Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Kontraksi palsu


__ADS_3

Alex melakukan perjalanan jauh, bahkan waktu yang ia perkirakan hanya 4 jam, berubah menjadi 6 jam karena cuaca yang hujan dan banyak daerah yang terdampak banjir.


Malam hari, Alex baru sampai di wilayah pedesaan yang ia kira sebagai wilayah tempat keluarga Melanie mengembangkan bisnis kebun teh.


Kesana kemari, Alex mencari tahu ke hampir seluruh penduduk desa, menanyakan pada setiap orang tentang foto gadis cantik yang ada di ponselnya.


"Namanya Melanie Rendra. Kalau kalian suka melihat tv, pasti pernah melihatnya, dia artis juga penulis. Tolong, keluarganya memiliki kebun teh terbesar di wilayah ini, apa kalian mengetahuinya?" tanya Alex pada beberapa orang yang sedang berkumpul di sebuah warung makan.


"Maaf, kami tidak tau," jawab salah seorang warga.


Hampir semua orang yang bertemu dengan Alex, seakan menghindar, hanya menjawab tidak tau dan berlalu pergi.


Hari semakin malam, dan Alex belum mendapatkan apapun di daerah ini, ia memutuskan untuk mencari penginapan atau apapun yang bisa ia tempati untuk sekedar beristirahat, ia akan melanjutkan pencariannya besok pagi.


Saat berkeliling, ia tidak menemukan apapun sampai waktu tengah malam, dan memutuskan untuk kembali ke mobilnya dan tidur dalam mobil.


Sampai waktu hampir pagi, Alex belum bisa tertidur, pikirannya sedang mengembara, memikirkan Melanie yang entah di mana. Namun ia yakin, daerah ini adalah desa yang di maksud, desa tempat Tuan Gio mengembangkan kebun teh dengan mempekerjakan seluruh warga untuk mengangkat perekonomian warga.


Ada yang aneh memang, Tuan Gio adalah pengusaha besar, namun tidak ada satupun warga yang mengenal nama itu, bahkan mereka seakan menyembunyikan sesuatu.


🖤🖤🖤


Sampai hari ke tiga, Alex tidak juga memberikan kabar pada Hayley, wanita hamil tua itu kurang istirahat dan tidak nafsu makan, Aaron bingung dan tidak tau harus melakukan apa.


"Apa Alex belum menelpon? Apa belum ada kabar dari Melanie?" tanya Hayley di pagi buta, saat mereka belum turun dari kasur.


"Belum, aku pikir perkiraan kita salah, Melanie pasti benar-benar pergi ke luar negeri," jawab Aaron.


"Nggak mungkin. Melanie cinta mati sama Alex, dia nggak mungkin bisa jauh dari Alex."


"Tapi kenapa Melanie memilih pergi, bukankah seharusnya ia lebih senang jika menghabiskan waktu-waktu terakhirnya bersama Alex?"


"Kalian para laki-laki nggak akan paham betapa kuatnya hati wanita. Mana mungkin Melanie membiarkan Alex tau kalau dia sekarat, itu akan meninggalkan bekas luka bagi Alex," jelas Hayley.


"Kalian wanita memang sangat rumit, aneh!" dengus Aaron.


Hayley menyingkap selimut dan berniat untuk turun dari kasur, namun tiba-tiba ia merasakan perutnya kram dan sakit.

__ADS_1


"Kenapa, Sweetheart? apa perutmu sakit?" tanya Aaron khawatir, ia melihat Hayley memegang perutnya sambil meringis menahan sakit.


"Ah, iya. Sedikit," jawab Hayley.


"Tunggu-tunggu disini, jangan bergerak." Aaron bangkit dari kasur dan mencari ponselnya.


"Tunggu, Sweety. Aku akan telpon dokter," ujar Aaron, ia kalang kabut mencari ponsel yang lupa ia taruh mana.


"Ya Tuhan, di mana ponselku," pekik Aaron kesal, ia menghampiri Hayley, meraba perut sang istri.


"Apa sangat sakit? apa sudah waktunya?" tanya Aaron.


"Nggak begitu sakit, tapi rasanya nyeri di bagian bawah sini." Hayley menunjuk bagian bawah perutnya. "Aku mau ke kamar mandi sebentar."


"Pelan-pelan," ucap Aaron, ia membantu sang istri turun dari kasur, namun betapa terkejutnya, kasur yang baru saja menjadi tempat Hayley tidur meninggalkan bercak darah.


"Darah! darah!" teriak Aaron histeris, ia tidak jadi menuntun Hayley ke kamar mandi melainkan berlari keluar kamar hanya dengan mengenakan celana pendek ketat.


"Laksmi, Laksmi!" teriak Aaron, suaranya yang begitu keras sontak membuat semua pelayan berlari menghampiri.


"Laksmi mana? cepat panggilkan dokter. Istriku mengeluarkan darah!" ucap Aaron berteriak.


"Ya Tuhan, aku harus bagaimana?" tanya Aaron bingung, ia mengusap wajahnya kasar lalu kembali mendekati Hayley.


"Apa rasanya sakit sekali? apa dia sudah mau lahir? apa ini sudah waktunya?" Pertanyaan Aaron membuat Hayley tersenyum, wajah tampan suaminya saat panik dan khawatir semakin membuatnya terlihat menawan.


"Jangan tersenyum. Aku takut, Sweetheart, apa masih sakit?" tanya Aaron. "Tunggu sebentar, Laksmi akan memanggil dokter."


Keinginan Hayley ke kamar mandi akhirnya urung, ia duduk di atas kasur sambil mengatur nafas, rasa sakit di perutnya tidak terlalu sering, jarak antar kontraksi masih cukup jauh.


Dengan keringat bercucuran, Aaron memegang tangan sang istri, sebelah tangannya mengelus perut besar Hayley, ia berbisik lembut. "Daddy mohon, keluarlah tanpa menyakiti mommy. Ya, Sayang?" pinta Aaron.


Mendengar bisikan sang suami pada buah hatinya di dalam perut, Hayley menggeleng pelan. Bagaimana bisa bayi lahir tanpa menimbulkan rasa sakit.


"Aku nggak keberatan meskipun sakit, Sayang," ucap Hayley.


"Tapi aku keberatan! mana mungkin aku membiarkanmu sakit begitu saja, kamu nggak boleh sakit!" ucap Aaron menggebu-gebu.

__ADS_1


"Lalu bagaimana anak kita bisa lahir?"


"Aku akan meminta dokter agar anak kita lahir tanpa kamu harus merasakan sakit."


Hayley tidak membantah, ia hanya tersenyum menatap suaminya, namun sesekali meringis saat kontraksi mulai datang.


"Apa masih sakit?" tanya Aaron khawatir.


"Kadang sakit, kadang nggak."


"Hah? apa bayi kita hanya bercanda. Apa maksudnya menyiksamu seperti ini," ucap Aaron kesal.


Beberapa menit kemudian, Laksmi datang bersama dokter wanita yang sudah menjadi dokter pribadi untuk Hayley.


"Dok, apa ini sudah waktunya?" tanya Aaron.


"Sebentar, saya harus memeriksa nona dulu," jawab dokter.


Aaron tetap tenang mengamati dokter memeriksa tekanan darah dan detak jantung bayinya.


"Detak jantung bayi normal, hanya saja tekanan darah nona rendah. Apa nona tidak lupa meminum vitamin yang saya berikan?" tanya dokter.


"Tidak, Dok. Saya selalu rutin minum."


Dokter hanya mengangguk pelan.


"Memang hari perkiraan lahir sudah dekat, dan apa yang di alami nona merupakan tanda-tanda semakin dekatnya kelahiran. Ini yang di sebut sebagai kontraksi palsu. Ras sakit dan nyerinya datang hanya di saat-saat tertentu, dan jarak antara kontraksi saat ini dan selanjutnya terbilang jauh."


"Jika sudah waktunya melahirkan, kontraksi akan terjadi semakin sering dan lebih lama. Kontraksi palsu sangat wajah di alami ibu hamil tua, tidak perlu khawatir," jelas dokter.


"Tapi, ada bercak darah, Dok," sela Aaron. Hayley lalu menggeser posisi tidurnya dan memperlihatkan bercak darah yang ada di kain sprei tempat tidurnya.


Sejenak, dokter berpikir. "Sebaiknya, kita cek langsung ke rumah sakit. Kita lakukan USG agar hasilnya lebih jelas," saran dokter.


"Apa ini artinya bahaya, Dok?" tanya Aaron.


"Sebagian ibu hamil memang mengalami flek sebelum hari persalinan. Tapi yang jelas, kita harus melakukan pemeriksaan lebih detail."

__ADS_1


🖤🖤🖤


__ADS_2