Sang Pengantin Bayaran

Sang Pengantin Bayaran
Rencana Breanda


__ADS_3

Bulan ini, usia baby Nick menginjak 7 bulan, dan keluarga ini semakin bahagia karena bulan ini Melanie di nyatakan positif hamil.


Namun karena kondisi Melanie yang tidak memungkinkan untuk tinggal di rumah, maka dokter harus terus memantau kondisi dirinya dan janinnya selama dua puluh empat jam tanpa jeda. Itu membuat Alex berhenti total dari pekerjaannya.


Beruntung, Aaron sama sekali tidak merasa keberatan dengan keputusan Alex untuk fokus pada istrinya, dan Alex harus tinggal sementara di Singapura bersama Melanie, tentu saja bukan di apartemen atau hotel mewah, melainkan di rumah sakit.


Tubuh Melanie harus terus terpantau dan memakai berbagai peralatan medis, ia harus tetap kuat dan bertahan karena perjuangannya bukan lagi untuk dirinya sendiri, melainkan untuk dua nyawa di tubuhnya.


Pagi ini, Hayley sudah bersiap akan pergi berbelanja ke mall bersama Breanda, ia harus membeli banyak hadiah untuk Melanie, karena besok pagi Aaron berencana akan menjenguknya ke Singapura.


Hayley sengaja tidak ikut, karena usia Nick yang belum genap setahun dan tempat yang akan mereka kunjungi adalah sebuah rumah sakit, Hayley khawatir jika kekebalan tubuh Nick masih belum sempurna dan akan mengakibatkan bayi itu mudah sakit.


"Sayang, apa kalian ikut?" tanya Hayley.


"Kamu bisa pergi berdua sama Breanda, Sweety. Aku akan mengajak Nick berenang."


"Ini masih pagi, Sayang. Nanti Nick demam."


"Nggak usah khawatir, cuma sebentar," ujar Aaron.


"Baiklah, aku berangkat. Kamu jangan nakal ya, Nak. Mama pergi dulu," pamit Hayley.




Hayley berangkat di antarkan oleh sopir, ia sudah berjanji akan menemui Breanda di mall.


Perjalanan dari rumah ke mall tidak membutuhkan waktu yang lama, cukup dua puluh menit ia sudah sampai.


"Bre, udah lama?" sapa Hayley saat melihat adik iparnya duduk di sebuah caffe di lantai satu sambil menyeruput minuman di depannya.

__ADS_1


"Baru juga nyampek kak. Kak Aaron sama Nick mana?"


"Mereka nggak ikut, berenang," ujar Hayley sambil mengenyakkan tubuhnya di kursi yang bersebrangan dengan Breanda.


"Ah, kakak kok gitu sih. Aku kan kangen keponakan," keluh Breanda, kesibukannya berkuliah di akhir semester membuatnya sangat jarang datang berkunjung ke rumah Aaron.


"Kapan-kapan kita atur jadwal main bareng, kebetulan besok papanya Nick ke Singapura sendiri, kita bisa jalan bertiga," ucap Hayley memberi saran.


"Ide bagus. Aku mau ngajak kak Marcel," ujar Breanda senang.


Mendengar nama Marcel di sebut dengan penuh penekanan dan rasa cinta, Hayley tiba-tiba tersedak.


"Minum, Kak. Minum," ucap Breanda.


"Kalau nggak ada kak Aaron, jangan ajak Marcel, Bre. Takutnya nanti kakakmu berpikir yang nggak-nggak. Bisa ribet urusannya," ujar Hayley. "Kamu tau sendiri, 'kan, kakakmu itu over banget kalau cemburu."


"Iya deh, iya," ucap Breanda sambil manyun. "Kak Aaron nggak asik sih."


Setiap hari, Breanda sering menceritakan hari-harinya bersama Marcel, saat laki-laki itu dengan sangat perhatian menjemput Breanda ketika jadwal pulang kuliah, mengantar Breanda belanja, bahkan pergi ke salon.


"Lalu, kapan rencana kalian menikah?" tanya Hayley.


"Belum tau. Aku harus melanjutkan kuliah di luar negeri, Kak," jawab Breanda, mereka berjalan sambil mengobrol.


"Kalian mau LDR?"


"Kak Marcel punya cabang perusahaan di Inggris, aku juga akan ambil universitas yang dekat di sana. Mungkin setelah S2, kita akan menikah," jelas Breanda menggebu-gebu.


"Bagus. Planning yang cukup baik, tinggal bagaimana kalian mempertahankan hubungan."


"Ah, senangnya." Breanda berkata riang.

__ADS_1


Mereka berdua berbelanja membeli banyak barang, selain baju dan berbagai buku bacaan tentang info seputar kehamilan untuk Melanie, Hayley juga membeli beberapa baju dan gaun malam untuk dirinya sendiri, tentu saja atas rekomendasi dari adik iparnya. Breanda selalu tau baju apa yang cocok untuk Hayley, itulah alasan Aaron selalu mengandalkan adiknya saat ingin membeli hadiah untuk sang istri.


"Bre, lingerie di rumah udah banyak. Nggak usah beli lagi," ucap Hayley saat adiknya memborong empat pasang lingerie berbeda warna.


"Ih, Kakak. Ini itu bagus untuk mempererat hubungan suami istri. Ini kan termasuk senjata, kakak harus punya banyak senjata biar kak Aaron nggak kabur," seru Breanda.


Demi menghindari perdebatan di dalam toko, Hayley hanya bisa menyetujui ucapan Breanda.


Setelah semua barang yang mereka cari sudah terbeli, Hayley pamit untuk pulang lebih dulu, karena Breanda mengatakan jika Marcel akan datang menyusul sebentar lagi.


"Kakak harus pulang, udah kangen sama Nick," ucap Hayley.


"Kangen Nick apa kangen sama kak Aaron," goda Breanda.


"Dua-duanya, sih."


Hayley akhirnya pulang dan meninggalkan Breanda sendirian, bukan karena dirinya menghindar bertemu dengan Marcel, namun ia benar-benar sudah rindu sang buah hati.


Sebelumnya Hayley tidak pernah pergi jauh ataupun meninggalkan Nick meskipun satu jam saja, namun karena hari ini Aaron sanggup mengajak Nick bermain selama Hayley pergi, maka Hayley setuju untuk membiarkan ayah dan anak itu agar hubungan mereka semakin dekat.


Setelah sampai di rumah, Hayley langsung mencari keduanya yang tidak ada di kamar.


"Bi, ada yang lihat tuan Aaron dan anakku?" tanya Hayley pada Laksmi yang sibuk di ruang pelayan.


"Oh, Sepertinya mereka ada di ruang tengah, Nona," jawab Laksmi.


Padahal sudah dua kali Hayley lewat mondar mandir di ruang tengah, namun tidak melihat atau mendengar suara Aaron ataupun Nick. Namun Hayley tetap kembali ke ruang tengah untuk memastikan.


Hayley terkejut saat mendapati Aaron dan Nick sudah tertidur pulas di sofa, keduanya tidur sangat nyenyak mungkin karena lelah bermain.


🖤🖤🖤

__ADS_1



🖤🖤🖤


__ADS_2