
Pagi ini Alex tidak datang ke kantor, Aaron tetap tenang meskipun pekerjaan sedang menumpuk dan banyak hal yang harus segera teratasi. Aaron memiliki rencana kejutan untuk Alex, maka dari itu dia langsung datang tiba-tiba ke kantor cabang PT. Conan Dream, yaitu PT. Furniture Dream yang di tempati Hayley bekerja.
"Saya mau Hayley menemui saya, sekarang!" perintah Aaron pada salah seorang pegawainya.
"Baik, Mr. Aaron."
Laki-laki berkacamata itu langsung menuju ruangan tempat para admin keuangan bekerja.
"Siapa di sini yang namanya Hayley?" tanyanya tergesa-gesa.
"Hayley!" seru Angga.
"Eh iya, saya. Ada apa ya, Pak?" tanya Hayley bingung.
"Ada yang ingin bertemu, langsung datang ke ruang utama lantai 10," ujar laki-laki itu.
"Sekarang?" tanya Hayley lagi, yang hanya di jawab anggukan singkat oleh si pembawa kabar.
Hayley segera merapikan mejanya dan bergegas pergi. Dengan perasaan bingung sekaligus penasaran ia tetap melangkah menuju lift, kebetulan kondisi kantor pagi ini sepi, karena banyak karyawan yang mengambil cuti tahunan.
Tok ... Tok ... Tok ....
Hayley mengetuk pintu pelan.
"Masuk!" teriak seseorang dari dalam.
Hayley terkejut, ternyata yang ingin bertemu dirinya adalah Aaron. "Mr. Ice, mencariku? ada apa?" tanya Hayley tenang.
"Aku mau ngobrol sebentar, sekalian menawarkan pekerjaan lebih bagus buat kamu," jawab Aaron. "Duduk."
Hayley duduk di sofa panjang, bersebelahan dengan Aaron. Aroma parfum laki-laki itu sudah menghipnotis Hayley sampai ia terpana, jarak mereka hanya sekitar 60 sentimeter, Hayley menatap kagum pada Aaron yang pagi ini tampak sangat menawan dengan balutan jas berwarna abu-abu.
__ADS_1
"Berhenti melihatku seperti itu!" sentak Aaron. "Kamu nggak pernah lihat orang tampan?" tanyanya datar.
"Eh, maaf. Siapa juga yang lihatin kamu, aku cuma perhatiin rambutmu, sepertinya kamu terlalu banyak mengoles minyak rambut, Mr. Ice," sanggah Hayley. Berbohong adalah cara terbaik untuk menutupi malu karena kepergok curi-curi pandang
"Serius? apa rambutku kelihatan jelek?" tanya Aaron sungguh-sungguh, ia tampak yakin dengan ucapan Hayley. "Nih, tolong bersihin yang kelihatan kurang rapi." Aaron menyerahkan 2 lembar tisu.
Dengan sedikit menahan senyum, Hayley tetap menerima tisu itu lalu mengusap asal rambut Aaron. "Sudah," ujarnya, ia lalu membuang tisu ke tempat sampah.
"Oh ya, ada satu hal yang ingin ku beritahukan padamu, semoga ini tidak mengubah keputusanmu untuk tetap menikah denganku," ujar Aaron. "Kau tau model dan aktris bernama Kathrine Lillian?"
Hayley diam sejenak, ia mencoba mengingat nama itu. "Emm, pernah denger, tapi nggak tau," jawabnya.
"Aku dan dia sudah berpacaran 5 tahun, dia sedang berkarir di Belanda, menyelesaikan film layar lebar yang di perankannya," jelas Aaron. "Kedua orang tuaku tidak setuju aku berhubungan dengannya, jadi aku berbohong kalau kami sudah putus hubungan, sedangkan papa memintaku segera menikah, beliau mengancam akan mengalihkan hak perusahaan ini ke tangan kakak iparku," lanjut Aaron.
"Terus, kamu pacarannya sama dia, nikahnya sama aku, gitu?" tanya Hayley sambil memicingkan mata.
"Dia yang minta aku nikah sama orang lain selama satu tahun, kita akan menikah setelah semua pekerjaannya di Belanda beres," jawab Aaron dengan Lirih, terlihat jelas jika ia sangat kecewa dengan keputusan yang di buat oleh kekasihnya.
Aaron hanya mengangkat bahu, menghela nafas panjang sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. "Ini rahasia kita, aku masih menjalin hubungan dengannya meskipun nanti kita menikah, tapi Alex dan papa mamaku tidak tau, jadi kau harus merahasiakannya," ujar Aaron.
"Mereka semua tidak ada yang setuju tentang hubunganku dengan Kathrine," lanjut Aaron.
Hayley mengangguk sekilas, sekarang dia sudah mengerti apa alasan Aaron menjadikannya sebagai pengantin bayaran, tentu saja karena ingin terus menjadi penguasa dan pemilik perusahaan besar ini.
"Oke, aku tidak apa-apa jika kalian masih berhubungan, tapi ... jika ada yang suka padaku, bolehkan aku juga menjalin hubungan dengan orang lain?" tanya Hayley.
"Nggak boleh!" jawab Aaron tegas. "Statusmu itu sah sebagai istriku, semua orang akan tau, sedangkan hubunganku dengan Kathrine itu rahasia, kalau kau berani main di belakang, aku akan menyuruhmu membayar ganti rugi," imbuhnya.
"Kenapa gitu? nggak adil!" sembur Hayley.
"Heh, di sini aku yang bayar kamu, kenapa sekarang jadi kamu yang ngatur-ngatur, sih?" sahut Aaron dengan sengit, dia mulai menyadari bahwa perempuan di hadapannya ini sangat berani.
__ADS_1
Mendengar kalimat bayaran, membuat Hayley langsung menutup mulut rapat, ia baru sadar posisi dirinya dalam keadaan ini.
Hayley sendiri bingung, kenapa harus dia yang mendapatkan tawaran menikah kontrak seperti ini, bukankah banyak wanita di luaran sana yang lebih cantik dan bergaya, berbeda dengannya yang tidak pandai berdandan dan norak dalam hal berbusana.
"Oh ya, di mana, si rambut putih itu, kok nggak kelihatan?" tanya Hayley tiba-tiba, dia merasa ada yang kurang, seharusnya di mana ada Aaron akan selalu ada Alex.
"Siapa? Alex?" tanya Aaron. "Rambutnya bukan putih, tapi silver," imbuhnya.
"Terserah, kalau kataku itu putih. Mana dia?" tanya Hayley lagi.
"Nggak ada, lagi sibuk," jawab Aaron santai. "Kenapa nyari dia?"
"Boleh nggak sih, kalau aku nonjok sedikit mukanya yang songong itu?" tanya Hayley dengan nada geram, ia melipat kedua tangannya di depan dada. "Ngeselin tau nggak!"
Aaron hanya melirik wajah Hayley yang tampak merah padam itu sambil geleng-geleng kepala, merasa lucu dengan tingkah Hayley yang barbar, Aaron yakin jika gadis itu mampu mengatasi berbagai situasi yang akan mereka hadapi setelah menikah.
Aaron sudah menyiapkan diri jika berbagai masalah datang dari keluarganya, terutama mama dan papanya, mereka akan menolak mentah-mentah keputusan Aaron untuk menikah dengan Hayley. Bagaimanapun, status sosial adalah yang utama di keluarga itu, sedangkan Hayley berasal dari kalangan bawah.
Dirinya yakin, bahwa Hayley juga gadis yang kuat, dia tidak akan mudah menyerah meskipun banyak masalah menghadang. Buktinya, dia sudah bisa menguasai diri atas sikap Alex yang keterlaluan padanya. Bukannya Aaron memihak Alex, namun Aaron hanya ingin tau, seberapa tangguh gadis pilihannya.
"Mr. Ice, kenapa diem?" tanya Hayley tiba-tiba, Aaron terlalu asik melamun hingga melupakan gadis yang duduk di sebelahnya.
"Hmm, setelah kita nikah, kamu harus kerja di kantor pusat," ujar Aaron sadar dari lamunannya. "Kamu kerja sebagai asistenku, bantu-bantu Alex," imbuhnya.
"What? yang bener aja," teriak Hayley. "Aku nggak mau tiap hari ketemu sama dia, nggak sampai setahun kita nikah, bisa-bisa aku mati kena darah tinggi."
Lagi-lagi ucapan Hayley menggelitik Aaron, membuat laki-laki itu kini tidak bisa lagi menahan tawa.
"Apa sih yang lucu? pokoknya nggak, ya, Mr. Ice. Aku nggak mau ketemu dia tiap hari!" rengek Hayley.
🖤🖤🖤
__ADS_1
Bersambung ...