
Mendengar ungkapan Alex, Melanie tidak bisa lagi menahan tangannya untuk memeluk laki-laki itu, ia memeluk sangat erat, ketakutan akan kematian terasa tidak ada bandingannya dari pada ketakutan akan kehilangan cintanya.
"Kamu benar-benar mencintaiku?" tanya Melanie.
"Apa usahaku mencarimu selama ini masih kurang menjadi bukti?" tanya Alex. "Lagipula kita masih mempunyai banyak keinginan yang belum terwujud, jadi aku datang untuk segera mewujudkannya bersama."
"Boleh aku tanya sesuatu?" Melanie melepaskan pelukannya, ia menatap lekat pada mata Alex, berharap pandangan itu mengisyaratkan kejujuran yang sesungguhnya.
"Tanyakan apa saja, aku punya banyak waktu untukmu."
"Kenapa tiba-tiba jatuh cinta padaku? apa ini karena aku sakit, aku sekarat. Jangan bilang kamu melakukan ini hanya karena mengasihaniku!"
"Melanie," ucap Alex serak, ia menggenggam kedua tangan gadisnya. "Kamu pernah mendengar sebuah lagu, yang berisi lirik 'Kalau sudah tiada, baru terasa, bahwa kehadirannya sungguh berharga'. Kamu tau lagu itu?" tanya Alex.
Melanie tersenyum, ia mengangguk lemah.
"Begitulah, aku merasakan cintaku tumbuh saat kamu pergi, aku benar-benar merasakan sakitnya kehilangan, aku hampa, aku kosong. Tanpamu, aku seperti bukan diriku."
"Aku harap, ini bukan mimpi," ujar Melanie.
"Tentu saja bukan. Lihat, aku nyata di depanmu. Dengarkan aku, mulai saat ini, kita akan menjalani hidup bersama, aku akan menemanimu berjuang sampai akhir. Aku berjanji, Mel."
"Terimakasih, Alex. Terimakasih."
Mereka berpelukan cukup lama, sampai akhirnya nyonya Gio datang membawa makanan untuk keduanya.
Alex dengan sabar menyuapi Melanie sampai gadis itu menghabiskan semangkok bubur ayam buatan mamanya, dan Alex juga menghabiskan jatahnya.
Melanie menceritakan tentang penyakit yang sudah ia derita bertahun-tahun lamanya, ia mencoba kuat, menjalani semua pengobatan dari yang tradisional hingga modern. Keluarganya sudah menghabiskan banyak biaya untuk pengobatannya, orang tua Melanie sama sekali tidak keberatan soal biaya, asal putri tunggal mereka bisa sembuh. Namun, sekeras apapun usaha mereka, itu hanya akan menunda kematiannya, tidak bisa untuk menyembuhkannya.
"Rambutku mulai rontok saat menjalani kemoterapi yang keempat kalinya. Awalnya hanya sedikit, lama-lama semakin banyak, dan itu membuatku malu sekaligus frustasi," jelas Melanie.
Semakin kesini, kondisinya tidak menunjukkan kemajuan. Kanker darah atau leukimia yang menyerang tubuh Melanie sudah mengalami metastatis, yang artinya, sel kanker yang sebelumnya hanya ada di darah, sumsum tulang dan kelenjar getah bening, kini menjalar ke organ tubuh lainnya. Dan dokter sudah mengatakan bahwa organ ginjal Melanie sudah mulai terserang.
Terkadang, Melanie merasakan nyeri terus menerus di sekujur tubuhnya, membuat tubuhnya lemas tidak bertenaga. Melanie juga sering mengalami memar tanpa sebab, mimisan, bahkan pembekuan darah abnormal, semua itu membuat Melanie harus terus menerus mengkonsumsi obat dan rutin melakukan kunjungan ke rumah sakit.
__ADS_1
Gadis itu begitu rapi menyembunyikan segala penderitaannya, ia tampak sangat menawan dengan make up tebal dan rambut bergelombang sepinggang yang senantiasa di gerai cantik. Namun semua itu hanya topeng, topeng yang menutupi segala kesakitannya.
"Aku nggak tau sampai kapan aku bisa bertahan. Aku mulai menyerah, Alex. Aku lelah," ucap Melanie sendu.
Meskipun sering kali Melanie memohon pada orang tuanya untuk berhenti membawanya berobat, namun tuan Gio dan istrinya tidak pernah menyerah, mereka akan membujuk dan melakukan apapun demi kesembuhan putri semata wayang mereka.
"Ada aku, jangan takut. Kita akan melewati semuanya bersama," ucap Alex.
"Kamu tau, apa yang lebih menakutkan dari pada kematian?" tanya Melanie, Alex hanya menatap penuh rasa penasaran.
"Kehilangan. Aku lebih takut akan kehilangan dari pada kematian. Jika mati, aku akan berhenti merasakan rasa sakit, aku nggak akan lagi menahan nyeri yang terus menerus menggerogoti tubuhku. Tapi, jika kahilangan, aku hidup, tapi seperti mati. Mungkin seluruh dari hatiku sudah di bawa pergi, jiwaku kosong, dan rasa kehilangan itu lebih menyakitkan dari pada kematian."
"Aku takut, kehilanganmu, Alex," lanjut Melanie.
Alex kembali memeluk Melanie, hari ini pertemuan mereka mengungkapkan banyak hal, banyak rahasia. Tentang cintanya, tentang derita cintanya, Alex menyadari bahwa dia juga memiliki ketakutan yang sama dengan Melanie, ia hampir gila saat Melanie pergi meninggalkannya begitu saja.
Setelah memeluk Melanie cukup lama, gadis itu terpejam, dan Alex membiarkannya tertidur sejenak.
"Aku berjanji, mulai saat ini, kita akan bersama. Apapun yang terjadi, aku akan menemanimu sampai akhir, jangan khawatir," batin Alex, ia meninggalkan Melanie di kamarnya.
Alex pun memaklumi, ia tidak masalah tentang sikap orang tua Melanie, karena itu juga demi kebaikan putri mereka. Namun ia harus berterimakasih pada Hayley dan Aaron, karena merekalah yang memberi semangat dan dukungan hingga ia bisa menemukan Melanie saat ini.
"Bolehkah saya menemani Melanie?" tanya Alex.
"Tentu saja, Alex. Kami justru sangat senang jika kamu bersedia membantu kami menjaga Melanie. Lalu, bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya tuan Gio.
"Bukan masalah, Tuan. Saya akan bicara pada Aaron. Saat ini, Melanie adalah prioritas."
"Kamu yakin?"
"Tentu saja."
"Baik, dimana mobilmu?"
"Saya titipkan di perkampungan dekat sini."
__ADS_1
"Sopir akan mengantarmu, ambil mobilmu dan kembalilah kesini," ucap tuan Gio.
"Kamu bisa tinggal disini, selama yang kamu mau, kami tidak akan keberatan," sela istrinya.
"Saya bisa ambil mobil saya dengan jalan kaki, Tuan. Terimakasih," ujar Alex.
"Jangan panggil begitu, saya ini adalah orang tua dari gadis yang kamu cintai, panggil saya paman."
"Baik, Paman." Kemudian Alex berpamitan, ia harus mengambil mobilnya dan memberi kabar pada Aaron dan Hayley tentang ini, mereka pasti sangat khawatir tentang keadaannya dan Melanie.
🖤🖤🖤
Di rumah, Hayley sedang menikmati jus buah kesukaannya, ia duduk di tepi kolam renang sambil mendengarkan musik. Hari ini Aaron bekerja dan pulang lebih sore, semenjak Alex mengambil cuti panjang, Aaron lebih sibuk dari biasanya.
Hayley begitu senang saat Alex menelponnya, bagi Hayley, Alex adalah bagian dari keluarga, apapun yang terjadi pada laki-laki berambut silver itu, ia akan turut merasakannya.
"Hai, Sayang!" Hayley menyapa Aaron melalui telepon.
"Ah, Sweetherat. Ada apa? kamu baik-baik saja?" tanya Aaron. "Kamu terdengar sangat senang."
"Tentu saja. Apa Alex menelpon?" tanya Hayley.
"Belum, ada apa?"
"Dia menemukan Melanie, Sayang. Akhirnya ...."
"Apa? dia punya kabar baik dan lebih memilih untuk memberitahu iparnya lebih dulu dari pada aku? dasar nakal!" ujar Aaron.
"Jangan marah, dia berjanji akan menelponmu, Sayang. Mungkin sekarang dia masih sibuk."
"Tapi dia sempat menelponmu lebih dulu, Sweety. "
Meskipun cukup kesal karena Alex tidak menelponnya lebih dulu, Aaron sudah lega, ia senang karena akhirnya Alex menemukan cintanya. Sangat sulit menakhlukkan kerasnya hati sepupunya itu, dan Melanie mampu mendapatkannya.
🖤🖤🖤
__ADS_1