
Sore setelah menyelesaikan semua pekerjaan kantor, Alex menelpon Aaron sebentar untuk memberi kabar tentang naiknya saham bulan ini.
"Terimakasih, Alex. Kerjamu bagus!" puji Aaron.
"Jangan menyanjungku, Aku memang yang terbaik," seru Alex menyombongkan diri, namun memang begitulah, apa yang Alex sombongkan memang sesuai dengan dirinya.
Memacu mobil cepat menuju resto tempat ia akan bertemu Friska, perasaan Alex tidak karuan, selama bertahun-tahun, ia menyimpan banyak pertanyaan di benaknya.
Masuk ke dalam resto, Alex melihat seorang wanita paruh baya duduk menyilangkan kaki dengan gugup, tangannya menggenggam sebuah cangkir berisi kopi.
"Alex, terimakasih sudah datang, Nak," ucap Friska, ia menatap sang anak yang hanya berdiri mematung menatapnya.
"Duduklah, banyak yang ingin mama bicarakan."
"Aku nggak punya banyak waktu, aku ada janji dengan orang lain. Jadi, cepatlah," ucap Alex datar, ia duduk saling berhadapan dengan Friska.
"Kamu mau minum apa? Teh chamomile?" Friska menawari.
Alex menyipit menatap sang mama, bahkan setelah puluhan tahun pergi, Friska masih mengingat teh hangat yang selalu ia sediakan setiap pagi untuk Alex.
"Entah kapan terakhir kali aku minum jenis teh itu, tapi rasanya aku nggak lagi tertarik," jawab Alex, Friska terdiam sejenak.
"Baiklah, kamu bisa pesan apapun yang kamu suka."
"Nggak perlu. Aku buru-buru," tolak Alex tegas.
Melihat anaknya yang seakan sangat membencinya, Friska memegang dadanya yang sesak, ia menyesali semua perbuatannya.
"Alex, kamu nggak suka ketemu mama?" tanya Friska. Alex bergeming, ia hanya duduk tegak sambil memainkan jemarinya mengetuk meja.
"Mama rindu, Alex. Tolong, jangan abaikan mama."
"Ungkapan macam apa itu? rindu? yang benar saja. Bukankah selama ini mama bahagia dengan keluarga baru mama? untuk apa merindukan aku," ujar Alex sinis.
"Mama melakukan ini agar kehidupan kita lebih baik. Papa mu meninggal tanpa mewariskan harta sepeserpun, bagaimana cara mama menghidupimu di tengah himpitan ekonomi?"
"Papa mu bangkrut sebelum meninggal, hutang di mana-mana demi membayar pengobatan papamu. Kamu nggak tau apa-apa, Alex!" jelas Friska.
"Aku bersedia hidup susah, Ma. Aku nggak pernah keberatan. Tapi kenapa mama lebih memilih menitipkan aku pada tante Samantha, kenapa, Ma?"
"Bukankah hidup bukan hanya soal harta dan kekayaan. Apakah saat mama sudah mendapatkan banyak uang lalu pergi mencariku? menanyakan kabarku? atau bahkan mengajakku kembali tinggal bersama? Jangan mencari pembenaran dari tindakan salah mama. Aku sudah dewasa, jangan membohongiku!"
__ADS_1
Mendengar penuturan Alex, Friska terdiam. Bagaikan tersayat sembilu, ucapan Alex mengoyak hatinya.
"Mama salah, maafkan mama, Alex. Mama mohon ...." Friska meraih tangan Alex dan menggenggamnya.
"Semuanya sudah terlambat. Bahkan aku menganggap mama sudah mati!" pekik Alex, lalu menepis kasar tangan Friska.
"Bagaimana bisa kamu menganggap mama mati, ini mamamu, Nak. Lihat, ini mama." Friska menangis, meratapi penyesalan yang tiada akhir.
"Lima belas tahun lebih, mama pergi. Apa mama pernah memikirkan bagaimana nasibku tanpa orang tua? apa mama tau bagaimana rasanya?"
"Sekian lama aku mencari, namun apa yang aku dapat. Seseorang memberikan kabar yang sangat mengejutkan. Ternyata, mamaku bahagia dengan suami baru dan dua anak tirinya."
"Seperti itukah orang yang aku panggil dengan sebutan mama? Sejak saat itu, aku lebih memilih untuk menganggap mama mati," ujar Alex dengan suara serak bergetar.
"Alex ...."
"Cukup, Ma. Aku terbiasa hidup dengan caraku, aku terbiasa menjadi yatim piatu. Jangan pernah datang lagi dalam hidupku."
"Alex, kamu masih punya mama, Nak. Jangan berkata seperti itu," ucap Friska sambil berurai air mata.
Wanita paruh baya dengan rambut di sanggul tinggi itu tidak bisa lagi berkata-kata, semua yang Alex ucapkan memang benar, ia merasa tidak pernah sama sekali berada di samping sang anak di saat-saat sulit, Alex mengahadapi kerasnya dunia sendirian, tanpa bimbingan dan penopang.
"Dengar, jangan pernah libatkan aku lagi dalam hidup mama. Bukankah ini yang selama ini mama lakukan? jangan lagi menganggap aku ini anakmu, sama seperti dulu. Bukankah itu yang mama mau?"
"Alex, mama mohon, jangan pergi, Nak," pinta Friska, menahan lengan sang anak.
"Ma, cukup bagiku untuk tau mama bahagia dan sehat. Sebaiknya mama pergi, kembali ke keluarga baru mama, mereka lebih membutuhkan mama dari pada aku. Aku bisa mengurus hidupku sendiri."
Dengan langkah pasti, Alex pergi meninggalkan Friska yang menangis memanggil namanya.
"Alex ... Alex!!!"
Tidak lagi ingin mendengar, Alex berlari cepat memasuki mobil, semakin lama ia bersama Friska, semakin sakit luka hatinya.
Setiap kepingan kenangan masa kecilnya, Alex menyimpan rapat, ia mencoba ikhlas tatkala sudah dewasa dan bisa berpikir dengan matang.
Sebenci apapun Alex pada Friska, di sudut hati bagian lain, laki-laki berambut silver itu menyimpan kasih sayang yang luar biasa.
Menangis di balik kemudi, Alex menghentikan mobilnya di tepi jalan di bawah sebuah pohon yang rindang, lagi-lagi ia meratapi takdir yang tidak berpihak padanya.
Rasa sakit dan keegoisan itu terlalu berlebihan, sampai membuat hatinya membeku untuk memberikan maaf. Terdengar sangat egois, rasanya memang sangat sulit memaafkan kesalahan sebesar itu.
__ADS_1
Setengah jam kemudian, seseorang dari luar mengetuk kaca mobilnya.
"Maaf, di larang parkir di sepanjang jalan ini," tegur orang tersebut. Tanpa banyak kata, Alex kembali memacu mobilnya menuju rumah sakit.
🖤🖤🖤
"Apa dia sudah membaik, Dok?" tanya Alex pada dokter yang menangani Nora.
"Kondisinya sudah stabil, pergelangan kaki sudah kami pasang gips untuk mencegah tulang yang patah bergerak selama proses penyembuhan. Besok pagi sudah bisa pulang, silahkan urus semua administrasinya," papar dokter.
Mengangguk paham, Alex lalu berterimakasih dan pergi ke kamar Nora.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Alex.
"Sudah sangat baik, Alex. Terimakasih, ya."
Alex duduk di sofa bundar yang terletak di pojok kamar, ia melirik jam di pergelangan tangannya, sudah pukul 6 sore.
"Sepertinya ada sesuatu yang aku lupakan, apa, ya," batin Alex, ia menggaruk kepalanya bingung.
"Apa kamu baik-baik saja, Alex?" tanya Nora.
"Ah, nggak. Aku sepertinya lupa sesuatu," jawab Alex, ia melihat note di layar ponselnya, namun tidak menemukan jadwal apapun untuk kegiatannya malam ini.
"Kamu sudah makan?" tanya Alex.
"Belum, nanti perawat akan membawakan bubur untukku."
"Apa nggak bosan makan bubur?"
"Hmm, nggak. Aku suka."
"Aku akan carikan makan malam untukmu, tunggu disini," ujar Alex.
🖤🖤🖤
Di sebuah caffe, Melanie sudah berdandan anggun dengan dress polos berwarna merah maroon selutut, pundak yang terbuka menampakkan kulit putihnya yang mulus.
Menatap jam di pergelangan tangan, Melanie resah. Sudah lebih dari jam 7, Alex tidak kunjung datang menemuinya. Padahal, sebelumnya Alex selalu tepat waktu dan menepati janji.
Pukul 7 lebih 30 menit, Melanie masih setia menunggu, ia berpikir positif, mungkin Alex sedang terjebak macet.
__ADS_1
🖤🖤🖤