
Hayley tau, jika laki-laki di depannya kini sedang tidak baik-baik saja, namun gadis itu sudah mantap untuk berkata jujur dengan resiko yang besar.
Baginya, kejujuran adalah kunci utama dari sebuah hubungan.
"Bagaimana kalau kamu hamil?" tanya Marcel serius.
"Hamil? kami hanya melakukannya satu kali," jawab Hayley khawatir.
Marcel tampak gusar dan bingung, ia sama sekali tidak menyangka jika akan terjadi satu hal yang akan sangat ia benci sebelumnya.
Acara makan malam yang seharusnya penuh dengan keromantisan kini berubah menjadi makan malam yang sunyi senyap, tanpa obrolan panjang dan candaan.
Hayley tau ini akan terjadi, namun dia sudah berbesar hati jika Marcel lebih memilih pergi.
Tanpa basa-basi, usai perut sudah terasa terisi kenyang, keduanya memutuskan untuk segera pulang. Toh, tidak ada lagi yang ingin mereka bicarakan.
Beberapa menit kemudian, mobil Marcel sudah sampai di depan rumah Hayley, ia mengantarkan gadis itu pulang dengan rasa bimbang.
"Marcel, tunggu!" ucap Hayley, ia menahan Marcel saat laki-laki itu akan turun.
"Ada rahasia apa lagi tentang kalian?" tanya Marcel tanpa menoleh wajah Hayley yang semakin pucat karena pertanyaannya.
"Bukan rahasia tentangku dan Aaron. Aku cuma mau bilang, aku tau banyak hal tentang Anne Sonya," ujar Hayley, ia berucap tegas menatap laki-laki yang menahan geram.
Seketika Marcel tersentak, bagaimana bisa Hayley tau tentang Anne, siapa yang memberitahunya?
Hayley turun dari mobil dengan lelehan air mata yang tumpah, ia sadar, sejak awal ia sangat menginginkan Marcel, laki-laki itu seperti punya daya tarik yang berbeda selain dari ketampanannya.
Namun, harapan bersama itu makin hari makin menipis. Selain masalah yang kini ia hadapi bersama Aaron, kini ia juga sudah menyadari suatu rahasia besar tentang Marcel dan masa lalunya.
Menatap punggung Hayley berjalan masuk ke rumahnya, Marcel tidak mampu lagi berkata-kata, ia kembali pulang dengan harapan yang hampir sirna.
Di ujung gang tidak jauh dari rumah Hayley, Aaron sudah duduk manis di kursi kemudinya sambil terus mengawasi.
Sakit memang, melihat gadis pujaan hati lebih memilih dekat dengan orang lain di bandingkan dirinya.
Aaron memang suaminya, namun itu hanya sebatas status di atas kertas. Hanya itu anggapan Hayley terhadapnya.
Mengantarkan sebuah bingkisan berisi gaun dan sebuah cincin berlian, Aaron meletakkannya di depan pintu, lalu kembali masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
"Ada hadiah kecil untukmu, Hayley." Tulis Aaron dalam ponselnya, ia lalu mengirim pesan pada nomor Hayley.
Di dalam kamar, Hayley mengusap air matanya, ia membuka gorden jendelanya dan mengintip siapa yang sedang menunggu di tepi jalan depan rumahnya.
"Dia memang baik, tapi rasanya aku belum bisa," batin Hayley.
Entah apa yang membuat gadis itu ragu dengan kesungguhan Aaron, namun kini dia sedang berperang dengan hatinya. Kedua kalinya, Hayley mencintai orang yang salah.
Dengan langkah pelan, Hayley menuju teras rumahnya, dan mengambil bingkisan yang Aaron letakkan, namun sebelumnya, ia harus memastikan jika Aaron sudah benar-benar pergi.
Membawanya kembali ke kamar, Hayley begitu terkejut, Aaron memberikan dua gaun malam yang sangat cantik dan sebuah cincin berlian dalam sebuah kotak merah berbentuk hati.
"Selamat malam, selamat istirahat." Tulisan dalam oesan di dalamnya.
Aaron memang baik, tapi kebaikannya masih belum bisa menyentuh hati Hayley, hati gadis itu seperti sudah terjerat oleh Marcel, laki-laki yang sebenarnya tidak mencintainya.
🖤🖤🖤
Sebulan setelah kepergian Hayley dari rumah Aaron, ia menghabiskan waktu bersama ibunya. Setiap hari, Hayley selalu punya alasan kenapa dirinya tidak kembali pulang ke rumah Aaron, meskipun Andini curiga, namun putri satu-satunya itu selalu saja punya alasan yang tak terbantahkan.
"Sudah lebih dari 3 hari, aku nggak datang bulan," gumam Hayley, saat membereskan lemarinya yang berisi cadangan pembalut.
Dari arah pintu, Andini datang menatap putrinya yang terbengong kebingungan.
"Ada apa, Nak?" tanya Andini.
"Nggak, Bu. Nggak papa," jawab Hayley gugup, lalu menyembunyikan kembali pembalutnya ke lemari.
"Ah, anak ibu telat datang bulan, ya?" goda Andini dengan wajah berbinar.
Menatap ibunya yang terlihat bahagia, Hayley ingin sekali menceritakan semuanya.
Sudah satu minggu terakhir, Hayley sering mendadak cuti kerja, Aaron dan Alex sudah berusaha membujuknya untuk periksa ke rumah sakit, namun gadis itu bersikeras menolak dengan alasan demam biasa.
Mengumpulkan tekad dan niat, akhirnya hari ini Hayley memutuskan untuk datang ke klinik sendirian, ia tidak mau ada seorang pun yang tau hal ini.
Menjalani beberapa pemeriksaan dan tes darah bahkan tes urin, Hayley terduduk lemas ketika mengetahui hasilnya.
"Selamat, anda hamil." Ucapan selamat penuh suka cita yang dokter berikan, seakan membuat jantungnya hampir berhenti berdetak, kepalanya mendadak pusing, kemudian gelap, gadis itu pingsan seketika.
__ADS_1
Seseorang yang Aaron tugaskan untuk terus mengawasi dan memperhatikan setiap kegiatan gadis itu, memberikan laporan mengejutkan tatkala Hayley mendadak pingsan di klinik kesehatan.
"Apa? Hayley pingsan? bagaimana kondisinya?" tanya Aaron penuh kekhawatiran.
"Sedang di tangani dokter. Cepat datang kemari," ucap orang suruhannya.
"Tunggu aku!" perintah Aaron.
Meeting penting bersama para direksi dan pejabat tinggi perusahaan harus ia tinggalkan begitu saja, Aaron tidak mungkin membiarkan Hayley melewati kesulitan ini sendirian.
Setiap hari, orang suruhannya selalu memberikan laporan kemana dan bersama siapa Hayley pergi, ia akan mengikuti kemanapun dan kapanpun saat Hayley meninggalkan rumahnya.
Aaron meminta Alex untuk mengurus perusahaan secara keseluruhan, bahkan semua pertemuan penting dengan para investor pun ia batalkan.
Berjalan tergesa-gesa menuju koridor klinik, Aaron langsung di sambut seorang laki-laki muda bernama Malik, teman dari adiknya sendiri, Breanda.
"Dimana Hayley?" tanya Aaron.
"Ayo, ikut aku." Malik memimpin jalan, ia membawa Aaron menuju ruangan tempat Hayley berbaring pingsan.
Membuka pintu dengan kasar, dokter yang sedang berjaga menunggu Hayley terkejut.
"Maaf, anda siapa?" tanya dokter itu.
"Saya suaminya, Dok. Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Aaron tidak sabaran, ia langsung duduk di dekat ranjang tempat Hayley terbaring lemah.
"Syukurlah. Kami bingung karena pasien mendadak pingsan, dan tidak ada keluarga yang mengantarnya periksa," ucap dokter. "Selamat, Tuan. Istri anda positif hamil," lanjut dokter.
Tidak mampu lagi menyembunyikan kebahagiaan luar biasa, Aaron hampir saja meloncat kegirangan. Laki-laki itu memeluk Hayley di atas ranjangnya sambil menciumi wajah gadis yang terpejam itu berkali-kali.
"Mungkin ini kehamilan pertama baginya, jadi wajar jika dia masih syok. Silahkan di tunggu sebentar, mungkin istri anda akan segera bangun," jelas dokter.
🖤🖤🖤
***Bersambung ...
Hai semuanya, maaf kalau part nya pendek.
Author lagi kurang sehat, do'akan segera pulih biar bisa lanjut nulis lancar lagi ya.
__ADS_1
Salam sayang ❤️***