
Setelah mobil sudah sampai di depan hotel, Kathrine enggan untuk keluar.
"Sayang, kamu nginep sini aja, ya," rengek Kathrine. Aaron menghela nafas panjang memperhatikan kekasihnya yang menarik lengan Aaron dengan manja.
"Maaf, Kath. Aku nggak bisa," jawab Aaron. "Kalau sampai ada yang tau tentang rumitnya hubungan ini bagaimana?"
"Sudahlah, Sayang. Lagipula nggak bakalan ada yang tau kalau kita nginep berdua, biar istri bayaranmu itu pulang sendiri, atau suruh supir jemput dia." Kathrine masih berusaha merayu.
"Oke, aku bisa pulang sendiri kok." Hayley merapikan gaunnya, ia sudah bersiap membuka pintu.
"Tunggu! Selangkah saja kamu keluar dari mobil ini, habislah riwayatmu, Hayley!" sergah Aaron.
Hayley bingung, ia masih tidak percaya dengan apa yang Aaron katakan, kenapa laki-laki itu bisa sangat terlihat buas, padahal Hayley tidak merasa melakukan kesalahan apapun, ia mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobil ini, dan memilih diam sebagai penonton drama yang terjadi di kursi depan.
"Kamu kenapa sih, Sayang. Biarin aja dia pergi," timpal Kathrine dengan geram, ia tidak menyangka jika Aaron lebih memihak Hayley.
"Bagaimanapun, status kami itu menikah secara sah di mata hukum, Kath. Jadi, tolong jangan mempersulit keadaan." Aaron menepis rangkulan Kathrine di lengannya. "Kau sendiri yang memintaku menikahi wanita lain, tapi kau juga harus tau resikonya, bagaimana reputasiku jika media tau aku mempermainkan pernikahan, tolong jaga rahasia ini dengan baik."
"Oke, oke! terus saja salahkan aku, apa yang aku lakukan ini juga demi dirimu, Aaron. Demi menyelamatkan hubungan kita."
"Salah, bukan demi aku, tapi demi karirmu yang tidak seberapa itu," bentak Aaron keras, membuat Hayley dan Kathrine terperanjat kaget.
Seketika wajah Kathrine berubah pias, ia tidak pernah melihat Aaron semarah ini padanya, meskipun dua kali ia menolak di lamar, Aaron hanya kecewa, ia tidak pernah membentaknya.
"Sayang ... aku, minta maaf," ujar Kathrine memelas.
"Sudahlah, Kath. Kamu istirahat saja, aku butuh waktu sendiri," usir Aaron.
"Kamu yakin nggak mau nginep sama aku?" rayu Kathrine sekali lagi.
"Cukup! pergilah, besok aku akan menemuimu," ujar Aaron, paling tidak kalimat ini yang akan membuat Kathrine segera keluar dari mobilnya.
"Baik, aku menunggumu, Sayang." Kathrine mengecup pipi kiri Aaron dengan mesra.
"Dan kau, istri bayaran, jangan sekali-kali menggoda ataupun menyentuh kekasihku. Ingat! kamu cuma bayaran!" ujar Kathrine sambil menoleh ke jok belakang mobil, berbicara pada Hayley dengan penuh penekanan.
__ADS_1
"Aku tau posisiku, jangan mengkhawatirkannya. Aku juga sangat tau diri," jawab Hayley santai, ia seperti sudah sangat pandai menguasai dirinya di hadapan Kathrine.
Mendengar jawaban Hayley yang sangat berani dan sikapnya yang sangat tenang, entah kenapa Kathrine merasa sangat kesal.
"Awas kau!" Kembali Kathrine memperingatkan sebelum ia benar-benar keluar dari mobil dan membanting pintunya dengan kasar.
Aaron tidak ingin memperpanjang masalah dengan ikut campur dalam percakapan singkat Kathrine dan Hayley, namun ia cukup heran karena Hayley bisa sangat santai menghadapi situasi yang merepotkan ini, bahkan ia dengan mudah membuat Kathrine kalah dalam pembicaraan.
Mobil melaju cepat kembali ke rumah Aaron, ia tetap diam dan fokus menatap jalanan, sesekali hanya melirik Hayley dari spion mobil yang ada di atas kepalanya.
Hayley masih tenggelam dalam pikirannya, dia tidak tau harus memulai pembicaraan dari mana ataupun menanyakan kesalahannya sampai membuat Aaron marah.
"Turun!" perintah Aaron datar saat mereka sampai di depan pintu utama rumah.
Aaron berjalan lebih dulu memasuki rumahnya, sedangkan Hayley mengikutinya dari belakang. Mereka tidak saling menyapa sampai keduanya masuk ke dalam kamarnya masing-masing.
🖤🖤🖤
Pukul 4 pagi, Hayley sudah selesai membersihkan diri. Dia sudah terbiasa bangun lebih awal karena ajaran ibunya dari kecil, anak gadis harus bangun pagi dan membantu pekerjaan rumah, begitu nasehat Andini.
Bingung dengan apa yang harus ia kerjakan di waktu yang sepagi ini, Hayley menuju dapur untuk menemui para pelayan yang sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing.
Bahkan sebelum matahari terbangun, seluruh pelayan dari petugas kebersihan, penata ruangan, koki, tukang kebun dan lain-lain, sudah bergelut dengan pekerjaan mereka.
"Bi, bolehkah aku membantu?" tanya Hayley sopan, ia memperhatikan Laksmi yang sedang sibuk memberi arahan pada para koki.
"Nggak usah, Non. Kok sudah bangun?" tanya Laksmi.
"Sudah, Bi. Aku mau bantuin masak, boleh?" pinta Hayley.
"Non Hayley istirahat aja, semua urusan masak akan di bereskan oleh koki," timpal Laksmi. "Lagipula kalau tuan tau nona membantu, kami bisa kena marah."
Hayley tidak kehabisan akal, ia berdalih bahwa dirinya sedang sangat ingin memasak sarapan khusus untuk suaminya, karena ini adalah hari keduanya menjadi nyonya di rumah ini.
Dengan berat hati, Laksmi menyetujui keinginan Hayley, ia mempersilahkan majikannya memasak dengan bantuan para koki.
__ADS_1
Hayley sangat cekatan dalam bidang memasak, karena dulu dia sering membantu Andini di rumah makan yang pernah Andini tempati bekerja, mereka adalah ibu dan anak yang punya hobi yang sama, yaitu memasak.
"Emm, pas, enak," ungkap Hayley saat masakannya sudah matang, ia kemudian meminta pelayan untuk menyusun semua menu di meja makan.
Waktu sudah menunjukkan jam 7 kurang, Hayley segera kembali ke kamarnya dan berganti pakaian, kemudian menuju meja makan.
Di meja makan, Aaron sudah duduk tenang di kursinya, namun ia masih sibuk menggeser layar ponsel yang ada di genggamannya.
"Dari mana?" sapa Aaron datar tanpa melihat Hayley.
"Dari ...."
"Cukup, aku nggak peduli." Belum sempat Hayley menjawab, Aaron sudah memotong kalimatnya.
"Orang ini kenapa, sih. Sakit apa ya," gerutu Hayley dalam hati, ia masih tidak mengerti kesalahan apa yang ia perbuat sampai Aaron semarah ini.
Jika memang karena ulahnya semalam yang pergi ke toilet dan tidak kembali, bukankah seharusnya Aaron senang karena ia tidak mengganggu kemesraannya dengan Kathrine, lalu kenapa Aaron marah? Hayley terus kepikiran.
Dari ruang tamu, terdengar suara langkah kaki setengah berlari.
"Hai, semua." Alex datang dan duduk di kursinya, tangannya langsung mengambil udang krispi asam manis yang tertata di piring porselen.
"Heh, nggak sopan! cuci tangan dulu!" tegur Hayley.
"Ngapain ngatur-ngatur, suka-suka lah," Alex melengos, ia tidak memperdulikan tatapan sengit Hayley.
"Cuci tanganmu, Alex. Kau baru saja menjamah wanita-wanita malammu, cepat cuci tangan!" Aaron akhirnya kembali bersuara.
"Ah, Aaron, cerewet banget!" gerutu Alex, namun ia tetap melangkahkan kakinya menuju wastafel, dan kembali dengan cepat.
"Eh, masakan apa nih, kayaknya kok enak." Alex kembali mengarahkan tangannya menuju udang yang di bumbu balado.
Hayley terperanjat, ia ingin menghentikan tangan Alex yang sangat tidak sopan mencicipi semua menu di meja makan, namun ia tidak ingin memperburuk keadaan, Aaron sedang marah padanya, jika ia dan Alex bertengkar, maka tidak akan ada yang membela dirinya.
🖤🖤🖤
__ADS_1
Bersambung ...