
Kediaman Marcellus Gerald.
Laki-laki itu makin hari tampak makin bersemangat dan ceria, setiap waktu selalu ia habiskan dengan memberikan berbagai perhatian pada sang gadis pujaan.
"Tidak lama lagi, kita akan bersama," gumamnya pelan.
Marcel membuka sebuah lukisan besar yang terpampang di ruang kerjanya, seorang gadis berkulit putih dengan rambut bergelombang di bagian bawahnya sedang tersenyum begitu manis.
Anne Sonya, gadis keturunan Pakistan bermata kecoklatan itu terlukis begitu sempurna, wajahnya yang ayu dan sorot mata teduhnya seperti sihir yang mampu meluluhkan setiap pandangan.
"Anne ...." Marcel meraba lukisan itu, sering kali dirinya berbicara dengan lukisan di depannya, menatap penuh kerinduan pada gadis pujaan hatinya.
"Sekarang, aku nggak kesepian lagi. Terimakasih sudah datang ke kehidupanku untuk yang kedua kalinya," ucap Marcel, kemudian mencium lukisan itu dengan mesra.
Marcel, kehilangan Anne satu hari setelah hari pertunangan mereka, gadis itu mengalami kecelakaan saat menyebrang jalan ketika hendak bertemu dengan Marcel di sebuah cafe.
Anne dan Marcel sudah berpacaran lebih dari satu tahun, dan di tahun kedua mereka mantap menjalin hubungan yang lebih serius, yaitu bertunangan.
Usia yang muda tidak menjadi halangan bagi Marcel untuk segera mempersunting kekasihnya, karena dia termasuk pebisnis muda yang handal dan berbakat, orang tua Anne sama sekali tidak keberatan jika putri tunggal mereka segera di pinang.
Anne sempat di larikan ke rumah sakit sesaat setelah kejadian, namun dia terlanjur meninggal dunia saat dalam perjalanan.
Berbulan-bulan, sampai lebih dari setahun, Marcel mengalami kehilangan yang sangat berat. Laki-laki itu sampai beberapa kali harus menjalani pengobatan depresi yang dialaminya.
Pernah suatu ketika, Marcel di bawa oleh orangtuanya ke rumah sakit jiwa, laki-laki itu sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya. Anne tidak hanya pergi membawa sebagian dari hatinya, namun membawa seluruh kehidupannya.
Hampir 3 bulan berlalu, Marcel di nyatakan sembuh oleh dokter kejiwaan dengan pantauan ketat dokter psikolog. Orangtuanya dengan sangat bahagia membawa pulang kembali anak tunggal mereka.
Sampai pada suatu saat papa Marcel meninggal dunia karena sebuah penyakit, Sharaa berkeinginan membawa putranya pulang ke Indonesia, tempat Sharaa di lahirkan.
Dengan adanya seorang kerabat dekat yang juga seorang pebisnis, Marcel sudah cukup lebih baik daripada harus tinggal di negara tempatnya kehilangan banyak hal.
Namun, menjauhkan Marcel dari negara itu, bukan berarti menjauhkan hati dan pikirannya dari Anne, bahkan sampai saat ini, laki-laki itu masih berharap Anne kembali hidup dan melanjutkan kisah cinta mereka bersama.
Sampai suatu ketika, Marcel di pertemukan dengan gadis yang sangat mirip dan bisa di bilang kembar seperti Anne, yaitu Hayley.
Semangat laki-laki itu kembali membara, ia seperti mendapatkan kehidupannya lagi, membawa cinta yang sudah hampir mati ke dalam hati yang baru.
"Dia Anne-ku. Tidak peduli siapa namanya dan bagaimanapun dia, dialah Anne-ku."
__ADS_1
Berbagai usaha ia lakukan untuk mendekati dan mendapatkan perhatian dari Hayley, semuanya membuahkan hasil. Marcel tidak peduli sekalipun Hayley adalah istri dari laki-laki lain, ia tetap akan membawa cintanya kembali, apapun caranya.
Sore ini, Marcel sudah melakukan janji untuk makam malam bersama Hayley, ia pamit pada Sharaa sebelum pergi.
"Ma, aku mau dinner sama Hayley, mama jaga diri baik-baik di rumah," pamit Marcel, kemudian mencium punggung tangan Sharaa.
Mendapati anaknya sangat bahagia, sebagai orang tua, Shara pun turut merasakannya. Meskipun ada sesuatu yang mengganjal, Sharaa tetap mendukung keinginan putra tunggalnya.
Pernah suatu ketika Sharaa mempertanyakan status Hayley, Marcel menjawabnya dengan jujur kalau Hayley adalah istri dari rekan kerjanya, namun hanya sebuah pernikahan kontrak.
Sharaa cukup senang, akhirnya Marcel menjadi Marcel yang dulu, laki-laki penyayang, lembut dan penuh perhatian. Pertama kali bertemu dengan Hayley di sebuah resto saat dinner bersama putranya, Sharaa memang sangat terkejut, ia hampir berpikir jika gadis itu adalah Anne. Namun perlahan, Marcel menjelaskan semuanya.
🖤🖤🖤
Marcel menjemput Hayley di depan rumahnya, gadis itu sudah berdandan sangat cantik dengan rambut di gerai lurus, yang menjadi perbedaan mencolok antara Hayley dan Anne adalah warna matanya, Anne dengan warna kecoklatan, sedangkan Hayley bermata biru keabuan.
"Selamat malam, Cantik," sapa Marcel, ia membuka pintu mobil untuk sang tuan putri.
Hayley tersenyum manis, ia pun menyambut Marcel dengan begitu antusias.
Memanggil Hayley dengan sebutan 'Cantik', adalah panggilan yang sama ketika Marcel masih bersama Anne. Jauh di dalam lubuk hati laki-laki itu, Anne adalah segalanya, sampai saat ini.
Hayley dan Marcel masuk ke sebuah resto bergaya jepang, mereka sengaja datang di grand opening resto yang baru di buka malam ini.
"Wow, ini resto baru, ya?" tanya Hayley.
"Ya, tempatnya nyaman, bukan? kamu suka?" tanya Marcel.
"Suka, bagus," puji Hayley.
"Ini usaha baruku, masih dalam tahap belajar untuk terjun ke bisnis makanan seperti ini," ungkap Marcel. "Kalau kamu suka, aku bisa menjadikan tempat ini sebagai milikmu."
"Hah? No! Aku nggak suka mendapatkan pemberian berlebihan seperti ini, Marcel. Aku memang punya niat membangun rumah makan, tapi dengan jerih payahku sendiri."
Lagi-lagi Marcel semakin bangga dengan komitmen dan rasa percaya diri Hayley yang cukup tinggi, gadis itu selalu membuatnya tergila-gila setiap harinya.
Marcel membawa Hayley di sebuah ruangan VIP dengan dekorasi bunga-bunga sakura, pelayan resto ini juga serempak memakai pakaian khas jepang.
Hampir semua menu yang tersedia di tempat ini, di hidangkan di meja mereka.
__ADS_1
"Ini terlalu banyak, Marcel."
"Kamu bisa cicipi semuanya, aku nggak tau mana yang kamu suka," ucap Marcel.
Mendesah pasrah, Hayley tetap berterimakasih dan menghargai apa yang sudah Marcel lakukan.
Malam ini, Hayley memang bersedia makan malam bersama Marcel karena ada suatu hal penting yang sangat ingin dia bicarakan.
"Cantik, wajahmu pucat," ungkap Marcel, memperhatikan dengan seksama wajah gadisnya yang tidak merona seperti biasanya.
"Nggak tau, akhir-akhir ini memang aku sering lelah. Mungkin kurang darah," jawab Hayley.
"Mau ku antar ke dokter?"
"Nggak usah. Mungkin kalau terus seperti ini, akhir pekan aku periksa sendiri."
Marcel manggut-manggut, ia menautkan jemarinya di jari-jari Hayley.
"Jaga kesehatan, Cantik. Aku nggak mau kamu sakit," ungkapnya khawatir.
Hayley hanya mengangguk. "Aku ... mau ngomongin sesuatu yang penting," ucapnya.
"Apa? katakan, aku dengan senang hati mendengarnya."
Sebelum Hayley mencari tau sendiri tentang mantan kekasih Marcel yang di sebut-sebut sangat mirip dengan dirinya, ia lebih dulu ingin mengatakan suatu hal besar yang sedang ia alami saat ini, tentang malam yang panjang bersama Aaron.
Perlahan, Hayley menceritakan tentang malam di pesta ulang tahun Barbara yang ia dan Aaron hadiri, tentang mantan kekasih Aaron, Kathrine yang berusaha mencelakai mereka.
Sampai cerita dimana Hayley menjadi gadis yang memasrahkan tubuhnya kepada Aaron, Hayley menceritakan semuanya, ia lebih memilih jujur, dan akan mengambil sikap jika Marcel memilih mundur.
Tangan Marcel mengepal di bawah meja, rahangnya mengeras, beberapa kali ia terlihat gusar dan mengatur nafas, laki-laki itu menahan amarah yang luar biasa.
"Inilah keadaanku, kalau kamu keberatan, aku nggak papa," ujar Hayley.
Menahan gejolak cemburu dan amarah yang menyatu, Marcel tidak menjawab, matanya memanas, dadanya sesak seperti ingin meledak.
🖤🖤🖤
Bersambung ....
__ADS_1