
Udara pagi yang sejuk membangunkan dua manusia yang sedang menghangatkan tubuh di bawah selimut, cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah gorden membuat Hayley terbangun lebih dulu.
Hayley tersenyum bahagia tatkala mendapati suaminya masih terpejam di sampingnya, Aaron tidur menghadap tubuh Hayley sambil meletakkan tangannya di atas perut istrinya. Pantas saja bayinya begitu tenang semalaman, batin Hayley.
Dengan hati-hati, Hayley memindahkan tangan Aaron dan turun dari kasur, ia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah keluar dari kamar mandi, Hayley kembali mendekati suaminya, ia mengelus lembut wajah Aaron dengan tangannya yang masih basah.
Berjengit kaget, Aaron langsung terbangun dan membuka mata.
"Ah, Sweety. Ini masih pagi, kembalilah kesini," ucap Aaron dengan nada serak, ia meminta Hayley untuk kembali berbaring di sampingnya.
"Ayo, Sayang. Ini sudah pagi, kamu bilang ada janji temu dengan tuan Bara. Ayo, cepat bersiap," ujar Hayley, ia menarik lengan sang suami dan menggoyangkan tubuh laki-laki itu agar mau bangun.
"Please, lima menit lagi."
"Ini sudah jam enam, Sayang. Ayo ...."
"Ah, Sweety." Aaron meraih tubuh Hayley dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Hayley merasakan kehangatan menelusup ke dalam tubuh juga hatinya.
Setiap pagi, setiap hari, bahkan setiap jam, ia bersyukur karena takdir masih berpihak padanya. Kini, dia memiliki kebahagiaan luar biasa yang tidak semua orang bisa memilikinya. Bagaimana tidak, kini ia memiliki seorang suami yang tidak hanya tampan dan mapan, melainkan sikap perhatian dan kasih sayang laki-laki itu sudah tidak bisa di ragukan lagi. Hayley di perlakukan bak ratu di rumah ini.
Hayley membalas pelukan sang suami, ia memberikan satu kecupan hangat di atas dada bidang Aaron lalu membelainya lembut, membuat laki-laki itu seketika merasakan jantungnya yang bertalu-talu.
"Sweety, kamu sudah membangkitkan sesuatu," ucap Aaron sensual.
"Hah?"
"Kamu sudah membangkitkan semangat bercintaku di pagi hari, Sweety. Ayo, satu ronde saja," rayu Aaron.
"No!" Hayley mendorong tubuh Aaron dan ia bergerak menjauh. "Ayo bangun!"
Memanyunkan bibir, Aaron akhirnya bangun dari tidurnya dan berjalan malas menuju kamar mandi.
Hayley berniat untuk duduk merias diri di depan cermin, namun pandangan matanya tertuju pada piring kosong di meja dekat tempat tidurnya.
__ADS_1
"Ini kan ... piring tempat brownis kemarin," batin Hayley, ia memperhatikan lagi, ternyata benar, itu adalah piring yang kemarin ia gunakan sebagai wadah brownis gosongnya, dan sekarang piring itu sudah kosong melompong, bersih, tidak meninggalkan satu pun potong brownis.
Tersenyum senang, Hayley langsung mempercantik diri di depan cermin, sejak kehamilannya mencapai usia 5 bulan sampai saat ini, ia senang sekali duduk berlama-lama di depan cermin, menghias diri untuk menyenangkan sang suami.
Setelah Aaron keluar dari kamar mandi, ia menghampiri sang istri yang sedang mengoleskan lipstik merah di bibirnya.
"Kamu cantik, Sweetheart," puji Aaron, lalu mencium kilas kening Hayley.
"Sayang, apa kamu yang menghabiskan brownis itu?" tanya Hayley.
"Tentu saja. Brownis buatan istriku kan enak, jadi aku harus menghabiskannya," jawab Aaron, berbohong akan membuat hidupnya lebih mudah, daripada harus berkata jujur dan membuat Hayley menangis guling-guling.
"Ah, kamu memang yang terbaik, Sayang. Terimakasih," Hayley berdiri yang memeluk suaminya, ia tidak menyangka, jika brownis gosong buatannya sangat di sukai Aaron. "Besok besok, aku akan membuatnya lagi untukmu, Sayang," lanjutnya.
"Hah! nggak, Sweety. Nggak usah, ya!" tolak Aaron, sudah cukup ia mencicipi rasa brownis yang tidak ada tandingannya itu, cukup sekali saja, jangan lagi.
"Kenapa? kamu kan suka, aku akan membuatnya lagi, Sayang."
"Hmm, Sweety. Aku mohon, jangan."
"Ya Tuhan, jangan biarkan aku salah bicara," batin Aaron.
"Bukan begitu, Sweety. Ingat, kamu sedang hamil, dan kamu nggak boleh melakukan pekerjaan berat, kamu harus banyak istirahat," ujar Aaron beralasan, namun memang seperti itulah kenyataannya. "Jangan egois, ini semua juga demi anak kita," lanjutnya.
Menghela nafas, Hayley akhirnya mengangguk patuh.
"Mulai hari ini, kamu nggak boleh melakukan pekerjaan apapun, jangan ikut sibuk di dapur membantu para koki, apalagi sampai membantu tukang kebun bersih-bersih taman, jangan!"
"Eh, Sayang. Kamu kok tau sih?" tanya Hayley sambil nyengir kuda, mendadak ia takut Aaron akan marah.
"Aku sudah tau semuanya. Aku mohon, jangan seperti itu, Sweetheart." Aaron meraih kedua tangan Hayley, menempelkannya di dada. "Aku mencintaimu, kamu dan bayi kita adalah segalanya bagiku, kalau kamu lelah, sakit, bayi kita juga akan sakit. Tolong, jangan membantah."
"Baiklah, Sayang," jawab Hayley patuh, mungkin memang benar apa yang Aaron katakan, tindakannya yabg ceroboh juga akan berpengaruh pada pertumbuhan sang anak.
Setelah Aaron bersiap, ia membawa Hayley menuju meja makan untuk sarapan.
__ADS_1
"Kami suka yang mana, Sweety?" tanya Aaron, ia menawarkan beberapa lauk yang terhidang di meja.
"Aku mau ambil sendiri," jawab Hayley, ia sedikit berdiri dan mengambil beberapa potong daging rendang yang tersedia.
"Pantesan darah tinggi, sukanya daging mulu sih!" sindir Alex. Sepertinya laki-laki itu memang tidak tahan berdiam lebih lama.
"Alex," sela Aaron, memberikan kode pada sepupunya untuk diam.
"Memang, kenyataan kan?"
"Apa sakit gigimu udah sembuh? udah ngoceh ya sekarang!" sinis Hayley, sambil melirik tajam ke arah Alex.
"Jangan melotot, bola matamu nanti lompat baru tau rasa!"
"Sudah, sudah. Jangan ada yang bertengkar. Alex, diam." Aaron menjadi penengah, setiap kali mendengar istri dan sepupunya saling sindir, rasanya Aaron kehilangan nafsu makannya.
"Laksmi, buatkan aku kopi hitam, ya. Kayak biasanya," pinta Alex berteriak pada Laksmi.
Laksmi hanya mengangguk dan berlalu ke dapur, selang beberapa menit, ia sudah kembali dengan secangkir kopi. Di rumah ini, kopi hitam hanya di sediakan jika ada yang meminta, karena Alex dan Aaron terbiasa meminum cappucino.
"Terimakasih, Laksmi. Kopi buatanmu memang enak," puji Alex. "Kalau aku punya istri nanti, aku akan menyuruhnya kursus bikin kopi sama kamu," lanjutnya.
"Ah, Tuan bisa aja," ucap Laksmi dengan nada serak, ia tersipu.
"Kamu sakit?" tanya Alex.
"Tidak, Tuan. Hanya sedikit serak di tenggorokan," jelas Laksmi.
"Oh, jangan makan sembarangan, biar nggak sakit," ucap Alex penuh perhatian.
Hayley yang mendengar ucapan manis Alex pada Laksmi hanya tersenyum kecut, laki-laki buaya memang pandai merayu, pikirnya.
"Aku berangkat dulu, Sweety. Jaga diri baik-baik di rumah, ingat pesanku," pamit Aaron, ia mencium kening sang istri sebelum melangkah pergi, di susul Alex di belakangnya.
"Oh, ya, Laksmi, ingat!" Aaron berucap tegas memperingatkan, membuat Laksmi yang berdiri tidak jauh dari pintu utama langsung mengangguk cepat.
__ADS_1
Alex yang penasaran dengan apa yang sudah terjadi semalam, ingin segera sampai di kantor dan menanyakannya langsung pada Aaron.