Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Bertemu Melanie


__ADS_3

Ini adalah hari ke tujuh Alex berada di desa terpencil di pelosok daerah, Hayley dan Aaron memintanya berkali-kali untuk segera pulang dan mencari jalan keluar lain sambil berunding di rumah, namun Alex menolak.


Entah mengapa ia masih percaya jika Melanie tidak jauh dari tempat ini. Alex pun tidak ingin merepotkan Aaron terlalu banyak, Hayley hamil besar dan hampir melahirkan, Alex tidak mungkin tega membebankan masalahnya pada mereka. Bagaimanapun, ini adalah kesalahannya, jika saja ia membuka hati dan sadar diri sejak awal, mungkin hal mengerikan ini tidak akan terjadi.


Seperti biasa, Alex memarkirkan mobilnya di depan rumah salah seorang warga yang dengan baik hati mau menerimanya untuk tinggal sementara. Alex memberikan uang yang cukup banyak agar ia di izinkan menginap sampai ia menemukan Melanie.


Saat ia berjalan menuju sebuah warung makan kecil yang berada di ujung gang, Alex melihat sebuah mobil sedan berwarna hitam melaju pelan dari arah belakang. Kondisi jalan yang kurang lebar dan hanya terdiri dari bebatuan kecil, membuat mobil yang lewat harus super hati-hati agar tidak menyenggol pengguna jalan lain.


Mobil itu melaju pelan melewati Alex, kaca mobil yang terbuka, memperlihatkan seorang gadis berkulit putih yang memakai ikat kepala berwarna biru. Alex mengerjap sesaat, menatap dengan perasaan yang tidak karuan.


"Melanie," batin Alex. Meskipun hanya melihat sekilas dengan penampilan Melanie yang sangat berbeda, Alex jelas-jelas mengenalinya.


Tanpa pikir panjang, Alex berjalan menyusul mobil tersebut, karena mobil berjalan sangat pelan, Alex dengan mudah mengikutinya.


Setelah cukup lama berjalan dan sesekali berlari, Alex akhirnya sampai di tempat mobil itu berhenti. Seorang wanita paruh baya yang ia kenal sebagai nyonya Gio, turun dari mobil terlebih dahulu, ia membuka pintu dan menuntun seorang gadis berjalan masuk ke sebuah villa di tengah-tengah kebun teh.


Alex sudah tidak bisa lagi menahan keinginannya untuk bertemu, ia langsung mendatangi villa tersebut sebelum nyonya Gio membawa gadis itu masuk.


"Melanie," sapa Alex pelan.


Gadis dengan celana longgar dan jaket tebal itu berbalik, menatap tak percaya pada laki-laki yang kini berada di hadapannya.


"A-Alex," ucap Melanie terbata-bata, ia menjatuhkan kantong plastik berisi obat dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Kenapa kamu datang, kenapa harus mencariku?" tanya Melanie, ia menangis.


"Karena aku takut kehilanganmu, Mel. Sungguh, aku menyesal, aku minta maaf," ucap Alex. "Banyak hal yang perlu kita bicarakan, jangan menghindar dariku."

__ADS_1


Nyonya Gio yang melihat kesungguhan Alex, merasa iba, ia meminta Melanie untuk tenang dan mengizinkan Alex masuk ke villa mereka.


"Nyonya Gio. Maaf, karena saya sudah lancang mengikuti kalian sampai kesini," ucap Alex.


"Panggil saja Tante. Tidak apa-apa, Alex. Kamu hebat, kamu mempercayai kata hatimu, kami kira kamu akan menyerah saat kami memberitahumu bahwa Melanie pergi ke luar negri," ujar Nyonya Gio sambil tersenyum.


Nyonya Gio berpamitan untuk istirahat sejenak, dan meminta Alex untuk mengantarkan Melanie ke kamarnya, Nyonya Gio berusaha memberikan ruang bagi mereka agar bisa saling berbicara, ia bersyukur, Alex tidak menyerah untuk mencari keberadaan Melanie, dengan begitu, Melanie akan lebih bahagia menjalani sisa-sisa umurnya.


Dengan senang hati, Alex menyetujui permintaan nyonya Gio, ia menuntun Melanie menuju kamar yang terletak terpisah dari villa utama.


"Alex," ucap Melanie pelan. Wajah gadis itu sangat pucat, tidak ada satu pun make up yang menempel di wajahnya, ia yang biasanya terlihat sangat menawan dengan tampilan glamour, kini terlihat tidak berdaya dalam balutan jaket tebal.


"Kenapa? apa kamu merindukanku?" tanya Alex. "Jangan berpura-pura ingin jauh dariku, padahal kamu rindu."


Melanie tersenyum kecil, ia mengusap wajah Alex dengan telapak tangannya yang dingin. "Aku nggak mau kamu melihatku sekarat, aku mau kamu bahagia tanpa memikirkan keadaanku."


Perlahan, Alex membawa Melanie ke atas kasur, ia menidurkan gadis itu pelan-pelan.


"Dari mana kamu tau aku di sini?" tanya Melanie.


"Seperti kata mamamu, aku mengikuti kata hatiku," jawab Alex, lagi-lagi Melanie tersenyum, ini adalah pertama kalinya Alex menyangkutkan perasaan dan hati di tengah-tengah pembicaraan mereka.


"Maaf, aku membuatmu khawatir," ucap Melanie, ia menggenggam tangan Alex dengan erat.


"Kamu nggak cuma membuat aku khawatir, aku hampir mati merindukanmu," jawab Alex tegas. "Kamu jahat, Melanie. Bagaimana bisa kamu pergi begitu saja, meninggalkan semua cintamu untukku, membuatku hampir gila mencarimu."

__ADS_1


Lagi-lagi Alex membuat Melanie terharu, gadis itu bangun dan duduk menghadap Alex, ia menangis, lalu melepas kain yang menutupi kepalanya.


"Lihat, aku bukan Melanie seperti yang kamu lihat sebelumnya, Alex. Aku bahkan merasa sangat lancang mengungkapkan perasaanku lewat surat itu. Aku tau, kamu berkali-kali memintaku untuk menjaga hati agar kita hanya menjadi teman di atas ranjang, tapi itu sulit, aku terlanjur menjatuhkan hatiku padamu," jelas Melanie.


Gadis itu tampak sangat berbeda, tidak ada sehelaipun rambut yang tumbuh di kepalanya, kain yang ia gunakan sebagai penutup kepala itu berguna untuk menutupi kebotakannya.


Alex tersenyum kecil, ia mengusap air mata di pipi Melanie. "Kamu tetap Melanie yang selalu bersamaku setiap suka dan duka. Kamu tetap Melanie ku!" ucap Alex, ia memeluk tubuh kurus Melanie, mengusap punggung gadis itu dengan lembut.


"Aku tau semuanya mungkin sudah terlambat, tapi aku menyadari sesuatu, bahwa aku takut kehilanganmu."


"Berjanjilah, kamu harus bertahan lebih lama lagi untuk bersamaku, aku tau ini terlambat, tapi aku akan berusaha untuk membuatmu bahagia sampai akhir, aku mau kita menikmati setiap detiknya bersama. Berjanjilah, Mel."


Melanie menghela nafas panjang, sedikit mendorong tubuh Alex agar melepaskan pelukannya.


"Apa penglihatanmu sudah nggak normal? lihat aku, Alex. Lihat keadaanku yang seperti ini, apa kamu masih mau menghabiskan waktumu untuk melihatku sekarat sampai akhir?" ucap Melanie, ia berbicara dengan air mata yang terus mengalir deras.


"Nggak penting lagi bagaimanapun keadaanmu dan kondisimu. Aku cuma mau kita bersama," tegas Alex, ia meraih tangan Melanie dan menggenggamnya.


"Apa kamu yakin dengan perasaanmu, Alex?" tanya Melanie. "Aku nggak mau di kasihani."


"Kamu ragu?" tanya Alex. "Kamu pantas meragukanku, Mel. Tapi, seumur hidup, aku belum pernah merasakan sesuatu dalam diriku yang hilang bersama dengan perginya seseorang. Kamu membawa perasaanku jauh sebelum aku menyadarinya, saat kamu pergi, aku seperti kehilangan seluruh hidupku."


"Kamu hanya membuang-buang waktu, Alex. Pergilah, kamu bisa mencari wanita yang lebih baik dariku, tentu saja wanita sehat yang bisa menemanimu untuk menjalani hidup lebih lama."


"Melanie Rendra. Aku mencintaimu, hanya kamu seorang. Jangan berlaku kejam pada laki-laki yang menjatuhkan cinta pertamanya padamu."

__ADS_1


🖤🖤🖤


__ADS_2