
Karena kondisi Hayley dan Hayley sudah sangat sehat, maka keduanya sudah di izinkan pulang oleh dokter pagi ini.
Mereka pulang di jemput oleh sopir dan beberapa pelayan yang membantu mengemasi semua barang-barang, sedangkan Alex dan Melanie masih tetap berada di rumah sakit. Melanie baru bisa di izinkan pulang setelah pemeriksaan dan hasil lab darahnya normal.
"Aaron, tolong bantu aku membereskan barang-barangku di rumahmu. Kamu bisa mengirimkannya ke alamat ini," pinta Alex.
"Ada apa? kenapa kamu mendadak pindah. Lalu, ini rumah siapa?" tanya Aaron bingung, sebelumnya Alex tidak pernah memberitahukan masalah apapun padanya, lalu kenapa Alex tiba-tiba ingin pindah.
"Aku harus menjaga Melanie. Aku nggak mau jauh darinya. Itu, rumah yang baru aku beli seminggu yang lalu, aku akan menempatinya bersama Melanie, orang tua Melanie juga sudah menyetujuinya," jelas Alex.
Bernafas lega, Aaron bersyukur, karena akhirnya Alex kini bisa hidup mandiri dan bertanggung jawab. Aaron sama sekali tidak keberatan jika Alex tinggal bersama dengannya selama ini, namun dia juga senang jika Alex memilih tinggal bersama dengan Melanie, itu artinya ia akan memiliki tanggung jawab yang besar, dan akan melatih Alex semakin bertambah dewasa.
"Aku ikut bahagia dengan semua yang sudah terjadi, Alex. Bagaimanapun kondisi Melanie, kamu harus lebih kuat. Apapun yang terjadi, jangan menyerah," ujar Aaron, ia menepuk pundak sepupunya lalu merangkul erat.
"Terimakasih, Bro. Aku akan berusaha semampuku."
Alex dan Aaron berpisah saat Hayley sudah melambai di tempat parkir mobil.
"Aku harus pulang, beri kabar aku kalau Melanie sudah boleh pulang," pamit Aaron yang di jawab anggukan oleh Alex
🖤🖤🖤
Sesampainya di rumah, tumpukan hadiah sudah menyambut mereka di kamar baby Nick, ternyata Breanda yang sudah membawa hadiah-hadiah ini untuk keponakannya.
"Banyak sekali hadiahnya," seru Hayley, ia meletakkan baby Nick ke dalam box bayi lalu membuka satu persatu kotak hadiah.
"Ada selimut, mainan, bantal guling, perlengkapan mandi, dan setumpuk baju. Ah, Breanda."
Hayley tersenyum senang, sayangnya si pemberi hadiah itu tidak datang ke rumah ini.
"Sweetheart, aku harus menyuruh orang untuk membereskan barang-barang Alex, kamu tunggu di sini sebentar, ya," pamit Aaron.
"Memangnya kenapa? apa Alex akan pindah?"
__ADS_1
"Iya, dia mau pindah."
"Kemana? apa kita ada salah? kenapa dia pindah?" tanya Hayley.
"Tenanglah, Sweety. Dia sudah membeli rumah, dia akan tinggal bersama Melanie. Bukankah itu bagus?"
"Hmm, ya sudah."
Pindahnya Alex dari rumah ini, riuh dan ramainya rumah pasti akan sangat berkurang. Untungnya, kini sudah hadir anggota baru, Baby Nick.
"Oh, ya. Tolong telpon Breanda, Sweety. Banyak yang harus aku tanyakan," ucap Aaron.
"Masalah apa? masalah hubungannya dengan Marcel?" tanya Hayley. "Sudahlah, Sayang. Biarkan adikmu memilih pujaan hatinya, jangan terlalu mengekangnya, kita harus menghargai kebahagiaannya."
"Kenapa kamu begitu senang Breanda bersama Marcel, jangan-jangan ...."
"Jangan-jangan apa? jangan menuduhku sembarangan!" tuding Hayley.
Memang, Hayley masih beranggapan bahwa Marcel adalah laki-laki baik, kenyataannya memang begitu, hanya saja dia pernah terperangkap dengan cinta masa lalunya.
Hayley percaya, jika Marcel sudah tidak lagi seperti sebelumnya saat mereka masih menjalin hubungan. Terlihat dari tatapan Marcel saat bertemu dengannya di rumah sakit, tidak ada lagi tatapan penuh kagum, tidak ada lagi tatapan penuh cinta dari netra coklat laki-laki itu, semuanya terlihat netral dan biasa saja.
Begitupun dengan Hayley, jika dulu, ia akan merasa sangat gugup, tubuhnya merinding, jantungnya berdetak begitu cepat saat Marcel menatapnya dan mengajaknya bicara, namun saat ini, perasaan itu hilang dan menguap bersama waktu.
Mungkin keberadaan Breanda bisa mengobati luka hati dan kehilangan yang Marcel alami, Breanda adalah gadis baik berpendidikan tinggi, dari keluarga kaya dan pebisnis, jadi mereka adalah pasangan yang cocok, begitulah pikir Hayley.
🖤🖤🖤
Sore harinya, Samantha dan Albern datang ke rumah dengan membawa banyak hadiah juga, mereka membawa satu bak mobil yang penuh dengan kotak berwarna warni.
"Mama, kalian datang?" sapa Aaron, lalu memeluk bergantian kedua orang tuanya. Sedangkan Hayley, ia berdiri mematung di samping box bayi baby Nick, sambil melihat para pelayan hilir mudik membawa hadiah masuk ke dalam kamar.
"Kemarilah, jangan bengong saja!" ucap Samantha, ia meraih tubuh Hayley dan memeluknya.
__ADS_1
"Terimakasih sudah melahirkan cucu kami. Siapa namanya?" tanya Samantha sambil melepaskan pelukan pada tubuh Hayley.
"Namanya Nick, Nicklause Conan Drax," jawab Aaron, ia duduk di sofa bersama Albern.
Sedangkan Hayley, wanita itu hanya diam mematung, menatap tidak percaya dengan perlakuan aneh Samantha terhadapnya. Bagaimana bisa mak lampir itu berubah tiba-tiba, seperti tersihir dengan kehadiran bayi dalam kamar ini.
"Oh ya, Aaron. Kamu meninggalkan sesuatu di rumah sakit," ucap Albern, ia menyerahkan map coklat ke tangan Aaron.
"Ya Tuhan, aku hampir lupa. Untung kalian membawanya," ucap Aaron, map coklat itu berisi hasil tes DNA yang menyatakan bahwa baby Nick memang darah dagingnya.
"Kami sudah melihatnya," ujar Albern, laki-laki paruh baya itu tersenyum sambil menepuk punggung putranya. "Selamat, Aaron. Kamu sekarang adalah seorang ayah. Jadilah ayah yang baik, jangan meniru apapun yang buruk dari papamu ini," lanjutnya.
"Ah, lihat, Pa. Dia sangat mirip dengan Aaron," sela Samantha, ia menggendong baby Nick dan duduk di samping Albern.
"Mirip sekali," timpal Albern, ia mengelus pipi lembut cucunya.
"Aaron, mama minta maaf sudah mengatakan hal-hal buruk tentang istrimu, ini semua karena pengaruh wanita licik itu, untung saja Marcel menjelaskan semuanya," ucap Samantha.
"Wanita licik, siapa maksud mama?" tanya Aaron.
"Kathrine, tentu saja. Lalu dari mana mama tau tentang istrimu kalau bukan darinya. Kami tau semuanya, tentang pernikahan kalian yang awalnya hanya sandiwara, kami tau."
"Kathrine?" ulang Aaron, menghembuskan nafas kasar, ingatannya tertuju pada rasa sakit atas penghianatan wanita itu. "Bagaimana bisa mama bertemu dengannya?" tanya Aaron.
"Dia menghubungi mama lewat telpon. Dia bilang Alex mengancamnya, jadi dia sudah nggak di Indonesia lagi."
Wanita itu meskipun raganya jauh, tapi seperti hantu, kelicikannya masih bergentayangan menghantui kehidupan Aaron.
"Karena kalian sudah tau semuanya. Maka aku akan menjelaskan," ujar Aaron, ia berdiri, membawa Hayley duduk di samping kedua orang tuanya.
"Pernikahan kami pada awalnya cuma sandiwara, itu aku lakukan karena papa menuntutku agar segera menikah. Tapi saat ini, semuanya berupah, Pa, Ma. Kami saling mencintai, dan apapun yang terjadi, kami akan tetap bersama, sampai kapanpun," kelas Aaron, ia menggenggam erat tangan istrinya, meyakinkah bahwa semuanya akan baik-baik saja.
🖤🖤🖤
__ADS_1