
Menatap punggung seseorang yang ia tabrak pergi meninggalkan rumah besar sang kakak, perasaan Breanda di penuhi dengan berbagai pertanyaan. Sedikit banyak, ia tau siapa saja teman-teman dekat Aaron, namun sama sekali belum pernah melihat Marcel.
"Bengong teruus!!!" seru Aaron keras, ia tau sang adik sedang terpesona pada pandangan pertama.
"Ih, kakak apa sih!" kilah Breanda, ia menatap kesal pada Aaron yang meledeknya.
"Ah, kakak ipar. Sehat?" tanya Breanda pada Hayley. "Aku tadi telpon kak Alex, buat tanya kalian lagi di rumah apa nggak. Eh, dia malah sensi banget," keluh Breanda.
"Lagi sibuk dia, Bre," ujar Aaron.
"Sehat, kamu tumben main nggak ngasih kabar?" tanya Hayley, karena biasanya Breanda selalu mengirim pesan ketika akan datang berkunjung.
Breanda sengaja datang tanpa memberi kabar pada Aaron ataupun Hayley untuk memberi kejutan, ia sudah menyiapkan banyak sekali barang-barang lucu untuk calon keponakannya.
"Kejutan dong! aku bawa hadiah banyak nih buat calon keponakan," ungkap Breanda, ia memberi isyarat pada satpam yang sudah berdiri di samping mobilnya untuk membawa barang-barang bawaannya masuk.
"Ya Ampun. Apa ini, Bre. Banyak banget," ucap Hayley, ia menatap tak percaya pada satpam yang bolak-balik memasukkan beberapa barang ke dalam rumahnya, semua barang sudah terbungkus rapi dengan kertas kado.
"Ini hadiah. Buat keponakanku," ungkap Breanda senang.
Hayley hanya bisa takjub sambil menggelengkan kepala pelan, ia tidak menyangka jika kehadiran calon buah hatinya sudah di nanti begitu banyak orang, bahkan sebelum ia terlahir pun sudah di istimewakan.
"Dan ini, untuk kakak." Breanda mengulirkan dua tas besar berisi gaun-gaun malam dengan potongan tubuh yang di desain khusus untuk ibu hamil.
Wajar saja jika Breanda sangat tau dan ahli dalam bidang fashion dan gaya berpakaian yang modern, gadis itu sudah kuliah memasuki semester 8 mengambil jurusan designer.
Aaron membantu satpam memasukkan banyak hadiah ke dalam kamar yang sudah di siapkan untuk calon bayinya, ternyata tidak hanya dirinya yang sudah tidak sabar menanti lahirnya sang buah hati, Breanda pun tidak kalah heboh dengannya.
Breanda mendekati Hayley yang duduk manis di sofa ruang tamu.
"Kak, tadi itu ... teman kakak, bukan?" tanya Breanda.
"Siapa? yang kamu tabrak?"
"Iya. Teman kakak, bukan?"
"Memangnya kenapa?" tanya Hayley penasaran.
"Ih, kakak ih. Masak gitu aja masih tanya. Kenalin kek!" keluh Breanda sambil manyun.
"Nggak mau, Ah. Minta kenalin sendiri sama kak Aaron," tolak Hayley mentah-mentah. Mana mungkin dirinya mau mengenalkan Breanda pada Marcel, apalagi baru beberapa bulan terakhir mereka memutuskan untuk tidak saling berhubungan, bukan karena dirinya takut merasa cemburu. Tapi ia takut kalau Breanda akan bernasib sama dengannya.
__ADS_1
"Pelit nih, Kakak. Kenalin dong," rayu Breanda, ia menggoyang-goyangkan lengan Hayley begitu manja.
"Eh, eh. Kenapa kakakmu di gituin?" tegur Aaron dari belakang.
"Eh, kak Aaron. Cuma bercanda kok. Pegang dikit aja nggak boleh," ucap Breanda sambil nyengir kuda, matanya masih melirik Hayley berharap kakak iparnya mau menuruti permintaannya.
"Kakakmu itu lagi hamil. Jangan kasar-kasar!"
"Nggak kasar, kok. Pegang gini aja loh."
"Udah, udah. Nggak usah berantem!" seru Hayley, pening kepala ya mendengar Breanda dan Aaron saling tuduh.
Tidak memperdulikan Aaron yang menatap dengan bola mata melotot hampir loncat dari tempatnya, Breanda mengekori sang kakak ipar masuk ke dalam kamar.
"Kakak," ucap Breanda memelas.
"Apa sih, Bre?"
"Kenalin dong ...."
"Nggak, sekali nggak tetep nggak!"
"Eh, kenapa pikirannya jadi gitu, bukan lah!" bantah Hayley,
"Hayoo ... Hayoo ...."
"Minta kenalin sama kakakmu sana! Marcel itu teman bisnisnya," ucap Hayley, sebelum Breanda menebak yang bukan-bukan.
"Oh, namanya Marcel. Bukan karyawan kakak 'kan?"
"Menurutmu?"
"Kayaknya sih bukan. Cakep sih, ih, gemes!" ucap Breanda dengan mimik wajah menggemaskan.
"Kabar papa sama mama kamu sehat?" tanya Hayley, ia berusaha mengalihkan topik pembicaraan sang adik ipar sebelum pertanyaannya akan meluber ke mana-mana.
"Hmm, begitulah, Kak," jawab Breanda malas, mendadak wajahnya berubah kecut. "Aku mau di jodohin, sama anak dari teman lama papa."
"Hah? di jodohin? memangnya kenapa? kamu nggak punya pacar? jomblo?" Pertanyaan Hayley bertubi-tubi membuat Breanda merasa nasibnya semakin mengenaskan.
"Ah, Kakak. Kalau punya pacar juga nggak bakal minta kenalin sama itu laki tampan," ucap Breanda sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Bisa gitu ya. Kamu itu cantik, Bre. Kaya, berbakat, pintar. Kurang apa sih? kenapa jomblo?"
"Terus, aku harus tanya sama siapa? kenapa aku bisa jomblo?" tanya balik Breanda. "Kakak ini bukannya ngasih saran dan solusi malah ngeledekin."
Tertawa terbahak-bahak, Hayley tidak habis pikir dengan sang adik. Breanda adalah gadis imut dan sangat cantik, dia sangat pandai berdandan di bandingkan dirinya yang masih amatiran.
Seharusnya, akan sangat mudah bagi Breanda untuk menemukan kekasih, bermodal body goals dan wajah yang jelita, ia punya segalanya.
"Aku kesini juga berniat minta tolong sama kak Aaron. Cuma kakak yang bisa bantu aku lepas dari perjodohan itu, Kak. Aku nggak mau, ini itu bukan lagi jaman Siti Nur Baya. Aku pengen bebas menentukan siapa yang berhak menjadi calon suamiku. Aku pengen bisa menjalani kehidupan seperti apa yang aku rencanakan. Aku nggak mau nasibku ada di tangan papa. Aku nggak mau!"
Suasana yang awalnya lucu, mendadak menjadi sendu. Breanda terlihat sangat tertekan dengan perjodohan itu, ia langsung berwajah masam dengan raut muka yang menyedihkan.
"Kak Aaron pasti mau bantu, kok. Setelah makan malam, kita akan bicarakan lagi," ucap Hayley menenangkan.
Bagi Breanda, Hayley adalah sosok kakak yang baik, ia kerap kali mengadu tentang permasalahannya dengan laki-laki yang berusaha mendekatinya, Hayley selalu memberikan banyak saran-saran yang membantu, dan Breanda menuruti semuanya.
Andai saja Breanda tau, jika pernikahan Aaron dan Hayley bermula dengan niat yang berbeda dan hanya sekedar sandiwara, mungkin Breanda tidak akan percaya, jika semuanya berubah penuh cinta seperti saat ini. Hanya saja, Aaron dan Hayley berusaha menyimpan rahasia itu rapat-rapat, biarkan masa itu menjadi kenangan tersendiri bagi mereka.
Selepas obrolan ringan antara Hayley dan Breanda tentang perjodohan, Aaron tiba-tiba datang mengingatkan makan malam.
"Makan dulu, Sweety," ucap Aaron, lalu mencium pucuk kepala sang istri di depan Breanda, Hayley membalas dengan mencium mesra pipi suaminya.
"Kakak, nggak malu apa. Ada aku di sini loh," keluh Breanda kesal, melihat kemesraan sang kakak, membuat Breanda iri. Kini Aaron sudah bisa hidup mandiri dan lepas dari tekanan orang tua yang menuntut ini dan itu, berbeda dengan dirinya yang masih harus menjalani hidup bergantung pada mama dan papanya.
"Kok ada suara nggak ada orangnya sih!" ujar Aaron sambil berakting clingak-clinguk tidak melihat sang adik.
Berdiri dengan menghentakkan kaki ke lantai, Aaron akhirnya menyeret sang adik dalam pelukannya.
"Ayo makan dulu," ucap Aaron, ia mengacak-acak rambut Breanda hingga gadis itu kesal dan mendorong Aaron.
"Ya Tuhan, Kakak!"
"Udah, udah. Udahan dulu berantemnya, kita makan," sela Hayley menjadi penengah. Aaron dan Breanda sama halnya dengan Hayley dan Alex, saat bertemu, keduanya seperti kucing dan tikus yang tidak akan pernah bisa akur.
🖤🖤🖤
Yang kangen visualnya abang gantengku sama si Hayley.
__ADS_1