Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Malam kedua


__ADS_3

Setelah sampai di rumah, Aaron membawa Hayley ke kamarnya, lalu keluar sebentar untuk membuat segelas susu yang wajib Hayley minum sebelum tidur.


Bergelut dengan banyak masalah, Aaron tetap kuat karena kini dia memiliki banyak dukungan dan penyemangat.


Usai membuat segelas susu hamil rasa coklat kesukaan istrinya, Aaron juga membawa beberapa stok camilan ringan untuk menemani Hayley saat susah tidur.


Di dalam kamar, Hayley sudah mengganti pakaiannya, entah apa yang merasukinya, malam ini dia memakai lingerie merah jambu yang pernah Breanda pilihkan tanpa sepengetahuannya.


"Lingerie ini bagus," gumam Hayley, ia berdiri di depan cermin sambil berputar beberapa kali, memperlihatkan lekukan tubuhnya yang menonjol akibat pakaian transparan yang kurang bahan.


Tidak ada lagi yang bisa Hayley lakukan untuk membantu masalah perusahaan Aaron yang semakin goyang, ia hanya berusaha untuk terus memberikan semangat dan dukungan secara emosional pada suaminya.


Masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu, Aaron hampir saja menjatuhkan nampan yang ia bawa, melihat dengan rasa kagum dan tidak percaya dengan apa yang ada di depannya.


"Sweety, kamu ...." Aaron tidak mampu lagi melanjutkan kalimatnya, dalam hati, ia berpikir, apa Hayley baik-baik saja?


"Kenapa? Apa lingerie ini nggak cocok buat aku?" tanya Hayley bingung melihat wajah Aaron yang tegang.


"Eh, cocok kok. Bagus," ujar Aaron, ia mendekati ranjang dan meletakkan nampan di atas meja.


Hayley duduk di pinggir ranjang sambil tersenyum manja, ia memperhatikan Aaron yang terus menatapnya tak berkedip.


"Kamu sehat?" tanya Aaron, ia menyentuh kening Hayley dan meraba punggungnya. "Apa AC nya kurang dingin? kamu gerah?"


Apa yang ada di pikiran Aaron kali ini adalah tentang cuaca panas dan pendingin yang kurang ampuh, pasti itu yang membuat Hayley mengganti pakaian tidurnya dengan lingerie tipis transparan seperti itu.


"Nggak, kok. Ini lingerie pemberian Breanda, aku lupa memakainya," jelas Hayley polos, tidak peka dengan tatapan ingin laki-laki di depannya.


Menghela nafas panjang, cobaan Aaron malam ini lebih berat dari biasanya. Jika melihat Hayley keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil sesaat, Aaron masih bisa berusaha berpaling dan bertahan. Namun kalau harus melihat tubuh putih mulus itu transparan di matanya selama semalam suntuk, entah harus bagaimana dia bersikap.


Hayley dengan tenang meminum susu buatan Aaron, ia duduk bersila di dekat Aaron sambil memakan dua lembar roti tawar yang di tumpuk dengan keju di bagian tengahnya.

__ADS_1


Menikmati makanan dengan lahap, Hayley tidak memperdulikan Aaron yang beberapa kali menelan ludah menatapnya.


"Kamu juga mau?" tanya Hayley yang di jawab gelengan pelan oleh Aaron, andai saja yang ia tawarkan bukan makanan melainkan sesuatu yang lebih enak, Aaron pasti mengangguk cepat.


"Pakai baju seperti ini, apa nggak masuk angin?" tanya Aaron.


"Nggak, nyaman. Ternyata lebih enak dari pada pakai piyama," jawab Hayley senang.


Usai menghabiskan susu dan camilan yang Aaron bawa, Hayley berbaring di kasur sambil memainkan ponselnya, ia membalas beberapa pesan pada Andini yang begitu khawatir menanyakan kehamilannya.


Berinisiatif untuk ikut berbaring di samping Hayley, Aaron malah gelisah dan tidak tenang, ia kembali duduk di sandaran kasur sambil menenangkan ritme jantungnya yang tidak karuan.


"Gerah!" keluh Aaron, ia pun melepas kaos putih tanpa lengan yang ia kenakan.


"AC nya kurang dingin?" tanya Hayley.


"Nggak, biasanya juga nggak gerah kok. Tumben, malam ini rasanya lebih panas dari biasanya," kilah Aaron, padahal yang membuatnya gerah bukanlah udara panas ataupun cuaca, melainkan penampakan tubuh polos di sampingnya.


Hayley meletakkan tangannya di atas dada Aaron, membelai lembut dan menggerakkan jemarinya ke atas menyentuh dagu suaminya dan turun ke bawah menyentuh pusar.


Keadaan ini semakin membuat Aaron gelisah, bulu-bulu halus di tubuhnya mulai meremang, detak jantungnya bahkan terdengar nyaring tanpa pengeras suara. Malu-malu tapi mau, Aaron tidak bernyali memulai pergulatan malam ini.


"Aku ... nggak bisa tidur," rengek Hayley pelan, sudah cukup lama ia memeluk Aaron dan memejamkan mata, namun ia masih terjaga.


"Kenapa?" tanya Aaron.


"Nggak tau, anak kita mungkin sedang olahraga, gerakannya lebih kuat dari biasanya," ucap Hayley, ia membawa tangan Aaron agar menyentuh perutnya.


"Ah, mungkin dia sedang bahagia, Sweety."


"Hmm, mungkin."

__ADS_1


Tangan Aaronn masih berada di atas kulit perut Hayley, ia membelai lembut mencoba menenangkan sang buah hati yang sedang aktif.


Menatap sang istri dalam balutan kain tipis, Aaron mengingat peristiwa malam yang tidak terduga waktu itu, bayangan tentang belaian, sentuhan, dan desahan kenikmatan sang istri membuatnya seperti di mabuk bercinta.


Pelan, Aaron mencium bibir ranum istrinya yang dekat dengan wajahnya, ia membelai pelan bibir itu dengan bibirnya, dengan tangan masih menempel di perut Hayley.


Mendapatkan ciuman tiba-tiba, Hayley ingin menolak, namun tubuhnya bereaksi lain, ia begitu menikmati kecupan lembut yang Aaron berikan. Hayley membalas ciuman Aaron, lalu membuka sedikit bibirnya untuk memberi akses bebas pada sang suami.


Reaksi tidak terduga yang Aaron terima, membuat laki-laki itu langsung bersemangat, pelan tapi pasti, ia mengabsen semua isi mulut istrinya dengan lidah, tangannya yang lihai membelai lembut permukaan kain tipis yang Hayley kenakan.


Perlahan, ia meletakkan kepala Hayley di atas bantal empuk dan merubah posisi tubuhnya agar bisa saling berhadapan, kini, kedua tangannya bebas berkeliaran melakukan tugas yang sedari lama ia impikan.


Menggigit kecil telinga istrinya, Aaron berbisik lembut. "Bolehkah aku ...." Belum sempat Aaron melanjutkan kalimat permintaannya, Hayley langsung mengangguk dan meremas pelan rambut suaminya.


Jika sebelumnya Hayley melakukan hal ini dalam keadaan kurang sadar, maka malam ini dia sangat sadar, ada secuil dari hatinya menolak, namun tubuhnya menginginkan, ia mendamba.


"Kamu siap," bisik Aaron sensual, ia kembali ******* bibir ranum istrinya, meredakan erangan yang mulai mengeras karena sensasi yang timbul.


Demi melancarkan jalannya, bibir Aaron semakin turun, mencium leher dan meninggalkan bekas kemerahan di sana. Mendapati istrinya terus meronta dan mendesah, Aaron semakin liar, ia melepas semua kain yang tersisa di tubuh Hayley, dan mengabsen setiap permukaan kulit wanita itu.


Meronta, mendesah, Hayley tidak lagi mampu menahan.


"Aku akan melakukannya dengan sangat hati-hati, Sweety," ujar Aaron yang di sambut anggukan singkat oleh Hayley.


Wanita itu membuka akses lebar saat senjata besar sudah di keluarkan.


Untuk kedua kalinya, malam mereka berlangsung cukup panjang nan indah. Hanya saja, malam ini adalah malam dimana mereka saling mendamba, bukan lagi sesuatu yang di anggap sebagai kesalahan yang perlu di sesali.


🖤🖤🖤


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2