
Alex berada di sebuah warung makan yang terletak di dekat rumah sakit, ia terus menatap layar ponselnya yang mati.
"Ah, baterainya habis pula!" gumam Alex.
Setelah pesanan makan malam siap, Alex membawanya kembali ke rumah sakit, ia langsung menuju kamar tempat Nora di rawat.
"Terimakasih, Alex. Kamu baik," puji Nora.
"Ini semua sebagai permintaan maafku karena sudah mencelakaimu. Jangan berpikir yang bukan-bukan," seru Alex.
Nora adalah gadis jelita berkulit putih dengan tinggi badan yang tidak seberapa, ia menjalani hidupnya penuh dengan duka, menjadi yatim piatu selama lebih dari dua tahun membuat hidupnya semakin berantakan, apalagi pendidikan rendah yang dia miliki membuatnya sulit mendapatkan pekerjaan di kota sebesar ini.
"Besok kamu sudah boleh pulang. Di mana aku harus mengantarmu?" tanya Alex, ia lalu mencharger ponselnya di dekat ranjang Nora.
"Aku akan cari kos-kosan baru," jawab Nora.
"Di mana?"
"Nggak tau."
"Apa hanya sekedar mencari tempat tinggal aja sulit bagimu?"
"Hmm, aku berbeda denganmu, Tuan Alex. Aku nggak punya apa-apa."
"Ah, baik. Akan ku pikirkan nanti," ucap Alex. "Oh ya, Nora. Apa kamu pernah merasa ada sesuatu yang benar-benar penting, lalu kamu lupa?"
"Ada apa?" tanya Nora bingung.
"Berulang kali aku mengingat, nggak bisa. Sepertinya aku lupa sesuatu yang penting," jelas Alex.
"Benarkah? apakah kamu ada janji dengan ayah, ibu, sahabat, atau ... pacar?" tanya Nora.
"Pacar? Oh my god! Melanie!" teriak Alex, ia menyambar kunci mobil yang ia letakkan di atas meja dan berlari pergi meninggalkan ruangan Nora.
Nora hanya melihat dengan rasa penasaran tinggi, laki-laki baik berambut silver itu sangat berbeda dengan semua laki-laki yang pernah ia temui.
Alex mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju restoran tempat ia membuat janji dengan Melanie, secepat mungkin ia berusaha agar segera sampai.
__ADS_1
"Bagaimana bisa aku lupa! ya Tuhan, Melanie pasti sudah menunggu," gumam Alex.
Setelah sampai di depan restoran, Alex turun dengan tergesa-gesa, ia melirik jam di pergelangan tangannya, sudah hampir menunjukkan pukul setengah sepuluh malam
Alex mengedarkan pandangan menyisir semua pengunjung, namun dirinya tidak mendapati Melanie ada di sana.
Sialnya, ia juga meninggalkan ponselnya di ruangan Nora. Alex mondar mandir, mencari sosok Melanie hampir di semua sudut ruangan.
"Mas, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pelayan resto.
"Ah, iya. Apa tadi ada pengunjung wanita berambut sebahu lebih panjang sedikit?" tanya Alex.
"Apa ada fotonya? soalnya pengunjung dari sore sudah sangat banyak," ucap pelayan tersebut.
"Ponselku ketinggalan. Biasanya dia pesan ruang VIP di sini."
"Kalau boleh tau, siapa namanya?"
"Melanie Rendra."
"Oh, Melanie Rendra. Benar, Mas. Tadi memang datang pukul 7, sudah pulang 10 menit yang lalu."
"Tapi, wanita itu menitipkan sesuatu, Mas. Tunggu sebentar," ucap pelayan itu lalu pergi meninggalkan Alex.
Mengutuk kebodohannya sendiri, Alex resah, tidak biasanya ia lupa dengan setiap janjinya. Apalagi akhir-akhir ini sikap Melanie berubah dan sedikit menghindar darinya, pasti karena masalah ini, semuanya akan bertambah kacau.
Beberapa saat kemudian, pelayan itu kembali dengan membawa secarik surat.
"Hah, surat?" tanya Alex.
"Tadi, wanita itu menitipkan ini. Kalau tidak salah, untuk Alex, betul?"
"Ya. Aku Alex, terimakasih banyak," ucap Alex, lalu pergi keluar dari resto dan kembali masuk ke mobilnya.
Andai saja sekarang ia membawa ponsel, ia pasti akan menanyakan keberadaan Melanie dan menyusulnya, namun sialnya, ia tidak membawa apa-apa.
Surat yang tadi ia terima, ia lipat kembali sebelum membaca, ia harus segera kembali ke rumah sakit untuk mengambil ponselnya.
__ADS_1
Sampai di rumah sakit, Alex langsung menuju ruang rawat Nora.
"Kok cepat?" tanya Nora.
Tidak memperdulikan pertanyaan Nora, Alex langsung mengambil ponselnya dan mengaktifkannya. Beberapa menit menunggu, ternyata Melanie sama sekali tidak mengirim pesan padanya.
"Nggak biasanya dia gini," gumam Alex.
"Aku harus pulang, besok aku akan datang lagi," pamit Alex pada Nora.
Alex berlalu pergi meninggalkan rumah sakit, beberapa kali ia mencoba menghubungi Melanie dan mengirim pesan, namun semuanya gagal.
"Ya Tuhan, dia kenapa, sih!" gerutu Alex mulai putus asa, ia memacu mobilnya cepat untuk pulang.
🖤🖤🖤
Setelah lelah dengan masalahnya seharian, Alex merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia melamun sejenak, memikirkan sikapnya yang mungkin keterlaluan pada Friska, mamanya.
Memalingkan wajah di dinding dekat lemari, Alex mendesah resah. Foto dirinya saat masih kecil bersama orang tuanya masih terpajang rapi di sana. Dulu, setiap harinya dia selalu bermimpi ingin bertemu, namun setelah tau dirinya tidak di inginkan, Alex memilih untuk mengeraskan hatinya agar tidak lagi memiliki perasaan rindu yang sia-sia.
Rindu yang tak terbalas itu menyakitkan, apalagi jika orang yang di rindukan sama sekali tidak mengingat bahwa kita pernah ada. Begitulah yang Alex rasakan.
"Jika saja mama datang beberapa tahun lebih awal, mungkin aku masih bisa menerima mama, mungkin aku masih baik-baik saja dan bisa di perbaiki, " gumam Alex.
Sepertinya, Alex berpikir bahwa tumbuhnya dirinya sebagai laki-laki yang berhati batu dan tidak mengenal cinta ini, adalah perasaan sakit hati karena dirinya di tinggalkan tanpa kasih sayang. Alex menganggap semua ini adalah kesalahan dari Friska, Friska yang membuatnya menjadi Alex yang seperti ini.
Lamunannya terhenti saat mengingat surat yang ia terima dari pelayan resto belum sempat ia baca. Berjalan malas menuju keranjang baju kotor, Alex merogoh saku jasnya dan mengambil secarik kertas.
Alex, terimakasih untuk waktu terbaikmu selama ini. Sungguh, Aku bahagia pernah dekat dan mengenalmu lebih jauh. Namun sekarang, semuanya sudah berakhir.
Alex, ada yang harus kamu tau. Ketika ada yang datang, pasti suatu saat pergi, setiap ada pertemuan, pasti suatu saat akan ada perpisahan, ketika ada yang lewat, pasti akan berlalu, ketika ada yang hidup, pasti suatu saat akan mati.
Aku berniat mengajakmu makan malam karena ingin mengucapkan salam perpisahan. Aku akan pergi, mungkin beberapa waktu, atau mungkin selamanya.
Bagaimanapun dirimu, aku menyukaimu. Aku menyukaimu bukan sebatas apa yang kita lakukan saat malam, tapi rasa sukaku lebih dari yang terlihat. Apa kamu merasakannya? Tidak!
Aku rasa kamu terlalu mengeraskan hatimu. Berubahlah, bukankah setiap orang pasti berubah?
__ADS_1
Temukan wanita yang mampu merubah dirimu menjadi Alex yang lebih baik. Yang pasti, itu jelas bukan aku.
Tertanda, Melanie.