
Berjalan mendekat, Aaron langsung memeluk sang istri dan mengecup keningnya lembut.
"Kenapa menunggu di sini, Sweety," ujar Aaron lembut.
"Cuma ingin," jawab singkat Hayley, lalu menggandeng lengan Aaron memasuki rumah, mereka langsung masuk ke dalam kamar di saksikan para pelayan yang melongo.
Pasalnya, selama mereka menikah, semua pelayan tau bahwa Hayley belum pernah sekalipun bersikap manja pada Aaron jika di luar kamar, namun nyatanya, perubahan Hayley membuat semua orang tampak bahagia.
"Mau ku buatkan sesuatu?" tanya Hayley, ia membantu Aaron melepas dasi dan jas yang Aaron pakai.
"Nggak perlu, aku bisa minta pelayan. Kamu harus banyak istirahat, Sweety. Jangan memaksakan diri melakukan ini dan itu."
"Aku cuma bosan. Kamu kerja seharian dan aku di rumah sendiri."
"Sendiri? pelayan rumah ini kan banyak. Apa salahnya kamu mengobrol bersama mereka?"
"Hmm, iya juga, ya."
"Aku bisa membawa ibu untuk tinggal di sini selama yang kamu mau, agar kalian dekat dan kamu nggak kesepian lagi," saran Aaron.
"Sepertinya nggak perlu. Kasihan ibu."
Hayley berdiri menghadap jendela kaca menatap burung-burung yang ramai berkicau hinggap di pohon-pohon samping rumahnya.
Aaron mendekat, memeluk sang istri dari belakang, ia melingkarkan tangan kekarnya di perut sang istri seraya membelai.
"Apa si kecil di dalam sini baik-baik saja?" tanya Aaron.
"Ya, sepertinya ia sedang sangat bahagia, seharian ini terus saja bergerak aktif hampir membuatku susah tidur."
Menyingkap rambut bagian belakang Hayley dan membawanya ke depan, Aaron dengan lembut menciumi tengkuk leher sang istri. Merasakan nafas hangat yang membuat bulunya kuduknya berdiri, Hayley menggeliat pelan sambil tersenyum.
"Ih, geli. Hentikan," rengek Hayley, ia berusaha menghindar, namun Aaron semakin mempererat pelukannya.
"Aku bahagia. Akhirnya, kita bisa bersama. Tidak peduli apapun yang menjadi penghalang, aku akan berusaha menyingkirkannya," bisik Aaron, sambil sesekali masih mencium leher belakang istrinya.
"Aku tau kamu masih berusaha untuk menerima semua ini, aku menghargainya, Sweety. Jangan menyerah, aku akan tetap menunggu hatimu sepenuhnya milikku," lanjutnya.
__ADS_1
Aaron membalik tubuh Hayley berhadapan dengannya, mereka saling tatap bertukar pandang.
Hayley memang merasakan dirinya sangat mengagumi kepribadian Aaron dan sifat hangat laki-laki itu, apapun tentang Aaron, dari dulu Hayley memang mengidolakannya. Entah mengapa, tapi dirinya belum bisa sepenuhnya mencintai.
"Terimakasih sudah mengerti perasaanku," ujar Hayley, ia sedikit berjinjit lalu mencium kilas pipi Aaron, yang membuat laki-laki itu tersenyum malu dengan pipi merona.
Berbunga-bunga hati Aaron, sepertinya ia sangat ingin melompat-lompat untuk merayakan ciuman pertama Hayley tanpa permintaannya.
Hayley tersenyum manis, ia kembali memeluk Aaron.
"Aku mencintaimu, Hayley. Sangat mencintaimu." Aaron membalas pelukan Hayley, mencium dengan lembut pucuk kepala wanita di depannya.
Kini, Hayley memang sudah tidak lagi memikirkan tentang Marcel, laki-laki yang membuatnya jatuh cinta untuk yang kedua kalinya dan tersakiti untuk yang kedua kalinya pula.
Tidak mudah memang baginya melupakan Marcel begitu saja. Namun kesungguhan Aaron dalam meraih hatinya, membuat Hayley menyadari sesuatu, tentang cinta yang sesungguhnya. Kehadiran bayi di dalam rahimnya, itu juga menjadi alasan utama kenapa dia harus benar-benar melupakan semua cinta lalunya, ia harus bangkit, meraih masa depan yang indah bersama sang buah hati dan suaminya saat ini.
"Kamu ingin makan sesuatu?" tanya Aaron, yang hanya di jawab gelengan pelan oleh Hayley.
"Kata orang, ibu hamil biasanya suka makan yang aneh-aneh," ujar Aaron.
"Ah, Sweety. Buaya seperti apa yang kamu maksud? apa Alex termasuk?"
Tertawa bersama, Aaron dan Hayley mengalihkan pembicaraan tentang hubungan Alex dan Melanie yang kini semakin dekat.
"Bagaimana kalau kita membuat daging panggang?" tawar Aaron. "Cuaca di luar masih cerah, kita bisa menghabiskan waktu memanggang daging sambil menunggu matahari terbenam."
"Seharian kamu kerja, pasti capek. Nggak usah," tolak Hayley, sebenarnya dia juga ingin menghabiskan waktu di luar kamar atau sekedar quality time bersama Aaron, namun ia tidak enak karena sang suami baru saja pulang bekerja.,
"Aku nggak capek, Sweety. Ayo, aku akan mandi sebentar dan menyiapkan semua peralatannya. Kamu tunggu di dekat kolam atas."
Hayley tersenyum senang, ia lalu menyiapkan pakaian santai untuk Aaron sambil menunggunya mandi.
Setelah Aaron selesai mandi, mereka menyiapkan bahan dan alat untuk memanggang daging di lantai tiga rumahnya, pas di sebelah kolam.
Beberapa potong daging segar sudah pelayan siapkan di nampan, Aaron dengan cekatan mengolahnya sendiri, sedangkan Hayley, hanya di perbolehkan untuk duduk dan menonton sang koki dadakan memasak.
"Kamu sepertinya sudah berpengalaman memanggang daging," ujar Hayley.
__ADS_1
"Sewaktu aku kecil, setiap hari libur, papa dan mama mengajak anak-anaknya berlibur di puncak. Aku terbiasa membantu papa membuat steak, atau semacamnya," jelas Aaron.
Hayley hanya mengangguk paham.
"Hmm, Sweety."
"Ya?" Hayley menoleh, melihat Aaron.
"Bisakah kamu membuat panggilan sayang untukku?" tanya Aaron sambil tangannya sibuk membolak-balik daging.
"Panggilan sayang?" tanya balik Hayley, sebenarnya, ia memang merasa canggung jika harus memanggil sang suami dengan namanya, namun ia masih belum percaya diri untuk memberikan sebuah panggilan sayang pada Aaron, apalagi kedekatan mereka baru saja di mulai.
"Ah, baiklah. Kalau kamu nggak suka, nggak perlu," sela Aaron cepat, ia tau jika hal semacam ini terlalu cepat bagi Hayley.
Mengalihkan pandangan dari Aaron, lagi-lagi Hayley merasa bingung, ia tidak tau harus memulai dari mana untuk semua ini. Dia membiarkan semuanya mengalir begitu saja layaknya air, biarkan apapun yang terjadi nanti, sesuai dengan hatinya sendiri.
Menatap Aaron dengan keringat yang membasahi tubuh atletisnya, Hayley meraih tisu, lalu membantu mengelap keringat yang menetes di dahi Aaron.
"Wow, romantis!" teriak Alex dari kejauhan, rupanya laki-laki silver itu sudah datang tiba-tiba.
Malu-malu, Hayley kembali di posisi duduknya.
"Apa aku mengganggu?" tanya Alex. "Ah, aku rindu daging panggang. Tolong tambah beberapa potong lagi untukku, Bro. Please."
"Panggang sendiri!" ujar Aaron.
"Dasar!"
Dengan terpaksa Alex memanggang sendiri jatah untuk dirinya. Setiap hari, ia selalu pulang lebih sore dari Aaron, pekerjaan dan masalah kantor yang cukup rumit membuatnya harus kehilangan banyak waktu bersantai bersama para teman wanitanya, namun Alex sama sekali tidak keberatan, ia cukup bersyukur Aaron dan Hayley sudah bersatu seperti yang seharusnya.
Diam-diam, Hayley mengambil foto Aaron yang sedang sibuk membalik daging. Dari sudut pandang manapun, Aaron selalu terlihat tampan menawan. Dalam keadaan apapun, laki-laki itu memang selalu mempesona.
"Aku akan berjuang demi kamu," batin Hayley sambil tersenyum memandang Aaron.
"Sudah siap, Sweety. Silahkan di cicipi," ujar Aaron. Hayley mengelus perutnya tatkala mencium aroma lezat yang menguar dari piring di hadapannya.
__ADS_1