
Kedatangan Marcel tiba-tiba dengan ancamannya, tidak membuat Aaron merasa lemah sedikitpun. Semakin kuat Marcel berusaha merebut Hayley darinya, semakin bersemangat pula Aaron untuk mempertahankannya.
"Bagaimana ini, Aaron. Sudah gila si Marcel," keluh Alex kesal. "Apa dia benar-benar nggak waras, merebut istri orang? sudah punah kah gadis di muka bumi ini?"
"Menurutmu, kita harus bagaimana?"
"Entahlah, dia punya kekuasaan, dia menindas kita dengan mudah. Lalu, bagaimana kita mengalahkannya?"
"Aku akan menemui tuan John," ujar Aaron.
"Tuan John si pengundang pesta beberapa waktu lalu?" tanya Alex. "Bukannya dia masih kerabat Marcel?"
"Benar. Aku bisa meminta sedikit bantuan padanya. Sangat memalukan jika keponakannya sendiri menjadi pecundang perebut istri orang. Semoga tuan John akan paham."
"Sepertinya rencana bagus. Aku setuju."
Bernafas berat, Aaron dan Alex duduk di sofa menyandarkan kepala. Mereka saling bertukar pandang dan berpikir dalam diam.
"Ah, untungnya si Hayley bawain kita bekal sarapan. Kalau nggak, bisa-bisa si Marcel itu yang ku makan!" Alex kembali mengoceh.
Mereka berdua membuka bekal makanan masing-masing dan makan dengan lahap, setidaknya, menahan amarah juga membutuhkan asupan karbohidrat yang tinggi.
Berbincang-bincang sambil menikmati potongan buah segar, Aaron dan Alex menyusun strategi.
Setelah semua perencanaan matang, Aaron langsung menghubungi tuan John dan meminta bertemu langsung, Aaron meluangkan waktu di sela-sela kerepotannya mengurus perusahaan yang amburadul demi mencari pertolongan.
Kali ini, Aaron tidak berdaya tanpa bantuan orang lain, Marcel bukanlah lawan yang mudah, laki-laki itu bisa menghancurkan segalanya hanya dengan satu jentikan jari.
Hari ini Alex bertugas untuk menemui beberapa investor baru untuk memulihkan finansial perusahaan dan membangkitkan beberapa anak cabang yang hampir lumpuh.
🖤🖤🖤
Meninggalkan kantor Aaron dengan geram, Marcel langsung menuju kantornya untuk menemui sang sekretaris.
__ADS_1
"Bagaimana perkembangannya?" tanya Marcel pada pemuda berusia dua puluhan yang baru bekerja untuk Marcel setahun terakhir.
"Kita hampir mendapatkannya 75 persen, Tuan."
"Bagus. Aku suka kerjamu, Wil," ucap Marcel tersenyum puas, ia merogoh sakunya dan mengeluarkan selembar foto.
"Ah, Anne. Aku begitu rindu. Andai saja kamu masih di sampingku, tentu aku tidak akan berbuat sejauh ini," gumam Marcel.
Cintanya pada Anne membuat laki-laki itu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Hayley, tidak peduli tentang milik siapa wanita itu.
Marcel pernah menjalani hidup di rumah sakit jiwa selama berbulan-bulan, berbagai jenis pengobatan sudah ia jalani demi bisa kembali normal. Namun nyatanya, kehadiran Hayley membuat luka kehilangan yang hampir menutup kini menganga lebar.
Marcel adalah laki-laki yang sangat baik, ia begitu mencintai keluarga dan orang-orang terdekatnya. Namun luka dan kehilangan membuatnya seperti bukan dirinya lagi, Marcel kehilangan jati dirinya.
Beberapa hari yang lalu, Marcel sempat mengamuk hebat di rumahnya, tepat di ruang kerjanya. Tidak tahu menahu soal apa yang membuat anaknya kembali mengalami halusinasi dan tekanan batin, Sharaa diam-diam sudah menghubungi dokter yang pernah menangani Marcel di Pakistan.
"Aku baik-baik saja, Ma. Hanya saja, aku merindukan Anne," ucap Marcel beralasan waktu itu.
🖤🖤🖤
Pukul 2 siang, Aaron mendatangi kantor tuan John untuk bertemu langsung dan membicarakan hal-hal penting tentang masalah yang sedang ia alami. Beruntung, tuan John menerimanya dengan baik.
"Saya sudah mendengar banyak hal tentang perusahaan mu, Mr. Aaron. Sungguh, saya ikut prihatin," ungkap tuan John.
"Banyak hal yang ingin saya sampaikan, Tuan. Bersediakah tuan meluangkan waktu untuk mendengar?" tanya Aaron.
"Tentu saja, Mr. Aaron. Saya juga tidak keberatan membantu jika ada yang di butuhkan," sanggup tuan John, membuat Aaron sedikit bernafas lega.
"Pertama, jatuhnya perusahaan saya adalah bermula dari maslah pribadi yang menyangkut keponakan tuan, Marcellus Gerald."
"Marcel? ada apa?" tanya tuan John tertarik.
"Dia, menginginkan istri saya, Tuan. Dia berharap saya menceraikan istri saya dan memberikannya padanya. Sungguh, istri saya bukanlah suatu benda atau barang yang bisa dengan begitu mudahnya di minta atau di tukar dengan harta," jelas Aaron, tuan John duduk dengan tenang sambil mendengarkan.
__ADS_1
"Istri saya, Hayley Marshall, memiliki kemiripan dan hampir sama persis dengan mantan tunangannya yang meninggal beberapa tahun lalu, keponakan anda sepertinya sangat terobsesi, hingga hilang akal sehatnya dan menghancurkan saya secara mutlak dengan melumpuhkan bisnis keluarga kami."
Tuan John mengangguk paham, laki-laki bertubuh tambun itu seperti sedang mencerna penjelasan Aaron dan memikirkan sesuatu.
"Saya tidak akan menyerah untuk mempertahankan istri saya, meskipun jika saya harus kehilangan PT. Conan Dream dan seluruh anak cabangnya, itu bukan masalah besar."
"Tapi, kondisi istri saya saat ini sedang hamil, saya berusaha untuk selalu ada di sampingnya. Namun apa mau di kata, perusahaan membutuhkan saya bekerja lebih keras lagi, tidak hanya istri saya yang menjadi tanggung jawab saya dan hidup bergantung pada perusahaan itu, keluarga besar saya juga membutuhkannya," jelas Aaron.
"Jika saya menceritakan suatu rahasia, bisakah anda menyimpannya?"
"Tentu saja, Tuan."
Tuan John akhirnya menceritakan semua riwayat penyakit dan gangguan kejiwaan yang pernah Marcel alami. Sedikit terkejut, Aaron tau, alasan kenapa Marcel bisa segila itu dalam bertindak.
"Jika saya boleh tau, saran apa yang akan anda berikan pada masalah saya kali ini?" tanya Aaron, kerja sama yang cukup lama dengan perusahaan milik tuan John membuat mereka sudah saling percaya dan saling kenal dekat.
"Saya akan membantu sebisa mungkin, Mr. Aaron. Jalan satu-satunya adalah dengan berbicara langsung dengan ibunya. Dengan kondisi kejiwaan Marcel yang pernah terganggu, saya yakin hanya ibunya lah yang mampu memecahkan masalah ini," papar tuan John. "Untuk sementara, saya akan meningkatkan jumlah penanaman saham untuk perusahaan anda, saya akan bergerak cepat sebelum Marcel benar-benar melumpuhkan semuanya."
Mengucapkan terimakasih berulang kali, Aaron cukup tenang karena dukungan demi dukungan mengalir untuknya.
Jika dia harus jatuh miskin saat ini juga, dia sama sekali tidak keberatan, namun yang sedang ia khawatirkan adalah istri dan calon buah hatinya, bisakah mereka hidup dalam kemiskinan dan penderitaan? tentu Aaron tidak akan membiarkan semua itu terjadi.
Masa depannya bersama Hayley dan calon buah hati mereka haruslah lebih baik. Aaron bertekad, ia akan mengabdikan seluruh hidupnya demi orang-orang yang ia cintai, melakukan segala cara agar mereka bahagia.
Pukul 3 sore, Aaron menepati janjinya, ia segera pulang untuk menemui Hayley, meninggalkan wanita itu selama beberapa jam saja, sudah membuat rindunya bergemuruh mendamba bertemu.
Di depan pintu utama kediaman Aaron, Hayley sudah berpakaian cantik menyambut kepulangan suaminya.
Bergumam lirih memuja kecantikan sang istri, Aaron sangat bahagia, wanita yang kini tersenyum manis kearahnya, adalah penyemangat hidupnya, penenang di saat gundah dan gelisah, Hayley adalah segalanya di hidupnya.
🖤🖤🖤
Bersambung ...
__ADS_1