Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Olahraga pagi


__ADS_3

Semua makanan sudah terhidang di meja, Alex dengan kesal membanting piring dan menghenyakkan tubuhnya kasar.


"Kenapa kalian sama sekali nggak kasihan sama aku sih?" tanya Alex. "Sudah hampir seminggu lebih aku bahkan lupa rasanya bercinta, sekarang kalian malah asik bermesraan di depanku!" gerutunya kesal.


Aaron dan Hayley hanya saling bertatapan tidak mengerti, bukannya Aaron hanya sesekali menyuapi Hayley potongan daging yang empuk, namun Alex serasa terpanggang kepanasan.


"Siapa yang menyuruhmu di sini?" sindir Aaron.


"Tadinya sih, pulang mau mandi."


"Terus?"


"Terus, kayak ada bau-bau yang enak gitu. Kan lapar!"


Tidak memperdulikan lagi Alex yang menggerutu melihat dirinya, Aaron tetap melanjutkan berbincang bersama Hayley dan menyuapi istrinya sepotong demi sepotong daging panggang yang empuk.


"Kamu suka?" tanya Aaron, ia mengusap ujung bibir Hayley yang meninggalkan bekas saos.


"Enak, rasanya juicy," ujar Hayley. "Kamu jago," pujinya.


"Aku bisa buatkan kamu daging panggang setiap hari kalau kamu suka, Sweety."


"Halah, darah tinggi baru tau rasa!" sela Alex sambil melirik sinis.


"Ya Tuhan, Alex. Bisa diem nggak sih!" gerutu Hayley kesal, pasalnya, laki-laki itu dari awal sudah merusak momen kebersamaannya dengan Aaron.


"Ya ya ya. Kalian sepertinya memang sedang di mabuk cinta. Dunia ini milik kalian, aku cuma ngontrak," ketus Alex kemudian pergi meninggalkan Aaron dan Hayley, tidak lupa, ia juga membawa sepiring daging panggang dengan berbagai macam saos.


Menghela nafas, Hayley lega akhirnya Alex pergi.


"Dia kenapa? ada masalah?" tanya Hayley.


Aaron mengangkat bahu. "Nggak tau. Capek mungkin."


Akhir-akhir ini Alex dan Aaron memang bekerja super keras, mereka tidak pernah sekalipun bisa bersantai sejenak saat di kantor. Berbagai pertemuan penting harus mereka hadiri demi mengembalikan produktifitas perusahaan.


Jika Aaron bisa menghabiskan waktu senggangnya saat di rumah untuk merayu dan bersenda gurau bersama Hayley, Alex lebih memilih berdiam diri di kamar, menunggu Aaron selesai dengan urusan ranjangnya lalu kembali melanjutkan pekerjaan yang tertunda di ruang kerja milik Aaron.


Banyak temu janji bersama para teman wanitanya terpaksa Alex batalkan begitu saja, semuanya karena kondisi perusahaan yang sedang buruk bahkan bisa di bilang kritis. Namun, yang tidak pernah Alex duga adalah sikap Aaron yang terkesan santai dan tenang.


Rupanya, kehadiran Hayley dan si calon buah hati mereka lah yang membuat Aaron semakin dewasa.

__ADS_1


"Apa perusahaan sudah mengalami kemajuan?" selidik Hayley, ia sama sekali tidak pernah mendengar Aaron bercerita, namun ia memiliki banyak dugaan.


"Semua sudah teratasi, jangan khawatir," jawab Aaron bohong, ia tentu tidak ingin Hayley terlalu banyak pikiran.


"Jangan bohong padaku. Ceritakan, aku akan mendengar dengan senang hati," rayu Hayley, ia mengusap tangan Aaron yang sedang menggenggam pisau.


"Aku nggak mau kamu khawatir dan terlalu banyak pikiran. Percayalah, Sweety, semua akan baik-baik saja."


"Apa semua ini karena aku?"


Aaron meletakkan pisaunya dan menatap Hayley lekat. "Aku akan melakukan apapun yang terbaik untuk kita, untuk buah hati kita. Kamu cukup memberiku semangat setiap hari, aku sudah sangat bahagia," ungkap Aaron.


"Maaf, andai saja ...."


Dengan cepat Aaron meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Hayley. "Jangan meminta maaf, ini bukan masalah besar. Aku yakin, kita sanggup melewati semuanya," sela Aaron.


Lagi-lagi, Hayley di buat takjub dengan sikap Aaron yang sangat optimis dan pantang menyerah. Laki-laki itu selalu memberikan kejutan istimewa setiap harinya.


Usai santapan sore yang mengenyangkan, Hayley dan Aaron kembali ke kamar dan menugaskan beberapa pelayan untuk membereskan sisa tempat makan mereka.


🖤🖤🖤


Udara sejuk membangunkan sepasang kekasih yang terlelap dalam satu selimut yang sama, meminta ijin untuk ke kamar mandi lebih dulu, lengan kekar Aaron menahan Hayley.


"Ini sudah pagi, ayo bangun. Kita sarapan sebelum kamu terlambat ke kantor," ungkap Hayley, ia menyibak selimut di tubuhnya, namun Aaron malah mendekapnya erat.


"Hmm, lima menit lagi," rengek Aaron, ia membenamkan wajahnya di leher Hayley, membuat istrinya bisa merasakan nafas hangat yang tenang.


Awalnya, Hayley tidur terlentang, membiarkan lengan kekar Aaron melingkar di atas perutnya, namun perlahan, Aaron malah menggiring tubuh mereka untuk saling berhadapan.


Bergeser sedikit ke bawah, Aaron kembali membenamkan diri di area dada Hayley, ia memposisikan tangannya di salah satu gundukan kenyal lalu meremasnya lembut.


Mendesah pelan, Hayley merasakan tubuhnya memanas. "Sudah pagi, ayolah ...." rengek Hayley, ia berusaha melepaskan diri namun Aaron tetap menahan.


"Sweety, satu ronde saja. Ku mohon ...."


"Sayang, ini sudah pagi," tegur Hayley lembut, ia sengaja menggunakan kata sayang agar Aaron mudah di bujuk.


"Please, panggil aku sayang sekali lagi," pinta Aaron dengan nada memohon.


"Baik. Tapi janji, kita akan bangun dan bersiap sarapan."

__ADS_1


"Hmm."


"Sayang," panggil Hayley lagi, dengan suara yang lembut dan manja.


"Ah, Sweety. Kamu membuatku semakin ingin, kamu sengaja menggodaku, ya?"


"Kamu kan sudah janji kita akan bangun, ayolah ...."


"Siapa yang bilang aku janji. Aku nggak janji kok," ucap Aaron, ia lalu secepat kilat meraih ujung lingerie Hayley dan membuka bagian atas tubuh istrinya. Aaron menyusupkan satu tangannya ke dalam bra dan semakin meremas lembut.


Mendesah berulang, Aaron tidak memperdulikan Hayley yang menggeliat menahan geli.


Memposisikan tubuh di atas istrinya, Aaron menahan tubuhnya dengan lutut agar tidak menyakiti sang buah hati di dalam perut. Satu tangannya merambat ke bawah dan meraba lembut kewanitaan sang istri.


Kedua tangan Hayley meremas bantal, merasakan sentuhan demi sentuhan yang membuat bulu kuduknya meremang. Mengerang nikmat, Aaron melum*t bibir istrinya dan mengabsen isi mulut dengan lidah.


Setelah puas di area atas, Aaron menyusuri seluruh lekuk tubuh istrinya dengan bibir, sampai turun semakin ke bawah.


Sesaat tubuh Hayley mengejang, kakinya serasa kaku tak dapat di gerakkan, ia merasakan sensasi luar biasa tatkala Aaron menyesap sesuatu di bawah sana.


Hayley merintih, tangannya meraih rambut Aaron, tidak mampu menahannya lagi, Hayley berucap lirih. "Sekarang, Sayang. Jangan menundanya."


Mendapati istrinya telah siap, Aaron langsung meluncurkan aksinya.


Dalam satu kali hujaman, Aaron telah sukses memasuki Hayley. Pinggul keduanya bergerak seirama dengan nafas saling beradu, menenggelamkan diri dalam kenikmatan yang tiada duanya, Aaron semakin tergila-gila pada permainan ini.


Pagi hari yang panjang di awali dengan pemenuhan hasrat yang semakin hari semakin tak tertahankan. Aaron merasa perlu untuk menjamu dirinya dengan meningkatkan kualitas hubungan intim dengan sang istri untuk mempererat hubungan mereka.


Bukankah keharmonisan rumah tangga juga memerlukan hubungan yang intens dan rutin? Aaron percaya itu.


Hayley tergeletak lemas setelah satu ronde dengan waktu yang cukup lama, kegiatan seperti ini juga bisa menguras hampir seluruh tenaganya. Apalagi, selama kehamilan ini dia mudah sekali lelah.


"Istirahatlah, Sweety. Aku akan bersiap," ucap Aaron lalu mengecup kening sang istri. "Terimakasih untuk pagi ini."


🖤🖤🖤


Pukul 8 pagi, Alex sudah berdiri di bawah anak tangga dengan pakaian rapi. Seharusnya, pagi ini mereka harus sudah ada di kantor tepat pukul 07.30, namun nyatanya, sampai saat ini Aaron belum juga keluar dari kamarnya.


"Bisa gila aku nungguin orang bercinta." Mengacak rambutnya kesal, Alex duduk di bawah anak tangga.


Satu jam yang lalu, Alex memang sudah hampir menyusul Aaron ke kamarnya, namun niatnya ia urungkan tatkala mendengar suara desahan bersahutan dari dalam kamar.

__ADS_1


🖤🖤🖤


Bersambung ...


__ADS_2