
Pagi ini, sebelum Alex ke kantor, ia harus mengunjungi rumah sakit terlebih dahulu untuk menepati janjinya, ia harus memastikan bahwa Nora akan baik-baik saja.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Alex.
"Baik, Tuan. Terimakasih sudah membawa saya ke rumah sakit ini," ucap Nora, gadis itu kini sudah setengah duduk di atas ranjang.
"Bagus. Cukup panggil aku Alex. Aku akan menemui dokter, kamu disini saja," pamit Alex. Namun saat ia hendak keluar dari kamar inap, ia kembali berbalik. "Mau sarapan apa?"
"Nggak perlu, Tuan. Saya sudah dapat jatah sarapan kok," jawab Nora.
"Sudah ku bilang, panggil saja Alex."
"Baik, Alex."
Alex pergi melenggang ke ruangan tempat dokter menunggunya, di ruangan tersebut, dokter menjelaskan keadaan Nora dengan sangat detail. Gadis itu mengalami cidera di bagian pergelangan kaki.
Dokter menunjukkan hasil rontgen yang memperlihatkan pergelangan kaki Nora retak dan hampir patah.
"Apakah butuh waktu lama untuk penyembuhannya, Dok?" tanya Alex.
"Paling cepat 4 minggu, bisa sampai 6 minggu," ucap dokter.
"Baik, terimakasih, Dok." Alex pamit dan kembali ke ruangan Nora.
Saat akan masuk ke dalam kamar, Alex melihat Nora sedang makan bubur yang baru saja di antar oleh seorang perawat, gadis itu makan dengan sangat lahap.
"Kamu suka?" tanya Alex.
"Suka, Tuan."
"Panggil aku Alex, namaku Alexavier Bancroft. Apa kamu sudah mengabari keluargamu? orang tuamu atau saudaramu?" tanya Alex.
"Saya, nggak punya siapa-siapa," jawab Nora lemah.
__ADS_1
"Ah, Ya Tuhan. Aku mencelakai gadis yatim piatu," batin Alex.
"Kamu, nggak punya saudara?" tanya Alex lagi, namun Nora hanya menggeleng.
"Dimana tempat kamu tinggal?"
"Sebelumnya, saya tinggal di kos-kosan dekat hotel XXX, tapi saya sudah di usir sama yang punya kos."
"Kenapa?"
"Nggak bisa bayar."
Alex mengangguk paham, perasaan bersalah semakin besar tatkala tau kebenaran betapa malang nasib gadis di hadapannya.
"Kata dokter, kamu baru bisa pulih sekitar empat sampai enam minggu lagi. Aku akan terus mengawasi pengobatan dan terapimu, jangan khawatir, semua biaya akan ku urus," jelas Alex.
"Terimakasih banyak, Alex," ucap Nora sambil tersenyum tulus.
"Kamu nggak marah kalau aku menabrakmu sampai seperti ini?"
Alex memperhatikan dengan seksama, menyimak setiap ucapan Nora.
"Setiap masalah pasti memiliki jalan keluar, bunuh diri bukan termasuk jalan keluar yang bisa di pilih. Seharusnya kamu bersyukur, Tuhan masih memberimu kesempatan bernafas sampai detik ini."
Nora hanya tersenyum kecil mendengar nasehat Alex, ia merasa jika laki-laki di depannya adalah laki-laki baik, rasa tanggung jawab besar yang Alex tunjukkan membuat Nora merasa senang, setidaknya, ia bisa mengenal orang baik.
"Aku akan berangkat kerja, kamu jaga diri baik-baik. Dokter akan terus memantau perkembangan kesehatanmu, dan beliau akan terus melaporkannya padaku. Jangan khawatir." Alex berpamitan, lalu ia meninggalkan rumah sakit.
Pekerjaannya di kantor memang tidak terlalu banyak, hanya ada beberapa pertemuan yang harus di hadiri, setelah itu ia bisa pulang sesuka hati.
Sedari malam, ponsel Alex terus saja berdering, menandakan panggilan masuk dan pesan yang menumpuk, Alex sudah membaca semuanya, dan itu adalah panggilan dan pesan dari nomor baru yang mengatakan bahwa itu adalah Friska.
Alex duduk di kursinya dengan menatap nanar pada foto masa kecilnya, ia sudah mengalami masa-masa yang sulit dan banyak hal yang menyakitkan sampai bisa tumbuh sedewasa ini, dan semuanya ia lalui tanpa Friska. Namun, sekarang wanita itu datang dan mengaku sebagai seorang 'mama', tentu bukan hal yang mudah bagi Alex untuk menerima.
__ADS_1
Setelah Alex lulus SMA, ia ikut bekerja di perusaan ini sebagai bawahan Albern, papa Aaron, ia memilih melanjutkan kuliah dengan biaya sendiri dan mencari uang sebanyak mungkin agar bisa mencari Friska, namun beberapa tahun berlalu, ia sama sekali tidak mendapatkan apapun.
Sampai suatu ketika, seseorang mengatakan pada Alex bahwa Friska baik-baik saja bersama suami baru dan dua anak tirinya di kota yang cukup jauh dari Jakarta, seketika ia sadar, bahwa ia tidak di inginkan.
Sejak saat itu, Alex berhenti mencari, cukup baginya untuk mengetahui bahwa sang mama baik-baik saja, terlepas perasaannya yang amat kecewa, ia cukup tau diri, bahwa ia tidak di inginkan oleh Friska.
Jika saat ini Alex adalah laki-laki yang berperilaku buruk, itu karena kurangnya kasih sayang dan didikan dari orang tuanya. Mungkin, jika saja Alex di asuh secara langsung oleh sang mama, sifat dan karakternya tidaklah seburuk saat ini.
Setiap orang, pasti punya alasan kenapa dia menjadi seperti ini, begitu juga dengan Alex.
Jika orang-orang berpikir Alex adalah laki-laki tampan berkecukupan dengan hidup yang mewah, mereka hanya melihat secara kasat mata, namun tidak pernah ada yang tau apa yang sudah di lalui Alex sejauh ini, dan berakhir menjadi Alex yang terkenal dengan laki-laki yang suka celup sana sini.
Dia tidak bahagia dengan kehidupannya, ia hanya terlihat riang dan mudah tertawa dari luar, tapi di dasar hatinya yang paling dalam, ia menyimpan rasa sakit dan kehilangan, jiwanya kosong tanpa penopang.
Setelah menghadiri pertemuan dengan para dewan direksi, Alex di kejutkan dengan kehadiran Samantha di ruangannya.
"Temui mamamu di resto VV sore ini. Jangan membuatnya sakit hati karena kamu mengabaikannya, Alex," ucap Samantha.
"Aku hanya mengabaikannya dua hari ini, tapi dia mengabaikanku puluhan tahun. Tante jelas tau itu!" tegas Alex.
"Tapi, Alex. Beri kesempatan mamamu, dia meminta maaf dengan tulus. Paling nggak, temui dia, dengarkan apa saja yang dia sampaikan. Mungkin itu adalah jawaban atas pertanyaanmu selama ini."
"Aku bahkan sudah lupa siapa dia, Tante. Bagiku, tante adalah ibuku, dia bukan siapa-siapa."
"Alex tante mohon. Kalau kamu benar menganggap tante ibumu, temui mamamu, jangan mengecewakannya."
Samantha terus memohon pada Alex, membujuk agar keponakannya mau menemui Friska.
"Tante tau, ini semua berat. Tapi sudah waktunya kalian bertemu, ada banyak hal yang perlu kamu tau, Alex. Tolong, temui dia," ucap Samantha.
Dengan berat hati, Alex menyanggupi permohonan Samantha. Meskipun sakit hatinya tergores cukup dalam, ia juga sangat ingin tau alasan kenapa Friska pergi meninggalkannya begitu saja, ia sangat ingin tau, tujuan wanita itu datang kembali setelah sekian lama.
Setelah kepergian Samantha, Alex membenamkan wajahnya di antara kedua tangan yang di tekuk, ia menangis, meratapi dirinya yang mengenaskan.
__ADS_1
Tumbuh menjadi laki-laki dewasa tanpa orang tua, adalah hal yang sangat sulit dan menyakitkan.
🖤🖤🖤