Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Alergi dingin


__ADS_3

Siang ini Hayley menemani Aaron untuk menemui salah seorang rekan kerja yang akan memberikan investasi besar di perusahaan Aaron.


"Kamu sudah pernah bertemu orangnya?" tanya Hayley.


"Belum, tapi ... aku merasa namanya nggak asing lagi di telingaku," jawab Aaron sambil membereskan kertas-kertas yang bertebaran di mejanya.


Setelah semua yang akan mereka bawa sudah siap, Aaron dan Hayley segera turun dari ruangan menuju tempat parkir.


Cuaca mendung dengan angin yang bertiup kencang membuat Hayley mengusap lengan telanjangnya berkali-kali, pasalnya hari ini dia memakai kemeja berwarna putih lengan pendek dengan rok span di atas lutut berwarna merah.


"Kamu, dingin?" tanya Aaron.


"Sedikit."


Aaron melepas jasnya dan memakaikannya di tubuh Hayley, gadis itu menghela nafas panjang, ia merasa kehangatan tidak hanya memenuhi tubuhnya, melainkan masuk ke dalam hatinya.


Selama perjalanan hujan turun dengan sangat deras sampai di tempat yang mereka tuju, yaitu kantor PT. Antariksa Han


Sepanjang perjalanan Hayley terus bersin-bersin, alergi dingin yang dia derita sejak kecil membuatnya lebih tersiksa ketika musim hujan tiba.


"Kamu nggak papa?" tanya Aaron.


"Nggak, kok."


"Kalau nggak enak badan, sebaiknya kita batalkan saja pertemuan ini, aku antar ke rumah sakit, ya?" tawar Aaron, ia meletakkan telapak tangannya di kening Hayley.


"Nggak usah. Aku alergi dingin, jadi sedikit sensitif di musim hujan," tolak Hayley.


Setelah membantu Hayley memakai jas miliknya dengan benar, Aaron segera membuka pintu mobil untuk Hayley, laki-laki itu menggunakan kedua tangannya untuk memayungi kepala Hayley agar tidak terkena hujan.


Setelah sampai di lobi kantor, Aaron membersihkan rambut Hayley dari cipratan air hujan menggunakan tisu. Laki-laki itu sangat memperhatikan Hayley, ia dengan lembut mengusap wajah Hayley yang semakin pucat.


"Kamu nggak sehat, Hay. Balik aja, kita ke rumah sakit!" ajak Aaron, ia menarik lengan Hayley.


"Sudah sampai sini, Mr. Ice. Pasti orang itu sudah menunggu."


"Tapi ... kamu sakit," ujar Aaron.


"Jangan khawatirkan aku, Mr. Ice. Kita akan ke rumah sakit kalau urusan di sini sudah beres."


"Hmm, ya sudah kalau itu mau mu." Akhirnya Aaron mengalah dan tetap menemui pimpinan perusahaan ini.


Seorang penjaga langsung mengantarkan mereka menuju ruangan utama presiden direktur.

__ADS_1


"Silahkan masuk, Mr. Aaron," sapa laki-laki berumur setengah abad lebih dengan uban putih yang sudah memenuhi kepalanya, ia mempersilahkan kedua tamunya duduk di sofa panjang.


"Terimakasih, Tuan Bara. Saya sangat beruntung bisa bertemu tuan langsung di tempat ini," ucap Aaron basa-basi.


Tatapan Tuan Bara tertuju pada Hayley yang berusaha tersenyum manis dengan wajah yang pucat.


"Apa dia asisten anda?" tanya tuan Bara.


"Ah, perkenalkan, Tuan. Dia Hayley, istri saya sekaligus asisten yang membantu pekerjaan saya," ucap Aaron sambil mendekatkan Hayley ke sampingnya, ia memeluk pundak gadis itu.


Tidak hanya tuan Bara, Hayley pun sangat terkejut dengan pengakuan yang di berikan Aaron tentang statusnya saat ini. Sampai usia pernikahan mereka menginjak 6 bulan, baru kali ini Aaron mengakui dirinya sebagai istri di depan rekan bisnisnya, padahal mereka sudah sering melakukan pertemuan dengan orang-orang besar lainnya, namun Aaron hanya mengaku jika Hayley adalah asisten pribadi saja.


Hayley menyikut lengan Aaron pelan, ia berusaha menyadarkan tentang apa yang baru saja laki-laki itu sampaikan.


"Ada apa?" bisik Aaron sambil menunduk, karena tinggi badan Hayley hanya sepundaknya.


"Kenapa bilang kalau aku ini istrimu?" tanya Hayley di dekat telinga Aaron.


"Memang benar begitu, memangnya kenapa?" tanya balik Aaron, ia seperti sudah sangat yakin jika pengakuannya tidak salah.


"Hah!" mendengkus sebal, Hayley tetap berusaha bersikap biasa, sedangkan tuan Bara memperhatikan sikap keduanya yang saling berbisik, terlihat lucu.


"Kamu sepertinya terlihat kurang sehat, Nona," ujar tuan Bara.


"Hmm, kalian terlihat sangat serasi. Sayang sekali, saya hanya mendengar kabar pernikahan kalian tanpa undangan," ujar tuan Bara dengan tersenyum.


Aaron hanya menimpalinya dengan sedikit tersenyum sopan lalu membahas kerja sama yang akan mereka jalani.


Di tengah pembicaraan mereka, seorang pelayan mengantarkan minuman hangat yang di pesan tuan Bara untuk Hayley.


"Minumlah, ini akan menghangatkan tubuhmu," ujar Aaron, ia menyodorkan secangkir green tea ke dekat bibir Hayley, gadis itu menurut lalu menyeruputnya pelan.


Tuan Bara hanya mengamati dalam diam keromantisan dua sejoli yang ada di hadapannya.


"Apa kamu masih ingat dengan putriku, Mr. Aaron?" tanya tuan Bara.


"Apa aku mengenalnya?" Aaron mengernyitkan kening, berusaha mengingat sesuatu yang sekejap melintas di kepalanya. "Tunggu, apakah tuan ini ayah dari Barbara Anastasia?" tanya Aaron.


"Hah, betul. Syukurlah kamu masih ingat, Barbara sangat mengidolakanmu, Mr. Aaron," ujar tuan Bara berseru senang.


"Ah, Tuan. Jangan berlebihan, kami memang teman lama, dia teman yang baik," ungkap Aaron.


Setelah pertemuan dan pembahasan kerja sama yang hampir memakan waktu 3 jam, Aaron langsung mengajak Hayley pulang dan memanggil dokter kenalannya.

__ADS_1


"Aku nggak papa, Mr. Ice," keluh Hayley, ia merasa Aaron terlalu berlebihan dengan dirinya. "Lagipula aku sudah terbiasa kalau cuaca hujan gini," imbuhnya.


"Terbiasa sakit maksudmu?" tanya Aaron. "Lihat, wajahmu sangat pucat, badanmu merah-merah," ujar Aaron sambil menunjuk bercak kemerahan di lengan Hayley.


Tidak ada pilihan lain bagi Hayley selain menuruti apa yang Aaron inginkan, ia tidak menyangka jika Aaron akan sekhawatir itu padanya.


Aaron sendiri merasa ada yang aneh dengan dirinya, melihat wajah Hayley yang pucat dengan banyak bercak merah di sekitar tubuhnya, ia merasa ada yang mengusik hatinya.


Seorang dokter muda datang tergesa-gesa memasuki kediaman Aaron dan langsung di sambut oleh Laksmi yang akan mengantarnya menuju kamar Hayley.


"Andrew, ini istriku," ungkap Aaron. "Dia alergi dingin."


"Apa alergi ini sering kambuh?" tanya Andrew.


"Tidak terlalu sering, hanya saat awal-awal musim hujan dan di waktu-waktu tertentu dengan suhu dingin ekstrim," jawab Hayley.


Setelah pemeriksaan selesai, dokter meresepkan obat antihistamin untuk mengurangi rasa gatal dan bercak merah yang mulai menyebar di tubuh Hayley.


"Sementara hindari dulu mandi air biasa, usahakan mandi dengan air hangat, atau berendam pun di anjurkan. jangan makan dan minum dingin," nasehat dokter.


"Dengar kata dokter, Hay!" Aaron mengingatkan.


"Iya-iya!" ujar Hayley.


Andrew adalah teman sekolah sekaligus dokter yang Aaron percaya untuk mengurus dirinya dan Alex saat sedang kurang sehat, dia juga datang di pesta pernikahan Aaron dan Hayley waktu itu.


"Apa istrimu sedang hamil?" tanya Andrew.


"Hamil?" Aaron dan Hayley berucap berbarengan.


"E ... enggak, Dok," jawab Hayley.


"Baiklah, kalau nggak hamil bisa minum obat itu 3 kali sehari saat kambuh, dan bisa di pakai untuk jaga-jaga sebelum kambuh," jelas Andrew. "Tapi, dosisnya harus di kurangi kalau kamu sudah hamil, Nona."


Aaron hanya menelan ludah mendengar penjelasan Andrew.


"Jangankan menghamiliku, menyentuhku saja aku akan menuntut ganti rugi," batin Hayley.


Setelah kepergian dokter, Aaron langsung meminta pelayan untuk membuat sup hangat dan macam-macam minuman herbal yang bisa membantu Hayley menghangatkan tubuhnya.


🖤🖤🖤


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2