Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
7 bulan kehamilan


__ADS_3

Marcel dan Sharaa memutuskan untuk tinggal selama beberapa bulan kedepan di Pakistan demi mengembalikan kondisi emosional Marcel yang masih labil.


Sejak saat itu juga, kondisi perusahaan Aaron semakin membaik dan bahkan menampakkan kemajuan pesat.


Hayley tampak lebih bahagia setelah pertemuannya dengan Sharaa di resto waktu itu, ia sudah lega karena akhirnya ia bisa mengatakan yang sebenarnya tentang hatinya.


Kini, Hayley tidak lagi berpikir untuk menyesali apa yang sudah ia lakukan, sekarang dia selalu bersyukur karena di kelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya.


Hari ini, Hayley dan Aaron mengunjungi dokter kandungan untuk memastikan prediksi kelahiran sang buah hati, karena kondisi kesehatan Hayley yang baik dan tanpa keluhan berat, maka dokter memprediksikan ia bisa melahirkan secara normal.


Semakin hari, Aaron semakin waspada dan siaga setiap kali Hayley mengeluh ada yang sakit, semakin tua usia kandungannya, Hayley semakin tidak nyaman saat tidur, Aaron pun terkadang harus rela bergadang sampai subuh untuk sekedar memijat punggung sang istri atau memijat telapak kakinya sang sering kram.


"Apa kondisi bayi kami sehat, Dok?" tanya Aaron, ia senantiasa mendampingi Hayley dan tidak ingin jauh dari istrinya.


"Sehat, Tuan. Bayinya sangat aktif berat badannya normal. Air ketuban masih bagus dan banyak, semoga kondisi kesehatan nyonya terus baik sampai hari persalinan," jelas dokter.


Sampai saat ini, Aaron meminta dokter untuk menyembunyikan jenis kelamin sang bayi, ia tidak peduli laki-laki ataupun perempuan, yang harus ia pastikan hanya kesehatan sang bayi dan ibunya.


Setelah pemeriksaan, Aaron mengajak Hayley berbelanja keperluan untuk calon buah hati mereka, juga keperluan untuk persalinan Hayley.


"Kamu mau yang warna apa, Sweetheart?" tanya Aaron.


"Sebaiknya pilih warna biru, Sayang. Kalau warna merah muda, belum tentu bayi kita perempuan," ungkap Hayley saat mereka memilih beberapa setel baju bayi newborn.


Aaron memilih begitu banyak pakaian dan segala perlengkapan untuk calon sang buah hati, dari pakaian yang berharga standart sampai yang bermerek terkenal.


"Sepertinya ini sudah cukup, Sayang. Bahkan terlalu banyak," keluh Hayley, ia sudah merasa lelah mengikuti langkah Aaron yang ke sana sini mendorong keranjang belanjaan besar. Padahal dia sudah menyetorkan 2 keranjang besar di depan kasir.


Rasanya, sebanyak apapun yang Aaron beli terlihat kurang dan tidak cukup, semua pakaian yang ia lihat tampak sangat lucu dan menggemaskan, membuatnya tidak tahan untuk tidak memasukkannya ke dalam keranjang.


"Kamu cukup tunggu disini, Sweety. Aku bahkan sangat ingin membeli satu toko ini, kenapa semuanya lucu-lucu, sih?" ungkap Aaron, ia menuntun Hayley duduk di kursi yang terletak tidak jauh dari meja kasir, sedangkan Aaron melanjutkan aktivitas berburunya di dalam toko.

__ADS_1


Hampir setengah jam menunggu, Aaron sudah kembali dengan 2 keranjang besar yang penuh, seakan-akan bayi yang akan di lahirkan sang istri berjumlah lebih dari 10.


"Ya Tuhan, Sayang. Sebanyak ini mau di pakai siapa?" tanya Hayley tidak menyangka, suaminya memborong begitu banyak perlengkapan bayi.


"Tentu saja untuk anak kita, Sweety."


Menggelengkan kepala pelan, Hayley hanya pasrah tatkala petugas kasir menjumlah total harga yang harus mereka bayar untuk empat keranjang besar.


Melihat Aaron begitu bahagia, Hayley tidak kuasa jika menolak permintaan sang suami untuk membeli yang ini ataupun yang itu. Apalagi ini adalah anak pertama mereka, berbelanja keperluan bayi tentu menjadi suatu hal yang sangat menyenangkan.


"Kamu suka semuanya?" tanya Aaron.


"Suka, Sayang. Semuanya," jawab Hayley sambil tersenyum.


Tidak lupa, Aaron juga membeli banyak baju yang bisa Hayley pakai untuk menyusui sang bayi, ia juga membeli perlengkapan menyusui, dan banyak sekali.


Beberapa hari ini Aaron memang di sibukkan menjelajah internet demi mendapatkan tips dan trik menjadi suami siaga saat sang istri di akhir-akhir bulan menjelang lahiran. Dan Aaron hampir menerapkan semuanya, termasuk mempersiapkan segala kebutuhan sang bayi dan ibunya.


Sampai di rumah, Hayley di kejutkan dengan kamar tengah yang menjadi kamar lamanya sudah di sulap menjadi kamar bayi yang sangat cantik.


"Bagus sekali," gumam Hayley.


Kamar luas yang sebelumnya ia tempati saat belum tinggal satu kamar bersama Aaron, kini menjadi kamar yang penuh dengan pernak pernik yang lucu.


Seluruh furniture memakai warna putih, Aaron memilih warna itu sebagai warna yang netral karena ia sendiri tidak mengetahui jenis kelamin sang bayi.


Dua lemari besar ia siapkan sebagai tempat menyimpan pakaian bayi yang baru saja ia beli, beberapa rak dan lemari kecil untuk menyimpan mainan yang masih kosong.


Aaron memilih tempat tidur bayi dengan kelambu berwarna putih, langit-langit kamar ia hiasi dengan nuansa langit yang bisa berubah sesuai waktunya. Saat pagi sampai sore, atap kamar akan berwarna biru cerah dengan gumpalan awan putih, sedangkan saat malam, atap akan berubah menjadi langit gelap dengan hiasan bintang-bintang yang gemerlap.


"Sayang, apa semuanya tidak berlebihan?" tanya Hayley, ia menatap takjub pada semua hiasan kamar yang lucu.

__ADS_1


"Nggak ada yang berlebihan untuk anak kita, Sweetheart. Aku sangat menanti kehadirannya," ucap Aaron, ia berlutut di depan Hayley lalu mencium perut sang istri.


"Sehat selalu, Baby. Kita akan segera berkumpul," bisik Aaron sambil mengelus lembut perut Hayley.


Bahagia, hanya hal itu yang selalu Hayley rasakan saat ini, ia tidak menyangka, di usianya yang terbilang masih muda, ia akan segera menjadi ibu. Dan yang lebih tidak terduga lagi, yang menjadi ayah dari sang anak adalah bos besar tempatnya bekerja dulu.


🖤🖤🖤


Sore ini, Hayley memutuskan untuk duduk di taman depan rumah sambil menikmati jus jeruk buatan sang suami, ia bersenandung merdu menyanyikan lagu untuk sang buah hati.


Tiba-tiba saja, terlihat mobil mewah berwarna merah memasuki halaman rumahnya, ia mengernyit heran, karena sebelumnya ia tidak pernah melihat mobil tersebut.


Sesosok wanita berambut hitam panjang sepinggang turun dari mobil.


"Melanie," sapa Hayley, ia melambaikan tangan agar Melanie mendekat.


"Hai, Hayley. Ya Tuhan, perutmu sudah membesar, dan Alex bahkan nggak memberitahuku apapun. Menyebalkan sekali dia," ungkap Melanie terkejut.


"Begitulah, Alex memang menyebalkan," jawab Hayley, sudah beberapa minggu terakhir ia menghindar dari Alex, karena laki-laki itu selalu saja membuatnya kesal hingga marah, meskipun hanya karena hal-hal sepele.


"Sudah berapa bulan?" tanya Melanie, ia merangkul Hayley sambil bertukar ciuman pipi.


"7 bulan, lebih."


"Wow, keponakanku hampir lahir ternyata. Dan aku baru tau. Dasar, ya, si Alex!" gerutu Melanie kesal.


"Lama nggak ketemu. Kamu apa kabar, Mel?" tanya Hayley. "Tumben kesini, ada perlu apa?"


🖤🖤🖤


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2