
Di sebuah hotel biasa, seorang wanita sedang berteriak histeris, memaki, dan melempar banyak barang ke sembarang arah.
Kali ini dirinya merasa sangat gagal, satu-satunya kesempatan yang ia miliki sudah hancur. Bagaimana tidak, rencana yang sudah ia susun dengan matang tiba-tiba hancur begitu saja.
Kathrine, dirinya sudah membayar tip cukup banyak kepada seorang pelayan yang bertugas di acara pesta ulangtahun Barbara. Wanita itu sudah menyiapkan 2 minuman khusus untuk mangsanya.
Dalam rencananya, ia menaruh obat yang ia khususkan untuk Hayley, obat yang bisa membuat istri bayaran Aaron itu seketika sakit perut karena pencernaannya terganggu. Dan, ia membuat satu ramuan khusus untuk Aaron, alkohol yang di campur obat perangsang dosis tinggi, setidaknya ia berpikir dirinya bisa mendobrak pertahanan Aaron.
Namun apa bisa di kata, rencananya gagal saat Hayley menumpahkan minuman khusus untuknya, dan gadis itu malah merebut paksa minuman berisi obat perangsang di tangan Aaron.
"Sial, sial, sial!" Teriakan Kathrine terus menggema di kamarnya yang tidak terlalu besar.
Keuangan yang lemah dan posisinya yang kini menjadi pengangguran, membuat wanita itu rela datang ke Indonesia dengan uang pas-pasan demi kembali merebut hati Aaron.
Semalaman suntuk, ia tidak bisa terpejam, membayangkan laki-laki pujaannya kini menikmati malam yang panjang bersama seorang gadis yang sedang di landa keinginan besar kebutuhan gairahnya.
Sampai siang ini, ia masih mencerca dan menyesali kegagalan rencananya.
Tok ... Tok ... Tok ....
Suara pintu kamar di ketuk, membuat Kathrine menghentikan sejenak sumpah serapahnya, ia berjalan gusar membuka pintu, tanpa memperdulikan wajahnya yang kusut dengan mascara dan eyeliner yang berantakan.
"Hai!" sapa seseorang dengan tersenyum mengejek memperlihatkan semua barisan giginya yang rapi.
"Mau apa kamu kesini? hah?" teriak Kathrine. "Dasar, Buaya!"
"Wow ... santai, santai," ujar laki-laki berambut silver di hadapannya, ia mendorong Kathrine dan memaksa masuk ke dalam kamar yang sudah hampir mirip seperti kapal pecah.
"Pergi! atau aku akan panggil keamanan," ancam Kathrine murka.
"Silahkan, aku lebih berkuasa," tantang Alex. "Apa semalaman kau mengamuk? membuat kamar ini seperti baru saja di hantam badai?"
"Diam!" sentak Kathrine.
"Oh ya, aku hanya datang untuk berterimakasih," ungkap Alex tenang, ia duduk di sofa bundar di depan Kathrine.
"Berterimakasih?" tanya Kathrine bingung, ia sama sekali tidak paham dengan apa yang Alex katakan.
__ADS_1
"Ah, ya. Berkat kebodohanmu semalam, akhirnya usahaku untuk menyatukan Aaron dan Hayley berhasil," jelas Alex sambil tersenyum sinis.
"What?" pekik Kathrine dengan mulut menganga lebar, ia tau ini yang akan terjadi.
"Hmm, terimakasih, Kath. Kamu memang wanita licik yang ... bodoh!" desis Alex.
"Pergi! pergi!" teriak Kathrine histeris, ia terduduk di lantai sambil menjambak rambutnya sendiri, menggelengkan kepalanya dengan cepat sambil menjerit.
"Nggak perlu repot-repot mengusirku. Aku hanya berniat memberikan imbalan sebagai rasa terimakasih ku," ungkap Alex, ia lalu mengeluarkan amplop coklat dari dalam sakunya.
"Pakai uang ini untuk melunasi semua hutang-hutangmu yang masih tersisa. Pergi sejauh mungkin dari hidup Aaron dan Hayley, kalau kamu masih berani menyebut nama mereka, aku pastikan kau akan menyesal," ujar Alex. "Aku sudah berbaik hati, tapi hanya untuk kali ini, sebagai rasa terimakasih."
"Jangan sok kamu, Alex," berang Kathrine.
"Nggak usah basa-basi, wanita murahan sepertimu pasti sangat butuh uang ini. Jangan sok jual mahal, karena kamu itu udah nggak ada harganya."
Apa yang Alex katakan tentang Kathrine memang benar, wanita itu kini sudah tidak lebih dari sampah, sampah masyarakat tentunya. Selain caranya yang salah dalam meraih kesuksesan, wanita itu juga sudah menjadi perusak rumah tangga orang lain bahkan menjadi wanita simpanan.
Harga diri seorang wanita bukan di tentukan dari kecantikan luar dan bentuk fisiknya, melainkan dari perilaku dan hatinya.
"Aku beri waktu maksimal 24 jam, kau harus pergi sejauh mungkin dari negara ini. Semua orang sudah muak denganmu, jangan membuat aku menjadikan dirimu lebih parah dari ini," ancam Alex.
"Aku mohon, Alex. Aku masih mencintai Aaron," ujar Kathrine lemah, ia masih mengharapkan belas kasih dari laki-laki di depannya.
"Cinta ...." Alex meringis, menatap Kathrine sinis. "Penghianat sepertimu nggak pantas merasakan cinta."
Alex berdiri, merapikan jasnya lalu berniat keluar dari kamar pengap itu, namun dengan cepat Kathrine merangkak dan memeluk kaki Alex kuat.
"Aku mohon, Alex. Aku mohon ...." Menangis histeris, Alex tidak memperdulikan wanita yang bersimpuh di kakinya.
"Jauhkan tubuhmu yang menjijikkan itu dariku, Kath," sentak Alex. "Kau pantas mendapatkan semua ini atas apa yang sudah kau perbuat. Aaron sudah bahagia, dia akan mendapatkan cintanya kembali dari Hayley."
"Alex, aku mencintainya," ujar Kathrine mengeluh.
"Berhenti berbicara soal cinta." Alex dengan gerakan cepat menghentakkan kaki sambil mendorong Kathrine menjauh dari kakinya, lalu ia pergi meninggalkan wanita itu dengan setumpuk uang yang ia siapkan.
Alex memang sangat membenci Kathrine, ia mengutuk perbuatan jahat wanita itu. Namun Alex masih punya hati dan belas kasih, ia tidak akan membiarkan Kathrine menjalani kehidupan terlampau sulit. Dengan memberikan uang dan ancaman yang cukup, ia yakin jika Kathrine tidak akan lagi bermain-main dengannya ataupun Aaron.
__ADS_1
Menghembuskan nafas kasar, satu permasalahan besar sudah selesai. Alex kembali menyusun rencana, untuk segera membongkar rahasia besar yang Marcel miliki.
🖤🖤🖤
Di rumah Aaron, laki-laki itu membiarkan Hayley mengurung diri hampir seharian di kamar, ia hanya datang sesekali ke kamar Hayley untuk memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.
Hayley melewatkan makan siang, Laksmi sudah membawakan makan siang ke kamarnya, namun gadis itu sama sekali tidak menyentuh apapun hang ada di atas piring.
Saat makan malam, Aaron berinisiatif untuk mengantarkan sendiri makan malam milik Hayley, ia meminta pelayan untuk mempersiapkan makanan dengan 2 porsi untuk dirinya dan Hayley.
Tok ... Tok ... Tok ....
Mengetuk pintu pelan, Aaron tetap masuk ke dalam kamar Hayley tanpa di persilahkan, ia melihat gadis itu duduk di ranjangnya sambil bersandar.
"Ayo, kita makan bersama," ajak Aaron, laki-laki itu datang dengan pakaian santai, celana pendek selutut dan kaos putih polos yang melekat ketat memperlihatkan badannya yang kekar.
Hayley mendongak, menatap Aaron dengan nampan di tangannya.
"Mau makan lauk apa?" tanya Aaron, Hayley menggeleng lemah.
"Kamu harus makan, aku nggak mau kamu sakit," ujar Aaron, ia duduk di tepi kasur dan menatap Hayley dengan pandangan iba, gadis itu pasti menangis selama seharian penuh, bahkan matanya terlihat bengkak.
"Mr. Ice, boleh aku meminta satu hal darimu?" tanya Hayley sedikit ragu.
"Aku akan berikan apapun yang kamu minta, Hay. Apapun," ujar Aaron.
"Aku ... ingin, kita segera bercerai," ujar Hayley dengan bibir bergetar, ia tidak tau apakah keputusan yang dia ambil ini benar atau malah akan menambah masalah, namun yang dia inginkan hanya pergi menjauh dari Aaron.
Menatap bingung, Aaron berusaha menghadapi Hayley dengan tenang, ia tau jika keadaan gadis di depannya saat ini masih belum stabil, pikiran Hayley pasti sangat kacau dan terbebani, apalagi apa yang mereka lakukan semalam itu adalah sesuatu yang sangat pribadi.
Menghela nafas panjang, Aaron tidak ingin terburu-buru menanggapi permintaan Hayley, ia mengelus lembut rambut gadis di depannya.
🖤🖤🖤
Bersambung ....
Maaf teman-teman, kemarin libur satu hari. Author super sibuk dan nggak bisa pegang hp.
__ADS_1
Kalau kalian penasaran dan ada pertanyaan buat author, bisa gabung di GC, insya Allah Author akan balas satu-satu kok.
Tengkyu ❤️