Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Hukuman pelayan


__ADS_3

Bangun tergesa-gesa dari kasur empuknya, Laksmi langsung memberi perintah pada semua pelayan untuk berkumpul.


"Ada apa? apa kita melakukan kesalahan besar?" tanya salah seorang pelayan. Ada bagian dari rumah ini yang di khususkan untuk tempat tinggal para pelayan, yaitu beberapa kamar dengan fasilitas lengkap yang sudah Aaron sediakan.


"Nggak tau. Tapi, kalau seperti ini, kita pasti sedang dalam masalah," timpal pelayan lainnya.


Semua orang berbisik dan menerka-nerka apa yang akan terjadi, tidak ada satupun dari mereka yang pernah melakukan kesalahan, dari menghilangkan barang atau sampai memecahkan benda yang ada di rumah ini pun mereka belum pernah melakukannya, itu semua karena sikap kehati-hatian yang kuat sebagai pegangan.


"Kalian sudah berkumpul?" tanya Laksmi. "Sudah lengkap?"


"Sudah sepertinya. Ada apa ini, Bi? kenapa mengumpulkan kami di tengah malam seperti ini?"


"Entahlah. Mungkin ada di antara kita yang melakukan kesalahan sampai tuan Aaron langsung turun tangan," jelas Laksmi. Biasanya, jika ada apa-apa tentang pelayan, maka Alex lah yang pertama kali menyelesaikan masalah, Aaron selalu terima beres.


Laksmii membawa semua anak buahnya menghadap Aaron di ruang kerja, beberapa dari mereka merasa was-was, takut jika ada kesalahan yang tidak mereka sadari.


"Dengar, jangan berbicara kalau tuan Aaron tidak menyuruh kalian berbicara. Jangan menyela pembicaraan dan jangan ada yang membantah." Laksmi memberi wejangan sebelum membawa masuk 25 orang ke dalam ruangan yang akan menjadi ruang sidang mereka.


Aaron sudah duduk di kursi kebesarannya sambil menatap layar ponsel, ia melarang Alex untuk ikut ke dalam ruang kerjanya dan menyuruh laki-laki itu beristirahat, ia akan menyelesaikan sendiri masalah ini.


"Tuan, kami sudah berkumpul," ucap Laksmi, ia dan semua anak buahnya berbaris setengah lingkaran di depan meja kerja Aaron.


"Apa jumlahnya lengkap? tidak ada satupun yang kurang?" tanya Aaron.


"Lengkap, Tuan."


"Baik. Apa kalian tau kenapa aku mengumpulkan kalian di tengah malam seperti ini? ada yang tau?"


Semua orang di ruangan itu menggeleng, tidak ada satupun dari mereka yang merasa berbuat salah ataupun membantah perintah.


"Dengarkan aku baik-baik. Selama ini, Laksmi tidak pernah memberikan laporan apapun terkait kegiatan istriku selama aku tidak ada di rumah. Dan siang tadi, dokter berprasangka kalau istriku sering melakukan aktifitas fisik termasuk melakukan pekerjaan rumah."


Deg! Laksmi mendadak gugup, tangannya berkeringat dingin dengan peluh yang membasahi wajahnya.


"Apa kalian merahasiakan sesuatu dariku?"


Lagi-lagi semua orang menggeleng pelan, tidak ada satupun dari mereka yang berani memberikan penjelasan.


BRAK!!!


Aaron berdiri dan menggebrak meja. "Katakan! kenapa bisa istriku mengalami kelelahan berlebihan? apa ada salah satu dari kalian yang membiarkan istriku melakukan pekerjaan?"

__ADS_1


"Cepat bicara!" sentak Aaron, membuat semua orang dalam ruangan ketakutan.


"Ya Tuhan, Nona. Sepertinya kamu tidak hanya membuatku kehilangan pekerjaan, tapi juga akan kehilangan nyawa karena serangan jantung malam ini," batin Laksmi.


"Tidak ada yang menjawab? sekarang aku ingin tau, siapa koki yang bertugas di dapur pagi tadi," ujar Aaron, ia kembali membanting tubuhnya di kursi, mengedarkan pandangan mencari sosok manusia yang akan bersuara.


Laksmi langsung menegur bawahannya, dan meminta seorang laki-laki muda berkacamata maju satu langkah di hadapan Aaron. Laki-laki itu membenarkan letak kacamatanya dengan tangan bergetar, ia begitu ketakutan tatkala mengingat brownis gosong yang tadi pagi Hayley hasilkan.


"Ya Ampun. Sial sekali nasibku," gerutu koki itu dalam hati.


"Kamu, siapa namamu?" tanya Aaron dingin.


"Sa-saya, Mar-marko, Tuan," jawab laki-laki itu terbata-bata, ia merasa nyawanya kini sedang terancam, melihat Aaron duduk dengan tangan mengepal dan mata menyala, rasanya seperti melihat malaikat maut yang siap mencabut nyawa.


"Marko! kenapa orang yang memiliki nama berawalan -Mar sangat suka mencari masalah denganku!" pekik Aaron.


"Duh, Gusti. Haruskah aku menyalahkan orangtuaku kenapa namaku harus berawalan -Mar. Ya Tuhan, selamatkan aku," batin Marko berteriak memohon pertolongan.


"Sekarang jawab pertanyaan ku, apa yang kau lakukan di dapur pagi tadi? kau sengaja membiarkan istriku bekerja keras membuat adonan brownis?"


"Sa-saya, sudah menawarkan bantuan berulang kali, Tuan. Tapi, nona selalu menolak," jawab Marko.


"Ya Tuhan. Apa yang salah dengan jawabanku, sih!" batin Marko, ia berulang kali membenarkan letak kacamatanya yang melorot, tubuhnya gemetar karena takut, itu yang membuat keseimbangan tubuhnya tidak stabil.


"Jawab! apa kau menyalahkan istriku?"


"Ti-tidak, Tuan. Saya yang salah, saya telah membiarkan nona membuat brownis itu sendirian. Maafkan saya, Tuan, ampuni saya," ucap Marko, memohon maaf dan mengakui kesalahan meskipun tidak salah adalah jalan satu-satunya.


"Bagus. Mengaku lebih baik." Aaron mengangguk, menurunkan nada suaranya yang mulai tak terkontrol. "Lalu, kenapa brownis yang di buat malah gosong?"


"Itu, karena nona melakukan setting suhu dan waktu yang salah, Tuan."


"Hai kau! kenapa masih menyalahkan istriku?" bentak Aaron.


"Ya Tuhan. Salah ngomong pula!" Ingin sekali Marko menampar mulutnya sendiri karena tidak bisa mengucapkan kalimat yang lebih tersamar, ia mendesah berulang kali, ingin segera lari terlepas dari tatapan membunuh sang majikan.


"Sekarang, pergi! ambil brownis itu di dalam kulkas." Marko mengangguk, dan langsung berlari keluar dari ruangan dengan bernafas lega.


"Selamet, selamet!" Marko mengelus dadanya pelan, ia segera menuju dapur dan mengambil brownis yang hampir utuh, karena Aaron hanya memakannya sepotong kecil.


Di ruangan Aaron, orang-orang masih diam seribu bahasa, tidak ada satupun dari mereka yang berani bersuara, bahkan bernafas pun mereka melakukannya dengan sangat senyap.

__ADS_1


"Laksmi, jelaskan padaku semuanya. Semua kegiatan istriku yang tidak aku ketahui," titah Aaron.


Terpaksa, Laksmi membuka suara, ia menceritakan semua hal yang Hayley lakukan selama Aaron tidak ada di rumah.


"Nona sering membantu kami di dapur, Tuan. Dia juga tidak segan-segan ikut pak Hasyim menata taman depan rumah. Nona tidak bisa di larang, dia selalu beralasan jika bayi dalam kandungannya akan menangis jika kami membantah," jelas Laksmi.


Hayley mengancam semua pelayan dan koki di rumah ini untuk tidak menceritakan apapun tentang kesehariannya, namun karena terpaksa dan kepepet, Laksmi harus berkata jujur demi bisa bernafas di hari esok. Dirinya tau, Aaron tidak akan main-main dalam menangani masalah, meskipun ia sudah mengabdi bertahun-tahun, itu tidak akan bisa menjamin dirinya tidak terlempar dari rumah ini.


"Apa benar itu akan terjadi jika keinginan istriku tidak terpenuhi?" Aaron bertanya ingin tau, dirinya juga sering kali mendengar Hayley beralasan sama, namun ia yang awam dalam hal kehamilan tetap mempercayainya.


"Mungkin saja, Tuan," jawab Laksmi bohong, ia jelas tau jika tidak mungkin bayi menangis dalam kandungan hanya karena ibunya tidak mendapatkan keinginannya, Laksmi sadar, jika itu hanya akal-akalan Hayley saja. Lalu, mana mungkin Laksmi berkata jujur, bisa-bisa, ia akan bernasib sama dengan Marko.


Tidak berselang lama, Marko datang membawa piring besar berisi brownis coklat yang menghitam.


"Letakkan disini," ujar Aaron, ia menyuruh Marko meletakkan brownis itu di atas mejanya.


"Jika satu di antara kalian melakukan kesalahan, maka semua akan mendapat hukuman yang sama, tapi tenang, karena aku sedang bahagia, maka aku hanya akan memberikan hadiah," ucap Aaron tegas. "Hitung, ada berapa potong brownis yang tersisa," perintah Aaron pada Marko.


Tidak mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya, Marko tetap melaksanakan perintah Aaron, menghitung potongan brownis yang masih utuh.


"Ada 27 potong, Tuan."


"Itu cukup. Sekarang, semuanya berbaris, jika kalian ingin keluar dengan selamat dari ruangan ini, maka kalian harus memakan satu potong brownis ini di hadapanku, lakukan!"


Semua orang dalam ruangan berbaris seperti bermain kereta-keretaan, Laksmi sebagai pemimpin dan Marko di bagian paling ujung.


"Semua akan mendapat bagian yang sama, satu potong brownis. Kecuali kamu, koki yang memiliki nama berawalan -Mar!"


"Aduh, Gusti. Malang nian nasibku," batin Marko, lagi-lagi dia yang kena sasaran.


Laksmi adalah orang pertama yang mengambil sepotong brownis di depan Aaron, ia mengunyah perlahan, menelan secara paksa sebelum perutnya mual.


"Silahkan keluar, Laksmi. Aku harap, kamu tidak akan pernah melakukan kesalahan seperti ini lagi," ujar Aaron, yang di jawab anggukan singkat oleh Laksmi, ia buru-buru keluar dari ruangan Aaron mencari pertolongan berupa air.


Melihat sang kepala pelayan menampakkan ekspresi yang aneh saat mengunyah, semua orang di urutan belakang membayangkan seenak apa rasa brownis di hadapan sang tuan.


Satu persatu dari mereka maju mengambil sepotong brownis, semuanya hampir tersedak dan tidak tahan ingin melepeh brownis itu di depan Aaron. Tidak terkecuali Marko, ia adalah orang yang paling sengsara malam ini, memakan dua potong brownis membuatnya hampir muntah.


"Sebenarnya apa yang nona buat ini, apa dia sengaja meracuni tuan Aaron dan mengajak kita mati bersama secara massal?" bisik seorang pelayan kebersihan pada temannya, ia meneguk beberapa gelas air putih untuk menghilangkan rasa pahit yang menempel kuat di tenggorokan.


🖤🖤🖤

__ADS_1


__ADS_2