Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Pertemuan dengan Marcel


__ADS_3

Hari demi hari berlalu begitu cepat, Andini hanya menginap 3 hari di rumah besar menantunya demi bisa menemani putri satu-satunya yang sedang mengalami mual muntah luar biasa di kehamilan pertama.


Aaron pun menjadi suami siaga yang selalu ada di samping Hayley dari pagi sampai menjelang pagi.


"Aku sudah membaik, kamu bisa pergi kerja," pinta Hayley.


"Nggak papa, aku bisa ambil libur lebih lama lagi. Kamu terpenting," jawab Aaron, ia sudah menyerahkan seluruh tugas" kantor pada Alex, ia hanya tinggal menyetujui semua berkas yang Alex bawa setiap sore.


"Kasihan Alex, akhir-akhir ini dia terlihat sangat sibuk."


"Dia memang pekerja keras. Jangan mengkhawatirkannya, sweety," ucap Aaron lembut, sambil membelai rambut Hayley yang tergerai. "Mau sarapan apa?" tanya Aaron.


"Cukup roti tawar seperti biasa," jawab Hayley, sudah beberapa hari terakhir, yang mampu ia makan hanya satu atau dua lembar roti tawar dan segelas susu khusus ibu hamil. Semua jenis makanan dari berbagai karbohidrat, sayur-mayur sampai lauk pauk, perutnya menolak.


"Besok kita akan periksa, Sweety. Aku akan cari cara supaya kamu bisa makan banyak seperti biasanya. Kamu butuh banyak asupan nutrisi agar lebih bertenaga."


Hayley mengangguk patuh, lalu menyaksikan Aaron melenggang menuju dapur untuk menyiapkan sarapan dan susu untuknya.


Sejak Hayley kembali ke rumah ini dalam keadaan hamil, Aaron lah yang menyiapkan segala keperluannya. Bahkan kepala pelayan di rumah ini pun di larang untuk mengambil alih tugas tersebut.


Dari menyiapkan sarapan, membuat susu, dan menyediakan keperluan pribadi istrinya, Aaron sangat telaten.


Beberapa saat kemudian, Aaron sudah kembali dengan dua lembar roti tawar dan segelas susu rasa stawberry.


"Mau tambah selai?" tanya Aaron, ia menawarkan selai kacang dan coklat yang juga ia bawa.


"Nggak perlu." Hayley menggeleng.


"Kamu nggak mau makan sesuatu?" Aaron kembali bertanya, namun lagi-lagi Hayley hanya menggeleng.


Merasa sangat sedih dengan keadaan istrinya yang mudah lelah, lemas, dan makin hari makin terlihat kurus. Aaron sudah menyiapkan dokter kandungan khusus untuknya, ia berharap, masa-masa ini segera terlewati dengan cepat.


Hayley menggigit ujung roti tawar lalu menelannya secara paksa, ia tau jika seseorang di hadapannya ini begitu khawatir, jadi dia tetap memaksakan diri untuk makan sesuatu yang bisa di terima tubuhnya.


"Apa anak kita nakal?" tanya Aaron, ia mengelus perut Hayley yang belum terlihat membuncit.


Tidak menjawab, Hayley hanya merasakan sentuhan lembut di perutnya. Seharusnya ia bersyukur memiliki suami sebaik Aaron, namun lagi-lagi hatinya masih bercabang, ia terlalu berharap pada laki-laki lain.


"Mr. Ice," ucap Hayley pelan.


"Panggil saja namaku," sela Aaron.

__ADS_1


"Hmm, baik. Kemarin, Marcel menelfon," ungkap Hayley, kemudian ia menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Dia, ingin bertemu denganku," lanjutnya.


Aaron menatap lekat wanita pujaannya, ia tau jika hati wanita di depannya masih condong ke arah lain, namun ia tidak memaksa jika cinta harus hadir saat ini juga.


"Ada perlu apa?" tanya Aaron santai, berusaha menyembunyikan kecemburuannya.


Hayley hanya menjawab dengan mengangkat bahu, ia sendiri tidak tau apa tujuan Marcel memintanya bertemu.


"Kamu masih berharap bisa bersamanya? kenapa, Hayley? aku kurang apa?" Pertanyaan bertubi-tubi yang Aaron lontarkan begitu menusuk bagi Hayley, ia tidak tau harus memberikan jawaban seperti apa.


"Apa kamu sama sekali nggak mikirin anak kita? dia anak kita, dan kita lah yang harus merawat dan membesarkannya," tutur Aaron.


Hayley hanya diam, cintanya pada Marcel seakan mengalahkan perasaan keibuannya pada bayi yang sedang ia kandung.


Melihat wanita di depannya terlihat mulai sedih, Aaron langsung memasang kembali senyumnya. Bagaimanapun, Hayley sedang mengandung anaknya, ia akan tetap berusaha membuat wanita itu bahagia meskipun ada luka yang kian hari kian dalam ia rasa.


"Apapun demi kamu, Hayley. Dimana Marcel meminta bertemu?" tanya Aaron serius.


"Di resto miliknya, letaknya dekat dengan PT.M-ral."


🖤🖤🖤


Malam harinya, Aaron membantu Hayley bersiap-siap, ia sudah menyiapkan gaun dan keperluan yang akan Hayley bawa, termasuk tisu, minyak angin, dan lain-lain sebagainya. Semenjak kehamilannya, Hayley memang tidak bisa jauh dari hal-hal tersebut.


"Kamu cantik, Sweety," puji Aaron, mengecup lembut kening Hayley yang sedang bersolek di depan cermin.


Bagaimana bisa seorang suami dengan begitu ikhlas mengantarkan istrinya untuk menemui laki-laki lain yang sudah jelas akan merebut kebahagiaannya?


Tidak! Aaron sama sekali tidak pernah rela istrinya menemui laki-laki lain selain dirinya. Tapi untuk malam ini, ia akan mencoba bersabar, ia berharap, malam ini adalah malam terakhir Hayley menemui Marcel, ini adalah kesempatan terakhir bagi mereka.


"Sudah siap?" tanya Aaron, ia menyelipkan anak rambut yang menjuntai menutupi pipi merah merona istrinya, Hayley mengangguk tanpa ekspresi.


Hayley merasa menjadi wanita yang paling aneh di dunia ini, padahal ia sudah jelas-jelas mendapatkan seorang suami yang begitu menyayanginya dan memberikan segalanya, namun ia malah memilih untuk mengharapkan cinta yang lain.


"Aku memang bodoh, aku bodoh!" batin Hayley.


Namun ia tidak bisa menolak ajakan Marcel, di kesempatan ini pula, ia akan menjelaskan tentang kehamilannya pada Marcel, kalaupun laki-laki itu memilih mundur, Hayley akan berbesar hati.


Perjalanan ke resto memakan waktu hampir 20 menit, Marcel sudah duduk manis dengan sebuah kotak kecil yang ia genggam rapat, sambil menanti sang pujaan hati datang.

__ADS_1


"Selamat malam," sapa Aaron lebih dulu, Marcel begitu terkejut tatkala mendengar suara yang tidak asing lagi di telinganya.


"Aaron, bagaimana bisa kamu ...."


"Aku hanya mengantarkan istriku. Bukankah aku suaminya? aku berhak tau kemanapun dia pergi dan dengan siapa dia bertemu," sela Aaron tegas, ia menahan gejolak di dadanya yang mulai memanas.


Marcel melemparkan pandangannya pada wanita di samping Aaron, Hayley datang dengan balutan gaun berwarna biru muda yang begitu elegan, rambutnya di gerai dengan ujung sedikit bergelombang.


"Maar, Aaron. Bisakah aku bicara empat mata dengan Hayley?" pinta Marcel, ia meminta dengan nada sinis dan tak suka.


Aaron menatap wanita yang berdiri di sampingnya, Hayley mengangguk pelan memberikan isyarat setuju. Kecewa, Aaron berpikir Hayley akan memintanya tetap duduk di meja yang sama agar tau apa yang menjadi tujuan Marcel meminta datang untuk bertemu.


Dengan langkah kaki yang berat, Aaron sedikit menjauh dari tempat itu, ia memilih duduk di meja ujung yang kosong dan memesan minum.


"Cantik, tolong jelaskan, apa maksud semua ini?" tanya Marcel tidak tahan.


"Maaf, hampir dua minggu, aku kembali ke rumah Aaron."


"Kenapa? bukankah pernikahan kalian segera berakhir? tolong katakan semuanya dengan jujur!"


"Aku ... hamil." Lirih, jawaban Hayley membuat mata Marcel membulat penuh, laki-laki itu terlihat tidak percaya.


"Jangan bergurau, Cantik. Bagaimana mungkin kamu bisa hamil, sedangkan kalian melakukannya hanya satu kali," sanggah Marcel, ia sama sekali tidak mempercayai hal yang ia dengar.


"Aku juga tidak tau."


Marcel bangkit dari duduknya, ia berjalan tergesa ke arah Aaron, lalu dengan kasar menggebrak meja. Hayley yang ketakutan tetap mendekat.


"Aaron! apa yang kau lakukan. Hah?" Marcel membentak Aaron, suaranya begitu menggelegar, membuat semua pengunjung resto mengalihkan pandangan pada dirinya. "Sudah berapa kali kau melakukannya?" tanya Marcel.


Aaron menghela nafas berat, ia pun tidak kalah geram dengan sikap kasar Marcel yang tiba-tiba, apalagi ini di tempat umum.


Menjaga image, Aaron tetap bersikap tenang.


"Aku? melakukan apa?" tanya Aaron pura-pura tidak mengerti.


"Katakan! sudah berapa kali kau meracuni Hayley dengan obat perangsang? pasti itu semua hanya akal-akalan mu, bukan?" tanya Marcel.


🖤🖤🖤


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2