
Alex mendekat dan membanting bokongnya di sofa samping Hayley, ia melirik tajam pada sepasang manusia yang malu-malu.
"Lain kali kalau mau anu, kalian bisa pasang warning di depan pintu, biar aku nggak masuk sembarangan," ujar Alex kesal. "Jadi menganggu adegan anu-anu kan aku."
"Ih, apa sih!" Hayley memukul bahu Alex dengan keras sampai laki-laki itu meringis.
"Sakit tau!" seru Alex sambil mengusap pundaknya.
"Lain kali kalau ngomong jangan ceplas-ceplos!" Hayley memperingatkan.
"Loh, nyatanya memang benar kan?" ledek Alex. "Kemarin aku memergoki kalian di ruang fitnes lagi mau anu, sekarang juga aku mergoki kalian lagi, sial banget emang nasib!" gerutunya.
"Itu mulut sembarangan, ya!" Hayley menunjuk wajah Alex. Meraih sambal yang tersisa di kotak makan, ia langsung melumurinya ke bibir Alex. "Sini, makan tuh sambel."
"Hayley! kurang ajar nih." teriak Alex marah. Sedangkan Aaron, ia cukup senang karena Hayley selalu menang setiap kali dirinya berdebat dengan Alex.
Sekejap setelah puas mengerjai Alex, Hayley bergegas pergi dari ruangan Aaron dan meninggalkan mereka. Entah harus di letakkan di mana mukanya saat ini, setiap kali ada adegan tertentu antara dirinya dan Aaron, Alex selalu saja muncul tiba-tiba. Rasa malu dan kesal bercampur jadi satu.
"Tiap kali seperti itu, kenapa aku kayak di hipnotis sih," gerutu Hayley. "Apa jangan-jangan, Mr. Ice sengaja menghipnotisku."
"Ah, nggak-nggak. Mana mungkin dia punya ilmu gendam!"
Berargumen dengan dirinya sendiri, Hayley merasa stress. Setiap kali Aaron mendekat dan menyentuhnya, ia tidak kuasa menolak ataupun menghindar. Netra abu kebiruan laki-laki itu mampu membuat Hayley diam seribu bahasa dan terhipnotis dengan ketampanannya.
Bagi Hayley, Aaron memang tampan, ia wujud laki-laki sempurna seperti yang dirinya dambakan, tapi untuk memiliki, jelas Hayley merasa tidak percaya diri. Kathrine adalah wanita dengan tubuh tinggi ramping dan rambut pirang yang sangat cantik, berbeda dengan dirinya yang pendek dan tidak pandai berdandan, bagaimana bisa Aaron akan berpindah hati dari bidadari ke upik abu.
Saat ini, Hayley sudah cukup merasa nyaman bersama Marcel, ia mulai memantapkan hati bahwa laki-laki itu sangat baik dan mau menerima dirinya dengan tulus. Sedikit demi sedikit, Hayley mulai membuka hati untuk Marcel. Namun, ia tidak berharap terlalu jauh, apalagi statusnya saat ini masih sebagai istri sah dari Aaron.
Mencuci tangannya di wastafel, Hayley melamun, ia mengingat kejadian di ruang fitnes kemarin sore, dan kejadian baru saja di ruangan Aaron.
Sentuhan itu seakan terbayang-bayang di kepalanya, hatinya menolak, tapi tubuhnya bereaksi lain.
Mendengar suara ponselnya berdering, Hayley terbangun dari lamunan, ia lalu melihat siapa si penelpon.
"Ah, Marcel," batinnya, lalu menekan tombol hijau di layar ponselnya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Hayley.
"Kangen tau!" seru Marcel dari sebrang telpon, Hayley tersenyum malu.
"Baru juga ketemu."
Obrolan panjang lebar antara Hayley dan Marcel membuat keduanya lupa waktu, mereka membahas banyak hal, terutama jadwal liburan yang batal.
🖤🖤🖤
Di ruangan Aaron, Alex dengan usil mengganggu dan mengejek saudaranya.
"Apa yang tadi mau kalian lakukan? hah?" tanya Alex. "Jangan-jangan ...."
"Nggak ngapa-ngapain, kok." Aaron melengos, ia tau jika ini kedua kalinya Alex memergokinya.
"Ah, bohong banget. Orang tadi aku lihat kok," goda Alex. "Kalau mau anu, sah-sah aja, kalian kan suami istri," imbuhnya.
"Anu apa sih!" Aaron berucap ketus.
"Ah, kamu. Sok polos banget, padahal aslinya juga pengen."
Alex masih menampakkan senyum mengejeknya setiap Aaron melirik, kini laki-laki itu semakin paham, jika sepupunya sudah mulai berpindah haluan.
"Kamu bisa cerita sama aku kok, Bro. Sebenarnya apa yang sedang terjadi saat ini?" Alex kembali memulai pembicaraan.
"Nggak pengen cerita!" jawab Aaron sinis.
"Seriously? Aku ini pakar cinta dan wanita, kamu bisa berkonsultasi gratis padaku," goda Alex.
Berdecak kesal, ingin sekali Aaron melakukan hal yang sama seperti yang Hayley lakukan, menggosok mulut sepupunya dengan sambal agar ia diam.
"Sudahlah, Alex. Aku lagi nggak mau bahas soal urusan seperti itu, pekerjaan kita banyak, dan yang ada di kepalamu sekarang cuma cinta dan wanita, dasar playboy!"
"Yakin nih? padahal, berdasarkan pengamatanku, yang sedang bingung soal cinta dan wanita itu kamu, kenapa menuduhku?" tampik Alex, masih dengan ekspresi yang menjengkelkan.
__ADS_1
Tidak betah lagi dengan ocehan Alex, Aaron memilih keluar dari ruangannya sendiri dan membanting pintu kasar.
"Ah, dasar. Cinta bilang, Bro! saingan mu berat!" teriak Alex keras, lalu tertawa terbahak-bahak, ia tidak menyangka jika semudah itu Aaron takluk dengan pesona upik abu.
Tanpa komando, Alex sudah berinisiatif untuk mencari tau sendiri sejauh apa hubungan antara Hayley dan Marcel, ia tidak ingin jika Aaron akan patah hati untuk yang kedua kalinya. Jadi, sebelum hal itu terjadi, Alex harus segera bertindak cepat.
Usai semua pekerjaan kantor selesai, Alex pulang lebih dulu karena dirinya ada janji kencan bersama Melanie, sedangkan Aaron memilih untuk menunggu sampai Hayley keluar dari ruangannya, cuaca di luar sedang hujan, Aaron sudah menyiapkan mantel bulu yang ia pesankan dari seorang pegawai wanita.
"Hayley," sapa Aaron, ia sudah menunggu hampir setengah jam di dekat pintu.
"Loh, Mr. Ice, kok belum pulang?" tanya Hayley.
"Nungguin kamu, di luar hujan deras," papar Aaron.
"Aku kan bareng sopir biasanya, pasti udah di tunggu."
"Aku suruh dia pulang dari siang, kok. Kita pulang bareng," ajak Aaron. "Pakai ini." Ia mengulurkan mantel bulu berwarna coklat ke arah Hayley.
Lagi-lagi Hayley terperangah, Aaron kini semakin menunjukkan sikapnya yang tidak biasa. Orang yang ia juluki sebagai Mr. Ice yang awalnya ia pikir laki-laki kiriman dari kutub utara, kini sudah mencair dan berubah menjadi laki-laki yang hangat dan penuh perhatian.
Tersenyum senang lalu mengucapkan terimakasih, Hayley memakai mantelnya lalu berjalan beriringan menuju tempat parkir bersama Aaron.
"Mr. Ice, besok aku mau mengunjungi ibuku, bibi di rumahku bilang, asma ibu kambuh," ujar Hayley. Sudah seminggu ini dia hanya bertukar kabar dengan Andini melalui ponsel, karena Andini sendiri paham jika musim hujan, putrinya rentan sakit.
"Besok kan sabtu, kita bisa libur dan pergi bersama," jawab Aaron, baru kali ini ia bersemangat mengunjungi ibu mertuanya.
"Nggak usah, kesana sore aja sepulang kerja. Lagipula kamu sibuk, biar aku pulang sendiri aja."
"Nggak, aku mau nemenin kamu. Kita ke sana sekarang," ujar Aaron.
Bahagia sekaligus terharu, dengan tidak sengaja Hayley melompat kegirangan sambil memeluk Aaron.
"Ah, terimakasih, Mr. Ice. Aku kangen banget sama ibu," ungkap Hayley, lalu tersadar jika kini tangannya memeluk tubuh kekar yang berdiri di dekatnya. "Ups, sorry!"
Menahan senyum, Aaron pura-pura tidak menanggapi perkataan Hayley.
__ADS_1
🖤🖤🖤
Bersambung ...