
Setelah kepergian Aaron dan Hayley dari restoran itu, Sharaa terduduk lemas, ia tidak tau jika Hayley sudah mengetahui semua kebenaran tentang Anne, sang mantan tunangan sang putra.
Sharaa menghubungi sopirnya untuk segera menjemput pulang, ia tidak sabar bertemu dan menanyakan semua masalah ini pada Marcel.
Selama perjalanan pulang, Sharaa terus menelpon putranya agar segera pulang, karena akhir-akhir ini Marcel jarang pulang dengan alasan pekerjaan kantor sangat banyak dan menumpuk, membuatnya harus lembur sampai larut malam dan memutuskan untuk menginap di hotel yang berada tepat di sebelah kantornya demi menghemat waktu dan tenaga.
Kali ini Sharaa sudah merasa habis kesabarannya, ia terus menekan Marcel agar pulang untuk membicarakan sesuatu yang penting.
Dengan berat hati, Marcel memenuhi permintaan sang mama.
Setelah sampai di rumah, Sharaa duduk di ruang tamu, ia menunggu sampai Marcel datang, dan tidak berapa lama pun putranya tiba.
"Sudah 3 hari kamu nggak pulang, Marcel," ujar Sharaa.
"Sudah ku bilang, aku sibuk, Ma. Pekerjaan kantor banyak," jawab Marcel.
"Mama sangat tau tentang pekerjaan mu, kamu biasanya selalu santai dalam bekerja, kenapa mendadak super sibuk?" selidik Sharaa.
"Aku sedang melakukan sesuatu, Ma. Sesuatu yang sangat penting, ini menyangkut hidupku."
"Sesuatu apa yang kamu maksud?" tanya Sharaa. "Apa ini ada hubungannya dengan Aaron?"
"Aaron? apa mama tau sesuatu?" tanya Marcel terkejut.
"Katakan semuanya dengan jujur, Marcel. Jangan membuat mama menyalahkan orang lain atas masalah ini," sentak Sharaa.
"Sudahlah, Ma. Biarkan aku menyelesaikan masalah ini dengan caraku, aku akan menghancurkan Aaron sampai ia menyerahkan Hayley padaku."
"Marcel, jangan egois. Dia istri orang, Marcel!" bentak Sharaa.
"Aku tau, Ma. Aku akan mendapatkan apapun yang aku inginkan, Hayley hanya milikku."
"Sekarang mama tanya, apa kamu mencintai Hayley?" tanya Sharaa, namun Marcel bergeming, laki-laki itu hanya diam membisu.
__ADS_1
"Sudah mama duga. Hayley hanya bayang-bayang atas cinta masa lalu mu, kamu sama sekali nggak ada rasa sama dia, kan?"
"Jawab, Marcel!" bentaknya.
"Lupakan, Anne. Kamu harus melanjutkan hidup, sampai kapan kamu akan hidup seperti ini, Nak. Jangan membuat mama sedih, hanya kamu satu-satunya harapan mama. Kamu adalah segalanya bagi mama. Tolong ... jangan seperti ini, Nak." Sharaa tidak lagi bisa menahan sesak dadanya, ia menangis tersedu di hadapan sang putra.
"Ma, buka maksudku seperti ini."
"Lalu, bagaimana, Marcel? katakan pada mama, jangan seperti ini."
Lagi-lagi Marcel bergeming, ia tak mampu menjelaskan apa yang sedang ada dalam hatinya. Cintanya memang sama sama seperti dulu, hanya Anne di hatinya. Namun kehadiran Hayley dengan wajah yang sangat mirip dengan Anne, membuatnya semakin tergila-gila.
Melihat putranya hanya diam tak mau menjelaskan, Sharaa memilih untuk meninggalkan Marcel dan masuk ke dalam kamarnya.
Sharaa masih mengingat betul kejadian meninggalnya Anne dan bagaimana putranya putus asa karena rasa kehilangan itu. Namun apapun yang terjadi, ia tidak akan membenarkan perilaku sang putra yang sudah tidak lagi bisa di toleransi.
Menghubungi orang kepercayaannya, Sharaa mengambil alih sementara hak penuh atas kepemimpinan PT.M-ral. Dia mencari tau semua tentang apa yang sudah Marcel perbuat selama ini, perusahaan besar itu adalah milik keluarga, warisan besar dari papa Marcel yang meninggal beberapa tahun silam. Sharaa tidak akan membiarkan anaknya bertindak semakin gila.
🖤🖤🖤
"Apa-apapn ini!" pekik Marcel keras.
"Maafkan saya, Tuan. Nyonya besar yang sudah mengatur semuanya, saya tidak bisa berbuat apa-apa," kata sekretaris Marcel.
"Ah, mama."
Dengan derap langkah cepat, Marcel meninggalkan ruangannya berniat kembali pulang, namun tiba-tiba Sharaa sudah berada di depan kantor.
"Mama, ya Tuhan. Apa yang mama lakukan?" tanya Marcel resah.
"Mama melakukan yang seharusnya, Nak. Ikut mama," ajak Sharaa, ia menggandeng sang anak masuk ke dalam mobil, seorang sopir langsung melajukannya menuju suatu tempat.
"Kita mau ke mana?" tanya Marcel.
__ADS_1
"Melupakan semua hal hang telah usai, mama akan mengakhiri penderitaan batin mu," jawab Sharaa penuh teka teki, membuat Marcel bingung tak mengerti.
Setelah lima belas menit perjalanan, mereka sampai di sebuah lahan kosong yang terletak tidak jauh dari perumahan yang mereka tinggali.
"Mau apa kita kesini, Ma?" Lagi-lagi Marcel tidak mengerti, ia melihat beberapa orang berbadan besar berdiri di dekatnya, yang ia tau, mereka adalah orang kepercayaan papanya dulu.
"Lihat api itu," ucap Sharaa sambil menunjuk kobaran api yang cukup besar dengan gumpalan asap yang mengepul.
"Apa yang sudah mama lakukan? apa yang mama bakar?" tanya Marcel.
"Lihatlah sendiri, kamu akan tau."
Perlahan, Marcel mendekati api yang hampir padam, abu-abu berterbangan seperti sesuatu yang berbahan kertas yang terbakar.
Seketika, Marcel terbelalak tatkala tau apa yang sedang terbakar di hadapannya. Tubuhnya lunglai, ia terduduk lemas sambil menahan dadanya yang memanas.
"Mama, kenapa tega sekali," gumam Marcel pelan, ia tidak menyangka jika Sharaa membakar semua foto-foto Anne dan semua lukisan tentang gadis itu.
"Mama ingin kamu hidup normal, Nak. Lupakan Anne, dia sudah tiada, kamu boleh mengenangnya sebagai cinta pertama, tapi jangan membuat hidupmu menjadi hancur karena luka itu. Lupakan, Nak. Demi mama," ujar Sharaa sendu, wanita paruh baya itu duduk di samping anaknya, ia memeluk Marcel yang mulai meneteskan air mata.
"Mengangislah, tangisi dia saat ini. Tapi kamu harus janji sama mama, ini adalah yang terakhir, tumpahkan semua kesedihan dan rasa sakit mu. Banyak orang pernah merasakan kehilangan, mereka kuat, mereka ikhlas. Karena dengan mengikhlaskan, maka semua akan berjalan lebih mudah."
"Sudahi semua ini, Nak. Mama yakin, kamu bisa. Banyak wanita baik di luaran sana, kamu bisa mendapatkan salah satunya, asal jangan merebut hak orang lain."
Sharaa ikut menangis di samping anaknya. Karena Marcel pernah mengalami suatu penyakit depresi berat dan gangguan kejiwaan karena Anne, maka Sharaa berusaha untuk tidak memaksa.
Perlahan, Sharaa meminta Marcel bangkit dari duduknya, ia menggandeng putranya masuk ke dalam mobil, Sharaa tau, caranya memang terlalu menyakitkan, tapi ini semua demi Marcel, sudah cukup 5 tahun lebih ia menghabiskan harinya dengan rasa sakit dari kehilangan, sudah cukup. Kini saatnya Marcel menjalani hidupnya untuk maju.
Setelah terbakarnya semua tentang Anne, Marcel lebih sering merenung sendirian di kamarnya, ia mencoba menguatkan hatinya tentang kenyataan yang sudah ia hindari selama bertahun-tahun.
Satu permintaan terakhir Marcel, ia mengajak Sharaa untuk terbang ke Pakistan, mengunjungi makam Anne untuk yang terakhir kalinya. Setelah ini, Marcel berjanji, akan memulai kehidupan barunya dengan lebih baik.
🖤🖤🖤
__ADS_1