Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Cinderella


__ADS_3

Hayley dan Angga masuk ke dalam lift bersama, mereka mengobrol ringan dalam lift sampai ke lantai 3, tempat dimana mereka menghabiskan 8 jam bekerja dalam satu ruangan yang sama, hanya terpisah bilik yang berbeda.


Setelah sampai di ruangan devisi keuangan, Hayley langsung menemui Lisa yang sudah datang lebih awal darinya, Lisa sedang duduk di kursinya sambil menyantap sarapan pagi dengan lahap.


"Pagi, Lis," sapa Hayley, ia meletakkan tasnya di atas meja. "Tumben banget nih, sarapan di kantor."


"Eh Hayley. Iya nih, mamaku kesiangan nggak sempet masak, jadi beli nasi bungkus aja tadi," jawab Lisa. "Ih, nggak ketemu 2 hari aja kamu kok tambah cantik sih," imbuhnya.


"Bisa aja kamu, Lis."


"Serius, glowing banget!" seru Lisa, lalu meneguk minuman dalam botolnya. "Pasti nih Angga makin kesemsem sama kamu." Lisa terkekeh.


Hayley tidak menanggapi ucapan Lisa dengan serius, ia hanya tersenyum menatap kekaguman sahabatnya dengan penampilannya yang mulai terlihat lebih baik dari biasanya.


Ini semua berkat baju kerja pilihan Breanda kemarin, juga berkat nasehat penggunaan skincare dan berbagai peralatan make up untuknya.


"Oh ya, mulai besok aku mau pindah ke kantor pusat, Lis. Aku di mutasi kesana," ujar Hayley memberitahu sahabatnya.


"What? serius?" ungkap Lisa begitu terkejut.


"Jadi ... ini hari terakhir kamu disini dong." Angga mendekat, raut wajah bahagianya kini memudar.


"Ah, Hayley. Nggak asik nih kalau kamu nggak ada," rengek Lisa, ia mencebik.


"Kok mendadak banget sih, Hay," timpal Angga. "Nggak semangat nih nggak ada kamu," imbuhnya.


Hayley merasa sangat berat meninggalkan dua orang yang sudah menemani hari-harinya bekerja, apalagi Lisa adalah orang yang paling berjasa sehingga Hayley bisa mendapatkan pekerjaan di kantor ini.


🖤🖤🖤


Setelah hari hampir sore, Hayley memutuskan untuk mengajak Lisa dan Angga mampir ke cafe dekat kantor mereka.


Sejenak melepaskan penat setelah seharian lelah bekerja dengan mengurus dokumen-dokumen kantor yang menumpuk dan perintah-perintah atasan yang tidak pernah ada habisnya.


"Meskipun kamu nanti udah di kantor pusat, jangan lupa sempetin ketemu kita, ya," ujar Lisa memelas.

__ADS_1


"Iya-iya, Lis. Lagian kantornya juga kan nggak terlalu jauh dari sini. Kita masih bisa ketemu pas pulang kerja," ujar Hayley.


Sedangkan Angga, laki-laki itu hanya diam saja memperhatikan Hayley dengan seksama, ada rasa kecewa yang begitu besar saat mengetahui Hayley tidak lagi bisa bekerja dalam satu ruangan bersamanya, namun terselip rasa bangga karena Hayley bisa naik ke tingkatan lebih tinggi dalam waktu singkat.


"Hay, sering-sering ngasih kabar, ya." Angga bersuara lembut, dengan sedikit debaran dalam hati yang datang tiba-tiba.


"Iya, aku bakalan sering ngasih kabar kalian kok," ujar Hayley, ia bisa melihat Angga menatapnya dengan pandangan berbeda, sejak pertama kali bertemu, Angga memang selalu memberikan perhatian lebih pada Hayley meskipun dalam hal-hal kecil, itu yang membuat Hayley merasa sangat berat berpisah dengan Angga maupun Lisa.


Sampai pukul 5 sore, Hayley baru tersadar jika ada lebih dari 20 panggilan tak terjawab di ponselnya, nomor baru yang tidak di kenal.


"Siapa, ya?" gumam Hayley, ia lalu melakukan panggilan balik pada nomor tersebut dan sedikit menjauh dari Lisa dan Angga.


"Halo, non Hayley. Nona dimana? ya ampun, saya nungguin depan kantor hampir dua jam, nona dimana?" suara laki-laki paruh baya itu terlihat sangat khawatir.


Seketika ingatan Hayley tertuju pada sopir yang mengantarnya tadi pagi. "Ya ampun, bapak sopir itu."


"Aku di cafe merah sebrang jalan kantor, Pak. Maaf nggak ngasih kabar," jawab Hayley.


"Ya sudah, saya jemput sekarang ya, Non. Tuan Aaron bisa marah besar kalau nona telat pulang." Usai mengatakan hal itu, panggilan langsung di akhiri sepihak.


Hayley langsung kembali ke mejanya dan membayar semua makanan dan minuman yang mereka pesan.


"Buru-buru banget sih," timpal Lisa. "Kamu kok kelihatan pucat gitu, ada apa, Hay?" tanyanya.


"Nggak papa, aku duluan ya. Bye semua." Hayley buru-buru pergi sambil melambaikan tangan, ia langsung masuk ke dalam mobil hitam yang sudah ada di depan cafe.


Selama perjalanan, Hayley terus dilanda ketakutan, ia takut jika Aaron akan marah padanya.


Jarak kantor cabang dengan rumah Aaron memakan waktu lebih dari setengah jam, Hayley langsung berlari masuk ke dalam rumah dan mendapati Aaron sudah duduk dengan pakaian santai di ruang tamu.


"Dari mana?" Suara Aaron menggelegar memenuhi seluruh ruangan, Hayley menelan ludah.


"Dari ... dari kantor, tapi mampir ke cafe sama temen," jawab Hayley terbata-bata, ia mengusap keringat dingin yang menetes dari dahinya.


"Hayley, aku nggak pernah melarang kamu pergi kemanapun dengan siapapun, tapi setidaknya kamu pamit," ujar Aaron dengan penuh penekanan.

__ADS_1


"Maaf, lupa."


"Oke, kali ini aku memaafkanmu, lain kali, jangan harap!" Aaron berlalu pergi menaiki anak tangga.


Hayley sedikit lega, setidaknya bayangan Aaron marah sampai membanting tubuhnya hanyalah sebuah bayangan horor saja, dia memang merasa bersalah karena tidak pamit, namun dia benar-benar lupa kalau kini dirinya tidak lagi Hayley yang bebas seperti dulu.


Di ujung anak tangga, Aaron kembali menoleh ke bawah.


"Nanti malam kita akan ke rumah orang tuaku, bersiap-siaplah," ujarnya, lalu berbalik melanjutkan langkah.


Lagi, Hayley merasa nasibnya kurang beruntung hari ini.


🖤🖤🖤


Malam ini Hayley tampak sangat anggun dengan gaun merah menyala tanpa lengan yang ia kenakan, bagian depan gaun hanya selutut, namun di bagian belakang menjuntai lebih panjang sampai menyentuh lantai.


Gaun ketat yang Hayley kenakan membalut sempurna hingga menampakkan lekuk tubuhnya, meskipun dengan ukuran dada yang tidak terlalu besar, namun itu sangat terlihat pas dan lebih menarik.


Rambut Hayley di gerai indah dengan sentuhan jepit mutiara di bagian belakangnya, rambutnya yang bergelombang dengan warna sedikit kecoklatan membuat gadis dengan tinggi badan yang mungil itu terlihat sangat cantik.


Aaron menatap penuh kekaguman pada gadis yang berjalan menuruni anak tangga, ia menelan salivanya berkali-kali, meredakan debaran aneh dalam dadanya yang sudah lama tidak ia rasakan.


"Hayley ...." Aaron menatap tanpa berkedip.


"Jangan melihatku seperti itu, Mr. Ice. Lagi-lagi kamu membuatku gugup," sergah Hayley, ia merasa malu karena Aaron menatapnya terlalu berlebihan.


"Wow ... apa ini? si upik abu berubah jadi cinderella?" Alex datang dengan bertepuk tangan kecil. "Ah, not bad!"


Hayley melirik Alex dengan pandangan tidak suka, laki-laki itu selalu saja mengacaukan moodnya, kata-kata pujian yang di luncurkan Alex sama sekali tidak membuatnya besar kepala, malah merasa malu dengan penampilan barunya yang terkesan berbeda.


Dengan langkah yang anggun, Hayley berjalan melewati Aaron dan Alex yang berdiri memperhatikannya, Hayley keluar dari pintu utama lebih dulu.


"Hati-hati, Bro. Si upik abu kini sudah menjelma jadi cinderella, hati-hati dengan hatimu," bisik Alex sambil menepuk pelan pundak Aaron.


"Sial, Alex!" pekik Aaron, membuat Alex terkekeh mengejek.

__ADS_1


🖤🖤🖤


Bersambung ...


__ADS_2