Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Baby Nick rewel


__ADS_3

Saat Aaron keluar dari dalam rumah dengan pakaian yang sudah rapi dan siap untuk berangkat, Alex tidak melanjutkan pertanyaan yang sedang menari-nari di kepalanya, banyak sekali hal yang ingin ia ketahui tentang masalah kehamilan, namun ia sendiri tidak yakin dengan dirinya.


"Alex, ada apa?" tanya Aaron.


"Ah, Nggak. Kangen aja sama Nick kecil," ujar Alex sambil mengambil baby Nick dari pangkuan Hayley. "Wow, berapa umurmu sekarang, Jagoan? kamu berat ternyata," seru Alex.


Hayley tersenyum melihat Alex begitu menyayangi baby Nick, setiap beberapa hari sekali, Alex memang selalu datang untuk mampir meskipun sebentar, ia tidak lupa memberikan banyak sekali hadiah untuk keponakannya.


Baby Nick begitu senang setiap kali Alex menggendongnya, bayi kecil itu seperti bisa merasakan siapa saja orang-orang yang tulus menyayanginya.


"Baiklah, cukup bermainnya, Jagoan. Uncle harus berangkat bekerja sebelum papamu mengomel karena terlambat," ucap Alex, ia menciumi pipi kanan dan kiri keponakannya. "Cepatlah besar, nanti uncle akan mengajakmu jalan-jalan," lanjutnya.


Hayley pun kembali mengambil baby Nick dari gendongan Alex.


"Papa berangkat dulu, Baby. Jangan rewel, please. Kasihan mama," pamit Aaron, lalu mencium anak dan istrinya secara bergantian.


Alex dan Aaron berangkat bersama dengan mengendarai mobilnya masing-masing. Ada banyak hal yang sangat mengganjal di hati Alex sejak mendengar keinginan Melanie tentang seorang anak.


Alex pun sekarang cukup paham, kenapa Hayley terlihat selalu bahagia dan ceria meskipun kehamilannya saat itu begitu sulit, ternyata ada sesuatu yang membuat perasaan seorang ibu tidak bisa di bohongi, yaitu kekuatan cintanya pada sang buah hati yang ada dalam kandungan.


Sejujurnya, Alex pun sangat menginginkan hadirnya seorang anak, namun dengan keadaan Melanie yang tidak memungkinkan, Alex tidak ingin memaksa, justru ia merasa keberatan dengan keinginan Melanie untuk hamil, itu akan sangat membahayakan nyawanya.


Sesampainya di kantor, Alex duduk dengan pandangan kosong menatap jendela kaca yang menampakkan gedung-gedung tinggi menjulang di ibu kota, dari lantai 15, semua bangunan tampak terlihat indah


"Apakah Melanie baik-baik saja?" tanya Aaron, merasa aneh dengan sikap Alex yang berubah pendiam.


"Baik," jawab Alex singkat.


"Ada masalah apa, Alex? apakah ada yang serius?"


"Entahlah, aku harus mengatakan ini sebuah masalah atau harapan. Tapi, Melanie ingin hamil, Aaron," jawab Alex sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, memikirkan tentang hidup Melanie yang sudah di ujung tanduk saja sudah membuat kepalanya hampir pecah, bagaimana jika masalah itu akan bertambah dengan hadirnya janin di rahim wanita itu.


Aaron menghela nafas panjang mendengar jawaban sepupunya, ia tidak tau harus mengatakan apa tentang hal ini.


"Aku harus bagaimana, Aaron?" tanya Alex meminta pendapat.

__ADS_1


"Apa kalian sudah menemui dokter yang aku rekomendasikan?"


"Sudah, kemarin. Kami akan segera terbang ke Singapura untuk melakukan metode pengobatan terbaru."


"Kalau Melanie berani mengambil keputusan, pasti dia sudah memikirkannya dengan matang, dia pasti punya alasan," ucap Aaron. "Sudah kodratnya wanita untuk menjadi seorang ibu, tapi dengan kondisi Melanie yang sudah seburuk itu, rasanya itu akan sangat berat."


"Aku tau, aku nggak bisa nolak keinginannya, tapi untuk setuju, rasanya seperti mengizinkannya untuk pergi secepatnya."


"Tuhan selalu punya keajaiban. Bukannya kamu sendiri yang selalu berpikir, bahwa umur seseorang hanya Tuhan yang menentukan. Kalau dokter bisa melakukan yang terbaik untuk progam kehamilan Melanie, mungkin kamu perlu mencobanya," ucap Aaron.


"Itu berat, Aaron. Melanie akan lebih menderita dengan kehamilan itu, aku nggak akan sanggup melihatnya."


Aaron tersenyum miring, menatap sepupunya yang sedang di landa kegelisahan luar biasa. "Jangan meremehkan wanita, Alex. Kamu nggak akan pernah bisa mengukur seberapa kuat mereka, ada banyak hal yang nggak kamu tau tentang wanita."


"Tapi kondisi Melanie ...."


"Alex, dengarkan aku. Melanie cuma ingin hamil, dan jika itu benar-benar terjadi, bukankah sebuah keajaiban?" tanya Aaron. "Dia lebih kuat dari yang terlihat, jangan menganggapnya lemah hanya karena sebuah penyakit. Kamu harus bangga, bisa menikahi wanita setegar Melanie, dia masih berkeinginan kuat di saat orang lain sepertimu ingin menyerah."


"Apa aku harus menyetujuinya?" tanya Alex.


"Ikuti kata hatimu. Temui dokter yang menangani Melanie, sampaikan semua keinginan itu, tanyakan semua resiko sampai ke titik terburuknya, serta ambil poin-poin baik yang akan Melanie dapat saat kehamilannya terjadi," jelas Aaron. "Kehamilan juga pasti memiliki energi positif, karena kebahagiaan terbesar seorang wanita adalah memiliki seorang anak."


🖤🖤🖤


Siang ini, Aaron memutuskan untuk pulang lebih cepat, karena Laksmi memberikan laporan jika baby Nick seharian rewel dan sangat menyusahkan ibunya, Laksmi bahkan bilang jika Hayley pun ikut menangis karena bingung harus melakukan apa.


Bergegas keluar kantor dengan cepat, Aaron meninggalkan pesan pada Alex untuk menemui seorang rekan bisnis setelah jam makan siang.


Setelah sampai di rumah, Aaron langsung menuju kamar baby Nick, dia melihat Hayley yang berdiri sambil menggendong putranya, ia mengayunkan tubuh ke kanan dan ke kiri untuk menenangkan baby Nick.


"Sweetheart," sapa Aaron. "Ada apa? apa dia sakit?"


Hayley yang menyadari kehadiran Aaron, langsung mendekat dan menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.


"Nggak tau, dia nangis seharian," jawab Hayley, kemudian ia mulai menangis dan terisak.

__ADS_1


"Sudah, sudah. Jangan menangis, kita akan panggil dokter untuk memeriksanya," ujar Aaron, ia menenangkan sang istri yang juga menangis sesenggukan.


Terkadang Aaron juga bingung, setiap kali sang anak tiba-tiba menangis tanpa sebab, rewel, atau bahkan mogok menyusu, yang lebih sering frekuensi menangisnya justru sang istri.


Hal itu selalu membuatnya bingung, Hayley dan baby Nick menangis secara bersamaan, membuatnya tidak mengerti harus melakukan apa.


"Aku akan panggil dokter, dan ganti baju sebentar. Tunggu di sini," ucap Aaron, lalu segera menuju kamarnya.


Tidak menunggu lama, dokter anak yang baru saja di hubungi oleh Aaron sudah sampai di rumah mereka.


"Bagaimana, Dok? apa baby Nick baik-baik saja?" tanya Hayley khawatir.


"Sangat baik, Nona. Dia sangat sehat, tidak ada yang perlu di khawatirkan," jawab dokter setelah melakukan pemeriksaan. "Suhu tubuh normal, cek bagian mulut tidak ada sariawan ataupun hal yang mengganggu, kondisi perut juga normal. Bayi anda baik- baik saja."


"Tapi, dia terus saja menangis, Dok. Hanya berhenti saat menyusu, setelah kenyang, dia tidak mau tidur, sebentaer-sebentar nangis."


"Ini yang di namakan fase wonder week. Fase dimana bayi mengalami percepatan pertumbuhan, kondisi yang berkaitan dengan perubahan pertumbuhan dan mental bayi, ini terjadi saat bayi mulai melihat dan mengamati hal-hal yang terlalu cepat untuk di pahami sebelumnya."


"Jangan khawatir, kondisi ini normal dan semua bayi akan mengalaminya, mungkin hal ini bisa berlangsung beberapa hari. Anda hanya perlu memberikan perhatian ekstra dan memahami isyarat keinginan yang bayi sampaikan. Setelah perubahan tumbuh kembang yang di alami bayi lebih kompleks, periode rewel akan berlangsung lebih lama, bisa beberapa minggu atau lebih," jelas dokter.


Hayley dan Aaron pun tampak sangat tenang setelah mendapatkan penjelasan dokter. Setelah selesai dengan tugas-tugasnya, dokter berpamitan untuk kembali bertugas ke rumah sakit.


"Kamu bisa istirahat, Sweetheart. Aku akan membawa Nick jalan-jalan," ucap Aaron.


"Jangan bawa dia keluar, udaranya sedang panas."


"Aku akan membawanya ke kamar Alex."


"Hah, mau apa ke kamar Alex?" tanya Hayley.


"Mungkin Nick butuh suasana baru," jawab Aaron sambil berlalu ke kamar Alex. Semenjak Alex pindah, kamar ini tetap tidak di biarkan kosong, Alex hanya membawa barang-barang pribadinya, dan dia meninggalkan seperangkat alat game favoritnya.


"Kamu mau main game sama papa, Baby?" tawar Aaron pada baby Nick, bayi kecil itu seakan mengerti dan menjawab dengan tersenyum lebar.


"Baiklah, papa sangat rindu bermain. Ayo lihat, apa papa masih sejago dulu," seru Aaron.

__ADS_1



🖤🖤🖤


__ADS_2