Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Wedding


__ADS_3

Pesta pernikahan berjalan sangat meriah, sorak ramai dari keluarga besar yang hadir membuat kebahagiaan terasa sangat hangat.


Alex dan Melanie tampak begitu serasi, keduanya memakai pakaian pengantin yang berwarna senada. Alex menyewa seorang perias yang di datangkan langsung dari negara tetangga, perias yang juga memiliki penyakit yang sama dengan Melanie.


Semenjak ia tau tentang penderitaan Melanie, Alex dengan suka rela mendonasikan lima puluh persen dari uang tabungannya untuk penderita Leukimia di berbagai rumah sakit, ia tidak mau ada orang yang akan mengalami hal yang sama seperti yang ia rasakan. Kehilangan adalah ketakutan terbesar baginya, dan ia tau bahwa banyak orang di luar sana juga membutuhkan uang agar kehilangan itu tidak datang lebih cepat.


Melanie memakai rambut palsu berwarna hitam untuk menutupi kebotakannya, gaun putih menyapu lantai dengan ekor panjang sangat cocok menempel di tubuhnya, ia masih terlihat cantik dengan sentuhan make up yang tipis. Hanya saja, ia jauh lebih kurus dari sebelumnya.


Tidak hanya dari keluarga besar Melanie yang hadir beramai-ramai, Kali ini Friska juga datang di antarkan oleh dua anak tirinya, ia sengaja membawa kedua anak dari suami barunya ke pernikahan Alex untuk sekedar merayakan hari kebahagiaan ini. Alex pun sama sekali tidak merasa keberatan, ia dengan santai menanggapi sapaan dua saudara tiri yang seumuran dengan dirinya.


"Ma, terimakasih sudah datang," ucap Alex, ia dan Melanie menghampiri Friska yang duduk di kursi tamu sendirian.


"Mama bahagia, Alex. Kamu memberikan kabar ini mendadak, mama berusaha datang, karena mama tau, kamu masih peduli dan menganggap kita adalah dua manusia yang tidak akan bisa terpisahkan," ujar Friska, ia memeluk anak laki-laki yang sudah lama ia rindukan.


"Maaf, Ma. Aku egois. Perasaan sakit hati dan kecewa itu memang masih sangat menyakitkan bagiku, tapi aku selalu berharap mama sehat dan bahagia."


"Mama sayang kamu, Nak. Mama tau, dan kamu berhak menghukum mama atas kesalahan itu."


Alex mencium punggung tangan Friska, entah sudah berapa lama ia tidak melakukan ini, pelukan dan adegan cium tangan ini sudah terasa sangat lama, Alex bahkan sudah benar-benar lupa rasanya. Namun hari ini, semua ingatan tentang masa kecilnya kembali terulang, saat-saat dimana dirinya menjadi anak laki-laki yang menjadi kecintaan sang mama.


"Ma, restui pernikahan kami," pinta Alex.


"Mama merestui kalian, apapun pilihanmu, mama setuju. Kebahagiaanmu adalah yang paling penting," ucap Friska, lalu bergantian memeluk Melanie yang berdiri di samping Alex.


Setelah resepsi pernikahan selesai, sambil menunggu semua tamu undangan menikmati hidangan yang tersedia, Alex membawa Melanie jalan-jalan sambil berkenalan dengan sanak saudara.


"Alex," sapa dua orang kakak beradik yang duduk di dekat kolam air mancur.


"Hallo, kalian anak mamaku?"

__ADS_1


"Ah, jangan begitu. Sebut saja kami saudaramu. Perkenalkan, Aku Chandra, dan ini adikku Brian."


"Hai, Brian. Kamu tampak lebih tampan dariku," canda Alex, ia menepuk punggung saudara tirinya dengan tersenyum. "Terimakasih sudah hadir, aku senang mamaku mengajak kalian."


"Kebahagiaan memang harus di rayakan," sela Brian, laki-laki yang memakai setelah jas hitam dengan kemeja berwarna merah muda itu berwajah begitu menggemaskan, dua lesung pipit menghiasai pipinya.


"Oh, ya. Benar." Alex mengiyakan, lalu memperkenalkan Melanie pada keduanya. Meskipun Alex menikah dengan seorang wanita yang duduk di kursi roda, ia sama sekali tidak merasa kehilangan kepercayaan diri.


Chandra dan Brian dari awal memang merasa aneh dengan pengantin wanita, meskipun ia terlihat cantik, tapi kesan lemah tidak bisa di sembunyikan dari mimik wajahnya. Namun, bagi dua bersaudara itu, tidaklah pantas menanyakan hal sepribadi itu.


"Oh ya. Kami membawa hadiah, mungkin kalian nggak begitu suka. Tapi aku membuatnya khusus," ucap Brian, ia menyerahkan sebuah lukisan berukuran lumayan besar yang masih terbungkus kertas kado.


Alex yang penasaran, meminta izin pada keduanya untuk membuka hadiah tersebut.


"Wow, bagus sekali. Siapa pelukisnya?" tanya Alex. Lukisan yang sekarang ada di tangannya adalah lukisan sebuah perkebunan bunga yang menampakkan sepasang pengantin sedang berciuman di bawah sinar senja. Pemandangan yang sangat menakjubkan tergambar di sana, sebuah gambar yang sarat akan makna di dalamnya.


Melanie pun terkagum-kagum melihat lukisan tersebut, ia tersenyum bahagia dan berterimakasih pada Brian.


"Keren! apa kamu seorang pelukis?" tanya Alex.


"Ah, cuma amatiran."


"Tapi, ini indah. Kamu hebat," puji Melanie.


"Lihat, istriku sangat menyukainya. Terimakasih untuk hadiah ini," ucap Alex.


Perbincangan mereka pun cukup panjang, Alex juga mengucapkan banyak terimakasih karena Chandra dan Brian sudah menjaga Friska selama ini, Alex berharap, mereka akan menjadi anak-anak yang baik bagi Friska, karena Friska terlihat begitu menyayangi mereka.


"Nggak usah khawatir, dia ibu kami. Kami akan menjaganya sampai kapanpun. Jika ada yang menyakitinya, ia harus berhadapan lebih dulu dengan kami," ucap Chandra, ia berjanji akan menjaga Friska seperti ibu kandungnya sendiri, karena ia sudah di rawat oleh Friska sejak umurnya 15 tahun.

__ADS_1


Di tengah-tengah perbincangan mereka, Aaron datang tiba-tiba sambil menggendong baby Nick.


"Alex, Melanie. Kalian di sini rupanya," ucap Aaron. "Paman Gio sibuk mencari kalian," lanjutnya.


Alex memperkenalkan dua saudara tirinya kepada Aaron sebelum meninggalkan mereka. Dengan hati-hati, Alex mendorong kursi roda Melanie dan membawanya menemui orang tua Melanie.


"Ada apa, Pa?" tanya Alex, kini Alex juga memanggil papa Melanie dengan sebutan papa, karena dirinya sudah resmi menjadi menantu keluarga Rendra.


"Alex, ini obat Melanie. Saking sibuknya, kita semua lupa kalau Melanie harus meminum obatnya sore ini."


"Oh, iya. Untung saja belum terlambat."


Alex membantu Melanie meminum obat dan mengambilkan air minum, beberapa hari terakhir keadaan Melanie semakin membaik, nyeri pada persendian dan pendarahan tiba-tiba yang biasa ia alami, mulai berkurang, tidak sesering sebelumnya.


Perasaan bahagia telah membuatnya semakin bersemangat menjalani hidup, jika sebelumnya ia sudah kehabisan alasan untuk bertahan, kini Melanie mendapatkan kembali semangatnya, dan ia tau alasan yang membuatnya harus bertahan hidup lebih lama.


🖤🖤🖤


Aaron dan Hayley duduk di kursi taman yang berada tidak jauh dari tempat Melanie dan keluarga besarnya berkumpul, termasuk Alex. Keduanya tampak sangat bahagia melihat Alex kini benar-benar berubah.


"Dia sama sekali berbeda dengan yang aku kenal sebelumnya, Sayang. Meskipun begitu, aku nggak sebenci kelihatannya kok," ujar Hayley sambil menyusui baby Nick di atas pangkuannya.


"Aku tau, Sweetheart. Aku merasa kalian itu partner yang unik sejak awal, nggak tau kenapa, dulu aku terobsesi agar kamu akur sama Alex. Ya, meskipun awal-awal kita bertemu, dia menganggapmu musuh bebuyutan."


"Memang, dia orang paling menjengkelkan yang pernah aku temui seumur hidupku. Tapi, dia saudara yang baik."


"Kamu benar, Sweety."


🖤🖤🖤

__ADS_1


Siap-siap, novel ini akan segera TAMAT.


__ADS_2