Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Ancaman Marcel


__ADS_3

Pergumulan panjang yang terjadi di antara mereka, setidaknya membuat ikatan antara keduanya semakin erat. Jika kali ini Hayley sedikit terpaksa demi memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri, Aaron berharap, selanjutnya ia akan mendapatkan semuanya karena ketulusan dan cinta.


"Terimakasih untuk malam ini, Sweety," bisik Aaron lembut di dekat telinga Hayley, ia menyibak helaian rambut panjang yang menutupi wajah gadis itu.


Hayley mengangguk samar, sambil tersenyum malu. Tidak bisa di pungkiri, pesona Aaron memang sangat menawan, laki-laki itu tidak hanya perkasa dari kelihatannya, namun kejantanannya pun tidak perlu lagi untuk di pertanyakan.


Kali kedua melakukannya, Hayley sudah mulai paham bagaimana cara agar menyenangkan hati Aaron dan memuaskan laki-laki itu, ia cukup pandai menganalisa bagaimana suaminya bermain dengan sangat lembut dan hati-hati.


"Apa si kecil di dalam sana kurang nyaman?" tanya Aaron.


"Dia sangat bahagia, aku bisa merasakannya," jawab Hayley.


Masih dalam keadaan tubuh tak berbusana, Aaron dan Hayley menenggelamkan diri bersama di bawa selimut, mereka saling memeluk dan menghangatkan satu sama lain.


Jika saja Hayley tidak dalam keadaan hamil muda, Aaron bahkan akan meminta jatahnya lebih lama dari ini.


🖤🖤🖤


Pagi di hari yang sibuk, Aaron sudah bangun lebih awal karena ia harus bertemu dengan orang-orang penting.


Hayley mulai mengerti dan melakukan tugas-tugasnya sebagai istri, dari menyiapkan pakaian kerja sampai membantu sang suami merapikan diri.


"Nggak sarapan dulu?" tanya Hayley.


"Ah, nggak bisa, Sweety. Sorry, sepertinya aku harus berangkat lebih pagi."


"Bagaimana kalau aku bawakan bekal, kamu harus tetap jaga kesehatan meskipun sibuk," papar Hayley.


"Baiklah, Sweety. Kalau kamu nggak keberatan, aku akan senang."


Setelah membantu Aaron merapikan dasinya, Hayley bergegas ke dapur untuk menyiapkan bekal sarapan.


Setelah selesai, ia menunggu Aaron di bawah anak tangga.


"Hayley, mana Aaron?" tanya Alex tiba-tiba, laki-laki itu sudah rapi dengan jas abu-abu dan warna rambut yang selalu menyala menyilaukan pandangan setiap wanita.


"Lagi di kamar, sebentar lagi turun."


"Wow, apa ini?" tanya Alex, menenteng wadah bekal yang tertata di atas meja.

__ADS_1


"Bekal sarapan, kamu juga nggak sarapan?"


"Ah, nggak sempat," jawab Alex.


"Tunggu sebentar, aku siapkan juga bekal buatmu," ujar Hayley lalu kembali ke dapur.


"Loh ... loh ... Hay, nggak usah!" teriak Alex, namun tidak di hiraukan oleh Hayley.


"Kenapa?" tanya Aaron dari ujung tangga.


"Hayley, balik lagi ke dapur. Kan aku nggak minta bekal, tapi dia mau nyiapin buat aku juga," ucap Alex merasa tidak enak pada sepupunya.


"Nggak papa, kalau kamu nolak, bisa-bisa kena semburan naga nanti," seloroh Aaron sambil terkekeh, ia tau, jika istrinya paling tidak suka jika di tolak. Kalau Hayley sudah mengatakan sesuatu, mau tidak mau, Aaron harus mengiyakan semuanya, asalkan itu adalah hal baik.


Tidak berselang lama, Hayley sudah kembali dengan satu lagi wadah bekal berisi menu sarapan lengkap dan buah-buahan yang sudah di kupas.


"Buat kalian, jangan lupa sarapan, dan jangan lupa di habiskan," papar Hayley.


Aaron dan Alex mengangguk bersamaan. Setelah sekian lama, sedikit demi sedikit Hayley mulai tampak berubah, dari yang awalnya sering mengurung diri di kamar dan hanya sesekali keluar untuk menghirup udara segar, kali ini wanita itu mulai membiasakan diri dengan aktifitas ringan dan memperhatikan semua kebutuhan Aaron.


"Terimakasih, Sweety. Baik-baik di rumah, aku akan pulang pukul 3 sore," pamit Aaron, lalu mengecup mesra kening istrinya.


Berjalan mengekori Aaron, Alex tidak sabar ingin tau tentang jimat atau pelet apa yang sudah Aaron pakai sampai-sampai Hayley bisa bersikap begitu manis pagi ini.


Jika biasanya Alex lebih suka membawa mobil sendiri, kali ini dia memilih untuk ikut bersama Aaron.


"Loh, mobilmu mana?" tanya Aaron bingung, melihat Alex sudah berada di sebelahnya.


"Ah, biarin. Jarang-jarang juga kan aku mau bareng sama kamu, Bro!"


Tidak paham dengan sikap sepupunya, Aaron tetap melajukan mobil meninggalkan halaman rumah sambil melambai pada sang istri yang berdiri di dekat pintu utama.


"Boleh tanya nggak?" ucap Alex.


"Apa?"


"Itu, si Hayley. Dia sehat kan?"


Mendengar pertanyaan Alex, Aaron hanya melirik sekilas sambil mengulum senyum. Ternyata bukan hanya dia yang terkejut dengan perubahan tiba-tiba Hayley, Alex juga merasakan hal yang sama.

__ADS_1


"Kamu nggak pelet dia kan? atau main guna-guna?" selidik Alex.


Tidak ada jawaban, Aaron hanya melirik kembali sepupunya yang di liputi rasa penasaran luar biasa itu. Bagi Aaron, perubahan Hayley adalah segalanya, apapun yang terjadi hari ini, Aaron percaya, jika dia akan menemukan jalan keluar dari setiap masalahnya.


Setelah sampai di kantor, Aaron dan Alex langsung menuju ruangan mereka, namun kehadiran Marcel yang tidak terduga membuat keduanya terkejut bukan main.


"Maaf, Mr. Aaron. Tuan Marcel memaksa masuk," ujar seorang security ketakutan.


Memberikan tanda dengan mengangkat telapak tangan, Aaron meminta security itu kembali ke lantai bawah.


"Ada perlu apa lagi?" tanya Aaron. "Masih belum puas juga kau hancurkan sebagian dari perusahaanku."


Marcel membanting tubuhnya di sofa panjang tanpa di persilahkan, membuat Alex dan Aaron semakin geram.


"Untuk apa lagi aku datang, kalau bukan untuk memberikan penawaran yang saaaangat menguntungkan," jawab Marcel angkuh.


"Sudahlah, bukan saatnya untuk bermain-main, silahkan pergi dari ruanganku," sentak Aaron.


"Aduh, Aaron. Please, jangan berpura-pura tidak membutuhkanku. Aku tau kini perusahaan mu sedang sangat kritis. Sedikit saja aku menjentikkan jari, Bom! kamu tamat!"


"Tutup mulutmu, Marcel. Jangan membuat keributan," sela Alex.


"Jangan ikut campur, bocah!" pekik Marcel. "Ini hanya antara aku dan Aaron."


Saat Alex melangkah mendekat hampir melayangkan pukulan ke arah wajah Marcel, dengan cepat Aaron menghalangi.


"Aku bisa menyelesaikan semua masalahku tanpa bantuan mu. Jadi, pergilah," ucap Aaron tegas. "Lakukan sesuka hatimu, aku tidak akan menyerah."


"Oh, jadi begitu. Kau menolak penawaran menggiurkan dariku?" Marcel tersenyum miring. "Baik, ini belum seberapa, Aaron. Kamu sudah mengambil segalanya dari hidupku, sekarang, aku juga akan menghancurkan semua yang sudah kamu bangun selama ini."


Menahan geram, Aaron tetap berusaha tenang dan tidak membiarkan emosi menguasainya.


"Kau tau, Marcel. Obsesi mu itu, suatu saat akan jadi boomerang bagi kehidupanmu. Kau tunggu saja tanggal mainnya," ujar Aaron memperingatkan.


Kesal dengan apa yang Aaron katakan, Marcel berdiri dan menendang meja kaca di hadapannya.


"Dengarkan aku baik-baik, Aaron Conan Drax. Sampai kapanpun, Hayley akan menjadi milikku, ingat itu!" Berucap lantang menggebu-gebu, Marcel memilih keluar dari ruangan Aaron dengan membanting pintu kasar.


🖤🖤🖤

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2