Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Penawaran Aaron


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Hayley bekerja, ia ada dalam satu ruangan bersama sahabatnya, Lisa, juga salah seorang karyawan laki-laki bernama Angga.


Hari pertama yang sangat mengesankan bagi Hayley, teman-teman yang baik dan atasan yang di katakan oleh Lisa itu tidak seseram apa yang ada dalam pikiran Hayley.


"Sepulang kerja ayo ngemall, yuk!" ajak Lisa, Dia memang hobi sekali jalan-jalan, menghabiskan uang di tanggal muda dan mencari hutang di tanggal tua.


"Nggak, ah. Aku nggak punya uang, Lis." Hayley tersenyum kecut, jangankan untuk pergi ke mall, untuk makan saja dia harus berhutang dulu ke tetangganya.


"Kamu itu harus beli baju yang agak bagusan dikit, Hay. Setiap awal bulan pasti ada presiden direktur dari kantor pusat datang berkunjung, dia tidak mentolerir penampilan karyawannya yang kurang layak," ujar Lisa dengan mata menyipit.


"Tapi ...."


"Nggak pakai tapi. Aku yang bakal bayarin kamu buat beli baju." Lisa menunjuk wajah Hayley dengan telunjuknya. "Kamu itu kerja kantoran, cantik, sarjana. Jangan mempermalukan diri dengan penampilan yang begini, Hay," lanjutnya.


"Betul itu, kamu itu cantik, sweety," timpal Angga, laki-laki 25 tahun itu sudah berani merayu Hayley di hari pertamanya bekerja.


Sepulang bekerja, Lisa menepati janjinya, membeli dua buah kemeja baru untuk Hayley, dan satu celana kain hitam sedikit ketat.


"Seharusnya tadi itu beli rok," ujar Lisa.


"Aku sukanya pakai celana, Lis. Bisa bebas gerak, kalau pakai rok, nanti nggak bisa duduk lesehan," jawab Hayley polos.


Sejak jaman kuliah, Lisa memang sangat jarang melihat Hayley memakai rok, apalagi rok pendek di atas dengkul seperti yang biasa ia pakai, Hayley lebih suka memakai celana dengan setelah tunik yang terlihat kurang cocok di jaman gaul seperti sekarang ini.


🖤🖤🖤


Rumah Aaron Conan Drax.


Aaron terbiasa hidup sendirian di rumah sebesar ini, terkadang Alex menginap, namun jika sepupunya itu sedang ada janji dengan para wanita malamnya, maka ia bahkan tidak akan pulang semalaman, meskipun Alex memiliki Apartemen sendiri, namun ia lebih senang menemani Aaron di rumahnya.


Jika libur seperti hari ini, mereka menghabiskan waktu pagi sampai siang hari untuk berolah raga di lantai tiga rumahnya.


Aaron suka olahraga yang mengasah kemampuan otot, sedangkan Alex, ia lebih senang dengan olahraga ringan, seperti berenang.


Rumah besar tiga lantai, hanya di huni dua manusia dan beberapa pelayan. Lantai satu hanya sebagai ruang tamu, kamar tamu, dan dapur.


Lantai dua di khususkan untuk kamar-kamar besar, milik Aaron, Alex dan kamar khusus jika saudara atau orang tuanya berkunjung.


Sedangkan lantai tiga, hanya ada dua ruangan besar, satu ruangan sebagai tempat Aaron memajang lukisan-lukisan favoritnya, satu lagi sebagai tempat gym. Semua peralatan gym sudah tersedia di sini. Satu kolam renang luas berada di luar ruangan, tempat favorit Alex memanjakan diri.


"Alex," ujar Aaron sambil mengelap buliran keringat yang membasahi tubuh atletisnya.


"Hmm." Alex berdehem, ia bermain ponsel sambil minum jus jeruk melalui sedotan.


"Bagaimana pekerjaan gadis itu?" tanya Aaron.


"Gadis siapa? Hayley?" tebak Alex. "Kau penasaran sekali dengannya."

__ADS_1


"Dia berjanji akan mencicil hutangnya padaku bulan depan," jawab Aaron.


"Pekerjaannya bagus, dia cekatan. Menurut pengamatan dan laporan atasannya, dia sangat kompeten dalam bidangnya." Alex memperhatikan raut wajah sepupunya.


"Baguslah kalau begitu. Besok kita akan melakukan kunjungan ke sana."


"Siap!"


🖤🖤🖤


Kehadiran presiden direktur utama dari kantor pusat membuat semua karyawan PT. Furniture Dream kalang kabut, mereka harus mempersiapkan semua laporan keuangan, perkembangan saham dan penjualan secara singkat, tidak ada yang boleh terlewat.


Kegugupan juga mendera Hayley, pasalnya gadis itu baru pertama kali akan melakukan laporan langsung ke pihak kantor pusat.


"Hayley, nanti tolong serahkan laporanmu pada Bapak presdir, jangan ada yang tertinggal dan jangan ada yang terlupa." Peringatan manager keuangan Hayley membuatnya semakin khawatir.


Lisa berusaha membuat sahabatnya tenang, sebelum Hayley, Lisa lah yang selalu melakukan tugas itu.


"Presdir kita tampan, cool, keren. Tapi hati-hati, dia tidak pernah menerima kesalahan," ujar Lisa, kata-kata itu bukannya menenangkan Hayley malah semakin menciutkan nyalinya.


"Apa namanya Alexavier Boncraft?" tanya Hayley.


"Bukan, dia orang kepercayaan presdir, dia juga tampan, tapi tidak sekeren presdir. Nanti lah, kamu bakal lihat sendiri," seru Lisa.


Yang ada di kepala Hayley saat ini bukanlah membayangkan raut wajah tampan sang presiden direktur ataupun sekretarisnya, melainkan wajah menyeramkan mereka saat memberikan pertanyaan ataupun sanggahan saat laporannya ada yang salah.


"Mati aku!" gumam Hayley.


Dua orang berpakaian rapi masuk ke dalam ruangan di ikuti beberapa bodyguard berwajah seram. Serempak semua yang ada di dalam ruangan mengangguk hormat.


"Mr. Aaron?" Gumam Hayley tertahan, matanya membelalak lebar menatap laki-laki di ujung meja.


Sikut Lisa menyenggolnya. "Kau sudah tau namanya?" Hayley mengangguk pelan, ia tidak mau bergosip di tengah-tengah suasana yang menegangkan.


Rapat berlangsung tenang, tidak ada hal-hal menjanggal yang harus di permasalahkan. Semua orang tampak lega, begitu pula Hayley, ia mampu menguasai dirinya untuk berbicara lancar di tengah kegugupan.


🖤🖤🖤


Usai rapat selesai, Hayley bergandengan tangan dengan Lisa dan masuk kembali ke ruangan mereka.


"Kamu lihat kan? Bapak presiden direktur kita tampan sekali," ujar Lisa terkagum-kagum.


"Seribu kali kamu puji dia, kamu juga nggak bakalan naik jabatan, Lis," sahut Hayley, telinganya terasa gatal mendengar pujian-pujian Lisa kepada atasan mereka.


"Tapi kan ... dia memang tampan, Hay. Jangan gitu ah, siapa tau nanti kamu yang bakal lebih tergila-gila dari aku," sanggah Lisa, dia terkekeh melihat wajah Hayley yang cemberut.


"Jangan gosip mulu, nanti kalau ketahuan bisa habis kita." Hayley memperingatkan.

__ADS_1


"Betul, jangan ada yang menggosip sambil bekerja, apalagi bergosip tentang ketampanan atasannya." Seseorang di belakang mereka berbicara lantang, membuat dua wanita yang duduk di depan komputer bungkam.


"Nona Hayley Marshall, silahkan ikut aku ke ruangan atasanmu yang tampan, dia sudah menunggu," imbuhnya.


Hayley berdiri dari kursinya dengan kaki gemetar, sedangkan Lisa hanya menunduk di depan komputer dan pura-pura melanjutkan pekerjaannya.


Seseorang yang tiba-tiba datang tak di undang itu adalah Alex, Hayley mengenali laki-laki itu saat mereka berada di rumah sakit dan saat berada di ruang rapat tadi, dia baru tau jika Alex adalah orang kepercayaan Aaron yang di maksud Lisa.


"Ada apa ya, Pak?" tanya Hayley saat berada di lift bersama Alex.


"Jangan panggil aku seperti itu, aku masih muda." Alex mendelik.


"Baik, maaf, Tuan Alex."


Pintu Lift terbuka, mereka masuk ke dalam ruangan khusus di lantai teratas gedung ini, Hayley menatap was-was pada laki-laki berjas abu-abu dengan warna celana senada sedang duduk di kursi kebesarannya.


"Duduk!" perintah Aaron tiba-tiba.


"Mr. Aaron, apa aku membuat kesalahan?" tanya Hayley gugup.


"Tidak, aku hanya ingin berbincang-bincang denganmu," jawab Aaron dengan ekspresi datar.


"Berbincang-bincang? namun tatapanmu tidak terlihat seperti mengajakku berbincang-bincang, kau lebih seperti hakim yang akan menjatuhkan hukuman mati padaku," gumam Hayley dalam hati.


"Kapan kau mulai mencicil hutangmu, nona Hayley?" tanya Aaron.


"Setelah gajian." Hayley menghela nafas. "Tapi, hanya separuh dari gajiku yang akan ku pakai membayar hutang."


"Berapa gajimu?"


"Sekitar 10 juta."


"Jadi, kau mencicilnya sebesar 5 juta perbulan? begitu?" Aaron melihat jelas kegugupan Hayley, gadis itu berkeringat meskipun berada di ruangan ber AC.


Hayley hanya mengangguk lemah. "Alex, hitung. Berapa waktu yang ia butuhkan untuk melunasi hutangnya," perintah Aaron.


Secepat kilat Alex mengambil kalkulator di mejanya. "Kau butuh waktu tiga tahun lebih untuk melunasi hutangmu, Hayley," sambung Alex.


Hayley menghembuskan nafas kasar, ia tau bahwa perjuangannya tidak akan mudah.


"Aku akan menawarkan sebuah kesepakatan. Jika kau mau, ku anggap lunas semua hutangmu dalam waktu singkat, dan aku juga akan melunasi hutang-hutang ayahmu. Bagaimana?" tawar Aaron.


Sontak dua orang di dalam ruangan itu kaget, tidak hanya Hayley, Alex nampaknya lebih terkejut dan kesal.


"Hah, benarkah? apa yang harus aku lakukan, Mr. Aaron?" tanya Hayley penuh semangat.


"Aaron, jangan gegabah mengambil keputusan, jangan gila, Aaron," desah Alex, rupanya dia tau apa yang akan di sampaikan Aaron.

__ADS_1


🖤🖤🖤


Bersambung ...


__ADS_2