Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Berbelanja


__ADS_3

Ini adalah hari pertama Hayley sarapan pagi bersama dua laki-laki yang membuat dirinya berada di antara hidup dan mati, ia sudah berusaha bersikap sebaik mungkin kepada Aaron dan Alex, ia berharap meski dirinya dan Aaron hanya sebatas hubungan kontrak, tapi bersikap baik tentu saja akan membuatnya lebih tenang menjalani hari-harinya yang semakin sulit.


"Hmm ... enak banget ini, tumben banget koki masak serba udang," ujar Alex sambil melahap habis isi piringnya, bahkan dia meraih tiga udang yang masih tersisa.


"Kayak nggak pernah makan enak aja," gumam Hayley sambil melirik Alex, ia sengaja bersuara sedikit keras untuk menyindirnya.


"Ngomong apa tadi?" Alex mendongak, menatap Hayley dengan tatapan jengkel. "Heh, upik abu! jangan sembarangan ya kalau ngomong!"


"Salah sendiri serakah, itu udang jatah buat Mr. Ice," ungkap Hayley. "Kenapa kamu makan semua?"


"Suka suka dong, lagipula ini enak banget. Aaron bisa kok makan yang lain," desis Alex sambil melirik Aaron yang masih makan dengan santai, seakan tidak mendengar perdebatan di depannya.


"Dasar, serakah!" pekik Hayley, ia melanjutkan makannya.


"Laksmi ...." ujar Alex sedikit berteriak.


"Eh, iya, Tuan. Saya," jawab Laksmi mendekat.


"Nanti malam aku juga mau makan di rumah, ya. Tolong masakin udang kayak gini, enak banget!" seru Alex sambil mengacungkan dua jempol pada Laksmi.


"Tapi ... anu, Tuan. Udang itu yang masak bukan koki, nona Hayley yang memasak semua menu sarapannya." Laksmi mengulum senyum.


Uhuk ... Uhuk ...


"Si upik abu ini yang masak? yang bener aja?" ungkap Alex, seketika ia menyesali semua pujiannya pada lezatnya makanan yang sudah masuk dalam perutnya.


Alex melirik Hayley, ia merasa gadis yang sedang duduk bersebrangan meja dengannya itu sedang tertawa puas dalam hatinya.


"Heh, upik abu! jangan-jangan kamu menaruh racun di masakan ini?" selidik Alex.


"Mana mungkin, kalau aku naruh racun, nggak perlu repot-repot masak, langsung aja aku cekokin ke mulutmu," jawab Hayley berapi-api. "Jangan asal nuduh, ya!"


Alex hanya terdiam, lalu melanjutkan memakan dua udang di piringnya.

__ADS_1


Sedikit berdiri, Hayley meraih 1 udang dari piring Alex. "Sini, buat aku satu. Serakah juga bisa bikin orang keracunan, loh!"


"Eh, kurang ajar banget, nggak sopan!" pekik Alex. Sedangkan Hayley tidak peduli, ia tetap fokus mengunyah dan memperhatikan Aaron yang begitu santai menikmati masakannya.


🖤🖤🖤


Usai sarapan pagi yang riuh, Aaron dan Alex bersiap menuju kantor, sedangkan Hayley masih mendapat libur satu hari lagi. Sebelum Aaron berangkat, ia memberikan kartu kredit sebagai pegangan untuk Hayley.


Pukul 9 pagi, Breanda datang ke rumah dan langsung menghampiri Hayley di kamarnya.


"Kak, kak Aaron bilang kamu mau ngajakin aku belanja," ujar Breanda sambil rebahan di kasur Hayley.


"Eh, siapa yang ngajakin. Aku ...."


"Udahlah, kak. Belanja aja yuk, aku bosen kalau cuma di suruh nemenin kakak tiduran," rengek Breanda.


"Tapi, Bre. Aku nggak punya uang," sahut Hayley dengan nada lirih, sebenarnya ia malu jika mengatakan hal ini.


"Mana ada, istrinya Aaron Conan Drax nggak punya duit," tangkas Breanda. "Di kasih kakak kartu kredit nggak?" tanyanya lagi.


"Ih, keren! kakak kok di kasih yang ini sih." Breanda terlonjak dan langsung bangun dari kasur. "Udah, yuk belanja," ajaknya.


Hayley merasa tidak enak jika menolak ajakan Breanda, bagaimanapun, dia adalah satu-satunya orang di rumah ini yang sangat baik dan menerimanya tanpa peduli dari mana dia berasal.


Haylay tampak bingung memilih baju apa yang bisa ia pakai untuk ke mall bersama adik iparnya, ia sama sekali tidak punya baju yang bagus.


"Lama banget sih, kak," teriak Breanda di depan ruang ganti.


"Iya, iya. Sebentar," teriak balik Hayley, lalu keluar dari ruang ganti dengan celana jeans abu dan kaos putih lengan pendek.


Breanda menghela nafas panjang melihat penampilan Hayley yang sangat kontras dengannya, namun Breanda tidak banyak bicara, ia tersenyum tulus menatap kakak iparnya yang polos.


Mereka pergi ke mall di antar oleh sopir yang sudah di persiapkan Aaron sebelum Breanda datang, ia adalah sopir khusus yang akan mengantarkan Hayley kemanapun ia ingin pergi, namun Hayley belum mengetahuinya.

__ADS_1


Tujuan mereka kali ini adalah mengunjungi mall terbesar yang ada di pusat kota, ini adalah mall tempat Breanda berlangganan datang bersama teman-temannya untuk berbelanja baju-baju brended atau hanya sekedar nongkrong.


"Bre, baju-baju di sini itu mahal, cari yang lain aja, yuk," ujar Hayley sambil menarik lengan Breanda, padahal mereka sudah berdiri di depan toko besar berlogo 'LV'


"Disini aja, kak. Yuk, masuk." Breanda menarik paksa Hayley agar mengikutinya masuk ke dalam toko.


Melihat pemandangan baju-baju yang bagus dan berbagai tas bermerk, Hayley menelan ludah, ia memang tidak pernah membeli barang-barang bermerk dan mewah, namun sebagai seorang wanita, dia sangat tau harga-harga semua benda di hadapannya.


"Kak, aku aja yang pilih baju buat kamu, ya. Nanti kamu tinggal nyobain aja," ungkap Breanda, ia meninggalkan Hayley yang berdiri mematung di dekat ruang ganti.


Entah sudah berapa lama Breanda menghilang, Hayley sudah merasa sangat resah, ia takut jika Breanda mengambil baju dengan harga yang terlalu mahal, itu akan membuat Hayley mengeluarkan banyak uang.


Hampir setengah jam menunggu, Breanda kembali membawa setumpuk baju yang ia rangkul di depan dadanya, bahkan gadis cantik bertubuh sama mungilnya dengan Hayley itu sampai tidak terlihat karena tertutup tumpukan baju yang ia bawa.


Dengan keringat bercucuran, Breanda meletakkan semua baju pilihannya di bangku kosong dekat Hayley. Dia memilih beberapa baju yang bisa Hayley coba.


"Kakak cobain yang ini, ini, sama ini. Kayaknya semuanya pas, soalnya ukuran kakak hampir sama kayak aku." Breanda menyerahkan tiga gaun pada Hayley.


"Tapi, Bre ...."


"Udah cepet! cobain aja," perintah Breanda sedikit memaksa sambil mendorong tubuh Hayley masuk ke dalam ruang ganti.


Hayley menurut, ia mencoba semua gaun yang Breanda berikan padanya, semuanya pas di tubuhnya, bahkan pilihan Breanda kebanyakan adalah gaun ketat yang menampilkan lekuk tubuh ramping Hayley dengan sempurna.


"Cocok banget! aku emang pinter milih, ya," ujar Breanda memuji keahliannya sendiri.


Tidak tau lagi harus berbuat apa, Hayley menuruti keinginan Breanda untuk membeli semua baju-baju yang sudah ia kumpulkan selama setengah jam lebih.


Mendesah pasrah, Hayley menatap layar komputer yang menampilkan setiap harga baju yang di kemas. Total uang yang harus di bayarnya membuat Hayley mengelus dada hampir pingsan.


"Ya ampun ... 115 juta?" ujar Hayley berbisik tak percaya.


"Kak, kartu kredit dari kak Aaron mana?" Breanda menadahkan sebelah tangan di depan Hayley.

__ADS_1


🖤🖤🖤


Bersambung ...


__ADS_2