mengangguk menanggapi perkataan Melanie, lalu menerima panggilan telpon di ponselnya.


"Tante, ada apa?" tanya Alex, rupanya yang menelponnya pagi ini adalah Samantha.


"Kamu repot nggak? bisa ke rumah tante?" tanya Samantha.


"Aku baru bisa pulang sore, Tante. Ada beberapa pekerjaan penting."


"Memangnya kemana anak durhaka itu?" sungut Samantha.


"Kalau yang tante maksud adalah Aaron, maka jawabannya adalah dia sedang liburan."


"Liburan? ini hari kerja dan dia enak-enakan liburan?"


"Ya Ampun, Tante. Suka-suka dia lah, kantor juga punya dia," ucap Alex.


"Kamu ini, sama aja!" seru Samantha. "Tante tunggu di rumah nanti sore."


"Baik, Tante." Alex menutup telponnya.


Perasaan Alex tidak enak, tidak biasanya Samantha memintanya untuk datang ke rumah, biasanya jika ada keperluan apa-apa, Samantha hanya menyampaikan lewat telpon.


Sesaat, Alex melupakan pertengkarannya dengan Melanie, ia kembali fokus dengan semua pekerjaannya selagi Aaron tidak ada.


Selama seharian, Alex melakukan semua pekerjaannya dengan sempurna. Laki-laki itu memang sangat mewarisi bakat bisnis yang di turunkan oleh orang tuanya, terutama sang papa.


Pukul 4 sore, Alex bergegas meninggalkan kantor dan langsung menuju rumah orang tua Aaron, ia juga punya kepentingan yang harus di selidiki terkait hubungan Hayley dan Marcel yang Samantha ketahui.


"Sore, Tante," sapa Alex pada Samantha yang duduk santai di kursi taman sambil membaca majalah.


Wanita paruh baya itu meletakkan majalahnya dan melepas kacamata. "Baru pulang kerja?" tanyanya.


"Iya."


"Pergi kemana anak durhaka itu?"

__ADS_1


"Sudahlah, Tante. Aaron bukan benar-benar seperti yang tante sebutkan."


"Jangan terus menerus membelanya, Alex. Tante lebih tau bagaimana anak tante. Kalau bukan karena wanita rendahan yang menjadi istrinya, mana mungkin Aaron berubah menjadi anak pembangkang."


"Ah, Hayley nggak seburuk yang tante kira."


"Ada apa dengan kalian? hah? apa wanita itu sudah mencuci otak kalian sampai-sampai berpikir seperti itu?"


Alex melengos, ia tidak datang untuk mendengar berbagai cacian Samantha pada Aaron ataupun Hayley, ia memiliki keperluan sendiri.


"Kalau boleh aku tau, kenapa tante memfitnah Hayley kalau anak dalam kandungannya itu bukan anak Aaron?" selidik Alex.


Samantha tersenyum miring. "Tante sudah tau semuanya. Si wanita murahan itu, menjalin hubungan gelap dengan seorang pengusaha muda bernama Marcellus Gerald, dan laki-laki itu pula yang hampir menghancurkan bisnis perusahaan kami."


"Benarkah? dari mana tante tau? apa kabar itu bisa di percaya?" Alex memancing Samantha.


"Tentu saja, dari orang kepercayaan tante."


"Jangan membicarakan apapun tanpa bukti, Tante. Kalian semua tau, Aaron adalah orang yang tidak mudah percaya kabar burung, dan Aaron pasti membenci hal ini."


"Kamu selalu membelanya, Alex. Heran!"


"Tante masih sangat suka anggrek ternyata," ucap Alex.


"Kamu tau lah, semua saudara tante juga pecinta anggrek, terutama mamamu."


Alex mengangguk sekilas, menepis perasaan yang menelusup dalam dadanya, perasaan kecewa, sakit, dan sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan.


"Sebenarnya, tante menyuruhmu datang, karena ada seseorang yang ingin bertemu denganmu," ujar Samantha.


"Siapa?" tanya Alex.


Seorang wanita paruh baya dengan rambut yang di sanggul tinggi, berjalan dari pintu rumah menuju taman, ia menghampiri Alex yang sedang duduk sambil menyilangkan kaki.


"Alex," sapa wanita itu dengan suara serak.


Menoleh kaget, Alex langsung berdiri dari tempat duduknya, ia menatap seseorang yang berada tepat di hadapannya.


"Alex, ini mama. Kamu sudah besar, kamu tumbuh dewasa seperti yang mama inginkan."

__ADS_1


Wanita itu, adalah Friska, wanita berumur enam puluhan yang sudah lebih dari lima belas tahun pergi tanpa pamit menitipkan Alex di rumah Samantha.


Saat itu, Alex masih berumur sepuluh tahun, di ulang tahun Alex yang ke 10, Friska membawa anaknya ke rumah Samantha, ia menjanjikan pada Alex untuk bermain bersama Aaron sebagai hadiah ulang tahun, namun nyatanya, Friska tidak pernah kembali setelah sekian lama.


Friska meraih pergelangan tangan Alex, namun dengan cepat Alex menepisnya.


"Alex, ini mama," ujar Friska bergetar, melihat putra semata wayangnya tidak mengingatnya, adalah hal yang paling menyakitkan bagi seorang ibu.


Padahal, bukan begitu. Alex masih sangat jelas mengingat wajah dah suara khas wanita di depannya, tidak sedikitpun Alex melupakan semua tentang Friska.


"Alex, dia mamamu, apa kamu lupa?" timpal Samantha.


"Benarkah? bukankah orang yang aku panggil dengan sebutan mama itu sudah menghilang puluhan tahun lalu?" ucap Alex.


"Alex, maafkan mama."


"Maaf? apakah dengan kalimat maaf itu, kamu bisa merubah segalanya? kamu bisa merubah kembali penilaianku terhadapmu?"


"Alex, jangan berbicara kasar pada mamamu!" sentak Samantha.


"Berbicara kasar? aku bahkan sudah lupa caranya berbicara pada orang tuaku sendiri. Lucu bukan?" Alex tertawa, ia memaksakan bibirnya tersenyum, padahal hatinya sedang tercabik-cabik saat ini.


"Bagaimana bisa orang yang sudah pergi selama lebih dari lima belas tahun, lalu tiba-tiba datang dan mengaku sebagai mamaku? sudah gila, ya!" pekik Alex.


"Alex, jaga ucapanmu!" tuding Samantha, sedangkan Friska, hanya menatap nanar laki-laki berambut silver yang pernah mengisi hari-harinya selama sepuluh tahun.


"Mama tau, ini nggak mudah. Mama akan berusaha memperbaiki semuanya, Alex. Maafkan mama, mama mohon." Friska duduk bersimpuh di hadapan Alex, memohon agar sang anak mau memaafkan semua kesalahannya di masa lalu.


Friska menyadari, kesalahannya sangat besar dan bahkan tidak akan pernah termaafkan. Semua itu karena keserakahannya di masa lalu, setelah papa Alex meninggal, Friska sudah tidak lagi memperdulikan Alex, ia hanya menganggap anaknya sebagai beban, karena ia akan keberatan menghidupi Alex tanpa kehadiran seorang suami.


Alex bergeming, bahkan tidak ada sedikitpun ia merasakan rindu pada wanita yang melahirkannya.


Saat Alex lulus dari kuliah yang ia biayai sendiri, ia sudah berusaha keras mencari keberadaan Friska, namun wanita itu bak hilang di telan bumi. Alex menanyakan keberadaan Friska pada semua kerabat dan teman dekat Friska yang Alex ketahui, namun semuanya nihil. Hingga perasaan rindu dan keinginan bertemu itu sirna begitu saja, hampir tak meninggalkan bekas apapun.


"Tante, aku ada urusan penting. Aku harus pergi," pamit Alex pada Samantha, sedikitpun ia tidak melirik Friska di bawahnya.


"Tunggu, Alex," teriak Samantha, namun Alex tetap melangkah pergi meninggalkan dua wanita paruh baya di taman itu.


Sakit dan kecewa, hanya itu yang Alex rasakan saat ini. Sudah lima belas tahun lebih, bahkan ia sudah benar-benar melupakan siapa sosok wanita yang pernah merawatnya saat kecil.

__ADS_1


🖤🖤🖤


__ADS_2